NovelToon NovelToon
OM GANTENG ITU SUAMIKU

OM GANTENG ITU SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Leny Fairuz

Mita Septia, seorang gadis manis yang berprofesi sebagai Guru PJOK di sekolah terpencil Kecamatan Entikong, kabupateng Sanggau perbatasan Kalimantan Barat dengan negeri jiran Malaysia. Ia telah menjalin hubungan asmara dengan Denis yang menjabat sebagai CSR Supervisor di salah satu perusahaan pertambangan ternama di Kalimantan Barat. Hubungan yang telah berjalan hampir 3 tahun, membuat keduanya berencana meresmikan di akhir tahun. Tetapi kenyataan tak sesuai harapan Mita. Denis telah berpaling hati, hingga membuat rekan kerjanya hamil. Tak bisa menghindari tanggung jawab, Denis melupakan janji yang telah ia susun bersama Mita. Keputusan Denis tentu saja menghancurkan hati Mita, dalam kelukaan atas kabar yang dikirim Denis mempertemukan ia dengan seorang Abdi Negara berpangkat Kapten yang bernama Reihan. Akan kah Kapten Reihan mampu menyembuhkan segala luka yang dialami Mita....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leny Fairuz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1. Pesan yang Meruntuhkan Segalanya

Sebagai seorang guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) di sebuah Sekolah Dasar Negeri terpencil, Mita selalu dikenal sebagai sosok perempuan yang penuh energi dan keceriaan. Berperawakan tinggi semampai dengan tubuh atletis yang proporsional, berwajah manis dengan mata bening yang hangat, serta senyum tulus yang tak pernah absen dari bibirnya, ia adalah figur favorit bagi murid-murid maupun warga setempat. Anak-anak desa sering kali berlari menyambutnya di depan gerbang setiap kali suara deru khas sepeda motor bebek merah kesayangannya terdengar mendekati halaman sekolah. Bagi masyarakat perbatasan yang serba terbatas, Mita adalah bagaikan angin segar yang membawa harapan dan semangat baru.

Pagi itu, Mita menjalani rutinitasnya seperti biasa. Secangkir teh hangat yang mulai mendingin terletak di sudut meja, sementara beberapa berkas pekerjaan masih terbuka di hadapannya. Dari jendela ruang kerjanya, ia bisa melihat aktivitas rekan guru yang berlalu-lalang memulai hari. Semuanya tampak normal, seolah dunia sedang berjalan sebagaimana mestinya.

Namun, pagi itu menjadi berbeda ketika ponselnya bergetar. Nama Denis muncul di layar. Senyum kecil mengembang di bibir Mita. Sudah beberapa hari terakhir mereka jarang berbicara panjang karena kesibukan masing-masing. Denis bekerja di Perusahaan tambang sebagai CSR, sementara Mita menjalankan tugasnya sebagai guru di daerah perbatasan. Jarak enam jam perjalanan darat itu bukan sesuatu yang asing bagi mereka. Selama tiga tahun mereka telah belajar mempertahankan hubungan di tengah kesibukan dan keterbatasan waktu.

Mita mengira Denis mengirim pesan untuk menanyakan kabarnya, seperti yang biasa dilakukan laki-laki itu setiap pagi. Namun, senyumnya perlahan menghilang ketika membaca kalimat pertama.

“Mita, maaf. Kita tidak bisa melanjutkan hubungan ini lagi. Aku harus bertanggung jawab... Siska hamil anakku. Kami akan segera menikah.”

Mita terdiam. Ia membaca pesan itu sekali lagi, kemudian sekali lagi, seolah berharap ada kesalahan dalam susunan kalimat yang baru saja dilihatnya. Mungkin Denis salah mengirim pesan. Mungkin ada sesuatu yang belum ia pahami. Atau mungkin, ini hanya lelucon buruk yang tidak seharusnya dilakukan seseorang terhadap perempuan yang selama ini mencintainya dengan sepenuh hati.

Akan tetapi, nama yang tertera di layar tetap sama.

Denis.

Laki-laki yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari masa depan yang ia impikan. Laki-laki yang pernah berjanji akan datang bersama kedua orang tuanya untuk meminangnya pada akhir tahun nanti. Laki-laki yang selama ini selalu mengatakan bahwa jarak tidak akan pernah menjadi alasan untuk mengakhiri hubungan mereka. Dan kini, hanya melalui sebuah pesan singkat, Denis memutuskan segalanya.

Air mata tanpa kompromi langsung menggenang di pelupuk matanya. Tangannya terasa dingin, sementara dadanya sesak seperti ada sesuatu yang menghimpitnya dari dalam.

“Tidak mungkin,” bisiknya lirih.

Ia segera menekan tombol panggilan. Nada sambung terdengar beberapa kali, tetapi tidak ada jawaban. Mita mencoba lagi. Kali ini, panggilannya ditolak.

Ia mengirim pesan.

“Mas, apa maksud kamu? Tolong angkat teleponku. Aku ingin mendengar penjelasan langsung darimu.”

Tidak ada balasan.

Mita menunggu dengan pandangan terpaku pada layar ponselnya. Setiap kali perangkat itu menyala, jantungnya berdegup lebih cepat. Namun, yang muncul hanyalah pemberitahuan pekerjaan dan pesan-pesan lain yang tidak sanggup menarik perhatiannya.

