NovelToon NovelToon
JERAT CINTA SANG MAFIA

JERAT CINTA SANG MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:976
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

Satu-satunya hal yang lebih berbahaya daripada membobol brankas mafia... adalah jatuh cinta pada pemiliknya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Memasuki Istana

​Deru mesin empat mobil SUV serba hitam yang melaju dalam konvoi ketat akhirnya mereda. Iring-iringan kendaraan lapis baja itu memasuki gerbang besi raksasa berukiran simbol naga dan serigala—lambang kebesaran klan Argantara. Gerbang itu terbuka otomatis, menyambut rombongan masuk ke dalam kawasan perbukitan terisolasi yang jauh dari riuk-pikuk pusat kota.

​Aria duduk di kursi belakang kendaraan utama. Di sampingnya, Devan Argantara tetap bungkam, sibuk membaca beberapa dokumen digital di tablet transparannya. Suasana di dalam mobil begitu hening, hanya ada desis pendingin udara dan sapuan lembut hujan gerimis di kaca jendela.

​Ketika mobil berhenti tepat di depan tangga marmer utama, seorang pengawal bergegas membukakan pintu. Aria melangkah keluar, menghirup udara dingin pegunungan yang beraroma tanah basah dan pinus.

​Di hadapannya berdiri sebuah bangunan mahakarya arsitektur modern berpadu gaya klasik yang megah—pintu gerbang utama menuju jantung kekuasaan klan Argantara. Markas ini bukan sekadar kediaman, melainkan benteng pertahanan tak tertembus yang dilengkapi sistem pertahanan siber dan militer tingkat tinggi.

​"Selamat datang di tempat tinggalmu selama dua minggu ke depan, Aria," ujar Devan pendek, melangkah mendahuluinya menyusuri tangga marmer.

​Aria menyelimuti dirinya dengan sikap dingin, melangkah anggun di belakang Devan. Meski hatinya berdesir melihat puluhan penjaga berjas rapi dengan senjata tersembunyi yang berdiri tegap di sepanjang lorong, Aria menolak menunjukkan rasa gentar sedikit pun. Dagu cantiknya tetap terangkat, tatapan matanya tajam memindai setiap sudut.

​Setibanya di dalam hall utama yang beratap tinggi dengan lampu gantung kristal hitam, belasan orang bawahan penting klan Argantara sudah berbaris rapi. Di barisan paling depan, berdiri seorang pria paruh baya berambut perak dengan pakaian serba hitam yang sangat rapi—Erick, kepala pengawal sekaligus orang kepercayaan keluarga Argantara selama belasan tahun.

​Erick membungkuk hormat saat Devan mendekat. "Selamat datang kembali, Tuan Devan. Semuanya sudah disiapkan sesuai perintah Anda."

​Devan menghentikan langkahnya, lalu menoleh sedikit ke arah Aria yang berdiri di sampingnya. Pria itu menatap seluruh bawahannya dengan tatapan dingin yang dominan.

​"Mulai hari ini, wanita di sampingku adalah Aria," suara Devan bergema di hall utama yang luas itu, berat dan penuh penekanan. "Dia bukan tawanan, bukan pula tamu biasa. Aria adalah mitramu dan orang kepercayaanku selama pergerakan operasi Black Ledger. Semua perintah teknis darinya berlaku sama seperti perintahku. Jika ada yang berani meremehkan atau menghalanginya, kalian tahu apa konsekuensinya."

​Gumam samar sempat terdengar di antara para pengawal. Beberapa dari mereka menatap Aria dengan pandangan menilai—terkejut karena seorang wanita asing tiba-tiba diberi wewenang setinggi itu di dalam lingkaran dalam Argantara. Namun, melihat rahang tegas Devan yang tak terganggu, mereka segera menundukkan kepala serempak.

​"Baik, Tuan Devan," sahut Erick tegas, lalu mengalihkan tatapan matanya ke arah Aria dengan gestur menghormati. "Selamat datang, Nona Aria."

​Aria hanya mengangguk tipis, menyimpannya sebagai bentuk pertahanan diri. Ia tahu betul, rasa hormat yang diberikan orang-orang ini bukan karena mereka menyukainya, melainkan karena rasa takut mereka pada sosok Devan Argantara yang berdiri di sampingnya.

​"Erick, bawa dia ke ruang kerja bawah tanah dan tunjukkan fasilitas yang dia minta," perintah Devan. "Aku ada rapat darurat dengan para petinggi klan mengenai pergerakan klan Vane di perbatasan."

​"Baik, Tuan."

