Tiga tahun Alyssa Kirana Sastro duduk di meja makan keluarga Narendra, dan tiga tahun pula ia dituduh jadi penyebab lumpuhnya Nadine. Suaminya, Devan, tak pernah mau mendengarnya.
Malam ini Alyssa meletakkan surat gugatan cerai dan cincin nikahnya di meja kerja Devan, lalu pergi tanpa membawa apa pun. Dua jam kemudian, mobilnya ditemukan hancur di dasar jurang. Jasadnya tidak ada.
Devan masih ingin percaya itu hanya drama. Namun di rumahnya tertinggal selembar catatan.
Ke mana Alyssa pergi, dan apa yang akan Devan lakukan saat sadar apa yang sudah ia buang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zikri Cahyandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Guncangan Saham
Layar-layar monitor di ruang kendali bursa Jakarta memerah sejak pukul sembilan pagi. Grafik saham Narendra Group merosot tajam, seperti luka yang terus dibuka. Konferensi pers Devan sore kemarin tidak hanya memutus ikatan dengan keluarga Vanya. Ia juga menanam keraguan di kepala para investor institusional di seluruh bursa Asia.
Di lantai dua puluh delapan Gedung Utama Narendra Group, jajaran direksi berkumpul dalam rapat darurat. Suara perdebatan menembus pintu kaca kedap suara.
"Harga saham kita turun sembilan koma empat persen dalam dua jam pertama!" Siska Narendra membanting bundel laporan bursa ke meja rapat. Wajahnya yang biasa dipoles anggun kini penuh garis cemas yang tak sempat ia tutupi.
Devan duduk di kepala meja, lengan terlipat di atas permukaan jati. Ia tidak memakai jas, hanya kemeja putih dengan lengan tergulung sampai siku. Matanya lurus ke layar proyeksi yang menampilkan grafik transaksi pasar sekunder.
"Penurunan itu sudah saya perhitungkan, Bu," kata Devan. Suaranya tenang, meski ada lelah hebat di baliknya.
"Sudah kamu perhitungkan?" Siska berdiri, menatap putranya tak percaya. "Keluarga Vanya mengancam menarik seluruh deposito mereka dari bank mitra kita! Para pemegang saham publik mulai membuang lembarannya secara besar-besaran!"
"Biarkan mereka menarik uangnya. Narendra Group tidak akan mati hanya karena memutus kerja sama dengan perusahaan yang bermasalah. Kita masih punya arus kas operasional dari divisi energi."
Pintu ruang rapat terbuka. Hendri, Kepala Divisi Keuangan Senior, melangkah masuk dengan wajah pucat dan dahi berkeringat. Tablet di tangannya bergetar tipis.
"Tuan Devan, ada perkembangan di pasar modal yang harus Anda lihat sekarang."
"Katakan. Jangan berbelit."
"Sebuah firma investasi asing memborong obligasi jangka pendek kita yang jatuh tempo bulan depan." Hendri menyambungkan tabletnya ke layar utama.
Layar berganti. Profil pembeli muncul dengan satu nama di bagian atas: A-K Capital.
"A-K Capital?" Siska mengernyit. "Siapa mereka? Kenapa membeli obligasi kita justru saat harga saham jatuh?"
"Mereka tidak hanya membeli di pasar sekunder, Nyonya." Hendri menekan remote, menampilkan skema transaksinya. "A-K Capital sudah menyerap hampir tiga puluh persen opsi surat utang konversi kita, senilai seratus lima puluh juta dolar."
Devan menegakkan punggung.
"Opsi itu diterbitkan tiga tahun lalu dengan klausul khusus," gumamnya. "Kalau harga saham turun kumulatif lima belas persen dalam tiga hari perdagangan, pemegang obligasi berhak menuntut pelunasan tunai atau mengonversinya menjadi saham mayoritas."
"Betul, Tuan." Hendri menelan ludah. "Mereka masuk tepat di titik paling rentan, seolah tahu persis berapa batas likuiditas cadangan kita."
Siska memegang tepi meja. "Siapa yang memberi tahu mereka batas itu?"
