Alur cerita ringan...
Dan novel ini berisi beberapa cerita dengan karakter yang berbeda-beda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arran Lim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenzo & Naya [Bab 5]
Esok Harinya
Mentari siang Jakarta bersinar terik, seolah ingin menunjukkan dominasinya. Langit biru di atas gedung-gedung tinggi tampak cerah. Sekitar pukul dua siang, Kenzo sengaja meluangkan waktu dari jadwalnya yang padat di perusahaan untuk menjemput Nayara di kampus. Meskipun baru memasuki gerbang perkuliahan, Nayara terdaftar di salah satu universitas ternama, bukti bahwa di balik kepolosannya yang luar biasa, ia memiliki kecerdasan akademik yang patut diacungi jempol.
Mobil sport mewah milik Kenzo berhenti perlahan, ia memarkirkan kendaraannya tepat di depan Fakultas Ekonomi, tempat Nayara menimba ilmu. Kenzo hendak merogoh ponselnya untuk menghubungi Nayara, tetapi pandangannya teralihkan ke arah dalam fakultas.
Ia melihat Nayara berjalan keluar. Namun, yang langsung menarik perhatian Kenzo dan memicu alarm bahaya di kepalanya adalah kehadiran seorang remaja laki-laki. Remaja itu berpostur tinggi tegap, dengan wajah tampan rupawan—tipe pria yang pasti menarik perhatian banyak wanita. Remaja itu tampak berusaha keras mendekati Nayara.
"Ihh, apaan sih, Raka? Aku kan udah bilang, aku dijemput!" ucap Nayara, suaranya terdengar kesal. Ia memang paling tidak suka dipaksa.
Di samping Nayara, sahabatnya, Gaby, sudah memasang kuda-kuda ingin berkelahi.
"Iya, ihh, Raka! Bisa nggak kamu berhenti ganggu Naya?" hardik Gaby, berkacak pinggang, menatap remaja bernama Raka itu dengan tatapan sinis. "Abangnya Naya itu galak, ada Kak Kenzo juga yang galaknya bukan main! Kamu mau kepala kamu lepas dari tempatnya, ha?!"
"Lo nggak usah ikut campur, deh. Gue ngomongnya sama Naya, bukan sama lo," balas remaja bernama Raka itu dengan ketus, mengabaikan Gaby.
Ia kembali fokus pada Nayara. "Nay, sekali ini aja, pulangnya bareng aku ya," pinta Raka, suaranya dilembutkan menjadi permohonan.
"Nggak bisa, Raka, a—" Ucapan Nayara terpotong.
"Baby..."
Panggilan berat dan dalam itu tiba-tiba memecah ketegangan. Ketiganya serempak menoleh.
Kenzo berdiri beberapa langkah dari mereka. Wajahnya yang biasanya ramah kini berubah dingin, datar, dan memancarkan aura mengancam. Aura gelap itu langsung menyelimuti area sekitar.
"Kak Ken!" seru Nayara, matanya berbinar seketika.
Ia segera menghampiri Kenzo, melupakan Raka dan Gaby, dan memeluk laki-laki dewasa itu erat. Nayara selalu merasa paling aman dalam dekapan Kenzo.
Kenzo membalas pelukan itu sekilas, mengecup kening Nayara, sebelum kembali mengarahkan tatapan tajamnya pada remaja laki-laki di hadapannya. Tatapan itu terasa seperti pisau.
"Ada masalah apa kamu sama Naya?" tanya Kenzo, suaranya rendah dan mengintimidasi.
Raka menelan ludah dengan susah payah. Kakinya terasa kaku. Ia hendak menjawab, namun Gaby lebih cepat menyela.
"Ini, Kak! Dia maksa mau pulang bareng Naya, padahal Naya udah bilang enggak mau!" adu Gaby, menatap Raka sinis.
"S-saya cuma mau nganter doang, kok, Bang," jawab Raka gugup, menghindari tatapan mata Kenzo.
Kenzo maju selangkah, menipiskan jaraknya dengan Raka. "Dengar baik-baik," desis Kenzo. "Jangan pernah dekati Naya lagi. Kalau sampai saya lihat kamu masih deketin Naya, kamu bakal tahu akibatnya."
Ancaman itu diucapkan dengan ketenangan yang mengerikan, membuat Raka hanya bisa membeku. Kenzo lantas menarik Nayara, membawa gadis itu menjauh dari sana.
"Gab... Ayo," ajak Nayara pada Gaby.
Gaby mengangguk penuh kemenangan. Ia menoleh ke arah Raka dan menjulurkan lidahnya, mengejek, sebelum bergegas mengikuti Nayara masuk ke dalam mobil Kenzo.
"Aisss!" geram Raka, mengacak rambutnya frustrasi. Ia baru saja diancam dan dipermalukan di depan teman-temannya.
******
Setelah mengantar Gaby pulang dan memberinya peringatan keras untuk tidak membicarakan 'tes keperawanan' kepada Nayara lagi, Kenzo pun melanjutkan perjalanan mengantar Nayara pulang ke Mansion.
"Kakak mau balik ke kantor ya?" tanya Nayara setelah mobil yang dikendarai Kenzo berhenti di depan Mansion. Wajahnya menunjukkan kemurungan.
"Iya, Sayang," jawab Kenzo singkat, melepas sabuk pengamannya, lalu membantu Nayara melepas sabuk pengaman gadis itu.
Kenzo turun dari mobil, memutari mobil, dan membukakan pintu untuk Nayara. Ia menggandeng tangan Nayara, menuntunnya masuk ke dalam Mansion.
"Kamu mandi dulu, setelah itu makan, ya. Kakak ke kantor dulu," ucap Kenzo, mengecup pipi Nayara.
Naya hanya diam dengan wajah cemberutnya. Setelah kejadian kemarin, ia menjadi sedikit lebih manja terhadap Kenzo.
"Aku cepat, kok, Sayang, janji. Jangan sedih gitu, dong," ucap Kenzo, mencubit pipi gembul Nayara gemas.
Naya mengangguk pelan, lalu tiba-tiba memeluk Kenzo erat. Kenzo tersenyum dan membalas pelukan gadisnya.
"Sayang... Kamu masih ingat, kan, apa yang aku bilang?" Kenzo kembali ke mode seriusnya. "Jangan dekat-dekat sama laki-laki lain di kampus. Kecuali urusan kampus, boleh. Tapi kalau ada yang sengaja mendekati kamu, kamu harus menjauh, mengerti?"
"Iya, Kak. Naya ingat, kok. Abang Naren juga selalu ingetin Naya," ucapnya, mem poutkan bibirnya. "Kenapa Kak Ken sama Abang selalu galak kalau ada cowok yang deketin Naya?"
Kenzo menatap Nayara dalam, memaksakan senyum protektif. "Karena Kakak sayang banget sama kamu. Kakak nggak mau ada yang jahatin baby-nya Kakak."
Naya mengangguk cepat. "Iya Naya ngerti kak."
"Pintar..." Kenzo mengecup kening Nayara sekilas. "Kalau gitu, aku berangkat dulu ya, Sayang. Nggak lama, kok. Nanti malam kita nonton film di rumah, oke?"
Setelah memastikan Naya tersenyum lagi, Kenzo pun bergegas menuju kantornya. Sepanjang perjalanan, wajah Raka terus terbayang. Kenzo tahu, obsesi dan proteksinya terhadap Nayara kini sudah melampaui batas persahabatan dengan Narendra. Nayara adalah miliknya, dan siapa pun yang mencoba mendekati gadis itu, akan berurusan langsung dengannya.