Kisah cinta yang tak usia saat masih berseragam abu-abu, akankah bisa terjalin kembali? Disaat keduanya sudah tak lagi sama, namun hati tak bisa dibohongi, cinta mereka nyatanya masih ada.
Namun, disaat cinta kembali mengalahkan logika, keadaan justru menyudutkan keduanya.
Akankah SANTANA masih bisa menjadi milik SENJANA?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon little ky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Waktu
Orang yang sama, rasa yang sama, hanya waktu dan tempat yang kini sudah berbeda. Dia bukan lagi Santana milik Senjana, dia sudah bertunangan dengan wanita lain. Janji untuk mencintainya selamanya, ternyata kalah oleh waktu. Jika dulu dia berjibaku melawan diri sendiri untuk merelakan, maka sekarang dia hanya perlu melipir sejenak, untuk tidak terpengaruh kehadirannya.
Sejak keduanya bertatap muka, Senjana diam seribu bahasa. Mulutnya yang biasanya selalu mengeluarkan kata-kata yang menggerus emosi, malam ini dia kunci rapat-rapat. Bukan lagi marah, bukan lagi benci, hanya dia merasa jika kini tidak ada lagi ' kita ' untuknya dan pria yang telah menjadi tunangan wanita lain.
Yang lain masih di dalam, sebut saja keluarga Antasena dan calon anggota keluarga baru. Senjana memilih duduk di sebuah kursi taman, yang sudah sangat sering dia duduki sejak dirinya dibawa masuk ke dalam kehidupan keluarga Antasena oleh Rahayu lima tahun yang lalu.
Merenung sendiri, sembari menatap gemerlap lampu taman yang Senjana ingat betul, dia harus ribut dengan Angkara soal tata letak lampu-lampu itu.
" Ah.... Ternyata sudah sekian lama ya. Sepertinya baru kemarin gue nangis-nangis ditinggal lo. Sekarang,, gue kaget gue masih baik-baik aja. Rupanya gue ikhlas ya, San.. " gumamnya sendiri.
Senjana menutup kedua matanya saat angin menerpa wajahnya yang cantik. Rambutnya menari-nari, mengikuti arah angin yang berhembus.
Cantik..
Selalu cantik baginya, baik sekarang ataupun saat dia berusia enam belas tahun. Sejak pertemuan pertama mereka, hati ini sudah tertaut. Meski jarak dan waktu membentang, rasa itu masih sama, sayang itu masih sama, cinta itupun masih sama, cintanya pada Sang Senja.
" Kamu disini, beb.. " tegur Yara yang mencari keberadaan Santana yang tadi sempat pamit ke kamar mandi.
" Hmmm.. Ayo kembali ke dalam. " ajaknya, tidak ingin Yara tahu jika dia sebenarnya bukan pergi ke kamar mandi, tapi mencari keberadaan Senjana yang setelah makan langsung menghilang.
Dari posisinya duduk, Santana bisa melihat Senjana yang ada di taman lewat pintu kaca besar yang berada tak jauh dari ruang bersantai. Meski tidak bisa menikmati wajah cantik itu dengan jelas, tak menjadi masalah karena Santana hafal betul setiap lekuk wajah dari cintanya.
Diabaikannya Yara yang sedang mengobrol dengan kakak ipar dan ibunya, Santana memilih untuk tetap memandangi Senjanya. Senja yang ternyata sangat dia rindukan. Tanpa pernah Santana tahu, jika hatinya begitu merindukan kekasih hatinya itu.
" Aaaahhhhhh... Pak bos bener-bener ya.. "
Suara teriakan Senjana, lalu Senjana yang berlari mengejar Angkara. Entah mengapa membuat hati Santana marah. Tangannya terkepal kencang, ingin rasanya dia berlari ke arah luar, lalu menarik Senjanya dalam pelukannya.
Santana tidak suka, dia tidak suka melihat Senjana bisa seakrab itu dengan pria lain. Padahal meski statusnya tunangan Yara, dia bahkan tidak sedekat dan seintim itu. Santana selalu menjaga batasan yang mana karena dia sadar betul, bukan Yara yang dia inginkan.
" Duh.. Kenapa lagi itu dua orang? Kok ya nggak bisa akur barang semenit aja. Ini pasti Mas Ang mu yang ngerjain Sen-sen.. " komentar ibu Rahayu.
" Biasalah, bu.. Mas Ang itu nggak bisa tidur kalau nggak bikin Senjana ngamuk.. " ketiga wanita Antasena sama-sama tertawa. Lain dengan Santana yang semakin dibuat geram mendengar komentar Yara dan ibunya.
