NovelToon NovelToon
Ampun, Mayor! Istrimu Minta Cerai!

Ampun, Mayor! Istrimu Minta Cerai!

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikahi tentara / Penyesalan Suami / Romansa
Popularitas:63.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Ghina

"Om mau nyeraikan gue? Bagus dong! Mana drafnya? Gue tanda tangani sepuluh kali kalau perlu!"

Mayor Yudhana (32) mengira ancaman perceraian akan membuat Vina (20) berlutut memohon ampun. Namun, benturan keras di aspal telah menghapus seluruh kenangan penderitaan Vina selama menikah. Vina yang baru adalah gadis barbar usia 18 tahun yang sama sekali tak terintimidasi oleh baret hijau maupun pangkat tiga melati.

Saat Vina memperlakukannya seperti bapak kos galak dan sibuk mencari uang sendiri untuk angkat kaki, Mayor Yudhana terpukul oleh gengsinya sendiri. Untuk pertama kalinya, Sang Mayor menyadari bahwa hal paling berbahaya bukan lagi kehilangan wibawa di Batalyon—melainkan kehilangan wanita yang baru saja mulai menguasai seluruh sudut hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19. Ampun, Mayor!

Tawa Vina meledak berulang kali. Suara tawanya yang renyah, lepas, dan sedikit barbar membumbung tinggi menembus ranting-ranting pohon mangga di halaman depan.

Namun, keriuhan tak biasa itu mendadak mengundang perhatian sekeliling. Dari balik gorden jendela rumah dinas di seberang jalan, dua orang ibu perwira berseragam organisasi istri prajurit menyingkap kain gorden sedikit, menatap ke arah teras Vina dengan pandangan berbisik-bisik dan dahi berkerut heran. Bagaimana mungkin seorang istri Mayor Batalyon duduk bersila di teras, tertawa terpingkal-pingkal bersama dua pemuda berjaket kulit sambil mengunyah es lilin?

Brammm.

Suara deru mesin mobil SUV dinas berwarna hijau zaitun melambat di pinggir jalan, lalu berbelok kaku memasuki pelataran parkir rumah.

Di balik kaca depan mobil, Mayor Yudhana duduk dengan punggung tegap. Pria itu baru saja merampungkan rapat evaluasi kesatuan yang melelahkan. Jemari kanan sang Mayor mencengkeram kencang lingkar kemudi saat matanya menangkap pemandangan yang tersaji di teras rumahnya sendiri.

Dua sepeda motor berbodi trondol terparkir melintang di depan pagar. Di teras rumah dinasnya yang terlindungi bendera kesatuan, istrinya sedang duduk bersila di atas meja kayu, tertawa bahak-bahak seraya menepuk bahu salah seorang pemuda berjaket kulit tanpa ada batasan jarak sedikit pun.

Darah Yudhana serasa mendidih seketika. Garis rahang tegasnya menegang kencang hingga otot pautnya menonjol padat. Pria itu mematikan mesin mobil, menyambar tongkat komando kecil dan baret hijau tuanya, lalu membuka pintu mobil dengan gerakan menyentak kaku.

Brak!

Langkah sepatu lars kulit milik Yudhana menghentak lantai semen teras dengan bunyi tumpul yang sarat akan dominasi. Pria berseragam dinas harian lengkap dengan papan nama logam mengkilap itu melangkah maju, memancarkan aura intimidasi dingin yang biasa ia gunakan saat mengecek kesiapan kompi prajurit.

Tio dan Doni yang sedang tertawa mendadak menghentikan tawa mereka. Keduanya tersentak kaku, memandangi sosok pria tinggi besar bertubuh tegap, berkumis tipis, dan berwajah kelabu kencang yang kini berdiri tegak di ambang tangga teras.

"Ada kegiatan apa ini?" tegur Yudhana, suara baritonnya berat dan bernada rendah, menggetarkan keheningan sore. Sorot matanya pekat mengunci dua pemuda berjaket kulit itu dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Ini Kompleks Perumahan Dinas Militer Batalyon. Tidak sembarangan orang bisa membuat kebisingan dan memarkir kendaraan tidak rapi di depan rumah dinas."

