Merelakan masa mudanya merantau demi modal bisnis, Nesa berhasil membangun brand kosmetiknya seorang diri. Sebagai wujud bakti, ia memberikan posisi nyaman di perusahaan untuk kakak kandungnya, Sasya, dan mempercayakan hatinya pada Dika, suami yang dipacarinya sejak SMA.
Namun, dunia Nesa runtuh seketika saat ia mendapati kenyataan paling menjijikkan: Dika berselingkuh dengan Sasya. Di saat yang sama, Sasya memanfaatkan fasilitas perusahaan untuk merintis skincare tandingan di bawah dukungan penuh Dika. Syok luar biasa akibat pengkhianatan berlapis itu merenggut nyawa bayi yang tengah dikandung Nesa.
Berada di titik terendah setelah keluar dari rumah sakit, air mata Nesa berubah menjadi bara. Mengabaikan rasa sakitnya, Nesa bersiap membalas setiap tetes air matanya, membongkar kebusukan suami dan kakak kandungnya, serta merebut kembali apa yang sepenuhnya menjadi hak miliknya.
Satu Atap, Seribu Dusta ketika bakti dibalas duri dan pengkhianatan harus dibayar mahal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SATU ATAP SERIBU DUSTA
Pukul sembilan malam, suasana di dalam rumah mewah bergaya modern minimalis milik Nesa terasa begitu tenang dan damai. Lampu-lampu gantung kristal di ruang tamu memancarkan cahaya kuning temaram yang hangat, memantul lembut di atas permukaan lantai marmer putih yang bersih. Setelah melewati minggu yang melelahkan dengan berbagai urusan korporat, Nesa memutuskan untuk benar-benar melepaskan diri dari segala bentuk pekerjaan. Tidak ada lagi laptop kantor yang terbuka, tidak ada tumpukan berkas laporan yang harus diteliti, dan tidak ada lagi dering telepon bisnis yang mendesak.
Mengenakan pajamas tidur berbahan sutra lembut berwarna biru dongker dengan rambut tergerai bebas di bahunya, Nesa melangkah santai menuju dapur untuk menyiapkan secangkir teh kamomil hangat. Selepas kepergian Bi Lastri yang sudah pulang ke rumahnya sore tadi, rumah luas itu sepenuhnya menjadi tempat peristirahatan pribadinya yang sunyi dan menenangkan.
Ia membawa cangkir teh hangatnya ke ruang keluarga, lalu duduk bersandar di sofa empuk berbalit kain beludru sambil menyalakan televisi untuk sekadar mendengarkan alunan musik instrumental pengantar tidur. Hatinya terasa sangat ringan. Setelah badai besar pengkhianatan masa lalu berhasil ia lewati dan para penjahat utama seperti Dika serta Sasya telah mendekam di balik jeruji besi, Nesa merasa inilah babak hidup di mana ia berhak menikmati ketenangan seutuhnya.
Namun, kedamaian malam itu tidak berlangsung lama.
Ting-tong.
Suara bel pintu gerbang utama rumah berbunyi nyaring, memecah keheningan malam.
Kening Nesa berkerut tipis. Ia melirik jam dinding di ruang keluarga yang menunjuk pukul setengah sepuluh malam. "Siapa yang datang berkunjung selarut ini? Apakah kurir paket malam, ataukah asisten rumah tangga yang tertinggal sesuatu?".
Nesa meletakkan cangkir tehnya di atas meja, lalu melangkah menuju interkom pintu depan untuk memeriksa layar monitor pengawas. Di dekat gerbang luar, tidak terlihat sosok orang yang menekan bel secara langsung, melainkan sebuah amplop tebal berwarna hitam yang terselip rapi di antara jeruji pagar besi, sementara sebuah motor kurir tampak berlalu meninggalkan area rumah dengan kecepatan sedang.
Dengan langkah tenang namun penuh kewaspadaan, Nesa berjalan keluar membuka pintu utama rumah, lalu berjalan melintasi halaman kecil menuju gerbang depan untuk mengambil amplop misterius tersebut. Begitu ia mengambilnya dan meraba tekstur amplop itu, firasatnya langsung mengatakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres.
Nesa kembali masuk ke dalam rumah, mengunci pintu rapat-rapat, lalu membuka amplop hitam tersebut di bawah sorot lampu ruang tamu.
Di dalam amplop itu, tidak ada surat bisnis atau dokumen penting. Yang ada hanyalah beberapa lembar cetak foto candid saat ia dan Arsen berada di rooftop kafe malam sebelumnya, serta selembar kertas kasar dengan tulisan tangan menggunakan spidol merah menyala:
"Perempuan tua berkedok CEO! Kamu tidak punya hak untuk bersanding dengan Arsenio Vance! Jauhi dia, atau kamu akan membayar mahal akibat kecentilanmu!."
Meskipun ancaman itu ditulis dengan nada emosional khas penggemar fanatik yang terserang obsesi buta, membaca kata-kata kasar di malam hari saat ia sedang ingin beristirahat tentu meninggalkan rasa tidak nyaman di rongga dadanya. Nesa menarik napas dalam-dalam, berusaha meredam gejolak di kepalanya. Ia tahu betul, risiko menjadi figur yang dekat dengan seorang idola papan atas seperti Arsen adalah harus siap menghadapi sisi gelap para penggemar garis keras yang kehilangan akal sehat.
