NovelToon NovelToon
TERJERAT TAKDIR

TERJERAT TAKDIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Noona Rara

Di mata keluarganya, Aira hanyalah seorang anak kedua yang tak pernah dianggap. Berbeda dari kakak dan adik bungsunya yang berpendidikan tinggi dan berkarier sukses, Aira hanya seorang lulusan SMA yang sehari-hari berjuang menjajakan kue keliling. Kasih sayang sang ayah menjadi satu-satunya alasan Aira bertahan di rumah yang penuh kepalsuan itu.
Namun, pertahanannya runtuh seketika saat pria yang ia cintai datang melamar. Bukan untuk dirinya, melainkan untuk sang adik. Pengkhianatan yang telah lama berjalan di belakangnya itu justru didukung penuh oleh ibu dan kakaknya.
Dalam hancurnya rasa kecewa, Aira melangkah pergi menembus derasnya hujan malam. Malang tak dapat ditolak, sebuah sepeda motor menyenggol tubuhnya yang ringkih. Sang pengendara yang merasa bersalah bermaksud membawanya ke rumah sakit, tetapi jalanan malam yang sepi dan hujan lebat memaksa mereka berteduh di sebuah gubuk tua.Siapa sangka, niat baik untuk berteduh justru berbuah petaka. Warga sekitar yang mengepung gubuk

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9

Malam itu di meja makan, cuma ada Bu Ismi seorang diri. Aira dan Devan yang baru mau bergabung makan malam otomatis mengernyit bingung. Suasana rumah mendadak sepi seperti kuburan.

"Loh, Bu? Mbak Siska sama Mas Beni ke mana? Kok sepi banget?" tanya Aira sambil menarik kursi, disusul Devan yang duduk di sebelahnya.

"Mbakmu pergi sama suaminya, katanya mau jalan-jalan sekalian cari perlengkapan bayi. Kalau adikmu si Karin, ya biasa, lagi pergi sama calon suaminya." jawab Bu Ismi acuh tak acuh.

Aira cuma bisa mengelus dada. Kakak dan kakak iparnya itu memang hobi sekali jalan-jalan tidak jelas, lalu pulang-pulang membawa rentetan kantong belanjaan. Anehnya, Bu Ismi sama sekali enggak pernah protes atau marah. Malah kelihatan bangga luar biasa. Coba kalau Aira yang ketahuan beli barang kecil saja, ngomelnya Bu Ismi pasti sudah sampai panjang kali lebar plus bonus sindiran tajam.

Makan malam pun berlangsung canggung dan hening. Cuma Aira yang sesekali berbisik menawarkan lauk ke Devan.

Tiba-tiba, Bu Ismi meletakkan sendoknya agak keras. "Berhubung kalian berdua sudah nikah, otomatis kepala di rumah ini nambah. Kalau bisa, Devan atau kamu kasih uang tambahan buat Ibu belanja bulanan. Jangan maunya cuma numpang makan gratis di sini."

Aira langsung tersedak pelan. "Loh, Bu... kan setiap hari Aira selalu nyerahin separuh uang hasil jualan kue ke Ibu?"

Faktanya memang begitu. Setiap hari Aira rajin menyerahkan setengah hasil keringatnya. Bahkan tak jarang, Bu Ismi malah menguras habis sisanya.

"Ya ampun, Aira! Uang segitu mana cukup buat makan seisi rumah? Di rumah ini ada enam kepala yang harus dikasih makan!" semprot Bu Ismi dengan nada naik satu oktav.

Aira menghela napas berat. Perasaan, setiap hari yang diungkit ibunya cuma uang, uang, dan uang. Seolah sebanyak apa pun yang diberikan, tidak akan pernah cukup di mata Bu Ismi.

"Karin sama Mbak Siska kan kerja kantoran, Bu. Gaji mereka pasti jauh lebih gede. Kenapa Ibu enggak minta tambahan ke mereka aja?" sahut Aira, mencoba membela diri.

Mata Bu Ismi langsung melotot lebar. "Hei! Kamu pikir mbakmu sama adikmu enggak pernah kasih uang ke Ibu? Mereka tuh ngasih banyak! Yang pelit tuh kamu! Kamu tuh udah punya suami yang diboyong ke sini. Tinggal gratis, makan kenyang tiga kali sehari. Kamu pikir bahan makanan di dapur ini dibeli pakai daun?! Ya harus nambah dong uang belanjanya!"

