"Ketika cinta datang disituasi yang salah"
Rieta Ervina tidak pernah menyangka, jika keputusannya untuk bekerja pada Arlan Avalon, pria yang menjadi paman dari suaminya justru membuat ia terjebak dalam lingkaran cinta yang seharusnya tidak ia masuki.
Pernikahan tanpa cinta yang awalnya ia terima setulus hati berubah menjadi perlawanan saat Rieta menyaksikan sendiri perselingkuhan suaminya bersama wanita yang menjadi rekan kerjanya. Dan di saat yang sama, paman dari suaminya justru menyatakan peraasaannya pada Rieta.
"Cinta ini adalah cinta yang salah, tapi aku tidak peduli." Arlan.
Apa yang akan Rieta lakukan setelahnya? Akankah ia menerima cinta yang datang? Atau tetap bertahan pada pernikahan bersama suami yang sudah mengkhianati dirinya?
Ikuti kisah mereka...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. Kembali ke Rumah.
"Aku pulang!"
Rieta berseru tertahan, berusaha menahan diri agar tidak melompat begitu pesawat yang ia tumpangi sudah mendarat. Kedua matanya terpejam sejenak, kepalanya sedikit tengadah, lalu menghirup udara sebanyak yang ia bisa, dan menghembuskannya seolah itu adalah pertama kali baginya. Padahal, hampir setiap kali ia liburan, ia selalu menyempatkan untuk pulang sekedar melihat keadaan suami serta mertuanya dan kembali ke luar negri untuk lanjut kuliah. Akan tetapi, kali ini ia benar-benar pulang.
Rieta membuka kedua matanya, tersenyum, lalu melangkahkan kakinya keluar dari bandara dengan koper di tangan. Benaknya sudah memikirkan skenario apa yang ingin ia lakukan begitu tiba di kediaman Larson.
Namun, baru beberapa langkah Rieta berjalan keluar dari pintu arrival gate, langkahnya terhenti ketika tiba-tiba seorang pria berusia kisaran tiga puluhan berjalan mendekat dan berhenti tepat di hadapannya.
"Nona Rieta?" katanya sopan
Rieta mengernyitkan dahi, menatap lekat pria itu dari atas sampai bawah, merasa asing.
"Maaf, Anda siapa?" tanya Rieta.
Pria itu tersenyum sopan, sedikit membungkukkan badan, dan kembali menatap Rieta.
"Saya Liam Orlando, asisten pribadi Tuan Arlan Avalon. Saya ditugaskan untuk menjemput Anda," ujarnya kembali menurunkan pandangan, merasa sungkan untuk menatap nona mudanya meski usianya jauh lebih tua dari Rieta.
Arlan Avalon.
Rieta mengulang nama itu dalam benaknya, mengeja nama itu pelan-pelan sekaligus menggali ingatannya tentang siapa pria yang baru saja namanya disebutkan.
"Siapa?" tanya Rieta pada akhirnya, ingatannya mendadak buntu.
"Paman dari Tuan Evan. Paman Anda," jawab Liam sopan.
"Aah ...." Rieta mengangguk.
Kali ini ia mengingat nama itu, tetapi tidak benar-benar mengingat. Ingatan terakhir tentang paman dari suaminya adalah saat ia masih remaja, dan ia tidak begitu mengingat wajahnya.
Bukan tanpa alasan, tetapi karena saat itu ia nyaris tidak pernah melihat sosok Arlan saat ia tinggal di kediaman Larson. Yang ia ingat hanyalah, Paman Arlan adalah adik tiri dari ibu mertuanya. Ia juga ingat sosok pria berwajah dingin nan datar dari Paman Arlan setiap kali pria itu datang berkunjung, dan sayangnya ingatan tentang seperti apa paras sang paman benar-benar hilang dari otaknya.
Hal terakhir yang Rieta ingat dari sosok sang paman adalah usia Arlan yang terpaut lebih dari sepuluh tahun dengan dirinya.
Dalam hati, Rieta tersenyum, membayangkan wajah sang paman yang mungkin terlihat lebih tua dari pria yang kini berdiri di depannya.
"Izinkan saya membawa ini." ujar Liam seraya mengambil alih koper dari tangan Rieta. "Mari, Nona." lanjutnya sembari mengulurkan tangan ke depan.
"Ah ... Iya," sahut Rieta.
Rieta mulai melangkah diiringi Liam di sampingnya. Menyembunyikan senyum saat Liam menyematkan kata nona padanya. Sebutan yang seharusnya tidak lagi ia sandang jika mengingat dirinya yang sudah menikah. Akan tetapi, sebutan itu tetap digunakan untuk sementara waktu sampai pernikahannya dengan Evan dibuka di depan publik.
Liam membuka pintu mobil, mempersilakan Rieta masuk, lalu menutup pintu dengan perlahan. Hal itu berlanjut dengan dirinya meletakkan koper Rieta ke bagasi mobil, lalu masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang kemudi. Sesaat kemudian, mobil itu melaju pergi meninggalkan bandara.