Devan tidak menjawab. Ia berdiri, mendekati layar, lalu mempelajari pola transaksi satu per satu: waktu masuk, ukuran pesanan, jeda antar pembelian. Tidak ada serangan brutal. Tidak ada pesanan yang terbuang. Semuanya bersih, dingin, dan tepat sasaran, seperti ahli bedah yang mengiris persis di pembuluh utama.
Ini bukan gaya spekulan bursa Jakarta. Dan pertanyaan Siska tadi menempel di kepalanya: siapa yang memberi tahu mereka?
Batas likuiditas itu hanya ada di tiga tempat: kepalanya sendiri, laporan internal tertutup, dan meja ibunya.
***
Sementara itu, di kantor A-K Capital kawasan Marina Bay, Singapura.
Ruang kerja utama didominasi kaca bening yang menghadap pelabuhan. Alyssa berdiri di depan empat monitor besar yang menampilkan pergerakan saham dan obligasi Narendra Group secara langsung. Blazer biru gelapnya jatuh rapi di bahu. Rambut hitam bergelombangnya terikat ke belakang, menyisakan garis rahang yang tegas.
Aris Setiawan berdiri di sampingnya, menerima laporan dari para trader senior.
"Nona, A-K Capital baru mengamankan dua puluh sembilan koma delapan persen opsi surat utang Narendra," lapor Aris. "Devan memerintahkan timnya membeli kembali saham untuk menahan penurunan."
Sudut bibir Alyssa terangkat tipis.
"Dia akan memakai dana cadangan dari anak usaha properti," katanya, seolah membaca isi kepala Devan dari ribuan kilometer jauhnya. "Dia mengira bahaya terbesarnya ada di harga saham."
"Apa kita naikkan penawaran untuk opsi berikutnya?"
"Tidak. Biarkan dia menyerap sisa saham publik sore ini. Makin banyak kas yang ia habiskan untuk harga saham, makin tipis napasnya saat surat utang jatuh tempo."
Aris memandangnya dengan kagum. "Anda memahami cara berpikir Tuan Devan sampai sedetail itu."
Alyssa berbalik. "Seribu seratus delapan belas hari, Aris. Saya mengamati bagaimana dia memutuskan sesuatu dari balik pintu ruang kerjanya. Saya tahu kapan dia bertahan, dan kapan kesombongannya yang akan menjatuhkannya."
Ia meraih cangkir teh chamomile di meja. Uapnya sudah menipis.
"Satu lagi, Nona," kata Aris, suaranya merendah. "Nomor yang dihubungi Nyonya Siska kemarin sudah kami telusuri. Terdaftar pada jalur kantor Bram Mahendra. Pagi tadi tim analis kita juga mendeteksi permintaan data tentang kepemilikan modal A-K Capital dari anak usaha Mahendra Corp. Pelakunya jalur yang sama."
"Paman Bram mulai panik," sahut Alyssa tenang. "A-K Capital menyerap obligasi tanpa lewat jalur Mahendra Corp, jadi dia tidak tahu siapa di balik ini. Malam ini dia pasti menghubungi Siska lagi untuk mencari tahu."
"Perlu saya blokir komunikasi mereka?"
"Jangan. Biarkan mereka saling bicara." Alyssa menyesap tehnya. "Makin banyak cacing yang keluar dari lubangnya, makin mudah membersihkan semuanya sekaligus."
Ia menatap garis cakrawala Singapura. Tiga tahun ia menyimpan kemampuannya di balik pintu kamar yang tak pernah diketuk. Semua celah struktur modal Narendra Group tersimpan di kepalanya, tak pernah ia tulis di mana pun, karena catatan bisa dibuang dan kepala tidak.
Satu hal lagi yang tidak ia katakan pada Aris. Pada setiap laporan strategi A-K Capital, ia sengaja memakai satu rumus lamanya, lengkap dengan variabel yang hanya pernah ia tulis di meja kecil di ruang kerja Devan. Seperti gelang di tuas rem tangan, itu bukan kelalaian. Itu pertanyaan yang ia letakkan di depan mata Devan.
