Mati konyol hanya gara-gara dua potong roti? jangan bercanda!
Nasib buruk menimpa seorang pemuda gelandangan. perut lapar memaksanya untuk mencuri, tapi bayaran dari perbuatannya itu nyawanya hampir melayang di hajar warga.
Namur, takdir berkata lain.
saat matanya kembali terbuka, ia bukan lagi sekedar gelandangan bodoh yang lemah, jiwa dari tubuh kurus itu telah menyatu dengan jiwa seorang ahli racun, sains, dan ahli dalam ramuan.
" Lihat saja suatu saat kalian akan berlutut di kaki ku untuk minta tolong "
Di dunia yang moralnya sudah rusak ini,haus akan kekuasaan, kekayaan, dan populeritas dia bakalan menjadi penguasa tertinggi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Razif Tanjung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 : Coo cantik di antara ember lele
Pelukan itu berlangsung cukup lama sampai Sersan Jago merasa diabaikan dan memutuskan untuk berkokok tepat di telinga wanita itu.
"KUKURUYUUUUUK!"
Wanita itu tersentak kaget, dan melepaskan pelukannya, kemudian menghapus air matanya yang mengalir di pipi. Dia menatap Bara dengan tatapan yang campur aduk: antara rindu, dan sedikit mual karena bau amis yang menempel di baju Bara.
"Alisa?" Bara akhirnya berbisik, memanggil nama yang selama ini dia kunci rapat di gudang memorinya. Alisa Maheswari. Tunangannya yang dulu pamit kuliah ke Amerika dengan janji akan kembali.
"Kamu masih ingat aku ?, kirain udah lupa. Aku cari kamu ke mana-mana, selama ini !" Alisa memegang pundak Bara yang kini keras seperti batu (efek ramuan Gatotkaca).
"Awalnya memang lupa, tadi hanya kebetulan tebak aja sih, ternyata benaran kamu, kamu kok bisa tau aku ada disini?" Tanya bara heran, dunia ini luas dan kota ini juga memiliki ribuan penduduk, bara tau persis dengan koneksi yang alisha punya tidak cukup untuk mencari satu orang dari sekian banyaknya manusia kecuali ada petunjuk pasti.
"Adrian... adikku... dia bilang dia diselamatkan oleh 'Tabib Gila' yang sakti, aku mencari-cari orang tersebut dan dapat kabar kalau orang itu buka toko disini. Aku tidak menyangka kalau orang gila itu adalah kamu!"
Bara nyengir kuda, membetulkan kacamata" hitam patahnya. "Yah, hidup memang penuh kejutan, Al. Dulu dikenal sebagai tuan muda sekarang berubah gelar menjadi tabib gila. Penurunan karier yang cukup drastis, bukan?"
"Aku gak tau kalau itu adek kamu, perasaan dulu dia masih bocil saat kita main bersama, sungguh kebetulan yang tak terduga kita bertemu lagi secepat ini"
Mereka duduk di lantai dua ruko yang masih berantakan. Bara menyuguhkan "Teh Jahe Nuklir" racikannya sendiri.
Alisa bercerita dengan suara bergetar tentang bagaimana Darmawan, sekarang memimpin imperium bisnis yang dulu milik keluarga Bara.
Tentu saja dermawan masih kalah jauh jika dibandingkan keluarga bara dahulu, tapi darmawan cukup berpengaruh dikota ini.
"Darmawan menekan keluargaku. Dia ingin aku menikah dengan anaknya, Rico, si playboy cap kampak itu. Dia menyandera perusahaan ayahku dengan utang fiktif. Dan sekarang... Ibu sedang sakit parah. Dokter bilang itu komplikasi langka, tapi biayanya... aku terpaksa menggadaikan seluruh saham perusahaan yang aku punya ke Darmawan."
Bara mendengarkan sambil mengelus dagu. Matanya berkilat dingin.
"Al, dengarkan aku," Bara memotong pembicaraan dengan nada serius. "Lepaskan perusahaan itu. Biarkan Darmawan mengambil semuanya. Kamu tahu kenapa?"
Alisa mengernyit. "Tapi itu peninggalan Ayah—dan harta satu-satunya yang kumiliki."
"Tidak. Peninggalan yang paling berharga adalah kamu dan kecerdasanmu," Bara menunjuk dahi Alisa.
"Kamu lulusan universitas terbaik di Amerika, ahli manajemen. Sedangkan aku? Kamu tahu sendiri dulu aku bolos sekolah cuma buat main band dan tawuran. Aku butuh otakmu untuk mengelola 'kerajaan' baruku ini, dan pada saatnya tiba kita akan mengambil alih semuanya, termasuk perusahaan ayahmu yang telah tergadai."
Bara menunjukkan tumpukan uang di laci dan daftar pesanan yang menumpuk.
"Bantu aku. Kelola bisnis ini secara profesional. Kita akan hancurkan Darmawan cepat atau lambat, aku ada rencana besar tentang farmasi dan makanan, kita akan menguasai pasar dengan produk kita. Biarkan dia menang untuk sementara."
