NovelToon NovelToon
Terikat Pernikahan Dengan CEO Dingin

Terikat Pernikahan Dengan CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aqilaa Kezia

Alisha Amanda hanyalah seorang gadis sederhana yang bekerja di sebuah toko roti demi menghidupi dirinya dan sang ibu. Sejak kepergian ayahnya, ibunya menjadi satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Namun, hidup Alisha berubah ketika penyakit sang ibu semakin parah. Operasi dengan biaya yang sangat mahal menjadi satu-satunya harapan untuk menyelamatkan wanita yang paling ia cintai. Sayangnya, tabungan Alisha tidak cukup, bahkan untuk membayar sebagian kecil dari biaya tersebut.
Di tengah keputusasaan, sebuah tawaran tak terduga datang kepadanya.
Adrian Mahendra, seorang CEO muda yang dingin dan berkuasa, membutuhkan seorang istri demi mempertahankan posisinya di perusahaan keluarga. Terdesak oleh tuntutan orang tuanya dan ancaman kehilangan jabatan, Adrian menawarkan pernikahan kontrak selama satu tahun kepada Alisha.
Sebagai gantinya, Alisha akan mendapatkan uang yang cukup untuk membiayai operasi ibunya.
Bagi Adrian, pernikahan itu hanyalah kesepakatan bisnis. Tidak ada cinta, tidak ada

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aqilaa Kezia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7 — Keputusan Tanpa Perasaan

Pagi itu, Alisha Amanda tiba di rumah sakit lebih awal dari biasanya.

Di tangannya terdapat sebuah kantong berisi makanan untuk ibunya. Setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan rumah, dia langsung berangkat agar bisa menghabiskan waktu bersama Ratih Amanda sebelum kembali bekerja.

Ketika memasuki kamar rawat, Alisha mendapati ibunya sedang duduk bersandar di ranjang sambil memandangi jendela.

"Selamat pagi, Bu."

Ratih menoleh dan tersenyum kecil.

"Pagi, Nak. Kamu datang pagi sekali hari ini."

Alisha meletakkan kantong makanan di atas meja kecil.

"Iya, Bu. Sebelum berangkat kerja, Alisha mau menemani Ibu sebentar."

"Kamu tidak terlambat bekerja nanti?"

"Tidak. Masih ada waktu."

Alisha membantu ibunya memperbaiki posisi bantal, kemudian duduk di kursi dekat ranjang.

Beberapa saat mereka berbicara tentang keadaan Ratih. Alisha berusaha terlihat tenang setiap kali ibunya menanyakan pekerjaannya, meskipun sebenarnya masih banyak hal yang memenuhi pikirannya.

Ratih memperhatikan wajah putrinya.

"Alisha, akhir-akhir ini kamu kelihatan banyak pikiran. Ada masalah di tempat kerja?"

Alisha terdiam sesaat.

Dia tidak ingin membuat ibunya khawatir. Terlebih lagi, urusan pernikahannya dengan Adrian masih dalam tahap persiapan.

"Tidak ada masalah besar, Bu. Alisha cuma sedang mengurus beberapa hal."

Ratih mengangguk, tetapi tatapannya masih menyimpan kekhawatiran.

"Kalau ada sesuatu yang membuatmu kesulitan, kamu boleh cerita sama Ibu."

Alisha menggenggam tangan ibunya.

"Iya, Bu. Alisha tahu."

Dia tidak menceritakan semuanya. Bukan karena ingin menjauh dari ibunya, tetapi karena dirinya sendiri masih mencoba menerima keputusan yang sudah diambil.

Setelah memastikan ibunya selesai sarapan, Alisha berpamitan untuk berangkat bekerja.

Sebelum keluar dari kamar, dia kembali menoleh.

"Ibu istirahat yang cukup, ya. Nanti kalau Alisha sudah selesai bekerja, Alisha datang lagi."

Ratih tersenyum.

"Hati-hati di jalan."

Alisha mengangguk, lalu meninggalkan kamar dengan satu harapan yang selalu sama.