Sebelum Nesa sempat memikirkan langkah apa yang harus diambil esok hari, ponsel di atas meja ruang keluarganya tiba-tiba berdering nyaring.
Layar ponsel itu menyala terang, menampilkan nama Arsen.
Nesa segera meraih ponsel tersebut dan menggesek tombol hijau untuk menerima panggilan.
"Halo, Arsen," sapa Nesa dengan nada tenang.
Di ujung sambungan telepon, suara helaan napas berat terdengar tergesa-gesa. Nada suara Arsen jauh lebih tegang dari biasanya. "Nesa... kamu belum tidur, kan? Aku baru saja mendapat laporan dari tim manajemenku. Salah satu fans garis keras yang sempat membuat keonaran di media sosial berhasil dilacak karena mencoba mengirimkan teror langsung ke rumahmu malam ini. Kamu baik-baik saja, kan? Tidak ada hal buruk yang terjadi di rumahmu, kan?."
Mendengar betapa khawatirnya pemuda itu hingga menelepon selarut ini demi memastikan keselamatannya, sisa-sisa rasa tidak nyaman di dada Nesa seketika melebur.
"Aku baik-baik saja, Arsen," jawab Nesa lembut, mencoba menenangkan pria di ujung sana. "Aku baru saja memegang amplop teror itu beberapa menit yang lalu. Isinya memang cetak foto kita kemarin dan surat bernada ancaman."
"Sialan..." dengus Arsen tertahan di ujung telepon, terdengar sangat frustrasi dan marah pada situasi tersebut. "Aku benar-benar minta maaf, Nesa. Gara-gara kedekatan kita, privasimu jadi terganggu dan kamu harus menerima teror tidak penting seperti itu di rumahmu sendiri. Dengarkan aku, kunci semua pintu sekarang juga. Aku sedang dalam perjalanan menuju ke rumahmu. Aku tidak akan tenang sebelum melihatmu dengan mataku sendiri."
"Arsen, tunggu, ini sudah jam sepuluh malam..."
Tut... tut... tut.
Sambungan telepon terputus begitu saja. Arsen rupanya tidak ingin mendengarkan penolakan apa pun dan langsung melajukan kendaraannya menuju kediaman Nesa malam itu juga.
Kurang dari tiga puluh menit kemudian, suara deru mesin mobil sport berhenti tepat di halaman depan rumah Nesa.
Nesa yang tadinya berdiri di dekat jendela ruang tamu langsung melangkah membukakan pintu utama. Begitu pintu terbuka, sosok Arsen melangkah masuk dengan napas memburu. Wajah pemuda itu tampak jelas menyiratkan rasa cemas dan bersalah yang amat sangat. Begitu matanya menangkap sosok Nesa berdiri tenang mengenakan pajamas tidur rumahannya, Arsen langsung menghampiri dan tanpa ragu membawa wanita itu ke dalam pelukan hangatnya.
Deg!
Nesa sedikit tertegun mendapati pelukan erat yang tiba-tiba itu. Namun, kehangatan yang terpancar dari tubuh Arsen seketika meresap menenangkan seluruh saraf di tubuhnya.
"Aku takut terjadi apa-apa padamu, Nesa..." bisik Arsen tepat di dekat telinganya, suaranya terdengar bergetar karena panik yang baru saja mereda. "Aku tidak peduli pada karierku atau apa kata dunia luar, tapi aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri kalau sampai ada orang gila di luar sana yang berani menyakitimu."
Nesa perlahan mengangkat kedua tangannya, membalas pelukan erat tersebut dengan menepuk lembut punggung pemuda di hadapannya. Rasa lelah dan ketegangan akibat amplop hitam tadi malam menguap tak tersisa, digantikan oleh rasa aman yang luar biasa. Ia menyadari bahwa di balik ketegaran luar biasa yang selalu ia tunjukkan pada dunia sebagai seorang CEO, memiliki seseorang yang benar-benar peduli dan melindunginya setulus hati adalah hal paling berharga di dunia ini.
"Aku baik-baik saja, Arsen... Lihat, aku tidak kurang suatu apa pun di sini," ucap Nesa lembut, melepaskan pelukan perlahan lalu menatap manik mata pemuda itu dengan senyuman tulus. "Tim manajemenmu dan pihak berwajib pasti akan menangani penggemar fanatik itu dengan tegas. Jadi, kamu tidak perlu merasa bersalah."
Arsen menatap lurus ke dalam mata Nesa, lalu mengulurkan tangannya untuk menyelipkan sehelai rambut wanita itu ke belakang telinga. Tatapannya penuh dengan cinta, kekaguman, dan tekad yang bulat.
"Mulai malam ini, izinkan aku memastikan keamananmu, Nesa," kata Arsen tegas namun sangat lembut. "Aku tidak akan membiarkan siapa pun merusak ketenangan rumah ini lagi."
Di bawah temaram lampu ruang tamu yang hangat, malam yang awalnya dimulai dengan teror dingin dari luar berubah menjadi sebuah momen kebersamaan yang merajut hati mereka semakin erat membuktikan bahwa cinta sejati selalu menemukan jalan untuk saling melindungi di tengah badai apa pun.