​Devan berpaling menatap Aria, melangkah mendekat hingga jarak mereka hanya tersisa satu jengkal. Aura hangat bercampur aroma woody dari tubuh pria itu kembali mengurung kesadaran Aria.

​"Gunakan fasilitasmu dengan bijak, Little Bird," bisik Devan pelan, suaranya hanya bisa didengar oleh Aria. "Jangan buat aku menyesal telah memberimu kunci ke dalam rumahku."

​"Aku tidak pernah mengecewakan diriku sendiri, Devan," balas Aria datar, menatap lurus ke dalam iris mata kelam pria itu.

​Devan menyunggingkan senyum tipis yang misterius sebelum akhirnya berbalik melangkah menuju ruang rapat utama di lantai atas.

​Erick kemudian memandu Aria menyusuri koridor samping, masuk ke dalam sebuah lift khusus yang membutuhkan pemindaian kartu akses dan retina mata. Lift tersebut bergerak turun dengan cepat menuju fasilitas lantai dua bawah tanah—pusat komando teknis dan pertahanan siber rahasia klan Argantara.

​PING.

​Pintu lift terbuka, memperlihatkan sebuah ruangan berteknologi tinggi yang membuat napas Aria tertahan sejenak. Ruangan itu didominasi warna perak dan abu-abu metalik. Puluhan monitor gergasi terpampang di dinding utama, menampilkan lalu lintas data enkripsi, satelit pelacak, dan peta digital kota secara real-time. Di tengah ruangan, terdapat meja konsol peretas berdesain khusus dengan peladen berpendingin cairan bernilai miliaran rupiah.

​"Ini adalah ruang kerja teknis pribadi Anda, Nona Aria," terang Erick sembari menyerahkan sebuah kartu akses berlapis titanium hitam. "Tuan Devan telah memerintahkan agar seluruh perangkat lunak dan keras yang Anda minta kemarin sore sudah terpasang di meja utama."

​Aria melangkah mendekati meja konsol tersebut. Jarinya menyapu permukaan papan ketik mekanis yang dirancang khusus untuk respon mikrodetik. Matanya berbinar tipis—sebuah reaksi alami seorang peretas ulung saat dihadapkan pada peralatan terbaik di dunia siber.

​"Bagaimana dengan akses jaringan luar?" tanya Aria sembari menduduki kursi kerja ergonomisnya.

​"Jaringan terhubung melalui tiga satelit pribadi Argantara dengan enkripsi ganda," jawab Erick. "Namun sesuai kesepakatan, seluruh aktivitas lalu lintas data keluar akan tercatat otomatis di sistem pengawas pribadi Tuan Devan."

​"Aku sudah menduga pria itu tidak akan memberi kebebasan penuh," gumam Aria pelan dengan nada sinis.

​Aria segera menekan tombol daya utama. Dalam hitungan detik, seluruh monitor di depannya menyala terang, memproyeksikan deretan garis kode hijau dan biru yang berjalan cepat. Sistem komputer super itu merespons perintah jarinya tanpa jeda sedikit pun.

​Aria mulai menguji keandalan sistem tersebut. Jemari lentiknya menari lincah di atas papan ketik, menyusun baris skrip penguji untuk memetakan arsitektur keamanan luar Kasino Royale Vane. Kecepatan dan ketepatan jemarinya membuat Erick yang berdiri di belakangnya mengamati dengan raut kagum yang tersembunyi.

​Di balik layar monitor yang memantulkan bayangan wajah cantiknya, otak Aria bekerja dengan dua jalur pikiran yang berbeda.

​Jalur pertama fokus pada misi membobol benteng Kasino Royale Vane untuk mengambil Black Ledger sesuai kesepakatan dengan Devan. Jalur kedua—yang jauh lebih rahasia—fokus pada pencarian celah mikro di dalam sistem Argantara sendiri. Aria tahu, untuk bisa benar-benar bebas dari Devan setelah misi selesai, ia harus memegang kartu as tersembunyi yang bisa melumpuhkan pengawasan pria itu kapan saja ia butuhkan.

​Kamu memang mengurungku di dalam istana megahmu, Devan, batin Aria sembari terus mengetikkan barisan algoritma peretas rahasianya. Tapi kamu lupa satu hal... seorang peretas yang diberi akses ke dalam rumahmu adalah ancaman terbesar yang pernah kamu pelihara.

​Layar monitor utama kini memproyeksikan denah 3D dari struktur bangunan Kasino Royale Vane. Lampu merah indikator keamanan menyala di setiap lorongnya, menandai dimulainya babak baru dari persiapan perampokan paling mematikan dalam sejarah dunia bawah.

1
Ariany Sudjana
wah mantap ini Aria dan Devan bisa jadi pasangan mafia tangguh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!