Tio menelan ludahnya yang terasa pahit, secara refleks menarik kakinya turun dari atas meja kayu dan membetulkan posisi duduknya menjadi agak kaku.

Yudhana melangkah satu tapak lagi mendekati Vina, membetulkan letak baret di tangannya dengan raut ketegasan penuh. Pria itu hendak melontarkan teguran resmi soal etika penerimaan tamu dan menjaga nama baik jabatan suami di mata warga komplek.

Namun, sebelum sempat sepatah kata pun teguran kaku itu meluncur dari bibir Sang Mayor...

"Eh, Om Kaku udah pulang!" celetuk Vina santai tanpa rasa takut sedikit pun. Vina memutar tubuhnya di atas kursi, menudingkan sisa stik es lilinnya tepat ke arah dada berseragam Yudhana.

Cengkeraman Yudhana pada tongkat komando mematung kaku sewaktu gelak tawa Vina melambung tinggi memotong teguran resminya di depan para pemuda berjaket kulit itu.

"Nih, Tio, Don!" lanjut Vina penuh semangat, menunjuk Yudhana dengan binar mata jenaka yang mengejek. "Ini nih yang gue ceritain tadi! Om-om pemilik rumah kos tumpangan ini! Yang mukanya kenceng kayak papan pengumuman Batalyon!"

"Vina!" sentak Yudhana, nadanya melengking kaku oleh benturan gengsi yang hancur berantakan di depan orang luar. Wajah sang Mayor memerah padat hingga ke batas leher.

"Dih, kan bener! Malah teriak-teriak," cibir Vina memutar bola matanya malas. Vina lalu menepuk bahu Tio yang masih melongo takut. "Tenang aja, Tio. Si Om ini emang sukanya marah-marah begini kalau habis pulang kerja. Mukanya aja yang garang kayak macan ompong, padahal kalau lapar juga jalan sendiri cari sate di luar."

Tio dan Doni saling pandang dengan raut bingung campur ingin tertawa. "Jadi ... ini bukan Om lu, Vin? Bukannya kata orang-orang ini..."

"Bukan siapa-siapa!" potong Vina cepat dan enteng, melambaikan tangannya di udara. "Cuma Om tentara yang kebetulan numpang lewat dan punya rumah kaku ini. Udah, abaikan aja. Ayo lanjutin cerita lu tadi, Tio! Yang si Budi ketahuan nyolong mangga Pak RT gimana lanjutannya?"

Pukulan ucapan itu meremukkan harga diri Yudhana hingga tak berbekas.

Pria tegap yang biasanya dihormati oleh seluruh jajaran perwira, kini secara terang-terangan didegradasi statusnya oleh istrinya sendiri di depan dua pemuda jalanan sebagai sekadar 'Om bapak kos yang suka marah-marah'. Tidak ada rasa hormat, tidak ada rasa takut, dan yang paling menyengat dadanya: tidak ada sedikit pun pengakuan bahwa pria berseragam ini adalah suaminya yang sah.

Ada sengatan aneh yang mendadak melilit bagian dalam dada Yudhana—sebuah kombinasi antara amarah yang tertahan, rasa malu yang membakar, dan ... kecemburuan asing yang tak pernah ia sangka akan merayapi pikirannya. Kenapa Vina bisa tertawa sebebas dan sehangat itu pada dua pemuda asing berjaket kulit, sementara padanya Vina hanya melemparkan tatapan cemooh dan kalimat-kalimat barbar yang menyudutkan?

Yudhana mengepalkan jemarinya kaku pada gagang tongkat komandonya hingga buku-buku jarinya memutih.

"Kalian berdua," tegur Yudhana sekali lagi, suaranya terdengar jauh lebih dingin dan berjarak, matanya menatap tajam Rian dan Doni. "Jam berkunjung di komplek militer sudah selesai. Silakan rapikan kendaraan kalian dan tinggalkan area rumah dinas sekarang."

