Amira Anastasya, yang setia menunggu janji dari Glen Anggara yang akan segera pulang dalam dua tahun setelah menyelesaikan pendidikannya di Eropa dan menikahi nya. Namun tidak sesuai dengan ala yang Amira harapkan.
Bertahun-tahun Amira menunggu akan tetapi Glen tidak kunjung datang, bahkan tidak pernah menghubungi Amira setelah satu bulan di Eropa tiba-tiba saja dia menghilang tanpa kabar, dan Amira pun tidak dapat menghubunginya.
Hingga lima tahun kemudian, ketika Amira dibandara dan hendak pergi keluar negeri tanpa sengaja mereka bertemu. Saat itu juga Glen pulang dari luar negeri.
Melihat kepergian Amira, Glen merasa sedih ketika dia hendak menemui Amira tetapi kenapa malah amira pergi keluar negeri dan tidak mau mendengarkan Glen saat itu.
Selama di Indonesia Glen berusaha mencari tahu kehidupan Amira selama ini, apakah dia baik-baik saja selama dia tidak ada atau malah sebaliknya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penpena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Pasangan
Sesampai diruangan, Amira melepaskan tangannya dari gandengan Kevin.
"Ah-iya. Aku minta maaf sudah menggandeng tangan mu, Mir. Aku berpikir kalau Pria tadi membuat mu tidak nyaman."
"Tidak apa-apa Kev, aku yang harus berterimakasih pada mu sudah membantuku menghidarinya tadi." Ucap Amira tersenyum. "Kalau begitu, aku pergi dulu ya." Tambahnya, kebetulan hari ini dia ada rapat dengan kolega nya.
Disisi lain Glen terus berjalan mencari kemana Amira dan pria itu pergi. Dia kehilangan jejaknya. Glen kembali mengingat ketika dia rapat waktu itu diruangan 05. Dia segera berlari kesana menacari Amira.
Glen berjalan cepat dengan mata memeriksa kesekitar dan tidak sengaja menabrak seseorang.
BRAKK
"okf, Maaf" Ucap Glen belum melihat siapa yang dia tabrak, dan setelah dia melihat, Glen terdiam ternyata itu Pria yang bersama dengan Amira tadi.
"Kamu" Ucapnya
Kevin menatap Glen datar dan pikirannya masih bertanya-tanya siapa sebenarnya pria itu, kenapa dia berusaha menghampiri Amira.
"Siapa kamu?." Tanya Kevin lirih
"Aku?, E-em, aku Glen. Aku sedang mencari Amira, dimana dia?." Tanya Glen, berharap pria dihadapannya itu memberitahunya.
Kevin menatapnya mencurigakan. "Sebaiknya kamu jauhi Amira." Ucapnya datar.
Glen diam, pikirannya bingung.
"Amira tidak ingin menemui siapapun, dan dia sedang sibuk sekarang." Tambah Kevin dan langsung pergi meninggalkan Glen.
Glen melihat pergerakan Kevin meninggalkannya.
"Apa hubungan mu dengan Amira?." Tanya Glen dan membuat Kevin berhenti lalu berbalik menatap Glen.
"Kamu tidak perlu tahu apa hubungan ku dengannya, yang pasti kami tidak akan pernah terpisahkan." Ucapnya serius menatap Glen. "Oh iya, ku ingatkan sekali lagi padamu, jangan pernah mengganggu Amira, atau kamu akan melihat balasannya." Tegas nya dan langsung pergi.
Gerald menghela napasnya dalam. Dia masih bertanya-tanya apa status pria itu dengan Amira, kenapa dia mengatakan kalau mereka tidak bisa terpisahkan?, apakah mereka memang kekasih atau suami Amira?. Batinnya dilema.
Tapi Glen tidak mau tahu tentang itu, dia harus menanyakannya langsung kepada Amira baru dia percaya. Glen melanjutkan berjalan kekamar 05 untuk mencari Amira.
Glen mengetuk pintu kamar itu dan tidak ada yang membukakannya ataupun suara dari dalam yang menyuruhnya masuk. Glen berulang-ulang mengetuknya dan sama saja, tidak ada sahutan dari dalam.
Glen berniat membuka saja pintunya dan masuk, karena dia yakin kalau Amira berada didalam.
Namun, setelah dia membuka tidak ada siapa-siapa didalam. Dia melihat kesegala sisi kamar itu dan tidak menemukan sosok yang dia inginkan.
"Dimana Amira?. Kalau bukan diruangan ini, lalu dimana dia?." Ucapnya merileks kan bahunya yang tadinya tegang. Glen kembali menutup pintu itu dan berniat mencarinya ditempat lain.
Glen melihat seorang yang sepertinya pegawai di cafe ini, dia berniat untuk bertanya saja kepadanya.
"Permisi."
"Iya pak, ada apa?"
"E-em, saya ingin bertemu dengan Amira, dimana dia?, saya sudah mengabarinya tadi untuk bertemu." Ucapnya membuat pegawai itu tidak bingung.
"Oh, Ibu Amira sedang ada pertemuan sekarang, bapak bisa menunggunya nanti."
"Oh begitu, dimana dia rapatnya?.":
"Di ruang 01 pak, sepertinya sebentar lagi sudah selesai, bapak bisa menunggu sebentar."
"Baik lah, terimakasih ya."
