Lelaki yang hidup berkecukupan, dan sudah dipastikan akan menjadi pewaris tunggal kekayaan orang tuanya. sudah pasti di minati para wanita, banyak wanita yang ingin menjadi pacarnya namun ia selalu menolaknya karena seseorang.
Setelah menunggu sekian lamanya, seseorang itu datang. namun, diwaktu yang tidak tepat.
Ia sudah memiliki seorang istri, yang bahkan belum ia cintai.
"Menikahi wanita usia tiga puluh tahun itu bukan keinginan ku" ucap gatra dengan tegas
Apakah seorang gatra bisa mencintai istrinya? atau malah terjadi perselingkuhan? atau perceraian?
Yuk baca, kita intip rumah tangga gatra.
ig ; diah.ifro dan ruangg rindu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DiahIfro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 9
"Ibu tunggu disini, saya mau ke kamar" ucap gatra pada bu tania agar duduk menunggu di ruang tamu
Bu tania duduk sambil menganggukkan kepalanya "atau bu tania mau tunggu di kamar saya?" tanya lagi gatra dengan menahan tawa
Bu tania mempelototi gatra dengan sorot mata tajam, hingga akhirnya gatra tertawa terbahak-bahak "tabu banget sama sex ya?" ucapnya pergi
Bu tania mendengus kesal sambil menghela nafas panjang-nya "yaampun aku gak nyangka aku tadi benar-benar melakukan itu dengan gatra, muridku sendiri" kata bu tania sambil memegang dadanya "apa gatra benar-benar mau menikahi ku?" ucapnya lirih
Bu tania yang terdiam di kursi tamu mulai merasa bosan dengan hanya berdiam diri dan memainkan handphonenya, ia melihat sebuah majalah dewasa yang covernya sudah banyak coretan aneh dan gambar-gambar tidak pantas.
Siapa lagi kalau bukan ulah gatra, pastinya. bu tania melihat rumah besar dan mewah ini dengan teliti "apa mungkin gatra terkena imbas pergaulan bebas karena kedua orangtuanya yang jarang ada di rumah?" tanya bu tania sambil melihat jam yang sudah menunjukkan pukul tujuh malam
Tak lama gatra turun dengan celana pendek dan kaos hitam serta handuk yang ia pakai untuk mengeringkan rambutnya "lagi ngapain?"
"Enggak" jawab nu tania sambil mengalihkan pandangannya
"Sambil nunggu mamah sama papah, saya mau tanya skripsi boleh bu?" tanya gatra dengan sopan, entah kenapa bu tania semakin bingung dengan sikap gatra padanya yang selalu berubah-rubah
"Boleh" jawab bu tania sambil memasang senyum lebarnya
Gatra langsung berlari kecil naik keatas menuju kamarnya, bu tania kembali duduk di sofa.
Gatra kembali dengan skripsi yang dipegangnya dan makalah serta buku dan pulpen.
Ia duduk dengan santainya disamping bu tania sambil tersenyum menatap bu tania "liat bu"
Bu tania pun ikut tersenyum dan mulai mengecek skripsi gatra, gatra tersenyum kecil sambil menatap wajah bu tania.
"Ibu saya mau tanya boleh?" tanya gatra sambil tersenyum penuh arti
"Boleh" jawab bu tania tanpa menoleh pada wajah gatra
"Sebenarnya ibu masih..."
"Eh ada tania" teriak mamah dengan penuh semangat dan wajah bahagianya ketika melihat bu tania
Gatra menghela nafas panjangnya "belum juga ngapa-ngapain udah pada dateng!!!" gerutu gatra dalam hatinya dengan pikiran yang sudah kotor
"Mah" tania mencium punggung tangan mamah gatra "papah?" tanya tania yang tak melihat pak dario ikut masuk
"Masih di luar kali" jawab mamah menunjuk pintu
"Bisa gak mah ngobrolnya nanti dulu, gatra mau belajar" ucap gatra sambil menatap kedua orang perempuan yang asik berbincang
"Eh tania" kata papah saat ia muncul dari balik pintu
"Pah" tania mencium punggung tangan calon mertuanya itu sambil memasang senyum lebarnya "dari kapan kesini?" tanyanya
"Dari tadi pah" jawab tania sopan
"Yaudah, kita mau bersih-bersih dulu. nanti makan malam bareng" kata bu prita sambil menggandeng pak dario pergi
"Iya mah" jawab tania sambil mengangguk pelan
Bu tania menatap gatra yang seolah acuh tentang keberadaan orangtuanya jangan kan menyapa keduanya, gatra bahkan sama sekali tak menatap atau bahkan tersenyum ke arah orangtuanya yang baru pulang bekerja. padahal ini semua untuknya, ia sendiri yang menikmati hasilnya.
