"Om mau nyeraikan gue? Bagus dong! Mana drafnya? Gue tanda tangani sepuluh kali kalau perlu!"
Mayor Yudhana (32) mengira ancaman perceraian akan membuat Vina (20) berlutut memohon ampun. Namun, benturan keras di aspal telah menghapus seluruh kenangan penderitaan Vina selama menikah. Vina yang baru adalah gadis barbar usia 18 tahun yang sama sekali tak terintimidasi oleh baret hijau maupun pangkat tiga melati.
Saat Vina memperlakukannya seperti bapak kos galak dan sibuk mencari uang sendiri untuk angkat kaki, Mayor Yudhana terpukul oleh gengsinya sendiri. Untuk pertama kalinya, Sang Mayor menyadari bahwa hal paling berbahaya bukan lagi kehilangan wibawa di Batalyon—melainkan kehilangan wanita yang baru saja mulai menguasai seluruh sudut hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2. Ampun, Mayor! (Revisi)
Genangan kuah gulai ayam yang kental dan pekat meresap lambat di atas ubin putih bersih ruang kerja, melumuri ujung sepatu lars hitam milik Mayor Yudhana. Aroma rempah yang tadinya mengepulkan kehangatan kini berubah menjadi bau anyir kepedihan yang menusuk hidung, berpadu dengan silau cahaya matahari siang yang menembus jendela kaca koridor dan menghujam langsung ke dalam ruangan.
Yudhana membeku di tempatnya berdiri. Manik mata pekat sang perwira membelalak lebar, kehilangan seluruh sorot wibawa dan ketegasannya. Untuk pertama kalinya dalam sejarah karier militer yang dibangunnya dengan cucuran keringat dan disiplin baja, pria bergelar Komandan Batalyon itu dilanda kepanikan murni yang meremukkan rongga dadanya.
"Vina ... tunggu. Ini ... ini tidak seperti yang kamu lihat," suara bariton Yudhana tercekat di tenggorokan. Napasnya memburu, dadanya naik turun tak beraturan saat ia melihat sosok istrinya berdiri kaku di ambang pintu. Tanpa memedulikan noda kuah gulai yang mengotori sepatunya, Yudhana melangkah maju satu tindak, merentangkan tangan untuk menggapai bahu Vina. "Dengarkan penjelasan saya dulu, Vina."
"Jangan sentuh saya!" bentak Vina tajam. Suaranya tidak melengking histeris, melainkan meluncur begitu dingin, datar, dan bergetar hebat oleh gelombang amarah yang mendidih di dalam dadanya.
Yudhana serta-merta menghentikan langkahnya di udara. Rahang tegas sang Mayor mengeras, sementara keringat dingin mulai bercucuran menuruni pelipisnya di bawah terik cahaya matahari siang yang membakar.
Di sudut ruangan, di balik bayang-bayang meja kerja besar, Tanti merapikan helai rambutnya yang berantakan akibat keterkejutan tadi. Alih-alih merasa bersalah atau ketakutan tertangkap basah, wanita itu justru mendengus sinis. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum meremehkan yang memuakkan. Tanti melangkah maju, berdiri tepat di samping Yudhana seolah-olah ia memiliki hak yang sama di ruangan itu.
"Vina, kamu ini perempuan tidak tahu aturan ya?" cibir Tanti dengan intonasi suara yang sengaja dibuat-buat manja namun penuh racun. "Datang ke markas militer main dobrak pintu, bikin kotor lantai, lalu bertingkah seolah kamu dizalimi. Kamu itu cuma seorang anak panti asuhan yang tidak berpendidikan etika! Makanya, kalau suamimu sedang bekerja, jangan bersikap kekanak-kanakan dan membuat malu institusi militer seperti ini!"
Anak panti asuhan.
Kalimat itu meluncur begitu ringan dari bibir Tanti, merobek kembali luka paling dalam yang selama ini dijaga Vina dengan segenap sisa harga dirinya. Selama tiga ratus enam puluh lima hari hidup berumah tangga dengan Yudhana, Vina selalu menelan mentah-mentah segala bentuk pandangan rendah, hinaan terselubung, dan perlakuan dingin dari lingkaran keluarga besar suaminya. Ia rela direndahkan, rela dianggap sebelah mata, dan rela hidup dalam bayang-bayang kesunyian rumah dinas demi menjaga kehormatan Yudhana sebagai seorang perwira.
