**Perjodohan Pembunuh Naga dan Putri Naga**
Veronica, seorang naga setengah manusia, harus menikah dengan Altres Vanguard, kesatria terkenal yang dijuluki pembunuh naga. Pernikahan mereka merupakan syarat perdamaian antara bangsa naga dan manusia yang telah lama bermusuhan. Namun, menyatukan dua makhluk dari ras berbeda bukanlah perkara mudah. Veronica yang tidak memahami kehidupan manusia sering berselisih dengan Altres, sementara Altres sulit menerima kenyataan bahwa wanita yang menjadi istrinya adalah seekor naga.
Di balik pertentangan mereka, tersimpan luka masa lalu yang perlahan terungkap. Veronica kehilangan ibunya yang seorang manusia, menyaksikan bagaimana usia singkat sang ibu memisahkan mereka untuk selamanya. Sementara itu, Altres kehilangan ayah dan kedua kakaknya dalam perang melawan bangsa naga, meninggalkan kebencian yang sulit dihapuskan.
Seiring waktu, keduanya mulai memahami kesedihan dan ketakutan masing-masing. Di antara perbedaan, dendam, dan luka masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EMPIRE RAJA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 pernikahan dua ras
Kediaman megah keluarga Duke Vanguard dipenuhi para bangsawan yang datang dari berbagai penjuru kerajaan. Lampu-lampu kristal berkilau di langit-langit aula, dan bisik-bisik penasaran mengalir dari satu sudut ke sudut lain. Hari ini kepala keluarga Vanguard, Altres, melangsungkan pernikahan, dan tak seorang pun tahu siapa wanita yang beruntung itu. Tidak pernah ada prosesi pertunangan, tidak ada kabar apa pun, dan tiba-tiba saja sang duke berdiri di depan pelaminan, seolah pernikahan ini diputuskan dalam semalam. Para tamu saling menebak-nebak seperti apa rupa calon duchess Vanguard, dan wanita mana yang mampu menaklukkan pria sedingin itu. Para nyonya bangsawan menutup mulut dengan kipas renda mereka sambil bertukar pandang penuh arti, sementara para tuan berkumpul dalam kelompok kecil dan berbicara dengan suara rendah, tak mampu menyembunyikan rasa ingin tahu mereka.
Altres berdiri tegak di depan pelaminan dengan balutan pakaian pengantin putih yang membuatnya tampak gagah. Sepasang mata birunya menatap lurus ke depan tanpa minat sedikit pun, dan ekspresi bosan di wajahnya seolah berkata bahwa upacara ini tak lebih dari kewajiban yang harus segera diselesaikan. Jemarinya bertaut di belakang punggung, sesekali mengetuk pelan, menghitung lamanya waktu yang terbuang.
Lalu pintu aula terbuka. Semua kepala menoleh, tetapi yang muncul justru membuat napas para tamu tertahan. Mempelai wanita itu berambut merah menyala, dengan sepasang tanduk melengkung di kepalanya dan mata menyerupai mata ular. Sayap lebar terlipat di punggungnya, dan ekor panjang menyapu lantai marmer di belakang gaunnya. Ia melangkah dengan dagu terangkat dan wajah bangga, seolah semua tatapan ngeri itu adalah penghormatan untuknya. Sebuah gelas anggur terlepas dari tangan seorang tamu dan pecah berkeping-keping di lantai, disusul pekikan tertahan dari seorang nyonya bangsawan yang buru-buru mundur ke balik suaminya. Denting pedang yang ditarik dari sarungnya terdengar susul-menyusul. Para kesatria langsung bersiaga dengan tangan menggenggam erat gagang senjata, sebab wanita yang berjalan di karpet merah itu adalah seekor naga merah, musuh yang selama ini mereka buru.
Altres menyipitkan mata dan menatap wanita itu tajam. Rahangnya mengeras karena merasa dihina di hadapan seluruh bangsawan. Selama bertahun-tahun namanya ditakuti oleh para naga, dan kini seekor naga justru berdiri di hadapannya dengan gaun pengantin, menatapnya tanpa sedikit pun rasa gentar. Wanita itu berhenti beberapa langkah darinya, lalu berkata dengan suara tenang yang terdengar angkuh, "Aku seekor naga, dan aku tidak berniat menutupinya. Jika pernikahan ini ingin dilanjutkan, aku bersedia melanjutkannya." Ia memiringkan kepala sedikit, seakan menantang pria di hadapannya untuk membuat keputusan.
"Kau menghinaku di rumahku sendiri, di depan semua tamuku," desis Altres. Giginya terkatup rapat menahan amarah. "Kau berani datang ke sini dengan wujud seperti itu?" Ia melangkah maju, lalu mengangkat satu tangan. Cahaya berpendar di telapaknya, dan pedang sihir bernama Carax muncul dalam genggamannya, pusaka yang menjadikannya kesatria pembunuh naga. Bilahnya berdenyut dingin, haus akan darah naga, seolah mengenali mangsanya. Para kesatria di sekeliling aula menahan napas, menunggu isyarat dari tuan mereka. Keduanya saling menatap tanpa berkedip, dan udara di aula terasa menegang seperti tali busur yang siap dilepas, seakan salah satunya akan segera menghabisi yang lain.
Tiba-tiba sosok tua yang dihormati semua orang melangkah ke tengah dan berdiri di antara keduanya. Grand Duke Floyen mengangkat tangan dengan tenang, lalu matanya beralih pada sang naga. "Veronica, kenapa kau tidak menyembunyikan ekor dan tandukmu? Perjanjian dengan Raja Naga Roten ini seharusnya menjadi rahasia. Duke Vanguard terkenal sebagai pembunuh naga, dan dia justru menikahi seekor naga. Kau tahu betapa berbahayanya kebenaran ini jika terbongkar di hadapan para bangsawan." Suaranya tidak meninggi, tetapi setiap katanya terdengar berat, membuat bisik-bisik di aula perlahan mereda.