Setelah renungan panjang, akhirnya Alisa setuju, walaupun sedikit berberat hati untuk melepaskan perusahaan peninggalan ayahnya.
Keesokan harinya, Alisa resmi menjabat sebagai Chief Operating Officer (COO) atau sebut saja orang kedua yang memiliki posisi tertinggi di Nusantara Glow.
Hal pertama yang dia lakukan membuat Bara hampir menangis.
"Bara! Buang ember-ember lele ini ke belakang!" perintah Alisa sambil mengenakan celemek medis yang rapi.
"Eh? Tapi itu Lele Pitbull kesayanganku, Al! Mereka pilar ekonomi kita!" protes Bara.
"Toko ini sekarang adalah FARMASI KHUSUS. Kita tidak bisa menjual obat atau ramuan di sebelah drum ikan yang muncrat-muncrat!" Alisa bertindak tegas.
"Ikan, udang, ayam, dan cabai, semuanya akan kita jual lewat sistem Supplier. Ramuan/ obat-obatan akan kita pasarkan disini. Paham?"
Dalam waktu enam jam, ruko itu berubah total.
Lantai 1: Jadi apotek elit yang wangi dan minimalis.
Lantai 2: Tempat penyimpanan ramuan berharga jual tinggi, disana lah letak koleksi ramuan bara.
Lantai 3: Kantor Manajemen Alisa.
Sersan Jago bahkan dipaksa mandi pakai sabun mawar oleh Alisa agar tidak bau tahi ayam lagi. Si ayam jago itu sekarang terlihat depresi karena kehormatannya sebagai preman hutan luntur.
"Sekarang," Bara berdiri, mengenakan kemeja baru yang dibelikan Alisa. Dia terlihat seperti model sampul majalah bisnis, meski tetap memakai sandal jepit swallow.
"Bawa aku ke ibumu. Aku ingin lihat apa yang dilakukan Darmawan pada calon mertuaku."
Alisa tersipu mendengar kata "Calon Mertua", tapi wajahnya segera kembali cemas.
Mereka berangkat menggunakan mobil Alisa (setelah Bara dipaksa meninggalkan The Black Chariot di parkiran ruko karena dianggap 'polusi suara').
Sampai di kediaman Maheswari yang kini sudah tidak semegah dulu, Bara langsung masuk ke kamar Ibu Alisa. Bau obat-obatan kimia tercium menyengat.
Bara tidak perlu stetoskop. Dia hanya mendekatkan hidungnya ke napas sang ibu, lalu menyentuh nadinya dengan tiga jari.
"Analisis..." gumam Bara.
Sianida Dosis Mikro? Tidak.
Residu Logam Berat? Ya.
Bara menyipitkan mata. "Al, ibumu tidak sakit komplikasi. Dia diracuni secara perlahan menggunakan residu merkuri yang dicampur ke dalam obat-obatan rutinnya. Ini seperti gaya Darmawan yang suka bermain licik. Dia ingin ibumu meninggal agar kamu kehilangan pegangan dan terpaksa menikah dengan Rico."
Alisa mengepalkan tangannya erat, syok, marah bercampur jadi satu harmoni yang meledak"Bajingan itu..."
"Tenang," Bara mengeluarkan pensil dan secarik kertas, kemudian ia mulai mencoret-coret kertas itu dengan tulisan yang mudah dibaca.
" Nama resep ini Elixir Purifikasi Hati, setelah kamu menghapalnya dengan baik, bakarlah resep ini agar tidak bocor ke dermawan dikemudian hari".
"Ini akan menetralkan logam berat dalam tubuhnya dalam tiga hari. Tapi kita butuh sandiwara. Biarkan dunia mengira ibumu makin parah, sampai saat yang tepat untuk kita menyerang balik."
Bara menatap Alisa dengan tatapan yang penuh tekad.
"Al, sekarang kita punya tim lengkap. Kamu mengurus manajemen ruko kita agar jadi perusahaan farmasi raksasa, dan aku akan meracik 'kematian' ekonomi bagi Darmawan dari laboratorium hutanku, tentu masih ada orang lain yang bergabung dengan tim kita nantinya kamu juga bakalan tau."
Alisa menggenggam tangan Bara. Perpaduan antara kecerdasan manajemen Alisa dan kegilaan alkimia Bara baru saja menciptakan aliansi paling berbahaya di kota itu.
"Siap, Bos?" tanya Alisa dengan senyum tantangan.
"Siap, Sekretaris Cantik," jawab Bara, lalu dia teriak, "EH, JAGO! JANGAN MAKAN BUNGA DI VAS ITU!"
Sersan Jago yang ikut masuk ke rumah mewah itu ternyata sedang sibuk menelan bunga anggrek hias seharga jutaan rupiah milik keluarga Alisa, sungguh pemakan segalanya.