"Om mau nyeraikan gue? Bagus dong! Mana drafnya? Gue tanda tangani sepuluh kali kalau perlu!"
Mayor Yudhana (32) mengira ancaman perceraian akan membuat Vina (20) berlutut memohon ampun. Namun, benturan keras di aspal telah menghapus seluruh kenangan penderitaan Vina selama menikah. Vina yang baru adalah gadis barbar usia 18 tahun yang sama sekali tak terintimidasi oleh baret hijau maupun pangkat tiga melati.
Saat Vina memperlakukannya seperti bapak kos galak dan sibuk mencari uang sendiri untuk angkat kaki, Mayor Yudhana terpukul oleh gengsinya sendiri. Untuk pertama kalinya, Sang Mayor menyadari bahwa hal paling berbahaya bukan lagi kehilangan wibawa di Batalyon—melainkan kehilangan wanita yang baru saja mulai menguasai seluruh sudut hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17. Ampun, Mayor!
"Dibilang saya amnesia, Om! Amnesia! Om paham bahasa Indonesia kagak sih?Apa perlu pakai bahasa planet! " semprot Vina balik, matanya mendelik galak dari atas sofa. "Saya kagak ingat pernah janji mau jadi pelayan pribadi Om! Saya yang sekarang ini anak SMA bebas yang pusing liat orang kaku banyak menuntut kayak Om! Udah ah, jangan bising! Saya lagi menikmati mie kuah buatan sendiri nih, nanti mienya mekar kagak enak!"
Vina membalikkan badannya membelakangi meja makan, menaikkan volume TV satu tingkat, dan kembali fokus menonton acara kartun sambil mengunyah mienya dengan sangat lahap.
Keheningan yang pekat dan menusuk kembali menyapu area ruang makan.
Yudhana menarik piring kosong di meja porselen yang dingin, menatap pantulan wajahnya sendiri yang muram, sementara dari arah sofa ruang tengah terdengar suara seruputan kuah mie yang dinikmati Vina tanpa sedikit pun melirik ke arahnya.
Bayangan masa lalu mendadak melintas liar di dalam benak Yudhana.
Ia teringat malam-malam sebelumnya—malam-malam di mana ia selalu melangkah ke meja makan ini dengan keangkuhan penuh. Di meja ini, Vina dulu akan berdiri tegak dengan senyum lembut, menarikkan kursi untuknya, mengautkan nasi hangat ke piringnya, dan menatapnya dengan binar mata penuh harapan, memohon remah-remah perhatian yang selalu ia tepis dengan dingin.
Dulu, ia menganggap semua pengabdian dan perhatian tulus itu sebagai hal biasa yang sudah sepatutnya ia dapatkan. Ia mengabaikan kelelahan Vina yang memasak sejak sore, ia membiarkan cangkir teh melati itu membeku kaku, dan ia melangkah berlalu tanpa pernah sekalipun mengucapkan kata 'terima kasih'.
Dan kini ... meja itu benar-benar hampa.
Tidak ada lagi wanita yang menunggunya dengan senyum kaku. Tidak ada lagi gulai ayam bumbu bali yang harum. Yang ada hanyalah rasa dingin ubin porselen dan suara tawa lepas dari wanita yang kini menganggapnya tak lebih dari sekadar benalu kaku yang mengganggu ketenangannya.
Perut Yudhana kembali berbunyi nyaring, menyuarakan rasa lapar yang makin menyiksa. Namun, gengsi tingginya sebagai seorang Mayor Batalyon melarangnya untuk melangkah ke dapur dan meracik makanan di hadapan Vina.
Pria itu mengepalkan tangannya kaku di atas meja porselen. Dengan napas yang memburu dan rahang yang mengeras hingga otot pipinya menegang, Yudhana mendorong kursinya ke belakang secara mendadak.
Sreeek!
Bunyi derit kaki kursi kayu yang beradu keras dengan keramik lantai membuat Vina menoleh sekilas dari sofa.
Yudhana berdiri tegap, membetulkan kemeja kaornya dengan gerakan kaku, lalu memutar tubuhnya kasar. Pria itu melangkah tegap menuju pintu depan, menyambar kunci mobil SUV dinasnya dari meja konsol, dan membuka pintu utama dengan sentakan kencang.
Brak!
Pintu rumah dinas dibantingnya kencang dari luar, disusul deru mesin mobil yang menderu membelah heningnya malam komplek militer. Sang Mayor terpaksa melarikan diri mencari makan malam di luar, ditendang oleh gengsinya sendiri dan ketidakpedulian total dari istrinya.