Tio dan Doni yang tak sanggup menahan tekanan udara intimidasi dari Sang Mayor langsung berdiri tergesa-gesa.

"E-eh, iya, Pak! Eh, Om! Kami permisi dulu!" gagap Tio buru-buru menyambar helmnya. "Vin, kami balik dulu ya! Nanti kita ngobrol lagi di panti!"

"Dih, kok cepat amat pulangnya?" protes Vina cemberut. Namun melihat kedua temannya sudah terbirit-birit menuntun motor ke luar pagar, Vina hanya bisa melambaikan tangan. "Yaudah deh! Hati-hati lu pada! Jangan lupa bawain gue bakso kalau main ke sini lagi!"

Kedua motor bebek itu melaju kencang meninggalkan pelataran rumah dinas, melenyapkan suara deru knalpotnya di balik tikungan komplek.

Keheningan yang pekat dan menusuk seketika menyapu area teras rumah.

Vina membalikkan badannya, melipat kedua tangan di dada seraya menatap Yudhana dengan pandangan mendelik galak.

"Om ini apaan sih?!" semprot Vina tanpa ragu. "Temen-temen saya baru sebentar main, malah diusir-usir! Om dendam amat sih liat orang seneng?"

Yudhana menatap Vina dari atas tangga teras, dada bidangnya naik turun memburu napas gusar.

"Vina! Jaga batasan dan martabat kamu!" tegur Yudhana, nada suaranya tertahan rendah namun sarat akan emosi meluap. "Kamu itu masih istri saya secara hukum! Duduk tertawa-tawa di teras bersama laki-laki lain sampai dilihat seluruh tetangga komplek ... kamu pikir itu pantas untuk seorang istri perwira Batalyon?!"

Vina tertawa sinis—sebuah tawa konyol yang menelanjangi kepalsuan argumen sang Mayor.

"Istri perwira?" cibir Vina menaikkan satu alisnya. "Yaelah, Om! Dulu waktu saya duduk manis nungguin Om tiap malam sampai makanan dingin, Om anggap saya ada kagak? Sekarang begitu saya seneng-seneng sama temen saya, Om baru sibuk bawa-bawa status istri perwira! Ita sudah menceritakan mengenai rumah tangga kita! Ternyata dulu saya ini terlalu bodoh!"

Yudhana membeku. Kata-kata itu menghantam dadanya tepat di celah pertahanannya yang paling rapuh.

"Lagian ya, Om Tentara ...." Vina melangkah mendekati pintu utama, memegang gagang pintu seraya menolehkan kepalanya sedikit. "Bukannya Om sendiri yang mau nyeraikan saya? Surat cerainya sudah diurus, kan? Jadi kagak usah sok cemburu atau sok ngatur hidup saya. Urus aja tuh kumis kaku Om biar kagak makin ngejeding tiap sore!"

Klek ... Bles!

Vina masuk ke dalam rumah dan menutup pintu depan tanpa menunggu balasan, meninggalkan Yudhana yang berdiri kaku sendirian di teras rumah yang mulai diselimuti kegelapan senja.

Mayor Yudhana menyandarkan tubuh tegapnya pada pilar kayu teras. Pria itu menghembuskan napas panjang yang bergetar. Ditatapnya sepasang jejak roda motor di atas rumput halamannya, meresapi rasa perih dan kebingungan yang makin dalam menggerogoti hatinya—sebuah rasa asing yang perlahan-lahan memberitahunya bahwa ia telah kehilangan wanita yang kini justru sangat ingin ia raih kembali.

bersambung...

