Alessia Francesca Zorzi,Sang ratu jalanan yang liar dan kerasa kepala tiba-tiba saja harus menikah dengan CEO perusahaan besar yang tegas dan berwibawa,Vellano Federico Luca.
Bahkan sebelum menikah,Vellano mempunyai kekasih cantik yang ia sembunyikan selama 3 tahun.Yaitu seorang bintang musisi yang bernama Ansley Flavia.
Tentu saja pernikahan mereka hanya di atas kertas dan sebatas saling menguntungkan.Namun batasan itu hancur ketika salah satu diantara mereka dengan suka rela menghapus garis pembatas.
Akankah Vellano berhasil menaklukkan Alessia?atau justru malah keliaran Alessia yang membuatnya menyerah?
Yuk,mari kita baca sama-sama dan terus nantikan update episode terbarunya!
Author up lebih dari 1 part/hari!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fio Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PART 30.Rindu tapi Gengsi
Dua hari telah berlalu sejak malam itu. Selama dua hari pula Alessia nyaris tidak berbicara kepada Vellano. Mereka masih tinggal di kamar yang sama, makan di meja yang sama, tetapi terasa seperti dua orang asing yang dipisahkan dinding tak kasatmata.
Bagi Vellano, sikap diam Alessia jauh lebih menyakitkan daripada kemarahan. Ia beberapa kali mencoba mengajaknya berbicara, tetapi selalu berakhir dengan keheningan.
Pagi itu, Vellano berdiri di dekat pintu kamar dengan koper di sampingnya.
“Aku harus pergi tiga hari. Ada perjalanan dinas ke luar negeri,” katanya pelan.
Alessia yang sedang duduk di depan meja rias hanya terdiam.
“Aku sebenarnya tidak ingin pergi dalam keadaan seperti ini.” Vellano menghela napas. “Tapi ini darurat. Aku sendiri yang harus berangkat. Maxime tidak bisa menggantikan ku.”
Alessia akhirnya menoleh. Untuk sesaat, tatapan mereka bertemu.
Ada kesedihan di mata Alessia yang tidak mampu ia sembunyikan sepenuhnya.
“Jaga diri,” ucapnya singkat.
Hanya itu.
Vellano menundukkan kepala. Ia berharap lebih banyak, tetapi tahu dirinya tidak berhak memaksa.
Sebelum pergi, ia menatap Alessia cukup lama.
“Aku akan pulang tiga hari lagi.”
Alessia mengangguk kecil.
Setelah pintu tertutup, kesunyian kembali memenuhi kamar.
Alessia menatap pintu itu dengan dada sesak. Sebenarnya ia tidak bahagia melihat rumah tangga mereka seperti ini. Ia masih mencintai Vellano, dan justru itulah yang membuat pengkhianatan itu terasa begitu menyakitkan.
Ia mengusap sudut matanya.
Kali ini, Vellano harus belajar bahwa cinta tidak berarti seseorang akan terus memaafkan luka yang sama.
Ada harga mahal yang harus dibayar untuk sebuah pengkhianatan.
Dan Alessia ingin Vellano merasakan kehilangan dirinya, meski hatinya sendiri ikut hancur karenanya.
.....................
Malam pun tiba. Mansion yang biasanya dipenuhi suara langkah kaki kini terasa begitu sunyi. Setelah Vellano pergi untuk perjalanan dinasnya, Alessia baru menyadari betapa sepinya rumah itu tanpa kehadiran suaminya.
Di dalam kamar, Alessia sudah berbaring di atas ranjang. Selimut menutupi tubuhnya hingga dada, tetapi matanya tak kunjung terpejam.
Ia membalikkan tubuh ke kanan.
Beberapa detik kemudian, ia kembali menghadap ke kiri.
Pikirannya terus dipenuhi wajah Vellano pagi tadi.
“Aku akan pulang tiga hari lagi.”
Kalimat itu terus terngiang di kepalanya.
Alessia menarik napas panjang. Ia memang sengaja mendiamkan Vellano selama dua hari terakhir. Ia ingin suaminya memahami betapa dalam luka yang telah ditinggalkannya. Namun diam bukan berarti Alessia benar-benar tidak peduli.
Justru malam ini, rasa khawatir itu semakin mengganggunya.
Bagaimana perjalanan Vellano? Apakah dia sudah makan? Apakah dia cukup tidur? Apakah penerbangannya aman?
Alessia segera menggelengkan kepala, seolah ingin mengusir pikirannya sendiri.
“Kenapa aku masih memikirkannya?” gumamnya kesal.
Ia mengambil ponselnya dan membuka percakapan dengan Vellano. Jemarinya sempat mengetik pesan.
“Sudah sampai?”
Namun beberapa detik kemudian, pesan itu dihapus.
