Dibuang oleh keluarga, dikhianati oleh orang yang dicintai, dan merasa tidak memiliki siapa-siapa.
Laura mengira hidupnya telah berakhir.
Sampai seorang pria asing datang dan berkata.“Kamu adalah mempelai ku.”
Laura tidak tahu siapa pria itu.
Yang dia tahu, sejak pertemuan malam itu, hidupnya tak akan pernah sama lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 : MEMPELAI YANG TAK PERNAH DIDUGA
Malam semakin larut setelah Hero meninggalkan kamar Laura, namun sebelum kembali beristirahat, Hero memanggil sekretarisnya ke ruang kerja.
Valen.
Valen berdiri di depan meja kerja Hero sambil menunggu perintah. “Ada yang ingin Tuan sampaikan?”
Hero menatapnya serius. “Aku ingin kau mencari semua informasi tentang gadis itu, aku kaya pernah melihat nya dulu tetapi aku sudah lupa dan aku yakin nama nya Laura Prayoga.”
Valen sedikit terkejut mendengar nama tersebut. “Semua informasi, Tuan?”
“Ya. Keluarganya, kehidupannya, pendidikan, dan apa yang selama ini terjadi padanya. Aku ingin semuanya,” jawab Hero tegas. “Terutama hubungan Laura dengan keluarganya.”
“Baik, Tuan. Akan saya cari secepat mungkin.”
Hero bersandar di kursinya. “Dan satu lagi, Valen.”
“Ya, Tuan?” Jawab Valen dengan tenang
Hero pun berkata “Cari tahu juga hubungan Laura dengan seseorang yang paling dekat dengan nya, aku ingin tahu seberapa besar pengaruh seseorang itu dalam hidupnya.”
Valen mengangguk. “Saya mengerti.”
Setelah Valen pergi, Hero kembali menatap layar komputernya, entah kenapa sejak melihat Laura menangis di taman, pikirannya terus tertuju kepada gadis itu.
seolah olah dia dan Laura dahulu pernah ketemu sewaktu acara tetapi dia tidak ingat kapan waktu itu dan itu sudah belasan tahun lalu.
di tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Laura Namun satu hal sudah pasti,
Hero tidak akan membiarkan Laura kembali terluka.
Pagi harinya, Laura perlahan membuka mata.
Untuk beberapa detik, dia hanya menatap langit-langit kamar yang tidak dikenalnya dia kemudian bangkit dan melihat sekeliling, Laura mengingat kejadian semalam.
Taman.
seseorang yang berkata hanya orang biasa.
Pelukan.
Kemudian rumah besar ini.
Laura mengusap wajahnya dan menarik napas panjang, dia masih belum mengerti bagaimana dirinya bisa berada di tempat asing bersama seorang pria yang mengatakan bahwa dirinya adalah mempelai.
Saat Laura membuka pintu kamar, dia langsung terkejut beberapa pelayan sudah berdiri di luar.
“Selamat pagi, Nona Laura,” sapa salah satu pelayan dengan senyum ramah.
Laura langsung berhenti melangkah. “Pagi...?”
“Apakah Nona tidur dengan nyenyak?” tanya pelayan lainnya.
Laura mengangguk pelan. “Lumayan, tapi kenapa kalian semua menungguku?”
Salah satu pelayan tersenyum. “Tuan Hero meminta kami memastikan semua kebutuhan Nona terpenuhi.”
Laura semakin bingung dan sekarang dia tahu nama pria itu adalah Hero dan dia tidak terbiasa diperlakukan seperti itu.“Kalau begitu, terima kasih."
Para pelayan kemudian membantunya menuju ruang utama Begitu sampai di sana, Laura kembali terkejut ketika melihat Hero sudah duduk di sofa.
Hero mengenakan kemeja hitam dengan lengan yang digulung hingga siku, wajahnya terlihat tenang seperti tidak pernah terjadi apa-apa semalam.
“Duduklah,” ujar Hero sambil menunjuk kursi di dekatnya.
Laura duduk dengan hati-hati dia kemudian menatap Hero. “Aku ingin bertanya sesuatu.”
“Tanyakan saja.” jawab hero dengan santai sambil melihat ke arah Laura.
“Kenapa aku ada di sini?” tanya Laura yang masih belum bisa mencerna semua yang terjadi.
Hero menatapnya beberapa saat sebelum menjawab, “Karena mulai sekarang kamu akan tinggal di sini.”
Laura langsung terkejut.“Apa?”
“Rumah ini akan menjadi tempat tinggalmu.” kata Hero dengan yakin.
Laura menggeleng cepat. “Tunggu dulu, aku tidak pernah mengatakan ingin tinggal di sini.”
“Aku tahu.” jawab hero dengan lembut.
“Lalu kenapa kamu memutuskan semuanya sendiri?” tanya Laura kembali dengan raut wajah bingung.
Hero tidak terlihat marah. “Karena aku tidak ingin kamu kembali ke rumah keluargamu.”