Beberapa menit kemudian, Denis akhirnya membalas.

“Maaf, Mit. Keputusanku sudah bulat. Aku tidak ingin memperpanjang masalah. Keluarga Siska membutuhkan kepastian dariku.”

Kalimat itu terasa lebih menyakitkan daripada pesan sebelumnya.

Jadi, keluarga Siska membutuhkan kepastian, sementara dirinya hanya membutuhkan penjelasan yang bahkan tidak bersedia diberikan Denis.

Mita menggigit bibirnya, berusaha menahan tangis. Selama ini, ia selalu percaya bahwa jika suatu hari hubungan mereka menghadapi persoalan besar, Denis akan datang menemuinya. Mereka akan duduk bersama, berbicara dengan jujur, kemudian mencari jalan keluar sebagaimana dua orang yang telah sepakat membangun masa depan.

Namun, Denis memilih jalan yang berbeda. Ia mengambil keputusan seorang diri, lalu menyerahkan kepadanya tugas untuk menerima dan memahami.

Mita meletakkan ponsel di atas meja. Pandangannya kosong. Pekerjaan mengoreksi yang sejak pagi menunggu penyelesaian kini tidak lagi berarti. Ia bahkan tidak menyadari ketika seorang rekan kerja mengetuk pintu dan menanyakan berkas yang harus segera ditandatangani.

“Mit, kamu tidak apa-apa?” tanya Indah rekannya, memperhatikan wajah Mita yang pucat.

Mita buru-buru menghapus air matanya, “Aku tidak apa-apa. Hanya sedikit kurang sehat.”

Indah menatapnya dengan seksama. Ia tidak yakin dengan perkataan Mita. Karena selama ini Mita selalu ceria dalam kesehariannya.

“Apa ada masalah keluarga? Kamu bisa izin sama pak Wahyu …. “ Indah masih duduk di hadapannya, karena meja kerja mereka berhadapan.

Mita menggeleng pelan. Ia tidak sanggup menceritakan apa pun. Bagaimana mungkin ia menjelaskan kehancuran yang baru saja terjadi, sementara dirinya sendiri belum memahami bagaimana harus menerima kenyataan tersebut?

Sepanjang hari, pikirannya terus kembali kepada Denis.

Ia mengingat percakapan mereka beberapa minggu sebelumnya. Saat itu, Denis berbicara penuh semangat mengenai rencana pertemuan keluarga. Hendro dan Sarah, orang tua Denis, bahkan telah menyampaikan keinginan mereka untuk datang ke Ketapang guna membicarakan langkah selanjutnya.

Andi dan Riani, kedua orang tua Mita, menyambut rencana tersebut dengan bahagia. Sebagai putri tunggal, Mita memang selalu menjadi pusat perhatian mereka. Mereka tidak pernah memaksakan pilihan, tetapi ketika Mita memperkenalkan Denis sebaai laki-laki yang ingin ia jadikan pendamping hidup, keduanya memberikan dukungan sepenuh hati.

Hubungan kedua keluarga pun bukan hubungan yang baru terjalin kemarin sore.

Bertahun-tahun sebelumnya, ketika Mita masih duduk di bangku sekolah dasar, keluarga mereka pernah tinggal bertetangga di Pontianak. Andi bekerja di lingkungan Dinas Pendidikan Kota Madya, sedangkan Hendro bertugas di Kantor Gubernur. Kesibukan pekerjaan tidak menghalangi kedua keluarga untuk membangun kedekatan.

Riani dan Sarah kerap memasak bersama, saling bertukar makanan, dan menghabiskan sore dengan berbincang di halaman rumah. Mita kecil sering bermain bersama Denis, meskipun pada masa itu keduanya belum memahami bahwa pertemanan tersebut kelak berkembang menjadi cinta.

Ketika Andi mendapat mutasi ke Ketapang, hubungan kedua keluarga tidak terputus. Mereka tetap berkomunikasi, saling berkunjung jika ada kesempatan, dan merayakan berbagai kabar baik bersama.

Saat Mita mulai kuliah, kedekatannya dengan Denis tumbuh semakin serius. Mereka mulai bertukar cerita mengenai cita-cita, pekerjaan, dan kehidupan yang ingin dibangun. Perlahan-lahan, persahabatan lama itu berubah menjadi hubungan yang diketahui dan didukung kedua keluarga.

Karena itulah, pesan Denis terasa begitu sulit diterima. Bukan hanya karena ia kehilangan seorang kekasih, melainkan juga karena masa depan yang selama ini mereka bangun ternyata dapat dihancurkan oleh keputusan sepihak.

(Mudahan kalian suka dengan karya akak otor yang baru, sambil tahap menyelesaikan kisah keluarga kecil Citra dan Pram.) Terima kasih atas dukungan selama ini. Sayang selalu ....

1
Heti Supriyati Laela
ikutan senyum sendiri
Heti Supriyati Laela
semangat up othor
Heti Supriyati Laela
gasss kapten
rayhan dirgantara
up lg ga ka aku rayhan kls 4sd ka slm knal ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!