NovelToon NovelToon
Mencintaimu Di Kesempatan Kedua

Mencintaimu Di Kesempatan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:256
Nilai: 5
Nama Author: Yun Alghff

"Jangan pernah melawan dunia, Nak. Semesta ini terlalu besar untukmu yang kecil. Begitu pun nanti jika kau dewasa. Semesta dan isinya terlalu besar untuk kamu lawan. Lebih baik menghindar dan mengalah demi keselamatanmu." Pesan mendiang Kakek selalu terngiang, bahkan telah tertanam dalam benak Naina.
Meski ia sempat mencintai orang yang salah, yang selalu memenjarakannya di sangkar emas, mengekang hidupnya dengan cinta yang dipaksakan, Naina tak dapat melawan penguasa tersebut. Naina terlalu lemah di hadapan Ryan, suaminya. Dapatkah cinta mereka bersatu kembali setelah beberapa kali badai besar menerjang bahtera mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Naina masih terdiam, haruskah ia memberikan kesempatan pada Ryan untuk bersamanya? Bagaimana pun Nayla memang butuh sosok Ayah. Tapi apakah dengan bersama kami kembali, kehidupan Nayla akan terjamin? Apakah luka lama tidak akan terulang kembali?

Sesungguhnya Nayla cukup bahagia bersama kedua orangtua angkatnya. Perhatian dan kasih sayang mereka sudah cukup untuk Nayla. Tapi Naina juga tidak ingin Nayla membenci Ayah kandungnya sendiri.

Naina ragu untuk bersama dengan Ryan kembali. Terlebih tatapan Ryan padanya yang sudah berbeda. Jarak yang Ryan tunjukan sangan terlihat jelas. Apakah rumah tangga mereka akan berjalan dengan baik jika keduanya tak lagi di jalan yang sama?

"Naina," Ryan memanggil Naina untuk meminta kepastian.

Naina menatap Nayla, seolah meminta persetujuan pada anaknya yang masih kecil. Apakah Nayla setuju jika Ibu dan Ayah bersama kembali? Begitulah kiranya ucapan Naina pada Nayla melalu ikatan batin.

"Beri saya waktu."

"Baik, satu minggu ke depan aku akan menjemputmu." Ucap Ryan enteng.

"Apa saya pernah berkata dimana saya tinggal sekarang?" Tanya Naina.

"Tidak."

Naina tersenyum kesal. Inikah sifat Ryan sebenarnya? Otoriter dan arogan.

"Lalu bagaimana anda menjemput saya?"

"Aku tanya padamu sekarang. Dimana kau tinggal." Tutur Ryan terkesan dingin dan ketus.

"Lupakan,"

Naina merapihkan pakaian Nayla, ia hendak pergi dan tak ingin berurusan dengan Ryan. Ternyata benar apa yang dikatakan Kakek dulu.

"Jangan pernah melawan dunia, Nak. Semesta ini terlalu besar untukmu yang kecil. Begitu pun nanti jika kau dewasa. Semesta dan isinya terlalu kecil untuk kamu lawan. Lebih baik menghindar dan mengalah demi keselamatanmu".

Ternyata semesta yang Kakek maksud adalah orang-orang yang berkuasa di dunia. Mereka yang memiliki kedudukan dan harta banyak. Benar, Naina harus mengalah pada semesta yang ia ciptakan bersama Ryan.

Semesta yang dulu indah tanpa penguasa. Berjalan bersama beriringan. Kini diantara semesta yang tercipta tumbuh seorang penguasa yang membelenggu kaki dan tangan Naina.

Derajat mereka kini terlihat sangat kontras. Bukan lagi bumi dan langit. Tapi kerak bumi dan langit. Naina kotor dan hina seperti dasarnya kerak bumi yang mudah terkontaminasi oleh limbah manusia. Sedangkan Ryan langit yang menjulang tinggi tak dapat tergapai oleh tangan.

Lihatlah Ryan saat ini, berpakaian mewah dan bermerek. Wangi, bersih, dan rapih. Sedangkan Naina? Berpakaian lusuh, bahkan pakaian yang ia kenakan adalah bekas orang yang menurutnya masih layak terpakai. Tak berpendidikan, dan bau matahari.

Jelas saja Ryan menjauh dan enggan bersamanya. Ternyata Naina yang terlalu sombong pada kecantikannya sendiri. Merasa hebat karena dapat bersanding dengan Ryan yang gagah perkasa dan kaya raya.

Tak terasa air mata kembali tumpah. Sesakit ini kah rasanya berhadapan langsung dengan sang penguasa. Apakah akan baik-baik saja jika mereka bersama kembali? Rasanya jika pintu rumah kembali terbuka, maka rumah itu akan berisi kerikil tajam dan pecahan kaca yang siap menggores luka di tubuh ringkih.

Ryan memberikan selembar tisu pada Naina. Naina hanya mengambil tanpa mengucapkan apa-apa. Nayla yang asik sendiri dengan mainannya itu tak lagi memperhatikan Ibunya yang menangis.

Bola yang Nayla pegang bergelinding ke arah Ryan, tepat di bawah sepatu kulit mewah Ryan. Nayla berhenti, ia ragu untuk membawa bolanya. Ada rasa takut bila menatap sorot mata Ryan. Nayla terdiam, ia mulai berjalan menyamping, mencoba menjauh.

"Ini bolanya." Lirih Ryan mencoba membuat suara yang lembut.

"Ayo ambil." Suaranya yang berat memaksakan untuk bersuara lembut.

