"Tante Kei, mau nggak jadi mamanya Rafka?"
"What!! Berarti jadi Ibu Persit dong? Dan jadi bini Mayor kaku kayak kanebo?"
Mayor Satria Pramudya, 33 tahun, sudah lima tahun menduda, keluarganya sudah mendesaknya untuk menikah lagi. Sementara, Rafka, anaknya sejak lahir sudah dekat dengan adik istrinya–Keisa Azzura, 21 tahun.
"Dek, kamu yakin Kakak boleh nikah lagi?"
"Ya, boleh lah, masa dilarang. Nanti ularnya bisa karatan loh ... lama-lama menduda. Lagian, Rafka juga butuh sosok ibu."
"Kalau begitu Kakak boleh melamar Adek?"
"Eh, Apa! Maksud Kak Satria gimana?
Keisa tak menyangka kakak iparnya meminang, sedangkan ia sudah punya cowok incaran. Apalagi Satria tidak pernah mengucapkan kata cinta dan ada sesuatu...
Bagaimanakah rumah tangga Satria yang kaku menghadapi Keisha yang barbar? Belum lagi ada rahasia Satria yang tiba-tiba...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35. Batas Waktu
Ibu Dania tersenyum tipis, matanya melirik ke arah anak bungsunya yang kini wajahnya sudah memerah padam dengan rahang yang mengetat samar karena menahan dongkol. "Oh, begitu ya, Bik. Ya sudah, terima kasih banyak atas informasinya. Nanti biar Ibu diskusikan di sini ya. Bik Nini kerja saja seperti biasa, jangan sampai kelihatan kalau habis telepon saya."
"Siap, Bu Dania. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Sambungan telepon terputus. Ibu Dania meletakkan ponselnya di atas meja, lalu menatap Keisha yang kini sudah berdiri dengan napas yang agak memburu, memeluk tas ransel kampusnya dengan sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Kamu dengar sendiri kan, Kei?" tanya Ibu Dania dengan nada suara yang sengaja dibuat tenang namun sarat akan pancingan. "Keluarga Satria sepertinya bergerak cepat. Perempuan bernama Ingrid itu kelihatannya sangat telaten dan pintar mengambil hati pria. Kalau kamu terus-terusan keras kepala menolak lamaran Satria lusa nanti karena ego anak kuliahan, jangan menyesal ya kalau posisi ibu baru untuk Rafka diisi oleh dia."
"Ih, Ibu! Siapa juga yang menyesal!" cerocos Keisha dengan nada barbarnya yang melengking kesal, mencoba menutupi kegelisahan luar biasa yang sedang mengaduk-aduk dadanya. "Lagian bagus dong kalau Mbak Ingrid itu rajin! Biar dia aja yang mengurus kulkas berjalan itu sampai bosan! Aku sama sekali enggak peduli!"
"Tapi soal Rafka? Kamu rela kalau Rafka dijemput dan diasuh oleh orang asing yang belum tentu tulus menyayanginya seperti kamu?" tembak Ibu Dania tepat sasaran pada titik terlemah anak bungsunya.
Keisha terdiam seketika. Pertanyaan ibunya laksana peluru kendali yang menghancurkan seluruh argumen cueknya. Bayangan wajah polos Rafka yang kemarin memeluk lututnya sembari menangis ketakutan jika punya mama baru ... mendadak berputar jelas di pelupuk matanya. Ditambah lagi dengan ingatan tentang bagaimana Satria kemarin sore di parkiran kampus merebut cokelat dari Rendra dengan nada cemburu yang kaku ... semuanya membuat emosi Keisha menjadi kacau berantakan.
"Ah, tahu ah! Keisha mau berangkat kuliah dulu, udah telat!" pamit Keisha dengan nada ketus yang kentara. Ia langsung mencium tangan ibunya dengan terburu-buru, lalu melesat keluar rumah dengan langkah kaki yang dihentakkan kasar ke lantai.
Sepanjang perjalanan menuju kampus di dalam taksi, pikiran Keisha benar-benar tidak bisa tenang. Jiwa kompetitifnya sebagai cewek barbar kampus bergolak hebat. Perasaan tidak rela, cemburu kaku yang aneh, serta rasa protektif terhadap wilayah kekuasaannya atas Rafka dan eksistensi dirinya di depan Satria ... kini resmi menyatu, menciptakan riak-riak peperangan batin yang kian mendekatkannya pada keputusan tak terduga.