Mendadak, makanan lezat di piring Aira terasa seperti pasir. Perkataan pedas Bu Ismi menusuk ulu hati, membuat tenggorokannya seperti tersekat dan tak sanggup menelan lagi.

Tepat saat Aira hendak membalas, Devan mengelus punggung tangan Aira di bawah meja sentuhan lembut yang seketika mengalirkan rasa hangat dan menenangkan desakan emosinya.

"Sudah, enggak apa-apa, Dek." sela Devan tenang tapi tegas. "Nanti kamu kasih uang tambahan buat Ibu belanja, ya."

Selesai makan, Devan langsung masuk ke kamar. Pria itu tampak santai selonjoran di atas kasur sambil mengusap layar ponsel pintar di tangannya.

Aira yang baru masuk kamar tak sengaja memperhatikan barang di genggaman suaminya. Tatapannya tertuju pada desain elegan dan logo buah apel tergigit di bagian belakang ponsel itu.

*Bentar... itu kan ponsel mahal banget! Harga puluhan juta! Punya uang dari mana Mas Devan bisa beli yang begituan?* batin Aira terheran-heran.

Kemarin-kemarin Aira memang tidak terlalu ngeh. Tapi begitu diperhatikan lagi, itu jelas iPhone seri paling gres yang iklannya mondar-mandir di TV.

Aira berjalan mendekat, lalu duduk di tepi kasur. "Hmmm... Mas, aku boleh tanya-tanya soal keluarga kamu enggak?" tanya Aira pelan. "Aku... mau kenal lebih dekat sama keluarga kamu."

Devan mengalihkan pandangan dari layar. "Boleh. Tapi maaf ya, aku belum bisa ajak kamu main ke rumah orang tuaku sekarang-sekarang ini. Proyekku lagi ketat banget, enggak bisa ditinggal."

Aira menggigit bibir bawahnya ragu. Ada satu hal mengganjal yang sejak kemarin bikin dadanya sesak. "Mas... sebelum nikah sama aku, kamu... benar-benar enggak punya istri, kan?"

Aira cuma mau memastikan. Dia takut setengah mati kalau ternyata dia memergoki dirinya menikahi suami orang dan dicap sebagai pelakor.

Devan menghentikan gerakan jarinya. Dia menaruh ponsel mahal itu ke atas nakas, lalu berbalik sepenuhnya menghadap Aira. Tatapannya mendadak dalam dan tajam.

"Kalau aku sudah punya istri, enggak mungkin aku mau menikahi kamu." jawab Devan lurus, tanpa keraguan sedikit pun.

Leganya Aira bukan main. Helaan napas panjang lolos dari bibirnya. "Syukurlah... Ya siapa tahu kan? Namanya juga cowok, di depan cewek bilangnya single, eh tahu-tahu di rumah anak udah berderet."

"Aku serius, Aira. Aku belum pernah menikah." tegas Devan lagi.

Mata cokelat Devan menatap Aira begitu intens. Tatapan pria itu sangat jernih, mengunci pandangan Aira hingga dada wanita itu mendadak berdesir aneh. Ada kehangatan misterius yang terpancar dari sana membuktikan bahwa Devan sama sekali tidak berbohong.

"Aku janji." lanjut Devan dengan suara beratnya yang menenangkan, "kalau proyekku sudah agak santai, aku bakal bawa kamu ke rumah. Aku kenalin kamu sama keluargaku. Tapi... aku harap kamu jangan kaget ya kalau udah ketemu mereka nanti."

Devan sadar betul dinamika keluarganya lumayan rumit. Namun bagaimanapun juga, Aira adalah istrinya sekarang.

Aira mengerutkan kening. "Maksud kamu? Ibu kamu... galak ya?"

Jantung Aira mendadak mencelos. Bawaannya sudah waswas duluan. Zaman sekarang kan lagi heboh-hebohnya fenomena mertua toksik dan dholim ke menantu.

"Ya... begitulah. Nanti kamu juga bakal tahu sendiri." jawab Devan misterius.

Aira makin menciut. Dia sadar diri, wajahnya biasa saja, tidak secantik Siska atau semolek Karin. Bagaimana kalau ibu mertuanya nanti malah membencinya?