"Sama-sama."
Glen tersenyum karena telah menemukan dimana Amira, lalu dia berjalan kearah ruangan 01 yang tidak jauh darinya. Dan dia menunggu didepan Ruangan itu.
Setelah hampir setengah jam menunggu akhirnya orang seorang wanita keluar dari ruangan itu, sepertinya orang yang menemui Amira.
Glen bangkit berdiri dari kursinya dan langsung masuk keruangan itu. Lalu dia menemui Amira didalam dan melihat kearah Glen.
"Amira"
Amira menghela napasnya karena Glen selalu mengganggunya, dia hanya diam saja melihat Glen mendekatinya.
"Katakan apa yang mau kamu katakan tentang pekerjaan." Ucap Amira datar.
Glen duduk di sofa depan Amira dan tersenyum padanya. Namun dia bisa melihat wajah Amira yang datar.
"Aku minta maaf sudah mengganggu waktu mu."
"Iya, langsung saja ke intinya."
"Santai dong, tidak baik berkata seperti itu kepada rekan kerja." Tukas Glen.
"Aku tidak punya banyak waktu." Amira menatap Glen serius.
"Baik lah, sebelum membahas pekerjaan aku mau menanyakan sesuatu. E-m siapa pria yang bersamamu tadi?." Tanya Glen sedikit canggung.
"Bukan urusan mu, kalau tidak ada yang penting silahkan keluar sekarang."
"Tentu saja ini urusanku, Amira."
Amira menatapnya heran,
"Amira, aku masih mencintai mu. Dan aku ingin kembali untuk memperbaiki semuanya Amira, Aku minta maaf atas semua yang telah terjadi." Ucapnya sungguh-sungguh menatap Amira.
Amira terdiam. Dia tidak tahu harus mengatakan apa, tapi yang dia tahu kalau dia sudah sangat membenci Pria dihadapannya itu, dia sudah sangat menyakiti hatinya. Disaat dia tidak pernah mengangkat telpon bahkan tidak pernah memberi kabar kepada Amira selama bertahun-tahun, Amira sudah cukup sakit hati terhadap itu. dan sekarang dia datang dan mengatakan masih mencintainya?, Bulshit. Amira tidak akan semudah itu untuk menerima nya kembali.
"Aku benar-benar minta maaf, Amira. Kamu bisa menghukumku dengan cara lain, asalkan kamu jangan menjauh dariku, aku sadar kalau aku tidak bisa jauh darimu, Amira. Karna aku benar-benar mencintai mu dari dulu sampai sekarang." Tuturnya lagi penuh harapan Amira akan memahaminya.
"Mencintaiku dari dulu?" Amira tersenyum getir, tidak percaya dengan kata-kata Glen itu.
"Aku sungguh-sungguh, Mir."
"Aku sudah hilang kepercayaan kepadamu, Glen!. Setelah semua yang terjadi kamu bisa mengatakan hal yang tidak masuk akal seperti itu?, kamu berharap apa?, berharap aku percaya padamu dan kembali padamu?, jangan harap!. Seharusnya kamu punya hati dan pikiran. Kalau memang kamu mencintaiku dari dulu, kamu tidak akan meninggalkan aku atau tidak menghubungiku selama disana."
"Amira aku melakukan itu bukan seperti yang kamu pikirkan, aku tidak pernah berniat untuk meninggalkan ataupun tidak mengabarimu, Mir. Aku akan menjelaskan apa yang terjadi. Sebenarnya, aku ganti hape karena hape ku hilang. Dan tidak bisa menemukan kontakmu, dan saat itu juga aku ada masalah yang terjadi dalam keluarga ku."
"Di jaman sekarang yang serba digital ini kamu tidak bisa menemukan aku media sosial ku?," Amira tersenyum getir merasa tidak masuk akal dengan alasan Glen. "Sudah lah, Glen, Tidak perlu lagi. Aku tidak butuh penjelasan lagi, lebih baik untuk kita sekarang menjalani kehidupan kita masing-masing."
"Mir,"
"Glen, Stop!"
"Baik lah, tapi aku ingin kamu menjawab dengan jujur pertanyaan ku." Ucap Glen. "Siapa pria yang mengandeng tangan mu tadi pagi?."
"Sudah kubilang bukan urusan mu."
"Tapi aku pengen tahu, Mir."
Amira diam sejenak. "Dia pasangan ku." Ucap Amira berbohong, berharap dengan Glen tahu kalau dia sudah punya pasangan maka Glen akan menjauhi nya."
Glen terpaku, hatinya terasa sesak mendengar itu. Dia belum siap jika harus menerima Amira sudah bersama dengan orang lain sekarang. Harapannya telah pupus.
"Ku harap kamu mengerti, dan jangan mengganggu kehidupan pribadi ku lagi, tolong biarkan aku bahagia." Tegas Amira menatap Glen serius, lalu dia bangkit berdiri hendak meninggalkan ruangan itu.
Dengan cepat Glen memegang tangan Amira dan membuat amira terhenti, lalu Glen menarik Amira supaya ebih dekat padanya. Glen menatapnya dalam, bisa dilihat matanya sangat tajam menatap kedalaman mata Amira. Kini jarak antara wajah mereka sangat dekat hanya sekitar lima inci saja dan bisa merasakan deru napas satu sama lain.