Alessia memejamkan mata, menahan rasa sesak di dadanya.
Ia ingin Vellano belajar dari kesalahannya.
Tetapi jauh di dalam hati, ia tetap berharap suaminya baik-baik saja.
Dan malam itu, Alessia akhirnya menyadari bahwa menghukum seseorang yang masih ia cintai ternyata juga terasa seperti menghukum dirinya sendiri.
Di seberang jauh sana, Vellano baru saja menyelesaikan persiapan untuk pertemuan penting keesokan harinya. Berkas-berkas telah tersusun rapi, laptop ditutup, dan jasnya sudah digantung di kursi.
Namun pikirannya sama sekali belum tenang.
Ia teringat Alessia.
Vellano mengambil ponselnya, menatap nama istrinya cukup lama sebelum akhirnya memberanikan diri menghubungi.
Panggilan tersambung setelah beberapa dering.
“Alessia?”
Di kamar mansion, Alessia yang sejak tadi masih terjaga langsung terdiam mendengar suara itu. Dadanya berdebar, tetapi ia tidak langsung menjawab.
“Aku sudah sampai,” lanjut Vellano pelan. “Aku juga sudah makan. Jadi kamu tidak perlu khawatir.”
Alessia menggigit bibirnya. Ia sebenarnya memang khawatir, tetapi tentu saja tidak akan mengakuinya.
“Kamu juga jangan lupa makan dan jaga kesehatanmu,” kata Vellano. “Jangan terlalu memaksakan diri.”
Keheningan kembali memenuhi sambungan telepon.
Vellano kemudian menghela napas sebelum mengatakan sesuatu yang baru teringat olehnya.
“Oh, ada satu hal lagi. Maxime memberitahuku kalau tiket untuk perjalanan bulan madu ke Maladewa ternyata sudah dipesan.”
Alessia langsung membuka matanya.
“Maladewa?”
“Iya. Setelah aku pulang, seharusnya kita berangkat.”
Vellano terdiam sejenak.
“Tapi kalau kamu keberatan, kita bisa membatalkannya. Aku tidak ingin memaksamu melakukan sesuatu yang tidak kamu inginkan.”
Alessia tidak segera menjawab. Mendengar Vellano memberinya pilihan justru membuat hatinya semakin tidak tenang.
Ia masih marah.
Masih terluka.
Namun di balik semua itu, kenangan tentang perjalanan mereka sebelumnya kembali memenuhi pikirannya.
“Pikirkan saja dulu,” ucap Vellano lembut. “Kamu tidak perlu menjawab sekarang.”
Setelah panggilan berakhir, Alessia masih memegang ponselnya erat.
Untuk pertama kalinya malam itu, ia tersenyum tipis meski matanya terasa panas.
Ternyata, meskipun sedang jauh, Vellano masih memikirkannya.
Akhirnya, percakapan itu berakhir tanpa banyak kata. Setelah sambungan terputus, Alessia masih memandangi layar ponselnya beberapa saat. Nama Vellano yang tertera di riwayat panggilan membuat dadanya terasa aneh.
Ia meletakkan ponsel di atas nakas, lalu menarik selimut hingga menutupi tubuhnya.
Pikirannya masih berkelana ke mana-mana.
Tentang pengkhianatan Vellano, tentang rumah tangga mereka yang retak, tentang perceraian yang pernah ia ucapkan, dan tentang rencana perjalanan ke Maladewa yang tiba-tiba kembali muncul.
Alessia menghela napas panjang.
“Kenapa semuanya jadi rumit?” gumamnya lirih.
Tak lama kemudian, rasa lelah mengalahkan pikirannya. Matanya perlahan terpejam hingga akhirnya ia tertidur.
Sementara itu, jauh di negeri lain, Vellano juga belum beranjak dari kursinya. Ia menatap ponselnya, mengingat suara Alessia di ujung telepon.
Ia tahu istrinya masih marah.
Namun setidaknya malam itu, ia merasa sedikit lega karena masih bisa mendengar suaranya.
Dengan pikiran yang sama-sama kacau dan hati yang sama-sama berat, mereka akhirnya tertidur di tempat berbeda, tetapi memikirkan satu sama lain.
Dan sebenarnya Alessia merindukan suaminya.
......................
Pagi hari akhirnya datang. Cahaya matahari perlahan menyelinap melalui celah tirai kamar, menyentuh wajah Alessia yang masih terlelap. Ia menggeliat malas di atas ranjang, sama sekali tidak ingin membuka mata.
Biasanya ia akan bangun tanpa banyak mengeluh, tetapi pagi itu tubuhnya terasa berat. Mungkin karena pikirannya semalam terlalu penuh memikirkan Vellano.