Semoga ibunya segera sembuh.

---

Di tempat lain, Adrian Mahendra sudah berada di ruang kerjanya sejak pagi.

Di hadapannya terdapat beberapa laporan perusahaan yang harus diselesaikan sebelum rapat direksi dimulai. Dia membaca setiap halaman dengan teliti, sesekali memberikan instruksi kepada kepala divisi melalui sambungan telepon.

Ketukan terdengar dari pintu.

"Masuk."

Daniel muncul sambil membawa sebuah map.

"Selamat pagi, Pak. Saya ingin melaporkan perkembangan persiapan pernikahan."

Adrian tidak langsung mengangkat wajah.

"Silakan."

"Rancangan perjanjian sudah saya periksa kembali. Beberapa ketentuan telah disesuaikan dengan pembicaraan sebelumnya bersama Nona Alisha."

Daniel meletakkan map di atas meja.

"Selain itu, saya juga sudah mulai mengurus persiapan administrasi yang diperlukan. Ada beberapa hal yang masih membutuhkan keputusan Bapak."

Adrian akhirnya mengalihkan pandangan dari layar komputer.

"Apa saja?"

Daniel menjelaskan beberapa hal yang perlu ditentukan, mulai dari jadwal pernikahan hingga persiapan tempat tinggal setelah mereka menikah.

Adrian mendengarkan tanpa banyak komentar.

"Untuk tempat tinggal, gunakan rumah saya. Tidak perlu mencari tempat lain."

"Baik, Pak."

"Untuk hal-hal lainnya, atur sesuai kebutuhan. Saya tidak ingin persiapan ini mengganggu jadwal kerja saya."

Daniel mengangguk.

"Saya mengerti."

Adrian kembali membuka dokumen di komputernya.

"Kalau ada sesuatu yang membutuhkan keputusan langsung dari saya, beri tahu. Selebihnya, kamu yang urus."

"Baik, Pak."

Daniel sudah menduga jawaban tersebut.

Adrian tidak pernah menunjukkan ketertarikan berlebihan terhadap urusan pernikahan ini. Baginya, selama semua persiapan berjalan dengan baik, tidak ada alasan untuk menghabiskan terlalu banyak waktu membahasnya.

Setelah menyampaikan beberapa informasi tambahan, Daniel meninggalkan ruangan.

Adrian kembali bekerja seolah pembicaraan tadi tidak lebih dari salah satu agenda perusahaan yang harus diselesaikan.

Baginya, memang sesederhana itu.

---

Siang harinya, Alisha sedang beristirahat sebentar di tempat kerjanya ketika ponselnya bergetar.

Sebuah pesan dari Daniel muncul di layar.

Daniel:

Selamat siang, Nona Alisha. Saya ingin menginformasikan bahwa persiapan administrasi pernikahan sedang berjalan. Jika ada perkembangan atau dokumen yang perlu Anda periksa, saya akan menghubungi Anda kembali.

Alisha membaca pesan itu, lalu membalas dengan sopan.

Alisha:

Baik, Pak Daniel. Terima kasih atas informasinya.

Dia meletakkan ponsel dan kembali memikirkan pekerjaan yang masih harus diselesaikan.

Alisha tidak berniat menghabiskan waktu dengan membayangkan seperti apa kehidupan setelah menikah nanti.

Dia tahu Adrian adalah pria yang sibuk. Dari cara mereka berkomunikasi, Alisha bisa melihat bahwa pria itu tidak tertarik membicarakan hal-hal yang tidak dianggapnya perlu.

Sebenarnya, Alisha tidak mempermasalahkan hal tersebut.

Dia juga memiliki kesibukan sendiri.

Selama pernikahan itu tidak menghalanginya bekerja dan tetap memperhatikan ibunya, dia akan berusaha menjalaninya.

Setelah waktu istirahat selesai, Alisha kembali melanjutkan pekerjaannya.

Hari itu berlalu seperti hari-hari biasanya.

Dia menyelesaikan tugasnya, merapikan barang-barang yang diperlukan, lalu bersiap pulang.