"Apa yang harus di benerin?" tanya gatra ketika bu tania kembali duduk disampingnya
"Udah saya garis bawahi" jawab bu tania
"Kalau begitu, kira-kira poin apa yang harus saya pelajari ya bu?" tanya lagi gatra
"Banyak, kadang pertanyaan spontan dosen penguji bisa buat kamu gugup. apalagi kadang mereka nyari celah dimana kamu kurangnya, tapi tenang aja. pertanyaan nya gak akan lepas dari materi skripsi kamu. yang terpenting kamu tenang dan mampu menjawab itu semua dengan beberapa acuan yang sudah ada diskripsi kamu" perjelas bu tania
"Kalau salah?" tanya gatra yang mempertanyakan bila hal buruk terjadi
"Gak akan salah, yang penting kamu percaya diri dan pelajari dengan benar"
"Ibu mau kan bantu saya?" tanya gatra sambil tersenyum
"Boleh" jawab bu tania sambil menganggukkan kepalanya "saya hanya menjawab yang kamu tanya saja bukan memberitahu kamu" sambungnya dengan tegas
Setelah gatra menulis semua poin penting yang menurutnya ada di skripsinya ia pun menyodorkannya pada bu tania "ya terserah kamu, itu kan menurut kamu yang mana yang penting" jawab bu tania sambil kembali mengembalikan kertas itu
"Untung saja sekarang pikiran ku menikahinya bukan cuma karena skripsi, tapi karena aku ingin merasakan sesuatu yang sudah ade kecil ku tahan" gumam nya dalam hati sambil tersenyum licik
Semenjak dirinya bisa merebut ciuman pertama bu tania, semakin membuatnya merasa penasaran dengan bu tania. gatra yang biasanya menolak perempuan tidur dengannya karena takut jika ada apa-apa ialah yang akan kena imbasnya namun sekarang malah menggebu-gebu ingin merasakan nya dengan bu tania.
"Gatra, tania sini makan" teriak bu prita dari meja makan
Gatra langsung bangun sambil memanggil bibi agar membereskan bukunya dan di taruh di kamar
"Iya den" jawab bibi sambil menaruh pakaian yang akan di setrika oleh bibi ke meja
"Biar saya aja deh bi" kata bu tania merebut pelan buku yang sudah di pegang bu tania "gapapa kan gatra? saya taruh di kasur aja"
"Hah?" gatra menggaruk kepalanya bingung, ia takut jika bu tania melihat kaset yang tergeletak diatas meja akan malah membuat bu tania merasa takut pada dirinya "aku lupa, kaset itu udah aku simpen ke lemari belum ya?" pikir gatra setengah mati
"Boleh kan saya masuk ke kamar kamu?" tanya bu tania sambil tersenyum ke arah gatra
"Biar saya aja deh bu yang naro" tolak gatra sambil mengambil buku di tangan bu tania "langsung ke meja makan aja, nanti saya nyusul"
Gatra melangkahkan kakinya naik ke kamar, ia meletakkan buku itu berserakan di atas tempat tidur sambil melihat ke arah kaset 21+ itu.
"Untung bukan bu tania yang masuk" ucapnya lega
Gatra menuruni anak tangga dengan berlari kecil "kalian mau bicara apa?" tanya mamah saat bokong gatra sudah menyentuh kursi
"Makan dulu deh mah" jawab tania sambil mengangguk kecil ke arah gatra
Gatra hanya mengangkat bahunya seolah berkata "terserah mau bicara kapan"
Kini semuanya mulai makan malam, terlihat gatra sudah selesai makan ia masih duduk sambil memainkan handphonenya.
Gatra langsung mengirimkan pesan pada haris dan raka "gak mau ikut gua, males"balasannya setelah raka dan haris mengajaknya ke club tempat biasa.
"Gatra, tania kalian mau bicara apa?" tanya pak dario sambil menatap keduanya serius
"Gatra mau menikahi bu tania secepatnya pah" jawab gatra enteng
"Wahh bagus" bu prita menepuk tangan pelan sambil memasang senyum lebarnya
"Menikah dan pacaran itu beda, apa kamu yakin kamu siap?" tanya pak dario menatap gatra
"Siap lah" jawab gatra dengan nada percaya diri
"Kalau kalian mau menikah secepatnya itu lebih bagus, kita setuju" kata papah sambil ikut memasang senyum diwajahnya
"Kalian maunya kapan?" tanya bu prita antusias
"Tania terserah mamah, papah sama gatra aja" jawab bu tania sambil mengangguk kecil
"Gimana kalo satu minggu lagi" usul gatra
Bu prita dan pak dario pun setuju dengan apa yang gatra usulkan, setidaknya mereka merasa gatra sudah mau menerima bu tania dengan baik.
-hati yang tersakiti' konflik rumah tangga
'-pemikat sukma" mistis, romansa
-kuntilanak pemakan janin" horor
karya siti H
semalu malunya dia sebagai wanita kan karakter dasar yg kuat krn srbagai dosen lalu juga bantu urus segala perusahaan walau lewat tangan kanan, kan pastinya dah siap mental kl ada hal yg buruk gitu loh ko ini mewek banget bin lembek