Aurelia baru saja akan menikmati masa mudanya sebagai gadis single yang bebas, sampai sebuah kecelakaan menyeret jiwanya ke tubuh Nadia Atmaja. Saat terbangun di ranjang rumah sakit, hal pertama yang ia rasakan bukanlah sakit kepala, melainkan beban berat di bagian perutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 24
***
Di balik dinding kaca kedap suara ruangan CEO Hadiwinata Group, udara terasa jauh lebih berat daripada biasanya. Meskipun Nadia baru saja pergi dengan senyum kemenangan setelah melabrak Vanya, Raditya tidak membiarkan senyum itu menghapus kewaspadaannya. Begitu pintu tertutup, wajah hangat yang ia tunjukkan pada istrinya menghilang seketika, berganti dengan topeng dingin seorang penguasa tunggal yang tak tersentuh.
Raditya menekan tombol intercom dengan gerakan presisi. "Aldi, masuk sekarang. Bawa semua yang saya minta."
Hanya dalam hitungan detik, Aldi sudah berdiri di depan meja jati tersebut. Ia tidak membawa berkas biasa ia membawa sebuah tablet hitam dengan enkripsi tingkat tinggi yang hanya digunakan untuk urusan dunia bawah Hadiwinata.
"Lupakan soal insiden parfum tadi, Aldi. Berikan saya profil asli wanita itu," ucap Raditya, suaranya rendah namun tajam, seperti mata pisau yang baru diasah.
Aldi menggeser beberapa data di layar. "Anda benar, Pak. Background check awal yang dilakukan HRD adalah palsu. Vanya bukan lulusan administrasi biasa. Nama aslinya adalah Vanya Wijaya. Dia adalah keponakan jauh dari Dokter Wijaya dokter yang dibawa Nyonya Besar tempo hari."
Rahang Raditya mengeras. Isu korupsi kakek Nadia, Dokter Wijaya, dan kini seorang penyusup di ruangannya sendiri. Semua benang merah itu mulai terikat kuat.
"Lanjutkan," titah Raditya dingin.
"Saya menemukan ini di arsip digital yang dihapus." Aldi menunjukkan sebuah foto Vanya yang mengenakan pakaian serba hitam, berdiri di sebuah pemakaman lima tahun lalu. "Itu adalah pemakaman Baskoro, mantan rekan bisnis Bapak Atmaja yang bunuh diri setelah kasus pengadaan lahan mencuat. Vanya bukan hanya kerabat Dokter Wijaya, tapi keluarganya menyimpan dendam kesumat pada kakek Ibu Nadia. Dan ada bukti komunikasi rahasia antara Vanya dengan firma hukum sepupu Ibu Anda."
Raditya menyandarkan punggungnya, jemarinya mengetuk meja dengan ritme yang mematikan. "Jadi, mereka ingin menggunakan Vanya bukan hanya untuk menggoda saya, tapi sebagai tikus untuk mencuri data sensitif yang bisa menjebloskan Atmaja ke penjara selamanya? Dan itu semua dilakukan di bawah hidung saya?"
"Apa perintah Anda, Pak? Haruskah saya membereskannya sore ini?" tanya Aldi, matanya berkilat siap menjalankan perintah eksekusi—entah itu pemecatan atau sesuatu yang lebih permanen di dunia gelap.
Raditya terdiam sejenak. Sebuah senyum tipis yang penuh kelicikan muncul. "Jangan. Biarkan tikus itu tetap di lubangnya. Jika kita membuangnya sekarang, Wijaya akan mengirim predator yang lebih pintar. Biarkan dia merasa sudah berhasil mendekati saya. Biarkan dia mencuri apa yang ingin dia curi tentu saja, berikan dia data yang sudah kita modifikasi."
"Anda ingin menjebak mereka sekaligus, Pak?"
"Saya ingin mereka masuk ke dalam perangkap saya sendiri sebelum mereka menyadari bahwa mereka sedang berhadapan dengan siapa," ucap Raditya dengan aura mafia yang mulai memancar kuat. "Pastikan semua langkahnya terpantau 24 jam. Jika dia menyentuh selembar kertas saja yang tidak seharusnya, beri tahu saya. Saya ingin menghancurkan Wijaya dan seluruh aliansinya sampai mereka tidak punya tempat lagi untuk bersembunyi di negeri ini."
Aldi membungkuk dalam. "Baik, Pak. Saya akan mengawasi setiap napasnya."
**
Malam telah larut ketika sedan hitam mewah Raditya perlahan memasuki gerbang besi tinggi Mansion Hadiwinata. Lampu-lampu taman yang berpendar keemasan menyapu permukaan mobil, memberikan kesan tenang yang sangat kontras dengan badai konspirasi yang baru saja ia bahas di kantornya yang dingin.
Raditya melangkah keluar dari mobil, langkah kakinya yang tegap menggema di atas lantai paving marmer lobi. Tubuhnya terasa sangat lelah beban memimpin imperium bisnis sekaligus menjaga keamanan keluarga besar bukanlah hal yang mudah. Ia melewati ruang tamu dan ruang makan yang sudah sunyi, namun di dalam kepalanya, mesin strategi masih berputar cepat. Ia sedang memetakan langkah untuk menghancurkan musuh-musuhnya terutama aliansi Wijaya dan firma hukum Leksana tanpa menyisakan jejak sedikit pun.
