NovelToon NovelToon
Vendetta

Vendetta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Action
Popularitas:942
Nilai: 5
Nama Author: Cukstaw

Season pertama mengisahkan kejatuhan tragis klan mafia termasyhur, Valenti, akibat pengkhianatan terencana pada malam penyerahan takhta kepemimpinan. Leo Valenti, pewaris tunggal yang dituduh membunuh ayahnya sendiri, diburu oleh gabungan faksi rival dan terlempar ke titik terendah setelah terluka parah. Di tengah keputusasaan, Leo bersimpangan jalan dengan Elena, seorang peretas dan pemilik jaringan informasi independen yang memiliki masa lalu kelam dengan pelaku kudeta tersebut. Mereka sepakat membentuk aliansi rahasia yang dingin dan saling memanfaatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cukstaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

IDENTITAS SANG PERETAS

Suasana di ruang bawah tanah itu terasa semakin menekan. Dengungan mesin pendingin server dan lampu kedap-kedip dari deretan CPU raksasa menjadi satu-satunya latar suara setelah kebenaran malam pembunuhan itu terbongkar. Leo masih duduk di kursi plastiknya, matanya tidak lepas dari layar monitor utama yang menampilkan data forensik kepolisian.

Namun, bukan laporan otopsi ayahnya lagi yang menyita perhatian Leo sekarang. Di sudut kanan bawah layar tersebut, terdapat sebuah baris kode logaritma yang terus bergerak, membentuk pola watermark transparan berwujud sebuah mata tunggal dengan sayap digital.

Jantung Leo berdegup satu ketukan lebih cepat. Di dunia bawah tanah kota ini, dari bar kasino paling kumuh hingga ruang rapat dewan mafia, lambang itu adalah mitos yang ditakuti. Itu adalah tanda tangan digital dari jaringan makelar informasi paling berbahaya.

"Mata bersayap..." Leo bergumam pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh suara kipas pendingin. Ia menoleh perlahan menatap Elena yang sedang menyesap sisa kopinya. "Lambang itu. Kau tidak mungkin... kau tidak mungkin mencuri antarmuka milik Phantom, kan?"

Elena menurunkan cangkir keramiknya. Sudut bibirnya tertarik, membentuk senyum asimetris yang penuh dengan rasa percaya diri dan sedikit arogansi. Ia memutar kursinya sepenuhnya menghadap Leo.

"Mencuri?" Elena mendengus pelan, nada suaranya terdengar merendahkan namun santai. "Kau pikir antarmuka seperti ini bisa diunduh gratis di *dark web*? Aku yang menulis setiap baris kodenya dari nol, Leo. Enam tahun hidup di bawah tanah, mengumpulkan perangkat keras rongsokan, dan meretas satu per satu satelit komunikasi swasta."

Mata Leo melebar. Ia menatap gadis berkaus hitam di depannya dari atas sampai bawah, seolah baru pertama kali melihatnya. Otaknya yang sudah lelah kini dipaksa bekerja keras untuk mencerna realita sinting ini.

"Kau... kau adalah Phantom?" Leo bertanya, nada suaranya tidak bisa menyembunyikan rasa tidak percayanya. "Selama ini, dewan mafia percaya bahwa Phantom adalah sindikat intelijen asing. Beberapa tetua klan bahkan yakin Phantom dijalankan oleh sekelompok mantan agen KGB atau peretas elit militer Korea Utara. Dan kau mau bilang padaku bahwa jaringan peretas paling dicari di kota ini... dijalankan oleh satu orang gadis dari dalam bekas pabrik pengalengan ikan busuk?"

"Kenyataan memang sering kali jauh lebih membosankan daripada rumor yang beredar di jalanan, Pangeran," Elena mengangkat bahu acuh tak acuh. Jari-jarinya menari dengan kecepatan kilat di atas keyboard.

Seketika, ketiga layar raksasa di belakangnya berubah. Layar kiri menampilkan ratusan titik merah yang bergerak di atas peta digital kota. Layar tengah menampilkan belasan rekaman CCTV dari berbagai sudut kota—jalan tol, pelabuhan, hingga lobi hotel-hotel mewah. Dan layar kanan menampilkan aliran angka-angka transaksi rekening bank lepas pantai yang terus bergulir tanpa henti.