***
Pukul delapan malam, Jakarta.
Kediaman Narendra sunyi dan menekan. Lampu kristal di ruang tamu menyala temaram, menjatuhkan bayangan panjang di atas marmer. Siska duduk di sofa dengan wajah pucat, ponsel di tangannya baru saja terputus dari panggilan yang panjang.
Nadine duduk di dekat jendela, memeluk bahunya sendiri di atas kursi roda. Sejak konferensi pers kemarin ia nyaris tak bicara. Riasannya pudar, dan matanya sesekali melirik ponsel di pangkuannya yang terus bergetar tanpa ia jawab.
Pintu depan terbuka. Devan melangkah masuk dengan mantel tersampir di lengan, wajahnya kuyu setelah delapan jam bertempur di meja bursa.
Siska langsung berdiri. "Devan! Bagaimana bursa hari ini? Tim keuangan berhasil menahan sahamnya?"
"Ditutup melemah enam koma dua persen," jawab Devan. "Penurunannya tertahan."
Siska baru sempat menghela napas lega ketika Devan melanjutkan.
"Tapi kita kehilangan tiga puluh persen kas cadangan untuk membeli kembali saham itu. Dan A-K Capital sekarang memegang obligasi yang cukup besar untuk menuntut pelunasan tunai bulan depan."
Nadine mengangkat wajah dengan mata berkaca-kaca.
"Devan, kamu benar-benar mau menghancurkan keluargaku? Ayah bilang seluruh rekening Vanya Logistics dibekukan bank hari ini gara-gara pernyataanmu kemarin..."
Devan meliriknya sekilas. Tidak ada iba di sana.
"Keluargamu yang membuat mereka sendiri rapuh, Nadine," katanya datar. "Kalau tidak bermain api sejak dulu, tidak akan ada yang terbakar hari ini."
"Devan! Jaga bicaramu!" bentak Siska refleks. "Nadine ini korban! Kenapa kamu menyalahkan orang yang ada di sisimu, hanya untuk membela perempuan yang sudah lenyap itu?"
Devan menoleh pada ibunya. Tatapannya membuat Siska terbungkam di tengah kalimat.
"Aku tidak sedang membela siapa pun, Bu." Suaranya pelan, tapi tajam. "Aku sedang membayar tunai kebodohanku selama tiga tahun."
Sebelum Siska atau Nadine sempat membalas, Devan sudah berbalik menaiki tangga. Di anak tangga ketiga ia berhenti sebentar, tanpa menoleh.
"Ibu tadi bertanya siapa yang membocorkan batas likuiditas kita," katanya. "Aku juga ingin tahu."
Tidak ada yang menjawab. Di belakangnya, cangkir teh Siska berdenting kecil di atas lepek.
***
Ruang kerja Devan remang, hanya disinari lampu meja bergaya klasik. Ia melempar mantel ke sofa dan duduk di kursi kerjanya. Di sudut ruangan, lemari arsip yang menyimpan barang-barang Alyssa masih terkunci. Kuncinya ada di saku celananya, dan ia tidak pernah melepaskannya sejak pagi itu.
Ia memijat pelipis yang berdenyut. Pikirannya terus kembali pada pergerakan A-K Capital: setiap pesanan, setiap jeda, setiap angka.
Ia menyalakan komputer dan membuka berkas analisis dari Hendri. Matanya menyisir rumus dan variabel margin risiko yang dipakai A-K Capital, lalu berhenti pada satu baris di bagian lindung nilai obligasi.
Risk Hedging Matrix – Variable 4B.
Dahinya berkerut. Itu modifikasi dari teori risiko yang langka, dengan variabel kustom yang tidak diajarkan di universitas bisnis mana pun. Ia pernah melihat rumus ini.
Ingatannya terlempar ke tiga tahun lalu.