"Ih, Mas Devan! Kok malah nakut-nakutin aku sih!" sungut Aira sambil mengerucutkan bibirnya gemas.

Devan terkekeh pelan, suara terkeh yang terdengar sangat seksi di telinga Aira. "Siapa yang nakut-nakutin? Aku cuma bicara apa adanya, Dek. Tapi kamu enggak perlu takut. Di depan keluargaku nanti, bersikaplah apa adanya. Jadilah dirimu sendiri. Kalau kamu merasa tersakiti atau dipojokkan di rumahku, kamu boleh melawan. Aku enggak akan marah."

Aira makin dibuat cengo. Bukankah kebanyakan anak laki-laki itu 'anak mama' yang bakal buta membela keluarganya sendiri meski salah?

"Nggak ah... masa sama orang tua sendiri tega begitu." gumam Aira.

"Ya itu terserah kamu. Yang pasti, aku enggak akan pernah memarahimu selama kamu berada di posisi yang benar." ujar Devan mantap.

Aira cuma bisa manggut-manggut, meski hatinya masih menyimpan seribu pertanyaan. Matanya lalu melirik lagi ke ponsel di atas nakas. "Eh... itu beneran ponsel kamu, Mas?"

"Iya. Memangnya kenapa?"

"Nggak apa-apa, sih. Cuma... bagus banget. Pasti harganya mahal kan?" Aira mulai mengeluarkan mode hematnya. "Maksudku, kalau punya duit lebih, mending disimpan atau ditabung, Mas. Daripada dipakai beli ponsel mahal-mahal. Toh fungsinya sama aja buat telepon sama kirim pesan."

Aira membayangkan betapa berdarah-darahnya Devan bekerja di lokasi proyek, mengumpulkan rupiah demi rupiah. Sayang banget kalau uang hasil kerja keras itu ludes cuma demi gengsi gawai mahal.

Devan meraih ponselnya kembali, lalu menatap Aira dengan alis terangkat. "Kamu suka?"

"Ya suka lah! Siapa sih yang enggak suka barang bagus?" sahut Aira jujur. "Cuma ya itu tadi... sayang uangnya. Kamu pasti sampai menguras tabungan yang susah payah kamu kumpulkan, kan?"

Devan terkekeh lagi. Rupanya istri kecilnya ini tipe wanita yang sangat hemat.

"Oh iya, aku baru ingat," Devan menepuk jidatnya pelan. "Aku belum minta nomor ponsel kamu. Tadi pas di luar aku mau hubungi kamu tapi enggak bisa gara-gara enggak punya nomornya." Devan menyodorkan layarnya. "Minta nomor kamu dong, biar gampang kalau aku kangen... eh, maksudnya kalau mau menghubungi kamu."

Bulu kuduk Aira meremang mendengar gurauan Devan. "Iya juga ya, aku juga belum simpan nomor kamu."

Aira merogoh saku dan mengeluarkan ponselnya sendiri. Kondisinya cukup mengenaskan, layar agak tergores dan bodi belakangnya sudah kusam karena itu ponsel bekas keluaran tahun 2020 yang dibelinya murah beberapa tahun lalu.

Begitu menyadari situasi mereka, Aira dan Devan mendadak saling pandang, lalu tertawa kecil bersamaan.

"Lucu banget ya..." ujar Aira sambil mengetikkan nomornya di HP Devan. "Statusnya udah suami istri, tapi malah enggak punya nomor HP masing-masing."

"Harap maklum, Dek. Kita kan nikah rekor MURI akibat digerebek warga." balas Devan dengan cengiran jail yang bikin ketampanannya naik drastis.

Devan kemudian melirik ponsel ringkih di tangan Aira. "Ini HP kamu?"

"Iya. Jelek, kan?" kata Aira agak minder.

"Enggak kok, biasa aja." sahut Devan santai. Lalu tanpa ragu, Devan menyodorkan iPhone terbarunya ke tangan Aira. "Kalau kamu suka ponselku, kamu pakai aja yang ini. Biar HP kamu buat aku."

Aira kaget setengah mati sampai hampir menjatuhkan gawai mahal itu. "Eh! Jangan! Enggak usah, Mas! Aku pakai ini aja enggak apa-apa, lagian masih berfungsi kok!" tolak Aira cepat-cepat sambil mengembalikan iPhone tersebut. Bagi Aira yang teledor, memegang barang seharga belasan juta malah bikin senam jantung.