"Ini bukan sihir, ini cuma masalah algoritma dan orang-orang yang terlalu bodoh menjaga kata sandi mereka," Elena menjelaskan, mengabaikan ekspresi terkejut Leo. "Titik merah di peta itu adalah ponsel dari setiap kroco mafia yang bekerja untuk Marco. Aku menyadap frekuensi komunikasi mereka. CCTV itu? Aku punya akses ke sistem keamanan lalu lintas kota. Dan angka-angka di sebelah sana adalah uang kotor konsorsium yang sedang dipindahkan Marco ke rekening pribadinya malam ini."

Leo berdiri perlahan, mengabaikan nyeri di betisnya. Ia berjalan pincang mendekati layar-layar tersebut. Matanya menyusuri aliran data yang luar biasa masif itu. Ia melihat rekaman CCTV yang menampilkan anak buah Marco sedang menendang pintu rumah salah satu pengawal setia ayahnya, menyeret keluarga pengawal itu keluar.

Tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. Jika saja ayahnya memiliki akses informasi sepersepuluh dari ini, kudeta Marco tidak akan pernah terjadi.

"Tiga bulan lalu, ada kasus kebocoran data rekening milik Wali Kota yang membuatnya batal mencalonkan diri," Leo berkata pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari layar. "Dua bulan lalu, gudang senjata klan Viper digerebek polisi tepat sepuluh menit setelah barangnya tiba dari pelabuhan. Itu semua ulahmu?"

"Wali Kota itu menolak membayar biaya tutup mulutku, dan klan Viper membunuh salah satu informan jalananku," Elena menjawab santai seraya bersandar di kursinya. "Mereka bermain dengan api, jadi aku membakar rumah mereka. Sederhana."

Leo menoleh, menatap gadis itu dengan tatapan menilai yang tajam. Ia sadar sepenuhnya bahwa orang yang menyelamatkan nyawanya ini bukanlah warga sipil biasa yang kebetulan lewat. Gadis ini adalah monster dengan senjatanya sendiri.

"Kalau begitu, ini tidak masuk akal," Leo memutar tubuhnya, bersandar pada meja baja operasi. Ia menyilangkan lengannya, menahan perbannya agar tidak bergeser. "Kalau kau adalah Phantom, kau pada dasarnya mengendalikan urat nadi informasi kota ini. Kau bisa memeras Marco dengan rekaman forensik palsunya. Kau bisa menjualku padanya dan meminta bayaran miliaran. Kenapa repot-repot menarik pria sekarat dari sungai, menjahit lukanya, dan menawarkan kerja sama?"

Elena terdiam. Senyum sinis yang sedari tadi menghiasi wajahnya perlahan luntur. Matanya yang cokelat gelap mendadak berubah dingin, sedingin air sungai tempat Leo nyaris mati. Ia membuang pandangannya ke arah deretan server yang berdengung.

"Data tidak bisa menarik pelatuk, Leo," Elena akhirnya buka suara, nadanya jauh lebih berat dari sebelumnya.

Ia kembali menatap Leo, dan kali ini, Leo bisa melihat ada kobaran amarah yang dipendam sangat dalam di balik mata gadis itu. Amarah yang sangat familiar baginya.

"Aku punya semua informasi di dunia ini," lanjut Elena pelan tapi penuh penekanan. "Aku tahu siapa menyuap siapa. Aku tahu di mana Marco menyembunyikan uangnya, di mana algojonya tidur, dan rahasia apa yang ditutupi oleh dewan tinggi mafia. Tapi aku hanya satu orang di balik layar. Aku tidak punya pasukan. Aku tidak punya legitimasi di jalanan. Kalau aku menyerang Marco secara terbuka dengan data, dia hanya perlu menyewa pembunuh bayaran untuk mencari pabrik ini dan membakar serverku beserta diriku di dalamnya."

"Kau butuh pedang," gumam Leo, mulai memahami posisi mereka berdua.

"Tepat," Elena mengangguk tegas. "Aku butuh seseorang yang bisa turun ke jalanan. Seseorang yang tahu cara kerja mafia dari dalam, yang bisa bertarung, menembak, dan tidak ragu untuk membunuh. Seseorang yang memiliki alasan yang sama kuatnya denganku untuk menghancurkan bajingan-bajingan itu. Dan malam ini, pedang itu jatuh dari langit ke dermagaku dalam keadaan berdarah-darah."