***
Dua hari yang menegangkan akhirnya bergulir juga. Bagi Keisha, dua puluh empat jam terakhir terasa berjalan sangat lambat, sekaligus menakutkan. Di satu sisi, otaknya terus mengingat laporan rahasia dari Bik Nini tentang kelakuan Ingrid yang sudah mulai "menjajah" dapur rumah pribadi Satria dan mencoba mengambil alih tugas mengurus Rafka. Di sisi lain, harga diri tingginya sebagai anak bungsu yang mandiri masih menolak untuk menyerah begitu saja pada garis komando kaku milik kakak iparnya.
Pukul sembilan pagi tepat, SUV hitam milik Satria kembali terparkir di depan gerbang rumah keluarga Farrel. Suasana di ruang tamu lantai bawah pun seketika berubah drastis, kembali memadat dan formal.
Ayah Farrel dan Ibu Dania sudah duduk rapi di sofa panjang. Di seberang mereka, Ayah Isa dan Bu Reni duduk berdampingan dengan senyum yang dipaksakan tenang. Satria, yang pagi ini kembali mengenakan seragam dinas harian perwiranya, duduk tegap di sofa tunggal dengan baret hijau diletakkan di atas meja kaca. Wajah tegasnya datar tanpa riak, namun sepasang mata hitam pekatnya tidak sedetik pun lepas dari sosok Keisha yang duduk gelisah di sebelah ibunya. Hari ini, Keisha sudah berpakaian rapi dengan kemeja flanel longgar dan celana jins, bersiap menghadapi sidang pleno keluarga.
Namun, yang paling memicu adrenalin Keisha pagi ini adalah kehadiran Ingrid. Gadis berparas ayu itu ikut datang lagi, duduk di sebelah Bu Reni dengan balasan senyuman yang teramat manis dan anggun. Sejak melangkah masuk ke pintu rumah, Ingrid sengaja memasang wajah penuh kemenangan, seolah-olah ia tahu persis bahwa cewek barbar seperti Keisha pasti akan menolak lamaran kaku ini karena ego mudanya.
Ayah Farrel berdeham berat, membuka jalannya pembicaraan yang paling dinantikan oleh seluruh pasang mata di ruangan itu.
"Mas Isa, Jeng Reni, dan Satria ... sesuai dengan kesepakatan kita dua hari yang lalu, hari ini adalah batas waktu yang kita berikan untuk anak bungsu kami, Keisha," buka Ayah Farrel dengan suara beratnya yang berwibawa. Pria paruh baya itu menoleh ke arah samping, menatap lembut putri bungsunya. "Kei ... sekarang semua orang tua sudah berkumpul di sini. Berikan jawaban jujurmu dari dalam hati. Apakah kamu bersedia menerima pinangan Satria?"
Keheningan seketika menyapu bersih seluruh ruangan. Suasana mendadak menjadi begitu menegangkan hingga suara gesekan napas pun terdengar jelas.
Sebelum membuka mulut, ponsel di dalam saku celana Keisha sempat bergetar pendek. Sebuah notifikasi pesan dari Rendra masuk, memberikan kalimat penyemangat yang sempat ia baca sekilas tadi: 'Semangat kuliahnya hari ini ya, Kei. Kalau ada apa-apa, kabari gue.' Keisha memejamkan matanya sejenak, menimbang-nimbang antara kebebasan dunia kampusnya dan tanggung jawab besar yang ada di depan mata.
Namun, begitu ia membuka mata, pandangannya langsung bentrok dengan mata pekat milik Satria. Di balik kekakuan wajah pria itu, Keisha menangkap seberkas kilatan ketulusan yang teramat dalam dan protektif—tatapan yang sama seperti saat Satria membuang cokelat Rendra dan menggantinya dengan kotak besar di dalam mobil dua hari lalu. Pria itu beneran tidak sedang bermain-main dengan komandonya.
Mata Keisha kemudian bergeser sedikit ke arah Ingrid. Detik itu juga, ia menangkap lirikan sinis yang teramat tipis dari sudut mata gadis ayu itu, seolah sedang mengejeknya: 'Ayo tolak saja, biar posisi ini jadi milikku.'
Bersambung...