Alessia meraih ponselnya dan sekilas melihat layar. Tidak ada pesan baru dari suaminya.
Ia menghela napas, lalu memaksa dirinya bangun.
Setelah mandi dan berganti pakaian, Alessia turun ke ruang makan. Ia sarapan sederhana sambil sesekali melamun. Beberapa maid yang melihatnya menyapa dengan ramah.
“Selamat pagi, Nyonya.”
“Pagi,” jawab Alessia sambil tersenyum tipis.
Setelah sarapan selesai, mood Alessia perlahan berubah ketika ia teringat sesuatu yang paling ia sukai.
Motornya.
Seketika rasa malasnya sedikit menghilang.
Ia segera mengambil perlengkapan balapnya dan berjalan menuju garasi. Beberapa saat kemudian, suara mesin motor yang meraung memenuhi area mansion.
Alessia tersenyum kecil.
“Setidaknya ada satu hal yang selalu bisa membuatku bersemangat.”
Tak lama kemudian, ia melaju menuju sirkuit.
Angin pagi menerpa wajahnya sepanjang perjalanan. Untuk beberapa jam, Alessia ingin melupakan segala masalah rumah tangganya.
Di sirkuit, ia tahu dirinya akan kembali menjadi Alessia yang ia kenal—perempuan yang berani, keras kepala, dan tidak takut menghadapi tikungan paling berbahaya sekalipun.
Namun jauh di dalam hatinya, bayangan Vellano masih tetap mengikuti.
......................
Hari itu, langit tiba-tiba berubah gelap. Hujan turun deras mengguyur sirkuit, membuat permukaan aspal menjadi licin dan berbahaya. Untungnya, sesi Alessia hari itu hanyalah latihan, bukan perlombaan.
Ia menyelesaikan putaran terakhir dengan hati-hati. Begitu memasuki area pit, Alessia segera turun dari motornya. Namun tubuhnya sudah terlanjur basah kuyup. Air hujan membasahi rambut, pakaian, hingga sarung tangannya.
Alessia mengusap wajahnya dan menghela napas.
“Dingin sekali…”
Karena hujan tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti, ia memutuskan untuk segera pulang.
Beberapa saat kemudian, Alessia kembali mengendarai motornya meninggalkan sirkuit. Jaketnya sudah basah, dan air hujan terus menerpa tubuhnya. Angin yang kencang membuat dinginnya semakin menusuk hingga ia menggigil.
Biasanya perjalanan pulang terasa menyenangkan baginya, tetapi kali ini berbeda. Pikirannya kembali melayang kepada Vellano yang sedang berada jauh di luar negeri.
Entah kenapa, di tengah derasnya hujan, Alessia justru semakin merindukan suaminya.
Ia mempercepat laju motornya, berharap segera tiba di mansion dan menghangatkan diri.
......................
Di negeri yang jauh, Vellano duduk dalam ruang rapat dengan tatapan yang beberapa kali kosong. Presentasi terus berjalan, suara para petinggi perusahaan terdengar silih berganti, tetapi pikirannya justru tertinggal di mansion.
Alessia.
Sejak percakapan mereka semalam, perasaan Vellano tidak tenang. Entah mengapa, ia terus membayangkan istrinya. Apakah Alessia sudah makan? Apakah ia baik-baik saja? Pikiran-pikiran itu membuat konsentrasinya berantakan.
Setelah pertemuan akhirnya selesai, Vellano segera keluar dari ruangan. Ia baru saja hendak mengambil ponselnya ketika benda itu berdering.
Nama penjaga mansion muncul di layar.
Vellano mengernyitkan dahi. Jarang sekali penjaga rumah meneleponnya secara langsung, terlebih saat ia sedang berada di luar negeri.
Ia segera mengangkatnya.
“Halo?”
Dari seberang terdengar suara penjaga yang tergesa-gesa.
“Maaf, Tuan Vellano… saya menghubungi karena ada sesuatu mengenai Nyonya Alessia.”
Seketika wajah Vellano berubah.
“Alessia? Ada apa dengannya?”
Penjaga itu terdiam beberapa detik, seolah ragu menyampaikan kabar tersebut.
“Begini, Tuan… Nyonya Alessia baru saja—”
Vellano berdiri dari kursinya.
Jantungnya berdetak semakin cepat.
“Baru saja apa?”
Di seberang sana, suara penjaga terdengar semakin serius.
“Tuan, Anda sebaiknya segera pulang karena…”
Vellano membeku.
Kalimat berikutnya yang keluar dari mulut penjaga itu membuat wajahnya seketika pucat…...
...****************...
Tebak lah wahai para readersku,apa yang kira-kira terjadi.
terimalah yang sudah mampir,jangan lupa tinggalkan jejak ya.
See you soon🫶🏽