Laura terdiam sejenak dia masih belum bisa mencerna semua ini dan sekarang dia akan tinggal di rumah ini dengan Hero juga.
Hero kemudian melanjutkan, “Semalam aku melihat kondisi kamu, aku tidak perlu bertanya terlalu banyak untuk tahu bahwa tempat itu bukan tempat yang aman untukmu.”
Laura menundukkan wajah dia teringat ayah dan ibunya,Memar di wajahnya,Suara bentakan dan gaun pemberian kakek arthur yang dibakar.
Hero kemudian berkata, “Aku sudah meminta Valen mencari tahu tentang keluargamu.”
Laura langsung mengangkat kepala. “Kamu menyuruh orang mencari tahu tentangku?”
“Ya.” jawab hero.
“Kenapa?” tanya Laura Dengan raut wajah bingung.
“Karena aku perlu mengetahui apa yang terjadi dalam hidup wanita yang akan menjadi mempelaiku.”
Sebelum Laura sempat menjawab, Valen datang membawa beberapa dokumen dan berdiri di tepi sofa.
“Maaf mengganggu, Tuan.” kata Valen.
Hero mengangguk. “Bagaimana hasilnya?”
Valen meletakkan dokumen di atas meja. “Saya sudah mendapatkan informasi mengenai Laura Prayoga dan keluarganya.”
Laura menatap Valen dengan gugup dan Hero mengambil salah satu berkas dan membacanya sekilas.
“Kehidupan Laura sejak kecil ternyata tidak seperti yang seharusnya,” ujar Hero dengan suara rendah. “Keluarganya selalu memberikan perhatian lebih kepada Dinda dan sering meminta Laura mengalah serta selalu di kesamping kan.”
Laura menundukkan wajah saat hero mengetahui hal yang biasanya dia alami saat di rumah dan perlakuan orang tua nya.
Valen melanjutkan, “ nona Laura juga diketahui bekerja paruh waktu untuk memenuhi beberapa kebutuhan kuliahnya karena tidak ingin terus meminta uang kepada orang tuanya.”
Hero mengepalkan tangannya pelan dia kemudian menatap Laura.“Dan semalam kamu diperlakukan seperti itu oleh keluargamu.”
Laura hanya diam dia tidak tahu harus menjawab apa Laura hanya melihat ke arah Hero yang masih memegangi semua berkas berkas dirinya.
Hero berdiri dari tempat duduknya.“Mulai hari ini, semuanya berubah.”
Laura menatapnya bingung.“Apa maksudmu?”
Hero berkata dengan tegas, “Aku akan membebaskanmu dari keluarga Prayoga.”
Laura langsung membeku.“Tidak... aku tidak mengerti.”
“Kamu tidak perlu kembali ke rumah itu.” tegas Hero dengan wajah dingin menatap Laura.
“Tapi mereka keluargaku.” kata Laura dengan suara sedikit serak.
Hero menatap Laura dengan serius. “Keluarga seharusnya menjadi tempat seseorang merasa aman, bukan tempat seseorang mendapatkan luka.”
Laura tidak mampu menjawab apapun yang di katakan Hero itu benar.
Hero kemudian melanjutkan, “Aku sudah memutuskan, selama kamu berada di sini mereka tidak akan bisa memaksamu kembali.”
“Tapi bagaimana dengan Kakek?” tanya Laura dengan suara bergetar. “Aku tidak bisa meninggalkan Kakek Arthur.”
Hero mengangguk. “Aku tahu.”
hero kemudian menatap Valen.“Hubungi Arthur Prayoga.”
Valen sedikit terkejut. “Tuan ingin menghubungi beliau?”
“Ya. Aku ingin meminta beliau menjadi wali Laura.”
Laura langsung menatap Hero.“Kamu serius?”
Hero mengangguk. “Jika Arthur memang orang yang selama ini melindungimu, maka aku ingin dia tetap menjadi bagian dari hidupmu.”
Mata Laura mulai berkaca-kaca untuk pertama kalinya sejak meninggalkan rumah, ada seseorang yang tidak menyuruhnya melupakan Arthur.
Hero justru ingin mempertahankan satu-satunya orang yang membuat Laura merasa dicintai.
“Mulai sekarang,” ujar Hero sambil menatap Laura, “kamu tidak perlu meminta izin kepada keluargamu untuk hidup dengan tenang. Selama Arthur memberikan dukungannya sebagai wali, aku akan memastikan tidak ada seorang pun yang mengambil hakmu untuk menentukan hidupmu sendiri.”
Laura menatap Hero dengan perasaan yang sulit dijelaskan pria itu masih asing baginya.
Namun untuk pertama kalinya, Laura merasa ada seseorang yang benar-benar berdiri di sisinya.
Dan tanpa Laura sadari, keputusan Hero pagi itu akan menjadi awal dari perubahan besar dalam hidupnya.
sedih kan ya...
kaki emak melyang terbang menghantam kepala richard.
DUAK
"emm.. puas emak, RASAIN! set ... an!" 🤯🤯🤯