Sepuluh tahun Erlyn membangun kehidupan sempurna bersama suami dan anaknya, menyembunyikan masa lalu kelam yang sudah ia kunci rapat-rapat.
Dulu, saat usia 19 tahun, ia terjebak pada Om Hendi — pria kaya yang mengurungnya, menyiksanya, dan menyimpan ratusan foto memalukan yang dipaksa diambil. Erlyn berhasil kabur, berpikir ia sudah aman.
Hingga suatu hari, pesan dan foto lama masuk ke ponselnya. Hendi kembali.
"Datang padaku, atau semua foto dikirim ke suamimu."
Sekarang Erlyn harus memilih:
kembali ke neraka yang dulu ia tinggalkan, atau membiarkan keluarganya hancur oleh kebenaran yang menyakitkan.
Satu rahasia. Dua pilihan. Tak ada yang tidak terluka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 14
Alamat yang tertulis di secarik kertas itu membuat jantung Erlyn berdegup kencang.
Sebuah apartemen mewah di kawasan elit, agak jauh dari rumahnya, sekitar tiga puluh lima menit perjalanan.
Erlyn berdiri di seberang jalan, menatap gedung tinggi itu dengan perasaan yang campur aduk.
Ia menarik napas panjang, lalu menyeberang dengan langkah yang terasa berat. Di sudut jalan yang agak sepi, ia berhenti sejenak. Menoleh ke kiri dan ke kanan, memastikan tidak ada tetangga atau kenalan yang lewat.
Ia sengaja berjalan agak jauh dari rumah, lalu naik angkot hingga dekat kawasan ini, dan berjalan kaki lagi sampai ke depan gerbang apartemen itu. Ia tidak ingin ada yang melihatnya datang ke tempat ini.
Langkah kakinya terasa berat saat ia melangkah masuk ke lobi gedung itu. Petugas keamanan menyapanya dengan sopan, namun Erlyn merasa tatapannya seakan menembus ke dalam dirinya.
Ia menyebutkan nomor unit yang tertera di kertas itu, lalu menunggu di depan lift dengan jantung yang berdebar kencang. Saat pintu lift terbuka di lantai yang dituju, lorong yang luas dan hening menyambutnya.
Ia berjalan perlahan menuju pintu yang dimaksud, dan berdiri di sana dengan napas yang tertahan. Mengangkat tangan untuk mengetuk, tapi urung beberapa kali. Rasa ingin lari kembali mendominasi setiap inci tubuhnya. Tapi bayangan wajah Rara dan Iqbal muncul di benaknya. Demi mereka, ia harus masuk.
Pintu terbuka sebelum ia sempat menyentuhnya. Hendi berdiri di ambang pintu, tersenyum lebar, senyum yang membuat perut Erlyn terasa mual seketika.
"Kau tepat waktu," katanya pelan, menyisihkan tubuhnya memberi jalan masuk. "Masuklah. Kita punya banyak hal untuk dibicarakan."
Erlyn melangkah masuk perlahan, lalu berdiri di dekat pintu dengan kedua tangannya saling mencengkeram erat. Apartemen itu modern dan mewah, namun tidak sebesar penthouse yang dulu menjadi penjaranya.
Pemandangannya indah ke arah taman kota di kejauhan. Tapi bagi Erlyn, setiap sudut ruangan itu terasa mencekam. Ia merasa seperti kembali ke tempat yang salah, ke masa yang seharusnya sudah berlalu selamanya.
"Om pindah ke sini?" tanyanya akhirnya, suaranya terdengar kecil dan bergetar.
Hendi menutup pintu dan menguncinya. Bunyi kunci yang berputar membuat bulu kuduk Erlyn merinding. Pria itu berjalan ke arah meja di dekat jendela, menuangkan dua gelas air, lalu menaruhnya di atas meja kopi.
"Aku punya banyak kepentingan di kota ini sekarang," jawabnya santai, seolah membicarakan cuaca. "Dan ternyata... kota ini juga memilikimu. Bukankah kebetulan yang menyenangkan?"
"Itu bukan kebetulan," jawab Erlyn, memberanikan diri menatap matanya sekilas. "Kau mencariku. Selama ini kau mencariku, bukan."
Hendi tersenyum tipis, tidak menyangkal. Ia duduk di sofa, lalu menunjuk kursi di hadapannya. "Duduklah. Kau membuatku merasa seperti tuan yang nggak ramah jika kau berdiri di sana terus."
Erlyn perlahan duduk di tepi kursi, menjaga jarak sejauh mungkin. Lututnya terasa lemas, dan ia berusaha keras agar tangannya tidak terlihat gemetar di atas pangkuannya.