" Buat ibu lihat dulu. Soalnya kalau dibiarin bisa-bisa kalau ndak Senja yang nangis ya Mas Ang yang sakit kepala itu.. " ibu Rahayu terkekeh. Lalu berjalan keluar menuju ke taman di mana Senjana dan Angkara masih sibuk saling kejar-kejaran.
Selama kaki tuanya melangkah, kedua matanya terus memandang ke arah dua anak manusia yang sedang saling mengejar itu. Dari tatapan mata tuanya, terlihat jelas ada kelegaan, ada rasa syukur, dan ada rasa bahagia, melihat kedekatan keduanya. Melihat Angkara, putranya yang berubah menjadi dingin, tempramental dan jadi workaholic, bisa kembali seperti Angkaranya yang dulu.
Lembut, penyayang, perhatian, ya meskipun sejak dulu memang mulut Angkara itu julid, tapi dia tidak tempramental. Berubahnya Angkara, atau bisa dikatakan berubahnya keluarga Antasena bermula dari pengkhianatan Danu Antasena, ayah Angkara dan Miyara.
" Heh.. Heh.. Mbok sudah itu kalau lari-larian. Habis pada makan to, nanti perutnya kram lo. " tegur Rahayu penuh sayang.
" Pak bos duluan itu lo ibu bos. Senja kan ditawari, yang tak manfaatin to. " bela Senjana sebelum Angkara mengeluarkan suara.
" Bocah gendeng. Kamunya yang seenak udel sendiri. Dikasih ati og minta rempelo. Ngalamak kamu, Sen. " sembur Angkara mengeluarkan unek-uneknya
" Seh to.. Ngomongnya sambil duduk, jelasin ke ibu ini pada lari-larian kenapa? "
Keduanya pun duduk, dipisahkan ibu Rahayu yang ada di tengah dua anak manusia yang kalau sudah bertemu, pasti perang Dunia. Tapi kalau soal sayang dan perhatian, jangan ditanya. Mulut keduanya memang menyangkal, tapi dari perbuatan bisa dilihat kalau Angkara selalu menjadi orang yang menjaga Senjana. Begitu pula sebaliknya.
" Senja, bu.. Pengen resign. "
" HEH... "
Senjana melotot tajam ke arah Angkara. Pakai segala ngomong masalah resign di depan ibu Rahayu. Lihat tuh, mukanya langsung mendung. Senjana kan jadi merasa bersalah gitu loh..
" Bener itu, Sen? Kenapa? Kamu ada masalah? Atau Angkara jahat sama kamu? Ngomong aja sama ibu, biar nanti ibu tegur Mas Angnya. " Senjana garuk-garuk kepala.
" Nggak jadi resign, Ibu bos. Sama pak bos, sudah dikasih cuti. Cuma masa pelit banget, saya minta cuti sebulan nggak dikasih, ibu bos. "
" Nggak ada.. Enak aja sebulan, Sen.. Mati berdiri saya kalau kamu lama cutinya.. "
" Dua minggu.. Final.. Kamu mau atau saya kasih cuma tiga hari.. " Senjana mencebik. Mana mungkin dia bisa menolak.
********
Suasana di dalam mobil begitu sepi, tidak seperti biasanya jika ada Senjana di dalamnya. Angkara sampai merasa merinding sendiri saking sepinya. Matanya sekali melirik ke arah Senjana, takut kalau sekretaris gendengnya itu kerasukan. Tapi mana ada setan yang mau masuk ke tubuhnya, bisa gila setannya.
Tapi Angkara yakin seratus persen, Senjana ada masalah saat ini. Tidak cerewet, tidak asal mangap aja mulutnya, asbun-asbunnya juga nggak ada. Fix, sekretarisnya memang tidak baik-baik saja.
" Sen.. " panggil Angkara, ngetes.
" Ya, pak bos. " jawab Senjana.
Diam-diam Angkara menghembuskan nafas lega. Kalau Senjana masih mau menjawabnya, berarti masalahnya masih bisa ditangani dengan baik.
" Tadi.... Kenapa kamu nggak mau bareng sama Santana? Dia aja nawarin nganter kamu pulang. Malah kamu narik-narik saya, minta anterin. "
Deg
Senjana langsung menoleh, " Kan pak bos yang bawa saya ke rumah, ya tugas pak bos juga dong yang antar saya pulang. " Senjana cengar cengir.
Angkara langsung menyesal sempat berpikiran kalau Senjana tak baik-baik saja. Karena nyatanya, sekretarisnya ini masih saja gendeng.