NovelToon NovelToon
Permainan Takdir

Permainan Takdir

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintamanis / Contest / Peningkatan diri-peningkatan identitas/sifat protagonis / Tamat
Popularitas:964.1k
Nilai: 5
Nama Author: cietyameyzha

Adnan dipertemukan kembali dengan Alina, gadis yang sama 6 tahun lalu. Satu kejadian membuat Alina bernadzar sesuatu. Dan Adnan adalah saksi hidup yang mendengarnya.

Rentetan kejadian demi kejadian seolah teratur sempurna untuk mengikat keduanya. Puzzle kehidupan Alina yang kelam dan penuh air mata mulai terkuak.

Dua hati dengan watak yang berbeda kini bersatu. Saling bertabrakan dan tak jarang beradu argumen.


Bagaimana kisahnya?
Apa mereka tetap bisa berjalan bersama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cietyameyzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tawuran anak remaja.

Jangan bermain dengan api. Kamu tidak 'kan tahu bahaya seperti apa yang tengah mengintai.

🌹🌹🌹

Suasana berubah hening. Beberapa pasang mata dan telinga menjadi saksi. Alina mengorek kupingnya beberapa kali. Tidak salahkah yang ia dengar? Bisa-bisanya lelaki Gay ini berkata seperti itu.

"Ayo, pulang," ajak Adnan pada Alina.

Gadis itu seolah terhipnotis. Ia mengikuti begitu saja direktur utama Wijaya Land tersebut. Sedangkan Bagas mengepalkan tangan menatap kepergian keduanya.

"Oh ... jadi dia calon suaminya. Pantas saja gadis itu menolakku mentah-mentah. Awas, aku pastikan kalian tidak 'kan pernah bahagia. Satu kali pun!" kutuk Bagas.

Sementara itu, Alina dan Adnan sudah berada di luar. Alina menatap Adnan. "Maksud lo apaan sih? Datang-datang bilang gue, calon istri lo segala."

"Mau jadi pahlawan kesiangan?"

Alina terus mengoceh, sedangkan Adnan sibuk mengetik pesan di gawainya. Ia memberitahu bundanya, mungkin bisa jadi dirinya pulang terlambat.

"Hei, direktur Gay!" Alina kesal, karena tak dapat tanggapan.

Adnan kembali menyimpan ponsel di saku celana. "Sudah mau Maghrib. Ayo, cari masjid terdekat."

"Gue nanya, jawab dulu. Seengganya kasih gue penjelasan."

"Engga ada yang perlu dijelasin." Mata Adnan mencari tempat ibadah untuk umat muslim. "Di sebrang ada masjid. Kamu mau sholat tidak?"

Alina mengerjap. Ia bingung harus berkata apa. Saat ini dirinya mendapatkan palang merah.

"Kalau lagi halangan. Kamu tunggu di dekat mobil." Adnan melangkahkan kaki dan menyebrang jalan. Alina tak menyangka, lelaki itu bisa menebak isi hatinya.

Cafe tersebut berada di depan lampu merah. Sepeninggal Adnan, Alina benar-benar menunggu di dekat mobil dan memilih berselancar di dunia maya lewat ponsel. Masih teringang perkataan Adnan tadi. Namun, ia terus mengingatkan diri, bahwa itu hanya sebuah kepedulian sesama manusia.

Azan Maghrib menggema. Tampak orang berkeluaran dari cafe dan berbondong-bondong memenuhi panggilan Sang Pencipta. Ada juga yang masih diam tanpa menghiraukan sedikitpun.

10 menit menunggu, Adnan kembali.

"Cepat masuk mobil. Aku harus pulang," ujarnya.

Dahi Alina berkerut. "Ngapain? Gue ogah pulang bareng sama lo. Cepet jelasin soal ucapan lo tadi."

Posisi Alina bersandar di dekat pintu belakang. Adnan yang tak ingin membuang waktu bergegas masuk mobil. Kekesalan Alina memuncak melihat hal itu. Ia menghampiri Adnan ke pintu jok depan.

"Lo mau ke mana? Bukannya ngejelasin malah masuk mobil."

"Pulang," jawab Adnan singkat. "Kamu mau ikut? Mungkin mau bertemu kedua calon mertuamu."

Alina mendengus kesal. "Gue bukan calon istri lo. Ingat itu! Siapa juga yang mau sama laki-laki tanpa ekspresi, udah kek, triplek. Datar."

Alina berbalik, berjalan ke depan sembari mengomel tak jelas. Tanpa di duga keningnya terbentur tiang lampu merah. Dari mobil Adnan terkekeh geli. Saat melihat Alina menengok, secepat kilat ia berpura-pura tidak tau.

"Lo ngetawain gue?" teriak Alina semakin kesal. Ia memukul tiang tersebut. "Lagian siapa sih, yang nyimpen tiang gede di sini."

Gadis itu berbelok ke arah kanan dan menyusuri jalanan sendiri. Akhir-akhir ini rasanya kekejaman dunia berdatangan padanya. Seolah ingin melenyapkan ia hingga hancur lebur.

Meski begitu, Alina bukanlah gadis cengeng yang selalu menangis saat terluka. Wanita itu tetap tegar menapaki jalan kehidupannya yang penuh lika-liku. Beberapa detik selanjutnya, tiba-tiba dua kelompok anak-anak remaja dari arah depan dan belakang mendekat ke Alina. Mereka hendak tawuran. Suasana jalanan mencengkram. Alina berada di sela-sela baku hantam generasi muda yang seharusnya diam di rumah untuk belajar.

Mereka menggunakan celurit dan lainnya untuk saling menghantam lawan. Alina mencoba menghindar dengan menerobos kerumunan. Namun, ia justru terkena cambuk salah satu gesper yang dipegang anak remaja berpakaian biru muda.