"Katakan saja apa yang Om mau," ucapnya tegas, berusaha menyembunyikan ketakutan di suaranya. "Aku nggak akan pindah ke sini. Aku nggak akan meninggalkan suami dan anakku. Itu tidak akan pernah terjadi. Jadi jangan berharap hal yang sama seperti dua belas tahun lalu."
Hendi memperhatikannya lama. Ada rasa kagum yang menjijikkan di tatapannya. "Kau berubah, Erlyn. Kau lebih berani sekarang. Mungkin karena kau merasa dilindungi oleh Iqbal."
Ia menyandarkan punggungnya ke sofa, namun matanya tidak beranjak dari wajah Erlyn. "Aku nggak akan memaksamu pindah hari ini. Aku tahu itu mustahil. Dan aku juga nggak bodoh untuk memaksamu terlalu keras sekarang."
Ia merogoh ponsel dari saku celananya, meletakkannya di meja dengan layar menghadap Erlyn.
"Jadi ini yang kutawarkan. Kau datang ke sini setiap Rabu sore. Cukup agar aku merasa kau belum sepenuhnya lepas dari genggamanku. Menemaniku sebentar. Melakukan hal-hal menyenangkan yang kuminta saat kau di sini.
Dan sebagai gantinya, foto-foto itu tetap aman. Kehidupan kecilmu yang damai itu terus berjalan seperti biasa."
Erlyn menatapnya tidak percaya. Ia tahu betul bahwa 'hal-hal yang diminta' itu bukan sekadar hal biasa. Ingatannya kembali terbayang, sentuhan kasar, paksaan, malam-malam yang penuh ketakutan. Rasa jijik dan takut bercampur aduk di dadanya.
"Satu jam," ucap Erlyn akhirnya, suaranya bergetar namun tegas. "Aku hanya bisa tinggal satu jam setiap kali datang. Dan aku tidak akan melakukan hal yang... yang melampaui batas.
Kalau Om tidak terima, aku sudah siap berjuang untuk keluargaku. Lebih baik mereka tahu dan kita hadapi bersama, daripada aku menjual diriku sedikit demi sedikit setiap minggu."
Hendi menatapnya, matanya menyipit. Ada kilatan marah yang ditahannya. Jari-jarinya mengetuk pelan ke meja — irama yang menegangkan, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu yang berbahaya.
"Ok," katanya akhirnya, dengan nada yang membuat Erlyn merinding. "Tapi jangan berpikir kau bisa menetapkan syarat selamanya. Datanglah seperti orang biasa tanpa menimbulkan kecurigaan siapa pun.. Sekali saja kau membuatku kecewa... tombol kirim itu akan menepati janjinya."
Erlyn berdiri, napasnya sedikit lebih lega meski dadanya masih terasa sesak luar biasa. "Aku akan pergi sekarang."
"Pergilah," kata Hendi santai, tapi matanya tetap menatap tajam. "Dan ingat, jangan berpikir untuk melaporkanku ke polisi. Karena sebelum polisi bertindak, aku sudah memastikan semua foto itu tersebar lebih dulu. Aku selalu siap, Erlyn. Jangan coba-coba mengujiku."
Erlyn berjalan menuju pintu, kakinya terasa ringan namun hatinya berat. Saat pintu itu terbuka dan udara luar yang segar menyambutnya, ia menahan keinginan untuk berlari.
Ia berjalan dengan langkah tenang menuju pintu keluar, tidak menoleh ke belakang sekali pun. Hanya setelah gerbang apartemen tertutup rapat di belakangnya, ia menghela napas panjang yang terasa seperti beban berat yang diangkat dari dadanya.
Ia berjalan agak cepat hingga menjauh dari kawasan itu, lalu menunggu angkot di tempat yang agak sepi, dan duduk di sana dengan pandangan kosong sepanjang perjalanan pulang.
Saat ia turun dan berjalan kaki menuju rumahnya, jalanan yang ia lewati terasa berbeda. Kota yang dulu terasa aman kini memiliki satu titik hitam yang selalu menunggunya setiap hari Rabu sore.
Tapi ia tidak akan menyerah. Ia sudah bukan gadis berusia sembilan belas tahun yang tidak berdaya lagi. Ia akan mencari cara untuk mengakhiri ini selamanya tanpa membahayakan keluarganya. Ia akan sabar. Ia akan bertahan. Demi Rara. Demi Iqbal. Demi rumah kecilnya yang hangat itu.
Dari pada malah tau dari orang lain kan...
kuat2 ya kalian menghadapi orang kayak hendi 😖
kasih pencerahan biar otaknya gak mampet ngelanjutin service berkala untuk si hendi
woy jengkel banget gua sumpah 😩
..maaf thor esmosi lihat ini erlyn