Veronica mendengus ringan, ujung ekornya bergerak pelan di lantai, dan tatapannya sama sekali tidak gentar menghadapi sang Grand Duke. "Aku tidak peduli dengan keinginan ayahku. Aku juga tidak ingin hidup bersama manusia, makhluk fana yang rapuh. Aku seekor naga, dewa langit yang hidup abadi. Menikah dengan makhluk yang akan mati kurang dari seratus tahun? Itu sama sekali tidak menarik bagiku."
Grand Duke menghela napas, tetapi suaranya tetap tenang dan sabar. "Ini bukan soal ketertarikan, Veronica. Ini tentang perdamaian antara ras naga dan manusia, tentang ribuan nyawa yang tidak perlu melayang lagi. Kita punya musuh bersama, Karahan, naga iblis hitam yang akan bangkit dari segelnya. Karena itulah manusia dan naga berhenti berperang, dan karena itu pula pernikahan ini diadakan."
Senyum tipis terukir di bibir Veronica, senyum yang jelas menunjukkan bahwa ia tidak peduli. Ia melipat tangan di depan dada dan melirik ke sekeliling aula dengan pandangan meremehkan. "Ras naga mampu menghadapinya sendiri. Kami tidak membutuhkan bantuan makhluk fana seperti manusia."
Kalimat itu membuat Altres mendengus kesal. Ia mengangkat pedangnya sedikit, dan bilah Carax memantulkan cahaya lampu kristal. "Makhluk fana seperti aku sudah membunuh lebih dari seratus naga," katanya dingin. "Dan kau masih merasa derajatmu begitu tinggi? Manusia yang kau rendahkan ini mampu membunuh rasmu."
Mata ularnya menyala. Veronica merentangkan sayapnya setengah, membuat para tamu di barisan depan mundur beberapa langkah. Amarah memancar jelas dari tubuhnya, dan ia sudah bersiap menerjang. Cakar-cakar tipis mulai memanjang di ujung jarinya. "Berani sekali kau menyebut ras kami seperti itu! Kau pikir aku akan diam saja mendengar kesombongan seorang manusia?"
"Cukup!" Suara Grand Duke menggema, tegas dan penuh wibawa, hingga keduanya menahan gerakan. Ia memandang mereka bergantian, sorot matanya menusuk tanpa rasa takut. "Yang terpenting saat ini adalah perdamaian antara ras naga dan manusia. Kalian berdua adalah jembatannya. Lewat kalian, manusia akan berdamai dengan naga."
Veronica menoleh dengan tatapan menusuk. "Aku tidak percaya. Kalau memang perdamaian yang diinginkan, kenapa aku diminta menyembunyikan jati diriku?"
Untuk sesaat Grand Duke terdiam. Lalu ia menundukkan kepala sedikit, sesuatu yang jarang dilakukannya di hadapan orang banyak. "Itu keinginan keluarga Vanguard, dan aku meminta maaf atas hal itu. Mereka tidak ingin nama baiknya tercoreng, apalagi keluarga ini sudah dikenal sebagai pembunuh naga terhebat." Ia kembali menatap keduanya dengan sorot memohon. "Aku mohon, berdamailah. Demi menghentikan pertumpahan darah antara naga dan manusia. Hanya kalian yang bisa melakukannya."
Altres terdiam sejenak. Napasnya masih berat, dan genggamannya pada gagang pedang belum sepenuhnya mengendur. Pandangannya jatuh pada pria tua yang selama ini ia hormati, lalu perlahan ia menurunkan Carax, dan bilah itu lenyap menjadi serpihan cahaya. "Aku setuju," ujarnya pendek, tanpa menoleh pada wanita di sampingnya. "Demi Grand Duke, dan hanya demi beliau."
Veronica melirik Altres dengan sudut matanya, lalu mengatupkan bibir. Kedua tangannya mengepal di sisi gaun, kukunya hampir menusuk telapak. Ia tidak punya pilihan lain, sebab perintah ayahnya tidak bisa dibantah. "Baiklah," gumamnya akhirnya, dengan nada enggan. "Aku akan melakukannya, karena ayahku memerintahkannya, bukan karena aku menginginkannya." Cahaya merah samar menyelimuti tubuhnya. Tanduk dan ekornya perlahan menghilang, dan yang tersisa adalah seorang wanita muda dalam gaun pengantin putih. Namun semua itu sia-sia, sebab setiap orang di ruangan itu sudah melihat wujud aslinya, dan tak seorang pun mampu menghapus bayangan sayap serta tanduk tadi dari ingatan mereka.
Keduanya berjalan menuju pelaminan dan berhenti di hadapan pendeta, dengan jarak yang cukup lebar di antara mereka. Pendeta mengangkat kitab dengan kedua tangan yang sedikit gemetar, lalu memulai upacara untuk menyatukan mereka sebagai suami istri. Dengan suara bergetar ia meminta keduanya mengikrarkan janji di depan dewa, sementara cahaya lilin di sekeliling pelaminan bergoyang pelan seakan ikut gelisah. Di antara para tamu, bisik-bisik penolakan merambat pelan, penuh ketidakpercayaan. Altres dan Veronica saling melirik sekilas, tanpa senyum, tanpa kehangatan sedikit pun. Tatapan tajam itu seakan menegaskan satu hal, bahwa pernikahan ini hanyalah sebuah perjanjian, dan keduanya tidak akan pernah bisa berdamai satu sama lain.