Di dalam rumah, Vina menyendok kuah mie terakhirnya hingga bersih, lalu mengusap bibirnya dengan tisu dapur seraya terkekeh geli.
"Dih, disuruh jajan di luar beneran jalan," gumam Vina menggeleng-gelengkan kepala. "Gengsi gede, kelakuan kaku. Kasihan banget hidup lu, Om!"
Vina meletakkan mangkuk kosongnya di meja kaca, merebahkan badannya yang rileks di sofa beludru empuk, dan membiarkan suara musik kartun memenuhi rumah dinas yang kini tak lagi memiliki tempat untuk keangkuhan Sang Mayor.
***
Cesss!
Uap air panas membumbung tinggi dari leher teko aluminium yang bertengger di atas kompor gas. Aroma harum teh melati dan wangi gurih mentega cair beradu kental di udara dapur pagi itu, membaur dengan bau tanah basah sisa gerimis subuh yang merayap masuk lewat celah jendela.
Vina melangkah santai melintasi lantai dapur. Daster kekuningan bermotif bunga matahari meliuk-liuk longgar mengiringi setiap gerakan kakinya yang tanpa beban. Di atas meja keramik dapur yang biasanya bersih dan kosong tanpa cela, kini berantakan berbagai bahan makanan: stoples gula yang terbuka, bungkus roti tawar yang terlipat separuh, dua siung bawang merah yang dikupas asal, serta mangkuk keramik berisi telur ayam.
"Lha, krimer kental manisnya ditaruh di mana, ya?" gumam Vina pada dirinya sendiri, jingkrak-jingkrak tipis di depan lemari kabinet atas.
Vina mengisi waktu paginya dengan membongkar isi lemari dapur. Jemarinya sibuk mengaduk-aduk bumbu instan dan kaleng kornet, mencari bahan makanan apa saja yang gampang diolah untuk sarapan dirinya sendiri. Tidak ada beban, tidak ada rasa tertekan, dan yang paling penting: tidak ada lagi bayangan kecemasan soal masakan apa yang harus ia sajikan untuk pria pemilik rumah ini.
Klik ... sreeek.
Suara engsel pintu kamar utama terdorong terbuka dari koridor tengah. Langkah kaki yang teratur dan kaku berderak kencang menapak ubin.
Mayor Yudhana melangkah keluar dalam balutan seragam dinas harian bergaris tegas. Topi baret hijau tua terselip di bawah lidah pundaknya, sementara papan nama logam bertuliskan YUDHANA dan pangkat tiga melati di dadanya berkilat diterpa pendar lampu lorong. Pria itu tampak segar usai mandi, namun garis rahangnya menegang padat dan raut wajahnya mengeruh kaku—sisa dari peristiwa kaburnya ia mencari makan malam di luar komplek tadi malam.
Yudhana berjalan menuju dapur, berniat mengambil air minum hangat sebelum berangkat ke Batalyon untuk memimpin apel pagi. Namun, tatapannya mendadak mengunci selembar kertas tebal yang tergeletak sembarangan di atas meja dapur, tepat di antara botol kecap dan ulekan batu.
Kertas itu adalah amplop cokelat berisi draf kesepakatan perceraian—kertas yang beberapa minggu lalu dilemparnya di kamar rumah sakit.
Vina yang sedang mengaduk cangkir teh hangat menoleh sekilas. Begitu menyadari keberadaan Yudhana yang berdiri kaku di ambang pintu dapur, mata cokelat bening Vina justru berbinar gembira, seolah-olah ia baru saja melihat penjual es krim melintas di depan rumah.
"Nah! Pas banget keluar, Om!" seru Vina santai, meletakkan sendok tehnya hingga berdenting keras dengan porselen.
Vina menyambar kertas draf perceraian yang agak kusam itu dari antara rempah dapur, merapikan pinggirannya yang sedikit terlipat, lalu melangkah lebar mendekati sang Mayor. Dari saku daster bagian depannya, Vina menarik keluar sebuah pulpen hitam bekas milik panti asuhan.
Vina menyodorkan pena ke dada seragam Yudhana, menatap tepat di mata sang Mayor dengan pendar semangat yang membuat pria itu justru menarik kakinya mundur.
Yudhana membeku di tempat. Manik matanya membelalak pelan, tatapannya bergulir dari ujung pulpen hitam yang hampir menyenggol kain seragamnya, turun ke lembaran draf perceraian, lalu naik mengunci wajah Vina.
bersambung...
Alhamdulillah 🤲