Karya ini murni dari imajinasi penulis. Tidak ada unsur plagiat.
🌺🌺🌺
Angga Pratama, seorang pengusaha muda yang sukses. Dia terkenal dengan kedinginannya. Mamanya memaksa Angga untuk segera menikah. Jika Angga tidak menikah juga. Maka, Santi akan menjodohkannya dengan anak dari sahabatnya.
Anastasya, seorang gadis yatim piatu berusia 21 tahun. Ia dibesarkan oleh asisten rumah tangganya. Yang di kenal dengan panggilan Bibi Ratih.
Suatu hari Angga dan Tasya dipertemukan. Namun, bukan pertemuan yang baik seperti pada umumnya.
Penasaran dengan kisah mereka? Jangan lupa favoritkan novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Casilla Bella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter-9
Tangan Tasya sedang sibuk memotong rambut pelanggannya.
"Tasya, dipanggil Bu Santi tuh!" kata Alea.
"Ada apa Al?" tanyanya.
"Gak tahu. Ibu nungguin di depan. Kamu cepat ke sana!" kata Alea pelan.
"Iya tunggu sebentar, ini belum beres. Sebentar lagi, kamu tolong bilang dulu sama Ibu ya?!" pintanya.
"Iya, kalau gitu aku samperin Ibu dulu!" kata Alea.
"Mbak, ini sudah selesai..." Tasya membuka kain kap yang melekat di tubuh pelanggannya.
"Terima kasih Mbak, saya suka modelnya!" ucap pelanggan itu sambil bercermin.
"Sama-sama, saya tinggal ke luar. Mbak bisa membayarnya di sana!" Tasya menunjuk ke arah Bunda Mawar.
"Baik Mbak." Kata pelanggan itu.
Tasya berjalan menuju ke luar salon.
"Bu, maaf menunggu!" kata Tasya.
"Iya, gak apa-apa..." kata Santi.
"Kalau begitu, Alea masuk ke dalam Bu..." izin Alea sopan.
"Iya silakan," jawabnya.
"Ada apa Bu?" tanya Tasya memulai percakapan.
"Kamu sudah punya pasangan belum?" tanyanya.
Tasya tersentak. Bagaimana tidak? Mengapa atasannya bertanya seperti itu secara tiba-tiba?
"S-saya belum punya..." lirihnya.
"Bagus!" Santi tersenyum.
Tasya mengeryitkan dahinya, "Memangnya ada apa Bu?" tanyanya.
"Tidak ada apa-apa. Hanya bertanya saja." Ujar Santi.
"I-iya..." jawabnya canggung.
"Kamu ikut Ibu belanja yuk?! Ibu gak ada teman belanja nih..." ajak Santi.
Sekali lagi Tasya terkejut. Belanja? Bersama atasan yang baru ia kenal beberapa hari?
"Tapi, salon Ibu---"
"Salon Ibu kan ada yang urus. Ada Bunda, Nuri dan Alea. Kamu ikut Ibu ya? Mau kan?" bujuknya.
Sebenarnya Tasya sangat bingung. Kenapa harus ia yang diajak? Mengapa tidak temannya yang lain? Mereka sudah akrab dan kenal lama dengan Santi. Tapi, jika ia menolak. Ia takut Santi tersinggung. Akhirnya, Tasya memutuskan untuk ikut.
Tasya, diajak ke salah satu mall. Ia mengikuti ke manapun Santi melangkah.
"Tasya, baju ini terlihat sangat bagus ya?" tanya Santi sambil menyentuh pakaian yang menggantung di sana.
"Iya, itu sangat bagus Bu..." jawabnya.
Santi mengambil pakaian itu dari tempatnya, "Lihat ini sangat cocok untukmu!" Santi menempelkan baju itu ke tubuh Tasya.
"Ng???"
"Kamu suka kan?" tanyanya.
"Iya Bu. Kalau boleh tahu, baju itu untuk anak Ibu ya?" tanyanya balik.
"Anak Ibu cuma satu. Itupun laki-laki. Baju ini untuk kamu Tasya!" ujarnya.
"S-saya?"
"Iya. Kalau kamu suka, Ibu akan belikan untuk kamu!" Santi tersenyum dan memasukkan baju itu ke keranjang belanjaan.
"Tapi, saya tidak ingin me---"
"Tidak apa-apa. Ibu sangat ingin membelikan pakaian untuk kamu. Kamu tidak boleh menolak pemberian Ibu!" Tasya hanya terdiam. Lalu mengikuti ke mana Santi melangkah lagi.
Santi membelikan Tasya pakaian lengkap. Dari ujung rambut sampai ujung kaki. Santi membelikannya dress, sepatu hak tinggi, tas branded, bahkan perhiasan sekaligus.
"Ibu, ini serius? Semua untuk Tasya?" tanya Tasya, melongo.