Cklek.
Pintu kamar utama terbuka pelan. Seketika, kehangatan aroma melati dan vanila yang manis menyapa indra penciumannya, menetralisir aroma tajam dunia bisnis yang ia bawa pulang. Radityamulai melepaskan kancing kemejanya dengan gerakan hati-hati, berusaha tidak menimbulkan suara sekecil apa pun.
Ia menoleh ke arah ranjang besar. Di sana, Nadia tampak tidak dalam posisi tidur yang tenang. Wanita itu tidur menyamping, memeluk bantal guling dengan satu tangan diletakkan di atas perut buncitnya yang kini sudah memasuki usia enam bulan. Namun, keningnya berkerut, dan napasnya terdengar sedikit tidak teratur.
Raditya berjalan mendekat, lalu duduk di pinggir ranjang dengan sangat perlahan agar tidak menimbulkan getaran pada kasur. Ia menatap wajah Nadia cukup lama dalam diam.
"Nngghh... pelan, sayang... jangan kuat-kuat tendangnya..." rintih Nadia pelan dalam tidurnya. Wajahnya meringis kecil saat bayi di dalam kandungannya melakukan gerakan aktif yang tampaknya cukup kuat hingga membuat tidurnya tidak nyenyak.
Raditya mengulurkan tangan, jemarinya yang kasar dan berurat karena terbiasa memegang kendali kekuasaan kini bergerak dengan sangat lembut. Ia mengusap perut Nadia, merasakan sebuah tendangan kecil namun tegas di balik daster sutra tipis itu.
"Kamu tidak tahu badai apa yang sedang saya tahan di luar sana, Nadia," bisik Raditya sangat lirih, suaranya hampir seperti desauan angin malam. "Tapi saya berjanji, selama napas saya masih ada, tidak akan ada satu orang pun yang bisa menyentuhmu atau kakekmu. Siapa pun yang mencoba menghancurkan ketenanganmu, mereka akan berurusan dengan neraka yang saya ciptakan."
Nadia tiba-tiba membuka matanya sedikit. Kesadaran antara sadar dan tidak. "Mas...?" suaranya serak dan sangat pelan.
"Sshhh... ini saya. Tidurlah lagi," bisik Raditya lembut, ia terus mengusap perut Nadia untuk membantu menenangkan si kecil di dalam sana.
"Bayinya... dari tadi dia nggak mau diam, Mas. Sakit," keluh Nadia dengan mata yang setengah terpejam. Ia menggeser tubuhnya sedikit, mencari posisi nyaman, dan secara tidak sadar menggenggam ujung kemeja Raditya yang masih ia duduki.
Raditya terkekeh rendah, sebuah tawa tulus yang hanya bisa keluar saat ia berada di sisi wanita ini. "Dia sepertinya tahu Papanya sudah pulang. Anak pintar, jangan nakal sama Mama, ya? Kasihan Mamamu lelah."
Mendengar bisikan itu, Nadia tampak sedikit lebih tenang. "Mas jangan pergi... temani di sini..." gumamnya sebelum kembali hanyut ke alam bawah sadar, kali ini dengan gurat wajah yang lebih rileks.
Raditya membungkuk, mengecup dahi Nadia dengan penuh perasaan sebuah janji bisu dari seorang pria yang siap menjadi perisai paling mematikan bagi keluarganya.
Namun, ketenangan itu tidak membuatnya lupa akan dunia di luar sana. Raditya bangkit berdiri, berjalan menuju jendela balkon yang menghadap ke arah kota yang masih benderang di kejauhan. Ia menatap kegelapan malam dengan mata yang kembali dingin dan tajam.
Di tangannya, ia memegang sebuah ponsel hitam kecil ponsel khusus dengan enkripsi tinggi untuk menginstruksikan jaringan "bawah tanah"-nya. Ia mengetikkan perintah singkat namun menghancurkan.
"Bergeraklah sekarang. Hancurkan satu per satu logistik firma hukum Leksana. Jangan biarkan mereka tidur dengan tenang malam ini. Habisi semua akses mereka ke media."
Setelah menekan tombol kirim, ia mematikan ponselnya sama sekali. Raditya menarik napas dalam, membuang sisa-sisa kemarahan yang tadi sempat membuncah. Ia kembali ke ranjang, melepaskan sisa pakaian formalnya, lalu merayap naik ke atas kasur. Ia memeluk Nadia dari belakang, melingkarkan tangannya di perut buncit sang istri, menjaga harta paling berharganya di tengah dunia yang penuh dengan ular berbisa.
****
Bersambung
aku udh mmpir....slm knal....
Aku syuka crtanya........tipe istri yg ga menye2,trs suami posesif.....mskpn d awl dia acuh,tp akhrnya jd bucin.....
d tnggu up'ny.....smngtt.....😘😘😘
ehhhh
suka semua ceritamu deng🤣
tunggu aksi luar biasa bumil thor