1
Daneen
Semoga thor
Hesty
cepetan thor bikin mereka pisah aku ga setuju vina sama yuda jijik, buat opa gema tau agar yuda di beri pelajaran👍
Hesty
cepetan thor bikin mereka pisah aku ga setuju vina sama yuda jijik, buat opa gema tau agar yuda di beri pelajaran👍
merry
Vina jjur np si ksh pljrann buat lakimu, dan si Tanti itu biar kapok,, gmn kelakuannya kmu di abaikan minta cerai trss,, trs msk RS siumann br dtgg di kiriin kmu cm akting ,, kuasin kmr gede kmu dpt kmr kcil,,, ceritaiin biar cerai cpt kmu fokus sm hdpmu klo jdoh kembali versi terbaik ajj vin,, tentara ko gk bs hargai istri ya heran jg 🤔🤔🤔🤭🤭
merry
asik dtg jg opa gema,, Vina gk drmh ceritaiin Vina kelakuan laki mu biar di tempeleng tu 😆😆😆😆
Kar Genjreng
kurang setuju' mommy kenapa Vina main sandiwara. biar saja untuk apa menutupi aib orang yang tidak perduli dan menyakiti,,, harusnya biar yudhayana merasakan sakit seperti yang Vina rasakan
Mommy Ghina: nanti bakal ketahuan kok
total 1 replies
Kar Genjreng
🤭🤭wah bisa gaswat nihh,,,Vina bingung yudhayana kecut dan pucat pasi mana Vina bau keringat seharian jualan Es coklat dan mampir pasar tradisional,,,kontras dengan peran istri rasa babu nya mayor jossss semoga lekas terbongkar,,👍
Kar Genjreng
rasano sebabagus bagus nya mengemas bangkai lambat laun pasti akan tercium aromanya busuk' nya,,,mamcussss 🤣🤣 sedang kan cucu menantu nya sedang mengais rezeki ,,, karena tidak sudi hidup nya menggantung kepada Pria ,,kaku dan mengabaikan bagus Kakek datang selamat datang Kek dan selamat sore 👍👍
Kar Genjreng
Aamiin ya Mom jadi review di terima tinggal kontrak semoga dapat ya Mom,,,,,,,
Vina benar jadi untuk apa takut di lihat suaminya,,, orang cari uang halal ko dan
apa bila mau protes dan marah marah ,,Vina juga bisa menyampaikan kepada Kakek Gema iya to,,,wong cucunya yang selingkuh bahkan seolah Vina hanya di jadikan babu ,,,sedang dirinya mirip buaya muara ngecas sama wanita lain ko ga malu sama rekan atau bawahannya, biarpun banyak uang buat apa ga menghargai wanita notabene sebagai istri,,anjit ga banget lihat tiap hari di samperin sama si pELaKoR,,najong tralala,,😡😡
Mundri Astuti
menunggu detik" si mayor ketahuan tdk melaksanakan amanahnya
Mundri Astuti
yahhh opa mergokin dong pas lampir manja" ke mayor konon
Nining Sariningsih
semangat thoorrrrrr 💪💪💪
Riska Nianingsih
opa gema berarti tdur dikmr tamu kamarnya vina... otomatis ketahuanlah kan dikmr ada barang2nya vina... biar kebongkar deh kelakuan yudhana
Mommy Ghina: yes betul sekali
total 1 replies
Mutaharotin Rotin
pasti oanik
neny
kasih yudhana pelajaran kak othor,,untuk kali ini jng dikasih maaf,,sdh cukup dia memperlakukan Vina dng sikap egoisnya,,beri dia hukuman,,dan biarkan dia berfikir bahwa yg selama ini dia lakukan itu salah,,
Mommy Ghina: ditampung sarannya
total 1 replies
Mutaharotin Rotin
🤣🤣🤣🤣ayo lho
Mutaharotin Rotin
😂😂😂😂🫣🫣🫣
Mutaharotin Rotin
🥰🥰🥰🥰
sunaryati jarum
Biarkan kelakuan Yudha terbongkar kakeknya.Jika belum biarkan Yudha menanggung rasa bersalah dan hutang Budi karena Vina menyelamatkannya
sunaryati jarum
Amnesia Vina mungkin bisa menyelamatkan Si Bego Yudha
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!