"Aku serius, Dek. Kalau kamu suka, ambil aja. HP kamu juga lumayan kok buat aku."

"Enggak usah, Mas..." bisik Aira sambil menggeleng tegas. "Nanti kalau Ibu lihat aku mendadak pakai HP mahal, bis-bisa aku diinterogasi dan diomeli tujuh hari tujuh malam. Pusing kepalaku. Kamu kayak enggak tahu tabiat Ibuku aja."

Devan tersenyum mengerti. "Ya sudah, kalau itu mau kamu."

Ruangan mendadak hening kembali. Aira memilin ujung bajunya, memberanikan diri menanyakan hal yang paling mengusik benaknya sejak akad nikah darurat hari itu.

"Mas Devan... aku mau tanya soal pernikahan kita." Aira menatap suaminya lekat-lekat. "Apa yang bakal kamu lakukan untuk pernikahan ini ke depannya?"

Devan menaikkan sebelah alisnya, agak bingung. Bagi Devan, pernikahan tetaplah sakral. Mau bagaimanapun mulanya, dia sudah mengikrarkan ijab kabul. Dia sudah menerima Aira sepenuhnya sebagai istri dan jalan takdirnya. Lagipula, di mata Devan, Aira adalah wanita yang sangat manis, baik hati, dan punya daya tarik unik yang beda dari wanita kebanyakan.

"Maksud kamu gimana, Dek?" tanya Devan dalam, merapatkan duduknya hingga jarak mereka terkikis. Tatapan matanya yang tajam dan menghangat membuat napas Aira mendadak tercekat dan salah tingkah.

"Ya... ya maksudnya..." Aira gugup setengah mati, berusaha mengalihkan pandangan dari dada bidang Devan. "Kita nikah kan karena terpaksa. Maksudku... mungkin suatu saat kamu ada niatan buat ceraikan aku? Secara... kita kan nikah tanpa rasa cinta..."

*Greb.*

Belum sempat Aira menyelesaikan kalimat racauannya, Devan sudah memajukan tubuhnya. Jari telunjuk pria itu menempel lembut tepat di atas bibir Aira, mengunci kata-katanya seketika.

Suasana kamar mendadak hening. Jarak wajah mereka begitu dekat hingga Aira bisa merasakan hembusan napas Devan yang hangat menerpa kulit wajahnya...

*(Bersambung)*

1
Sri Supriatin
Wah senengnya Devan mau bikin pesta pernikahan... Rezeki Aira🙏🙏🙏
Sri Supriatin
Bener kt bp mu Karin, pasti bakal nyesel kan🤭🤭🤣🤣
Nenk Shila
knp nggk keluar aja sih, devan ajak istrimu tinggal d luar hadeuuh lemah
Sri Supriatin
Sorry Aira salah typo... Tks double upnya thor🙏🙏
Sri Supriatin
Biasa yg kaya setengah2 ngk ngehargai status, kel oma Devan mah luar biasa... Selamat Aria diterima tulus sm oma 🙏🙏💪💪
Sri Supriatin
Kereeen si Devan 👍👍💪💪
Sri Supriatin
Tambah seru thor, double up dong🙏🙏
🌺WASI'AH_MISKA🍁😘
semangat thor🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Sri Supriatin
Bagus Aria keluar aja kan Devan sudah ngajak biar tau rasa kalau Devan mapan 👍😍😍😍
Tuty Yatun
sering2 up dong kak bagus ceritanya asal jgn terlalu bertele2 seperti sinetron ikan terbang🤭🤣
Noona Rara: Hehehe iyaa kak
total 1 replies
Cha Libra
thour ..novel mu masih bnyak yg On going npa udh nongol yg baru terus setiap cerita hampir Sma smua
Noona Rara: Iya kak. Untul novel sebelumnya itu udah stuck. Nggak bisa aku kembangin lagi.
Dan untuk kenapa ceritanya hampir sama karena memang aku fokusnya ke drama keluarga yah.
Jadi saat ini fokus aku kedua novel aja. Terjerat Takdir dan suksesnya istri yang tersakitii.
Makasih kak udah mau baca🙏🏽
total 1 replies
Sri Supriatin
Saya hadiir thor baru aja bc marathon n seryuuu👍🙏🙏🙏
Noona Rara: Makasih ya udah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!