Siapa sangka, suara Ryan membuat Nayla takut dan menangis. Wajar saja. Sejak lahir sampai umur satu tahun ini, Nayla tidak pernah merasakan hadirnya sosok ayah dalam hidupnya. Nayla tak tahu aroma khas dari ayahnya. Yang Nayla tahu hanya aroma khas dari tubuh ibunya.

Ryan berjalan mendekati, dan berjongkok tepat di depan Nayla. Tangannya membawa bola dan memberikan pada Nayla.

"Ambil, lah." Ucap Ryan lembut.

Nayla mengambil bolanya. Pandangan ayah dan anak itu saling bertemu.

"Aku boleh memeluk mu?" Tanya Ryan kaku.

Jelas tak ada jawaban, Nayla hanya diam. Ryan memeluk tubuh Nayla yang kecil. Ada rasa rindu yang mulai mencair. Ada rasa nyaman yang mulai menjalar.

"Nay, ini Ayah." Lirih Ryan pada gadis kecil itu.

Ryan yang tak sempat berucap dalam mimpi, ketika anaknya memang ayah, kini ia dengan lega mengatakan bahwa ia adalah ayahnya.

Meski ada sedikit keraguan dalam diri Ryan, tentang asal usul Nayla. Tapi hati Ryan sudah terpaut dengan Nayla. Mungkin karena ikatan batin.

"Tinggallah beberapa menit lagi. Aku sudah pesan makanan untuk kalian."

Naina terdiam, tak bisa ia berkata apa-apa. Rasanya segan dan takut. Benar yang di ucapkan Reyhan kemarin. Perceraian adalah jalan yang tepat untuk Naina.

"Aku permisi keluar sebentar." Ucap Naina, "Nay di sini dulu sebentar, oke? Jangan nakal."

Naina pergi entah kemana. Menyisakan Nayla dan Ryan.

Ryan menelepon seseorang untuk ke ruangannya. Tak perlu lama orang tersebut langsung datang.

"Tolong tes lab." Ryan menyerahkan sehelai rambut Nayla dan dirinya.

"Maksud anda tes DNA?"

"Iya," Ryan hanya ingin memastikan dengan jelas bahwa Nayla adalah anaknya.

Mungkin jika ada bukti kuat dan benar, Ryan dapat membawa Nayla ke dalam keluarga Varatanu.

Setidaknya satu tahun ke depan Ryan dapat tinggal bersama Nayla, putrinya. Mungkin saja Maeta dapat menerima Nayla. Atau setidaknya keluarga Varatanu dapat menerima Nayla dengan baik.

Untuk Naina, Ryan akan pikirkan nanti. Mungkin dengan beberapa uang, Naina akan mundur dan melepaskan semuanya.

Ryan bermain dengan Nayla, sampai akhir Naina datang menemui mereka. Hati Naina merasa tenang saat melihat ayah dan anak terlihat akrab dan bahagia.

Naina tersenyum dan mendekati mereka. Mungkin memberikan kesempatan untuk Ryan tak masalah. Siapa tahu Ryan akan berubah. Dengan adanya Nayla, yang memperkuat rumah tangga. Benar, Nayla adalah satu-satunya alasan untuk mereka tetap bersama.

"Nay," sapa Naina ringan dengan senyum manisnya.

Ryan tersenyum pada Naina. Tak perlu menunggu lama, akhirnya pesanan Ryan datang. Makanan yang Ryan pesan tiba tepat waktu.

"Mari kita makan bersama." Ucap Ryan dan langsung memangku Nayla.

Nayla tersenyum bahagia. Begitu pun Naina yang melihat putrinya tertawa bahagia bersama ayahnya.

"Ayah aik ya." (Ayah baik ya.) Ucap Nayla dengan suara nyaringnya.

"Dimana kamu tinggal? Minggu depan aku akan menjemput kalian." Ryan berkata tanpa menatap Naina, ia terlalu fokus menyuapi Nayla dengan puding susu.

"Belakang toko emas Mawar Indah."

Ryan terdiam sesaat, "oh, tak jauh dari sini."

Pandangan mereka sempat bertemu, namun Ryan kembali buang muka dan hanya tersenyum pada Nayla.

Sakit. Sungguh itu sangat sakit. Meski Nayla tak kekurangan cinta, tapi sikap Ryan padanya tadi seolah mengatakan aku sangat membencimu. Memang tak terucapkan, tapi sikapnya begitu jelas terlihat.

Apakah Naina pernah buat salah pada Ryan sebelumnya? Sampai-sampai Ryan merasa enggan dan jijik bila menatap Naina.

"Tak apa Naina. Semua akan baik-baik saja. Kebahagiaan Nay lebih utama." Batin Naina menyemangati dirinya sendiri.

Cemburu? Entahlah perasaan ini tidak bisa dikatakan cemburu. Perasaan ini lebih mendekati pada hal tak layak bersanding. Benar, tak layak. Ryan terpandang sedangkan Naina terhina kan.

Menjadi miskin dan yatim-piatu apakah suatu aib bagi Ryan? Kemana Ryan yang dulu begitu ramah dan selalu membuat Naina tersenyum lepas. Kemana perginya Ryan yang selalu melindungi Naina saat di kampung.

Meski pertemuan itu singkat, tapi jalan ceritanya panjang. Menyisipkan harapan, menciptakan impian. Namun semuanya hanya angan semata bagi Naina.

Nyatanya, Naina hanyalah alat dan sebuah permainan untuk Ryan. Tak lebih dan tak kurang dari sebuah mainan. Ingat itu Naina.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!