"Woy, sakit!" teriak Alina masih mencoba keluar dari kerumunan.

Tidak diduga seorang tangan kekar kembali menyelamatkan dirinya. Tangan itu menarik dan mengajak Alina berlari ke arah samping, trotoar jalan. Lalu, membawanya ke salah satu deretan ruko di depan.

Napas Alina tersengal-sengal, karena lelah berlari. Ia menatap ke atas, melihat sosok malaikat di sampingnya.

"Lo!" seru Alina.

Adnan tampak kelelahan. Napasnya memburu sembari tatapannya ke depan menyaksikan tawuran para remaja.

"Diam!" tegas Ardan. "Ikuti aku."

Adnan mengisyarat gadis di sampingnya untuk terus berjalan sambil berhati-hati. Takut tawuran itu melebar ke samping jalan. Akhirnya, keduanya bisa menjauh dari hal menakutkan tersebut. Mobil Adnan masih terparkir, ia bergegas mengajak Alina masuk dan tak ingin mendengar penolakan lagi dari gadis itu.

Alina menurut. Badannya lelah untuk sekadar berdebat dengan Ardan. Di jok belakang, Alina menyandarkan punggung. Memandang keluar saat Adnan mulai mengendarai mobil untuk berputar arah menghindari kerumunan.

Lalu lintas semakin padat. Banyak pekerja pulang untuk kembali ke rumah masing-masing. Bertemu keluarga dan melepaskan penat. Namun, tidak untuk Alina. Pulang, kata itu terasa sesuatu yang menakutkan. Seperti ia harus kembali pada tempat bekas penyiksaan masa remajanya.

Bayangan ibunya yang terbaring di rumah sakit melintas begitu saja. Setetes air mata lolos tanpa dosa. Dengan cepat, ia menghapus jejak itu di pipi. Dunia memang sering bercanda padanya. Sehingga, membuat ia tak merasa heran --jika hidupnya-- tidak seindah orang lain.

Hidup dalam bayangan rasa trauma dan perasaan muak adalah yang ia jalani. Kepercayaan? Seperti kata itu telah lenyap dari jajaran kamus kehidupannya. Ia tak mempercayai siapapun, termasuk dirinya sendiri.

Mobil yang mereka tumpangi sampai di depan rumah Alina. Adnan berkata, "Istirahatlah! Jangan pikirkan apa pun."

Alina turun tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Adnan menurunkan kaca jendela mobil, memperhatikan kepergian gadis itu. Satpam rumah membukakan gerbang. Lalu, membungkuk pada anak majikannya serta Adnan yang melihat Alina dari mobil. Setelah itu, mobil Adnan kembali melaju.

"Papa udah pulang, Mang?" tanya Alina pada satpam itu.

"Belum, Neng. Kalau Nyonya sama Mas Rio baru sampai," jawabnya.

Alina menghela napas kasar. Jujur, ia sedang tidak mood bertemu dua orang tersebut. Namun, apa boleh buat. Keringat di tubuh membuat Alina risih dan ingin mandi. Benar saja, saat Alina masuk rumah. Rio dan Bu Sinta sedang membicarakan Alina dan Ardan yang Rio ketahui dari Bagas.

"Jadi, beneran direktur itu bilang, kalau Alina calon istrinya?" tanya Bu Sinta.

"Iya, Ma. Bagas tadi cerita sama Rio." Rio membenarkan hal tersebut.

"Wah, kesempatan emas ini. Mama bisa pamer sama teman-teman, kalau Alina bakal jadi istri direktur utama."

"Yang pasti, Rio bakal banyak dapetin tender dengan mudah. Perusahan kita udah lama bekerja sama dengan Wijaya Land."

Ibu dan anak itu tertawa bersama. Alina melewati mereka begitu saja. Namun, langkahnya terhenti ketika Bu Sinta memanggil namanya.

"Alina. Sini, Sayang," panggil Bu Sinta.

Ujung bibir Alina terangakat. Ia muak mendengar suara lembut tersebut.

"Jangan harap, aku mau menuruti perintahmu! Cukup masa remajaku yang tersakiti. Dan ... jangan pernah libatkan orang lain di permainan gila kalian," sahut Alina. Ia kembali meneruskan langkah.

...****************...

BERSAMBUNG~~~

Jangan lupa like, coment dan vote🥰

1
Ma Selly
wah suami idaman
Ma Selly
wah ,awas adnan jangan sampe tergoda sama ulet bulu/Grin//Grin/
Ma Selly
adnan bercandanyakebangetan
Ma Selly
semoga adnan selamat dari kecelakaan mautnya
Ma Selly
kira kira siapa yah yg pake mobil merah
Ma Selly
semoga lily dan riko berjodoh
Ma Selly
haaahaaaa ada ada aja adnan bercandanya
Ma Selly
iya nikakan saja tuh si kembar riki dan riko ,di barengin aja nikahnya biar tambah rame/Grin//Grin//Facepalm/
Ma Selly
rasain lo rio makanya jd orang jangan jahat
Ma Selly
kasihan bu winda ,dia ga tau kalau pak willy sudah menikah lagi
Ma Selly
mudahan ibunya alina sadar dari komanya Aamiin
Ma Selly
siapa kira kira yg merekam
Ma Selly
oh jd begitu ceritanya
Ma Selly
kasihan lily ga ada yg menemaninya
Ma Selly
ketemu mantan kali ya
Ma Selly
usil sama istri sendiri ga masalah
Ma Selly
si masnya sudah mulai bucin akut
Ma Selly
mau ada pengantin baru nih
Ma Selly
ibu dan anak yang serakah
Dina Mulyana Syafitri
masyaAllah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!