Namun, sebelum meninggalkan tempat kerja, Alisha sempat memeriksa ponselnya sekali lagi.

Tidak ada pesan baru.

Dia memasukkan ponsel ke dalam tas dan berjalan menuju halte.

---

Malam harinya, Adrian pulang lebih lambat dari yang direncanakan.

Rapat yang seharusnya selesai sore tadi berlangsung lebih lama karena ada beberapa persoalan yang harus dibahas bersama jajaran direksi.

Begitu tiba di rumah, Adrian menyerahkan jasnya kepada asisten rumah tangga yang menyambutnya.

"Selamat malam, Tuan Adrian."

"Malam."

Adrian melonggarkan dasinya sambil berjalan menuju ruang kerja di rumah.

"Daniel menghubungi saya tadi?"

"Beliau sempat mengirim pesan, Tuan. Ada beberapa dokumen yang perlu diperiksa kembali."

Adrian mengangguk.

"Letakkan di ruang kerja saya."

"Baik, Tuan."

Tanpa membuang waktu, Adrian langsung menuju ruang kerjanya.

Dia bahkan belum sempat memikirkan makan malam ketika kembali membuka laptop dan memeriksa dokumen yang dikirimkan Daniel.

Beberapa menit kemudian, ponselnya bergetar.

Daniel mengirimkan pesan mengenai jadwal pertemuan berikutnya.

Adrian membalas singkat, lalu meletakkan ponselnya kembali.

Tidak ada pembicaraan mengenai perasaannya.

Tidak ada pula keinginan untuk membahas apakah dia bahagia atau tidak dengan keputusan tersebut.

Adrian sudah menetapkan pilihannya.

Dia akan menikah karena keadaan menuntutnya melakukan itu.

Setelahnya, dia akan tetap menjalani hidup seperti biasa.

Perusahaan tetap menjadi prioritas utamanya.

---

Sementara itu, Alisha sedang duduk di samping ranjang ibunya di rumah sakit.

Setelah menyelesaikan pekerjaan, dia menyempatkan diri untuk kembali mengunjungi Ratih.

Perempuan itu sudah beristirahat ketika Alisha tiba. Namun, setelah mendengar suara putrinya, Ratih membuka mata dan tersenyum.

"Kamu datang lagi, Nak?"

Alisha mengangguk.

"Iya, Bu. Alisha mau melihat keadaan Ibu."

Ratih mengusap tangan putrinya dengan lembut.

"Kamu jangan sampai terlalu lelah. Kamu juga harus menjaga kesehatan."

"Iya, Bu."

Alisha berusaha tersenyum, meskipun rasa lelah mulai terasa setelah menjalani hari yang panjang.

Dia tidak ingin ibunya mengetahui semua kekhawatirannya.

Untuk sekarang, dia hanya ingin melihat ibunya kembali sehat.

Jika pernikahan dengan Adrian bisa membantunya melewati masa sulit ini, Alisha akan menjalaninya.

Dia tidak membutuhkan janji cinta.

Dia juga tidak mengharapkan Adrian menjadi pria yang selalu menemaninya.

Alisha hanya berharap pria itu tetap menghormati kesepakatan mereka.

Itu sudah cukup baginya.

---

Keesokan harinya, Daniel kembali menemui Adrian di kantor.

Kali ini, dia membawa jadwal yang telah disusun untuk persiapan pernikahan.

"Pak, saya sudah menyusun jadwal untuk beberapa keperluan yang perlu diselesaikan sebelum hari pernikahan."

Adrian memeriksa jadwal itu sekilas.

"Pastikan tidak berbenturan dengan agenda penting perusahaan."

"Sudah saya sesuaikan, Pak."

"Bagus."

Adrian mengembalikan dokumen tersebut.

Daniel hendak pergi ketika Adrian tiba-tiba teringat sesuatu.

"Daniel."

"Ya, Pak?"

