Maya cuma cewek biasa yang nggak sengaja masuk ke lingkaran kehidupan Reza, bos mafia paling ditakuti di kota. Awalnya, Maya cuma cari aman. Tapi lama-lama, pesona Reza yang dingin tapi protektif bikin Maya luluh. Masalah utamanya? Reza sudah punya istri sah, Sora—wanita berkelas dari keluarga terpandang yang rela melakukan apa saja demi mempertahankan posisinya.
Di mata orang luar dan lingkaran mafia, Maya digelari sebagai pelakor yang merusak kedamaian. Tapi bagi Maya, ini bukan sekadar cinta terlarang. ini soal bertahan hidup di dunia gelap yang penuh pengkhianatan.
Ketika rahasia besar Reza dan Sora terkuak, Maya harus memilih: tetap bertahan di samping pria paling berbahaya walau dicap perusak rumah tangga, atau kabur sebelum nyawanya sendiri yang melayang.
Cinta terlarang, perebutan kekuasaan, dan intrik berdarah. akankah Maya mendapatkan hati Sang Mafia, atau justru jadi korban berikutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
menyelamatkan maya
Bau mesiu yang tipis langsung bercampur dengan bau amis darah di lorong sempit belakang restoran itu.
Maya masih terduduk di atas aspal basah, lututnya yang lecet terasa berdenyut nyeri, tapi rasa sakit fisik itu kalah jauh oleh rasa takut yang mencengkeram dadanya.
Dua orang anak buah pria bertato yang tadi berdiri di belakang kini sudah terkapar tak bernyawa di samping rekan mereka setelah dua tembakan kilat tanpa suara melesat dari pistol di tangan Reza.
Reza berdiri tepat di hadapan Maya. Pria itu menurunkan tangan kanannya yang memegang pistol peredam hitam legam.
Tidak ada ekspresi panik atau tegang di wajah tampannya. Yang ada hanyalah garis wajah yang kaku, dingin, dan tatapan mata tajam bagai pisau bermata dua yang menghujam tepat ke mata Maya.
"B-bos..." rintih salah satu preman yang belum mati total, merangkak lemah sambil memegang perutnya yang berdarah.
Tanpa mengalihkan pandangan dari Maya, Reza melangkah maju satu langkah, lalu menginjak sepatu mahalnya tepat di atas tangan preman yang merangkak itu.
"Argh!" teriak preman itu kesakitan.
"Siapa yang menyuruh kalian mengawasi area ini?" tanya Reza dengan suara rendah, berat, dan terdengar sangat mematikan.
"K-kami... kami tidak tahu apa-apa, Tuan Besar... Ampun..." jawab preman itu terengah-engah, tubuhnya gemetar ketakutan melebihi ketakutan Maya.
Reza mendengus pelan, lalu menembakkan sekali lagi peredamnya ke arah lain tanpa ragu.
Suasana kembali sunyi senyap, menyisakan napas Maya yang memburu tak beraturan.
Maya menelan ludah dengan susah payah, tenggorokannya terasa sangat kering. Ia ingin lari, tapi kedua kakinya lemas bagaikan agar-agar.
Reza perlahan membungkukkan badannya, menyamakan tinggi wajahnya dengan Maya yang masih duduk bersimpuh di tanah.
Jarak mereka sangat dekat, hingga Maya bisa mencium aroma parfum mewah yang bercampur dengan bau dingin malam.
"Sudah kubilang apa tadi di restoran, Maya?" suara Reza berbisik pelan, terdengar begitu dekat di telinga gadis itu.
Maya merinding hebat. Bulu kuduk di seluruh tubuhnya berdiri tegak. Air mata yang sempat tertahan akhirnya tumpah begitu saja membasahi pipinya.
"A-aku... aku tidak sengaja lewat sini, Tuan... Sumpah, aku tidak dengar apa-apa, aku cuma mau pulang..."
Reza menatap air mata di pipi Maya dengan pandangan menyelidik. Jarinya yang bebas, yang tadi dipakai memegang pistol, perlahan terulur ke depan.
Maya menutup matanya rapat-rapat karena takut jari itu akan melukainya. Tapi ternyata, ibu jari Reza hanya mengusap lembut sisa air mata di pipi Maya, sebuah sentuhan yang kontras sekali dengan situasi mengerikan di sekeliling mereka.
"Kamu keras kepala," kata Reza datar. "Kalau saja aku telat semenit tadi, kepala kamu sudah terpisah dari badan."
Maya membuka matanya perlahan, napasnya naik turun dengan cepat. "T-terima kasih... sudah menolongku. Tapi kumohon, biarkan aku pergi. Aku tidak mau tahu urusan kalian..."
"Pergi?" Reza tersenyum tipis, tapi senyuman itu sama sekali tidak sampai ke matanya.
"Di dunia saya, tidak ada kata 'pergi' untuk seseorang yang sudah melihat hal yang seharusnya tidak boleh dilihat."
Jantung Maya serasa berhenti berdetak mendengar kalimat itu. "Maksud... maksud Tuan apa? Aku tidak akan ngomong sama siapa-siapa! Demi Tuhan!"
"Saya tidak percaya pada sumpah manusia, Maya. Saya hanya percaya pada kontrol," balas Reza dingin sambil berdiri tegak kembali.
Pria itu kemudian melambaikan tangan kirinya ke arah bayangan gelap di ujung lorong.
Dua orang pengawal berbadan besar yang mengenakan setelan jas hitam langsung muncul dari kegelapan, bergerak cepat tanpa suara begitu melihat instruksi bos mereka.
"Bawa dia ke mobil sekarang," perintah Reza mutlak kepada anak buahnya.
"Baik, Tuan!" jawab kedua pengawal itu serempak.
Salah satu pengawal bertubuh raksasa melangkah mendekati Maya dan hendak memegang lengannya.
Maya sontak menjerit panik sambil meronta-ronta mundur ke belakang, menabrak dinding tembok yang dingin.
"Jangan sentuh aku! Lepasin! Aku mau pulang! Tolong!" teriak Maya histeris, menepis tangan pengawal itu dengan sisa tenaga yang ia punya.
Reza mendesah pelan melihat kepanikan Maya.
Pria itu maju dan tanpa aba-aba langsung menyambar pergelangan tangan Maya dengan cengkeraman kuat namun terukur, lalu menarik tubuh gadis itu berdiri secara paksa. Maya terpekik kaget saat tubuhnya menabrak dada bidang Reza.
"Dengar baik-baik, Maya," ucap Reza tepat di depan wajah Maya dengan tatapan dingin yang membuat nyali gadis itu ciut seketika.
"Mulai malam ini, hidup kamu bukan lagi milik kamu sendiri. Kamu ikut saya, atau kamu tinggal nama di lorong ini. Pilih yang mana?"
Maya tertegun, menatap mata tajam Reza yang sama sekali tidak memberikan ruang untuk menolak, sementara suara deru mesin mobil misterius mulai terdengar mendekat dari ujung jalan keluar lorong.
Bersambung