Leo terdiam mencerna kata-kata Elena. Gadis ini ingin menjadikannya senjata. Sebagai pangeran mafia, Leo terbiasa memberi perintah, bukan menjadi alat bagi orang lain. Namun, mengingat kondisinya sekarang, harga diri adalah barang mewah yang tidak bisa ia beli.

"Kau benci pada mafia," ucap Leo perlahan, mencoba menebak motif pribadi gadis itu. "Ini bukan cuma soal kekuasaan atau bisnis bagimu. Ada sesuatu yang pribadi. Siapa yang dibunuh oleh Marco dari keluargamu?"

Ekspresi Elena mengeras seketika. Rahangnya menegang.

"Kita punya kesepakatan untuk saling membantu, Pangeran, bukan untuk saling mengorek masa lalu," balas Elena dengan nada memperingatkan, memotong topik itu dengan tajam. "Yang perlu kau tahu hanyalah Marco dan sistem busuk yang dia kendalikan harus hancur lebur sampai ke akar. Sisanya bukan urusanmu."

Leo bisa melihat dinding pertahanan yang langsung dibangun oleh Elena. Ia tidak memaksa lebih jauh. Semua orang di dunia bawah tanah punya hantu mereka sendiri. Kalau Elena belum mau menceritakannya, ia tidak akan mendesak. Setidaknya untuk saat ini.

"Baiklah. Tidak ada cerita masa lalu," Leo menghela napas, menerima batasan itu. Ia kembali menatap layar monitor yang menampilkan wajah Marco di sebuah rekaman jalanan. Amarah kembali membakar dadanya. "Kalau kau adalah kepalanya dan aku adalah tangannya, bagaimana kita memulainya? Marco punya ratusan pasukan. Aku nyaris tidak bisa berdiri tegak."

"Kita mulai dengan menghancurkan sumber napasnya," Elena tersenyum lagi, kali ini lebih mematikan. Jari-jarinya kembali mengetik. Layar tengah berubah menampilkan denah sebuah gedung mewah.

"Marco butuh uang tunai dalam jumlah masif untuk membayar para pengawal yang baru saja ia beli kesetiaannya," Elena menunjuk ke arah layar. "Dan uang itu datang dari kasino ilegal yang dikelola oleh tangan kanannya di distrik barat. Kalau kita bisa memotong suplai uang tunainya, loyalitas anjing-anjing penjaganya akan mulai goyah."

Leo menatap denah tersebut. Ia tahu tempat itu. Itu adalah salah satu sumber uang terbesar yang dulu dikelola oleh klannya, yang kini jelas sudah dirampas oleh Marco.

"Kasino itu dijaga ketat. Ada puluhan pria bersenjata di sana," ucap Leo, otaknya mulai bekerja merancang taktik. "Tapi aku tahu celah keamanannya. Dulu ayahku yang merancang sistem pergantian penjaganya."

"Ditambah dengan aksesku ke sistem keamanan kamera mereka, kita bisa masuk dan keluar sebelum mereka sadar brankasnya kosong," sambung Elena matanya berbinar licik.

Leo menatap gadis itu. Pakaiannya lusuh, rambutnya berantakan, tapi aura intimidasi dan kecerdasannya setara dengan para tetua klan yang sering ia temui. Mereka berdua adalah orang-orang buangan malam ini. Satu kehilangan takhta dan keluarganya, satu lagi menyembunyikan masa lalu yang kelam.

Tapi bersama-sama, mereka memiliki apa yang tidak dimiliki oleh Marco: akses informasi absolut dan dendam murni yang tak tergoyahkan.

"Phantom, ya?" Leo mendengus pelan, kali ini dengan nada hormat yang terselip di sana. Ia mengulurkan tangan kirinya ke arah Elena. "Kurasa aku bisa bekerja sama dengan hantu."

Elena menatap uluran tangan itu sejenak, lalu menjabatnya dengan erat. Tangannya terasa dingin, namun cengkeramannya sangat kuat.

"Selamat datang di dunia nyata, Leo Valenti," ucap Elena menatap tepat ke mata pria itu. "Mari kita bakar kota ini."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!