Namun hari ini, di bawah silau terik matahari siang yang membakar, kesabaran itu terbakar habis tanpa sisa.
Vina tidak menangis. Tidak ada lagi air mata yang tersisa di pelupuk matanya; yang ada hanyalah tatapan mata tajam mematikan yang membakar amarah murni.
Dengan langkah kaki yang tegas dan tanpa keraguan sedikit pun, Vina menerobos masuk ke dalam ruangan. Ia mengabaikan genangan kuah gulai dan langsung mengunci pandangannya pada sosok Tanti yang berdiri jumawa.
"Vina, cukup!" seru Yudhana panik, melihat sorot mata istrinya yang berbahaya. Pria itu bergerak cepat merentangkan tangan untuk menghalangi jalan Vina. "Jangan berbuat nekat—"
PLAK!
Suara tamparan keras membelah keheningan ruangan ber-AC dingin itu dengan sangat nyaring, memantul kencang di dinding-dinding ubin markas.
Hantaman telapak tangan Vina yang mendarat telak di pipi kiri Tanti begitu kuat hingga membuat tubuh wanita itu terhuyung ke samping. Tanti kehilangan keseimbangan, membentur keras sudut meja kerja kayu jati sebelum akhirnya jatuh tersungkur ke lantai. Pipi kiri Tanti seketika merona merah padam, membekas panas telapak tangan yang membuat wanita itu menjerit tertahan sambil memegang pipinya dengan mata membelalak tak percaya.
"Ini bayaran buat mulut busuk kamu yang tidak pernah diajari cara menghargai orang lain!" suara Vina bergetar hebat, napasnya memburu menahan murka. "Kamu bilang saya tidak punya etika? Lalu apa sebutan buat perempuan gatal yang mencium suami orang di ruang kerja resmi militer?! Kerabat macam apa kamu yang merusak rumah tangga keluarga sendiri di hadapan publik?!"
Tanti meringis kesakitan di lantai, tidak mampu membalas bentakan Vina.
Yudhana terperanjat hebat melihat aksi nekat istrinya. Panik menguasai seluruh akal sehat sang Mayor. Tanpa berpikir panjang, ia mencengkeram kedua lengan Vina dengan kuat untuk menjauhkan wanita itu dari Tanti. "Vina! Sadar! Cukup! Jangan buat keributan yang lebih besar di markas ini!"
Vina menepis tangan Yudhana dengan hentakan tenaga yang luar biasa kuat. Ia memutar tubuhnya seratus delapan puluh derajat, berdiri tegak tepat di hadapan suaminya. Manik mata cokelat beningnya menatap lurus ke dalam mata Yudhana—pria yang selama satu tahun ini ia layani dengan sepenuh hati, namun tega menghancurkan hidupnya tanpa belas kasihan.
"Dan kamu," ucap Vina, suaranya parau namun begitu menusuk langsung ke ulu hati Yudhana. "Kamu sebut diri kamu seorang perwira tinggi? Komandan Batalyon yang menjunjung tinggi kehormatan? Kamu bahkan tidak lebih baik dari seorang pengecut yang berlindung di balik rok kerabatmu sendiri!"
"Vina, dengarkan saya—" Yudhana mencoba membela diri, tangannya kembali terangkat hendak merengkuh lengan Vina.
PLAK!
Tamparan kedua yang jauh lebih keras dan telak melayang tepat di pipi kanan Yudhana.
Hantaman itu begitu bertenaga, memanfaatkan seluruh sisa kekecewaan dan amarah yang menumpuk di dada Vina selama setahun penuh. Kepala sang Mayor terlempar sedikit ke samping akibat benturan tersebut. Pipi tegas bersudut kaku milik Komandan Batalyon itu kini meninggalkan bekas kemerahan yang sangat pekat. Suara tamparan itu menggelegar kaku di udara, menyisakan keheningan yang luar biasa membeku di dalam ruangan.