"Pastikan Alisha mendapatkan informasi yang sama mengenai jadwalnya. Jangan sampai dia datang ke tempat yang salah atau melewatkan sesuatu karena tidak diberi tahu."

Daniel sedikit terkejut, tetapi segera mengangguk.

"Baik, Pak. Saya akan menghubunginya."

Adrian kembali menatap layar komputer.

"Kalau begitu, kamu bisa kembali bekerja."

"Baik, Pak."

Daniel keluar dari ruangan tersebut.

Permintaan Adrian tadi sebenarnya sederhana. Dia hanya tidak ingin terjadi kesalahan dalam persiapan pernikahan.

Bukan karena dia ingin memberikan perhatian khusus kepada Alisha.

Setidaknya, itulah yang ada dalam pikirannya.

Bagi Adrian, memastikan segala sesuatu berjalan dengan benar merupakan bagian dari tanggung jawabnya. Dia terbiasa mengatur pekerjaan secara terperinci dan tidak menyukai kesalahan yang sebenarnya bisa dihindari.

Pernikahan ini pun tidak berbeda.

Dia ingin semuanya selesai tepat waktu, tanpa masalah yang tidak perlu.

---

Sore itu, Alisha menerima pesan dari Daniel mengenai perkembangan persiapan pernikahan mereka.

Dia membaca jadwal yang dikirimkan dengan teliti, kemudian menyimpan informasi tersebut agar tidak lupa.

Setelah itu, dia kembali memeriksa pesan dari rumah sakit mengenai jadwal pemeriksaan ibunya.

Dua hal berbeda kini memenuhi kehidupannya.

Persiapan pernikahan dengan Adrian Mahendra.

Dan perjuangannya untuk memastikan ibunya mendapatkan perawatan yang dibutuhkan.

Alisha menarik napas panjang.

Dia tahu jalan yang dipilihnya tidak akan selalu mudah. Namun, dia tidak ingin terus-menerus merasa takut terhadap masa depan.

Dia akan menjalani semuanya satu per satu.

Sementara itu, di kantor Mahendra Group, Adrian masih berkutat dengan pekerjaannya hingga malam menjelang.

Keduanya menjalani hari dengan kesibukan masing-masing, tanpa banyak memikirkan hubungan yang sebentar lagi akan mengikat mereka sebagai suami dan istri.

Tidak ada percakapan panjang.

Tidak ada perhatian berlebihan.

Hanya dua orang yang sedang berusaha menyelesaikan urusan mereka sendiri.

Dan di antara semua persiapan yang berjalan, hari pernikahan mereka semakin dekat.

1
Grend Levn
ceritanya menarik membuat ku penasaran bagaimana kelanjutannya kerenn
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan kamu itu Clarissa, sedemikian ga lakunya kamu ya sama bujangan, sampai orang udah punya istri juga kamu ganggu, hanya alasan masa lalu? Bodohnya kebangetan kamu
Aqilaa Kezia: Hehehe, sabar ya, Kak 😂 Clarissa memang bikin emosi. Terima kasih sudah membaca novelku! ❤️
total 1 replies
Ariany Sudjana
skak mat, bagus Alisha, kamu harus tegas menghadapi si pelacur murahan itu, tunjukkan kamu itu perempuan baik-baik, cerdas dan mandiri, meskipun kamu istri CEO, tapi kelas kamu jauh di atas si pelacur murahan itu, yang hanya bisa berharap jadi istri CEO, tapi ga kesampaian
Aqilaa Kezia: makasih banyak Kak Arianya udah selalu dukung Alisha😍
total 1 replies
Ariany Sudjana
Adrian dan alisha harus tegas dan waspada, si pelacur murahan itu ingin menghancurkan rumah tangga kalian
Aqilaa Kezia: terimakasih ka Adriany udah membaca😊
total 1 replies
Ariany Sudjana
jangan menyerah Alisa, buktikan kamu perempuan baik-baik, cerdas dan mandiri, dan cocok mendampingi Adrian, jangan biarkan pelacur murahan itu menghancurkan rumah tangga kamu dengan Adrian
katya
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!