Pukul dua dini hari. Rapat darurat dengan investor asing baru usai. Alyssa duduk di kursi kayu kecil di sudut ruangan, menunggunya dengan pensil dan buku bergaris di tangan, seperti yang kerap ia lakukan pada bulan-bulan awal pernikahan mereka. Ketika Devan kembali dari dapur membawa air minum, wanita itu sudah tertidur, kepalanya bersandar di tepi meja. Di dekat tangannya ada selembar kertas coretan penuh angka.
Waktu itu Devan melihatnya sekilas dan menyimpulkan itu coretan orang yang tak paham bisnis. Ia bahkan menyindir, menyuruh Alyssa berhenti mencorat-coret kertas kantor dengan hal yang tidak berguna. Alyssa tidak membantah. Ia hanya melipat kertas itu, lalu pergi.
Tidak, kertas itu tidak ia bawa. Devan menyapu sisa coretan dari meja malam itu dan memasukkannya ke laci paling bawah, hanya supaya mejanya bersih.
Ia menarik laci terbawah. Jemarinya mengaduk tumpukan berkas lama, sampai menemukan selembar kertas kusam yang sudah menguning di tepinya.
Ia membawanya ke bawah lampu.
Matanya membelalak.
Di atas kertas itu, dengan pensil yang nyaris pudar, tertulis rumus yang sama persis: Risk Hedging Matrix – Variable 4B. Di sudut bawah ada catatan kaki kecil dengan inisial A.K.S.
Tangan Devan gemetar ketika ia membandingkan layar komputer dengan coretan itu. Variabel kustomnya, pembobotan portofolionya, pemetaan risikonya, semuanya sama. Racikan itu milik satu orang.
Lalu tatapannya jatuh pada nama di bagian atas layar. A-K Capital.
A. K.
Alyssa Kirana.
"Alyssa..." bisiknya. Suaranya tercekat, nyaris tak keluar.
Ia menyandar ke kursi, napasnya patah-patah. Wanita yang selama tiga tahun ia anggap benalu dan tidak berpendidikan, yang duduk berjam-jam di sudut ruang kerjanya sementara ia tidak pernah bertanya apa yang dikerjakannya, ternyata punya kemampuan analisis jauh di atas dirinya dan seluruh tim keuangannya. Setiap celah Narendra Group sudah dibaca olehnya, entah sejak kapan.
Dan gelang di tuas rem tangan itu. Rumus yang sengaja ditinggalkan di tempat yang pasti ia kenali. Alyssa tidak sekadar bertahan hidup. Ia sedang bicara padanya, dengan bahasa satu-satunya yang Devan pasti mengerti.
Rasa kerdil merayap di dadanya. Devan memandangi kertas itu, lalu cincin perak di atas map cokelat di sudut meja, lalu layar yang memerah. Tiga tahun ia membiarkan ibunya mencaci wanita itu sebagai pemburu harta. Padahal sejak awal, orang yang paling sanggup membawa perusahaannya jauh ke depan duduk beberapa meter dari mejanya.
Bunyi penanda pesan masuk memecah keheningan.
Sebuah email baru muncul di sudut layar, masuk ke alamat pribadi terenkripsi miliknya. Pengirimnya anonim. Subjeknya membuat darahnya membeku:
Audit Internal Rahasia Narendra Group – Penyelamatan Lima Tahun Lalu.
Jemari Devan yang gemetar mengarahkan kursor dan membukanya. Lampiran PDF terbuka. Ia menyapu baris demi baris dokumen bersetempel rahasia itu: bukti transfer, nota persetujuan, dan salinan perjanjian lama yang selama ini tersimpan di tempat yang tidak pernah ia sentuh.
Lima tahun lalu, ketika Narendra Group nyaris bangkrut, dana yang menyelamatkannya tidak datang dari bank. Dana itu mengalir dari anak perusahaan Mahendra Corp, lewat perjanjian rahasia yang membuat sebagian besar kendali atas obligasi perusahaan keluarganya tidak pernah benar-benar berada di tangannya.
Devan membaca halaman terakhir. Di kolom penerima dana, di atas garis tanda tangan, ada satu nama yang sangat ia kenal.
Siska Narendra.
.....
.....
Bersambung.