Apa ini mimpi? Dan apa ini tidak berlebihan? Tidak... tidak, ini berlebihan! Tasya dan Santi baru saling mengenal. Ada apa sebenarnya? Mengapa Santi memberikan barang-barang mewah seperti ini padanya? Apa tujuannya memberikan semua ini padanya? Begitu banyak pertanyaan yang ada di dalam benak Tasya.
"Iya, Ibu serius. Semua ini untuk kamu!"
"Tapi mengapa?"
"Mengapa apanya? Apa Ibu tidak boleh memberikan barang-barang padamu? Kamu kan pegawai baru Ibu. Dan katanya kerjamu juga sangat bagus. Selain itu, Ibu ingin sekali dekat dengan kamu. Ibu ini kesepian. Ibu merasa sangat senang bisa ditemani oleh kamu." Tuturnya senang.
"Tapi, Tasya jadi membebani Ibu." Ia sedikit menunduk malu.
"Terima kasih banyak atas segalanya. Tasya tidak tahu harus membalas kebaikan Ibu dengan apa?!" ucapnya ragu.
"Kamu bisa balas Ibu dengan memenuhi keinginan Ibu..." katanya.
"A-apa itu? Tasya akan lakukan apapun selagi Tasya Mampu." Jawab Tasya dengan cepat.
Santi tersenyum, "Ibu ingin kamu makan malam di rumah Ibu."
Matanya terbelalak, "M-makan malam?"
Santi mengangguk, "Kamu mau kan? Ibu ingin nanti malam, kamu memakai semua yang tadi Ibu belikan. Sopir Ibu, akan menjemputmu nanti malam. Pokoknya, kamu harus datang!" Santi tersenyum, lalu masuk ke dalam mobilnya.
"Makan malam bersama Bu Santi..." gumamnya masih tak percaya.
"Tas! Kok diem? Sini masuk! Ibu akan antar kamu pulang!" panggil Santi dari dalam mobil.
Tasya tersadar dari lamunannya, "I-iya!" Tasya segera memasuki mobil atasannya itu.
"Bu, sebaiknya Tasya kembali ke salon. Jam kerja Tasya masih 2 jam lagi." Ujarnya.
"Tidak, kamu pulang saja. Istirahatkan diri kamu. Pokoknya, kamu harus persiapkan diri kamu buat makan malam sama Ibu. Soal salon kan ada Bunda Mawar dan yang lainnya."
"Ini keinginan Ibu, apa kamu tidak mau mengabulkan keinginan Ibu?" lirihnya.
"Hmm... baiklah." Tasya tidak bisa membantah atau berbuat apa-apa. Ingin rasanya ia bertanya, mengapa Santi mengundangnya untuk makan malam? Ada apa? Apakah Bu Santi sedang berulang tahun dan mengadakan pesta? Apa Bunda Mawar dan lainnya juga di undang? Tapi, mengapa hanya ia yang di belikan pakaian serba mahal seperti ini? Sebenarnya apa tujuan Santi melakukan ini padanya? Ingin ia bertanya. Namun, ia tak berani.
Mereka pun tiba di depan rumah Tasya. Tidak, tepatnya rumah Ratih. Pak sopir membantu Tasya membawa belanjaannya ke dalam rumah. Sementara Tasya, tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih pada Santi.
***
"Angga, nanti malam kamu gak ke mana-mana kan?"
"Nggak Ma." Jawabnya.
"Mama mau mengadakan makan malam sama seseorang. Kamu gabung ya? Kamu mau makan apa? Biar Mama yang masakin!" ucapnya semangat.
Angga mengeryit heran, "Makan malam sama siapa?" tanyanya.
"Ada deh..." jawabnya sambil tersenyum.
"Bilang dong, kamu mau dimasakin apa sama Mama?" tanyanya lagi.
"Terserah Mama, semua masakan Mama pasti Angga makan. Mama kan jagonya kalau masak-memasak!" puji Angga.
"Kamu ini..." Santi menepuk bahu Angga dengan gemas.
"Ma, Angga ingin sayur asam ya?"
"Katanya terserah, tapi minta dimasakin sayur juga!" goda Santi.
"Hehehe..." ia tertawa kecil, "Mama kan tadi nawarin. Ya... Angga ingin makan itu."
"Baiklah putra Mama yang paling ganteng! Mama bakal masakin semua makanan favorit kamu!" ucapnya gemas, sambil mencubit pipi Angga.
"Angga kan, memang putra Mama satu-satunya. Jadi jelas, Angga anak Mama yang paling ganteng!" ucapnya percaya diri.
Santi memasak di dapur. Ditemani oleh Asih. Mereka sibuk menyiapkan acara makan malam agar berjalan dengan lancar. Santi berharap Tasya dapat menerima Angga. Santi sudah menelusuri latar belakang Tasya. Santi juga tahu, kalau Tasya pernah bekerja di perusahaan anaknya. Meskipun tahu akan semua itu, Santi yakin! Kalau Tasya dan Angga berjodoh.
***
Happy reading 🥰
.... payyyaahhhhh dahhh😤😤😤😤😤😤