"Bukankah sebelumnya sopir yang selalu datang menjemputku? Kenapa sekarang kamu?" tanya Rieta memecah keheningan saat mobil sudah melaju.
"Saya hanya menjalankan perintah, Nona," jawab Liam dengan suara tenang. "Tentang apa alasannya, Anda bisa bertanya langsung kepada Tuan Arlan saat bertemu nanti."
Rieta hanya mengangguk singkat sebagai tanggapan, segera memalingkan wajah dan menatap jalanan yang ia lewati melalui kaca mobil. Sesaat kemudian ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya, menggulirnya sejenak, lalu mengetik pesan dangan nama 'Lenny' sebagai penerima pesan.
"Aku sudah sampai. Aku akan menghubungimu nanti malam jika aku memiliki kesempatan." - send-.
.
.
.
Rieta tiba di kediaman Larson setelah dua puluh menit menempuh perjalanan. Ia menatap sejenak rumah besar yang sudah menjadi tempat tinggalnya sejak ia diasuh oleh keluarga Larson, menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan cepat.
"Silakan, Nona." ujar Liam setelah membuka pintu mobil.
"Terima kasih." sahut Rieta seraya melangkahkan kakinya keluar mobil.
Liam mengangguk sopan, beralih mengeluarkan koper milik Rieta dari bagasi dan membawa Rieta masuk ke dalam rumah.
"Ah ... Menantuku sudah pulang."
Kalimat sambutan itu praktis membuat Rieta mengembangkan senyum manis terbaiknya, lalu melangkah cepat dan menghambur ke dalam pelukan wanita paruh baya yang menjadi ibu mertuanya. Nyonya Melani Larson.
Di samping Nyonya Melani, seorang pria paruh baya berdiri dengan senyum hangat di wajah, lalu membuka kedua lengannya yang membuat Rieta berpindah masuk ke dalam pelukan pria paruh baya itu. Tuan Marlan Larson-ayah mertua Rieta.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Tuan Marlan.
"Baik, Pa," jawab Rieta seraya melerai pelukan. "Bagaimana dengan kabar, Papa?" sambungnya bertanya.
"Seperti yang kamu lihat," sahut Tuan Marlan tersenyum. "Papa bertambah tua." imbuhnya berseloroh.
Rieta tertawa, lalu menggeleng pelan. "Papa tidak setua itu. Justru menurutku, Papa masih terlihat gagah."
Kali ini Tuan Marlan yang tertawa ringan sembari mengusap lembut kepala menantunya, lalu menggeser sedikit tubuhnya hingga Rieta baru menyadari ada sosok pria lain berdiri beberapa langkah di belakang Tuan Marlan.
Selama beberapa saat, netra Rieta mengunci wajah pria berusia matang yang kini tengah melangkah mendekat ke arahnya. Sorot dingin dengan wajah datar itu sesaat membuat ia terpana. Garis rahang yang ditumbuhi cambang halus, serta bibir tanpa senyum dari pria itu yang justru membuat pria itu memiliki pesona tersendiri.
"Apakah dia paman Arlan? Bagaimana mungkin?" desis Rieta dalam hati. Presepsi tentang Arlan yang sebelumnya ia pikirkan ternyata salah besar.
"Ekhem...!"
Tuan Marlan berdeham singkat, sedikitpun tidak menyadari sikap menantunya. Suara ringan yang membuat Rieta segera tersadar dari lamunannya sekaligus menyadarkan Rieta akan posisinya.
"Dia ...." Tuan Marlan menunjuk pria itu menggunakan satu tangan. "Arlan Avalon, pamanmu," ungkapnya.
Rieta membeku, ternyata pria itu benar adalah pamannya.
"Ini bukan pertama kali kamu bertemu dengannya. Dia sangat jarang datang saat kamu pulang, tapi hari ini dia sengaja datang untuk menyambut kepulanganmu," lanjut Tuan Marlan.
Rieta tersenyum, menetralkan ekspresi wajahnya dan mengangguk sopan. Sayangnya, apa yang Rieta lakukan hanya mendapatkan gedikan bahu singkat dari Arlan seolah pria itu tidak peduli dengan apa yang Rieta lakukan.
"Asistenku sudah menyelesaikan tugasnya. Aku akan kembali ke kantor dan kembali kemari setelah pekerjaanku selesai untuk makan malam," ucap Arlan memberitahu.
Tuan Marlan mengangguk, mengucapkan terima kasih dan membiarkan adik iparnya pergi. Sementara dirinya segera meminta pelayan untuk membawakan koper Rieta ke kamar.
Langkah Arlan terhenti sejenak, kemudian berbalik, mengamati sosok Rieta dari atas sampai bawah tanpa kata, lalu tersenyum tipis. Sangat tipis sampai tidak ada siapapun yang menyadari jika senyuman itu sempat ada sebelum kembali berbalik melanjutkan langkahnya yang tertunda.
. . . .
. . . .
To be continued...