Di luar pintu ruang kerja yang terbuka lebar, pemandangan itu tersaji tanpa filter.
Beberapa prajurit piket dan perwira muda Batalyon yang kebetulan sedang melintas di koridor dalam rangka bersiap melaksanakan apel siang mendadak menghentikan langkah kaki mereka secara serentak. Langkah mereka membeku di atas lantai koridor. Mata puluhan prajurit itu membelalak lebar, nyaris keluar dari soketnya, melihat pemandangan yang melampaui batas nalar militer: Komandan Batalyon mereka yang paling ditakuti, disegani, dan memegang kendali penuh atas ribuan prajurit, baru saja ditampar dua kali berturut-turut oleh istrinya sendiri di siang bolong.
Suasana koridor markas mendadak senyap seketika, seolah denyut nadi seluruh prajurit di gedung itu ikut berhenti berdetak.
Yudhana tidak membalas. Pria tegap itu membeku kaku di tempatnya berdiri, bagaikan tersambar petir di siang bolong. Rasa panas menyengat membakar pipi kanannya, namun panas itu sama sekali tidak ada apa-apanya dibandingkan hantaman rasa malu yang luar biasa besar. Seluruh wibawa, kehormatan, dan topeng keangkuhan yang ia bangun bertahun-tahun di hadapan anak buahnya runtuh berkeping-keping dalam waktu kurang dari satu menit.
PLAK! Tamparan Vina menggelegar kaku di udara markas di bawah terik siang, menyisakan bekas merah menyala di pipi tegas sang Mayor serta rasa dingin yang membakar harga dirinya di hadapan para bawahan.
Yudhana menatap Vina dengan bibir yang sedikit terbuka, kehilangan kemampuan untuk merangkai kata-kata di bawah tatapan puluhan mata prajurit di luar pintu.
Namun Vina sudah tidak peduli lagi pada pasang mata yang mengamati mereka. Wanita itu menundukkan pandangannya sejenak ke arah jari manis tangan kanannya. Di sana, melingkar sebuah cincin perak sederhana—cincin pernikahan murah yang selama tiga ratus enam puluh lima hari ini ia jaga kesuciannya tanpa pernah ia lepaskan sedetik pun.
Dengan gerakan tangan yang tegas, dingin, dan tanpa keraguan sedikit pun, Vina menarik cincin perak itu dari jari manisnya.
Yudhana tersentak sadar melihat gerakan itu. "Vina ... jangan," bisiknya parau, suaranya nyaris tak terdengar.
Vina tidak memedulikan permohonan itu. Ia melemparkan cincin perak tersebut tepat ke dada kemeja dinas Yudhana. Cincin kecil itu memantul di atas kain seragam hijau milik sang Mayor, lalu jatuh gemerincing di atas ubin lantai yang kotor tercampur kuah gulai.
"Saya kembalikan status murah ini sama kamu, Mayor Yudhana," ucap Vina dengan nada suara yang benar-benar hampa, tanpa menyisakan secercah pun rasa cinta atau kehangatan di dalamnya. "Mulai detik ini, di hadapan para prajuritmu dan di bawah matahari ini, kita selesai. Kamu bebas dari beban moral yang menjerat hidupmu."
"Vina!" teriak Yudhana histeris saat Vina membalikkan badannya dengan cepat.
Vina tidak menoleh lagi. Ia melangkah keluar melewati kerumunan prajurit di koridor yang langsung otomatis membuka jalan untuknya dengan wajah pucat pasi. Vina berlari menyusuri lorong markas, menuruni anak tangga dengan derap flat shoes yang beradu cepat, lalu keluar menuju area parkir kendaraan di bawah terik matahari siang yang membakar kulit.
Air matanya tumpah dalam diam saat ia berlari menuju motor matic merah tuanya, meninggalkan seorang Komandan Batalyon yang terduduk lemas dalam kehancuran total di tengah reruntuhan harga dirinya sendiri.
bersambung...
Alhamdulillah 🤲