"Sepuluh tahun lalu, Victor menyebut cinta Achell sebagai 'lelucon'. Sekarang, Achell kembali untuk memastikan Victor merasakan betapa pahitnya akhir dari lelucon itu. Sebuah kisah tentang penyesalan yang terlambat, cinta yang mati rasa, dan harga mahal dari sebuah keangkuhan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Gema di Aula Kosong
Bandara Heathrow yang biasanya sibuk mendadak terasa sangat sepi bagi Victor Louis Edward. Ia masih berlutut di lantai marmer yang dingin, mengabaikan tatapan heran dari para pelancong yang berlalu-lalang. Di tangannya, kotak perhiasan beludru itu terasa seberat bongkahan timah. Ia menatap ke arah gerbang keberangkatan yang kini tertutup rapat, menyadari bahwa pesawat menuju Zurich itu telah membawa pergi separuh dari jiwanya.
Jake telah pergi beberapa menit yang lalu tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi. Victor tidak mencoba mengejarnya atau memohon informasi lebih lanjut. Ia tahu karakter Jake De Alfa; sekali sahabatnya itu membuat janji untuk melindungi seseorang, maka rahasia itu akan dibawa sampai ke liang lahat. Menanyakan di mana Achell akan tinggal atau di universitas mana ia akan kuliah hanya akan membuang energi. Jake tidak akan pernah membiarkan Victor menyentuh kehidupan Achell lagi.
"Kau benar-benar pergi, Achell..." bisik Victor. Suaranya pecah, hilang ditelan pengumuman jadwal penerbangan yang menggema di langit-langit terminal.
Pria itu bangkit dengan susah payah. Langkah kakinya terasa berat saat ia berjalan kembali menuju mobil Rolls-Royce hitamnya. Sepanjang perjalanan pulang ke mansion, Victor hanya menatap lurus ke aspal jalanan. Ia melewati persimpangan tempat kecelakaan itu terjadi, dan jantungnya berdenyut nyeri seolah luka Achell berpindah ke dadanya.
Sesampainya di mansion, suasana rumah itu terasa mencekam. Sunyi yang memekakkan telinga. Victor melangkah masuk, melewati lorong-lorong megah yang kini terasa seperti lorong penjara. Ia berhenti di depan pintu kamar Achell.
Dengan tangan gemetar, ia membuka pintu itu. Kamar itu rapi, terlalu rapi. Harum melati yang menjadi ciri khas Achell masih tertinggal tipis di udara, namun pemiliknya telah hilang. Victor duduk di tepi ranjang Achell, menunduk, dan tanpa sadar air matanya jatuh—setetes demi setetes membasahi seprai sutra yang dingin.
"Aku yang memaksamu pergi," gumamnya penuh penyesalan. "Aku yang menuduhmu, aku yang mengabaikanmu, dan aku yang membiarkanmu berjuang sendirian."
Ia teringat setiap surat yang pernah dikirim Achell dari asrama. Surat-surat yang dulu ia anggap sebagai gangguan kekanak-kanakan. Victor berdiri dan berjalan menuju ruang kerjanya. Ia membuka laci meja yang terkunci rapat dan mengeluarkan tumpukan amplop yang belum sempat ia balas dengan tangannya sendiri.
Ia membuka satu per satu.
"Uncle, hari ini hujan di asrama. Aku merindukan teh hangat buatan Bibi Martha, dan aku merindukan caramu membacakan buku di perpustakaan. Apa kau sehat?"
Di surat lain:
"Aku mendapat nilai A untuk resital piano. Aku melakukannya untukmu, Uncle. Agar kau tidak malu memiliki aku di hidupmu."
Victor meremas surat-surat itu di dadanya. Setiap kata yang tertulis di sana kini terasa seperti sembilu yang menyayat nuraninya. Achell tidak pernah meminta harta De Alfa, ia tidak pernah meminta berlian Edward. Ia hanya meminta pengakuan bahwa ia ada, dan Victor telah gagal memberikannya.
Malam itu, Victor tidak tidur. Ia duduk di kursi kerjanya sampai matahari terbit, menatap laci kosong yang biasanya akan diisi oleh surat baru dari asrama setiap hari Sabtu. Namun, Sabtu depan tidak akan ada surat lagi. Sabtu depan, dan sabtu-sabtu berikutnya, hanya akan ada keheningan yang menjadi hukuman seumur hidup baginya.
Di sisi lain benua, di sebuah apartemen kecil di dekat Universitas Zurich, seorang gadis dengan potongan rambut baru yang lebih segar sedang membongkar kopernya. Ia mengeluarkan buku-buku tebal tentang anatomi dan biologi. Namanya di paspor kini hanya tertulis Gabriella Rachel, tanpa nama keluarga yang mengikatnya pada masa lalu.
Achell menatap ke luar jendela, ke arah pegunungan Alpen yang tertutup salju. Ia menarik napas dalam, merasakan udara kebebasan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Mulai hari ini," ucap Achell pada dirinya sendiri, "aku tidak akan hidup untuk senyuman pria lain. Aku akan hidup untuk menyelamatkan nyawa orang lain."
Perang dingin telah usai, dan pemenangnya bukanlah pria yang memiliki segalanya, melainkan gadis yang berani meninggalkan segalanya demi menemukan dirinya sendiri.