Bagaimana bisa seorang agen rahasia berdarah dingin yang ditakuti dunia mafia mati mengenaskan di rumahnya sendiri... hanya karena tersedak air putih?
Takdir bercanda saat jiwanya terlempar ke tubuh seorang gadis kaya yang terkenal pendiam, lambat, dan selalu ditindas. Lebih parah lagi, gadis itu terikat pernikahan dingin dengan seorang CEO kejam yang diam-diam memimpin sindikat mafia paling berpengaruh.seorang CEO kejam yang diam-diam memimpin sindikat mafia paling berpeSang CEO berdarah dingin dibuat pusing setengah mati melihat istrinya yang dulu pemalu kini berubah menjadi wanita impulsif yang dengan santainya melumpuhkan puluhan penjahat, walau uniknya masih sering tersandung kaki sendiri saat berjalan.
Di tengah kecamuk perang antar-mafia, intrik bisnis triliunan rupiah, dan tingkah konyol yang tak terduga, mampukah sang Raja Mafia menundukkan jiwa liar di tubuh istrinya, atau justru dialah yang akan berlutut di hadapan sang istri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: Peraturan Baru dan Kontak Pertama Mafia
Mobil Limosin Roll-Royce warna hitam legam membelah jalanan kota yang sepi di tengah malam. Di dalam kabin penumpang yang luas dan mewah, suasana terasa sangat sunyi hingga suara deru mesin pun hampir tak terdengar.
Vanya duduk di sudut kanan jok kulit, sementara Adrian berada di sudut kiri, terpisah jarak yang cukup jauh. Laptop tipis menyala di pangkuan Adrian; jemari pria itu bergerak lincah menekan kibor, mengecek laporan transaksi keuangan Vane Group—sekaligus pergerakan amunisi gelap jaringan mafianya di pelabuhan utara.
Vanya menyandarkan kepalanya ke kaca jendela, matanya memindai rute jalanan dengan cermat. Sebagai mantan agen rahasia, insting dasarnya melatih mata Vanya untuk merekam setiap sudut jalan, posisi kamera pengawas kota, hingga celah untuk melarikan diri jika terjadi serangan mendadak.
*Rute ini... bukan jalan utama menuju kawasan perumahan elit,* batin Vanya cepat. *Dia sengaja memutar lewat jalur sepi yang minim penerangan. Tipikal pemimpin organisasi bawah tanah—selalu mengantisipasi pengintaian musuh.*
Vanya menoleh ke arah Adrian. "Jalur melingkar yang bagus, Tuan CEO. Tapi kamu tahu tidak? Kalau ada musuh yang mau mencegat di persimpangan tiga ratus meter di depan, jalur sepi ini justru menjebak mobil armor ini dalam posisi mati."
Jemari Adrian di atas kibor berhenti mendadak.
Pria itu menoleh perlahan, menatap Vanya dengan tatapan tajam dan penuh ketertarikan yang membahayakan. "Kamu tahu rute ini sepi?"
"Siapa pun yang punya otak dan mata normal bisa bedakan rute utama sama rute jalan pintas pelabuhan," jawab Vanya santai dan secepat senapan mesin. "Lagipula, mobil pengawal di belakang kita jaraknya terlalu jauh—sekitar empat puluh meter. Kalau ada penembak jitu di atas gedung tua di sebelah kiri itu, ban depan kanan mobil ini bisa hancur sebelum pengawalmu sempat membalas tembakan."
Adrian menyipitkan matanya. Apa yang dikatakan Vanya bukanlah omongan asal. Itu adalah analisis taktis tingkat tinggi yang biasa digunakan oleh tentara bayaran atau agen profesional.
"Sejak kapan seorang putri keluarga Valeria yang pemalu paham soal posisi penembak jitu dan perimeter pengawalan?" tanya Adrian dingin, suaranya mengandung intimidasi yang pekat.
*Sial, aku terlalu refleks!* batin Vanya meringis. Sifatnya yang serba cepat dan reaktif sering kali membuat lidahnya terpeleset sebelum otaknya sempat mengeramkan kebohongan.
Vanya berdeham keras, langsung memutar otak dengan kecepatan penuh untuk bersilat lidah.
"Ya... ya baca novel lah!" sahut Vanya secepat kilat tanpa berkedip. "Kamu pikir aku di rumah cuma diam menunduk saja? Aku baca ratusan novel aksi dan mafia! Semua trik murahan begitu sudah basi di bab sepuluh!"
Adrian tidak menjawab. Ia hanya menatap Vanya selama beberapa detik yang terasa sangat panjang, seolah sedang menguliti setiap lapisan kebohongan wanita di depannya. Namun, sebelum Adrian sempat menginterogasi lebih jauh, pengemudi di depan mendadak menginjak rem dengan keras!
*Ckiiiiiittt!*
Ban mobil mencicit hebat di atas aspal basah. Tubuh Vanya terdorong ke depan dengan keras karena efek inersia.
"Aww!" Vanya meringis konyol saat dahinya hampir menghantam sandaran kursi depan. Untungnya, tangan kekar Adrian bergerak secepat kilat menahan bahunya, menyelamatkannya dari benturan konyol untuk kedua kalinya malam ini.
"Ada apa?" suara Adrian berubah menjadi sangat berat dan berbahaya. Hawa membunuh menyebar di dalam mobil dalam sekejap.
"Tuan Besar, ada dua mobil SUV hitam tanpa pelat nomor memblokir jalan di depan," lapor sang sopir dengan suara gemetar, tangannya sudah bersiap merogoh senjata di bawah jok.
Dari kegelapan jalanan pelabuhan yang sepi, delapan orang bersetelan serba hitam keluar dari SUV tersebut. Mereka memegang pipa besi dan beberapa di antaranya membawa senjata api. Ini adalah kelompok mafia kelas teri yang mencoba memeras atau memberi peringatan pada Vane Group.
"Tetap di dalam mobil," kata Adrian dingin kepada Vanya. Pria itu membuka kancing jasnya, bersiap turun untuk membereskan pengacau tersebut bersama para pengawalnya.
Namun, Vanya yang dasarnya adalah agen rahasia yang tidak betah diam melihat aksi pertarungan, justru sudah membuka pintu mobil di sisinya terlebih dahulu!
"Hei! Kamu mau ke mana?!" bentak Adrian kaget, tertahan oleh gerakan nekat istrinya.
"Kelamaan!" seru Vanya cepat. "Kalau nunggu pengawalmu yang jaraknya jauh itu datang, mobil mahal ini keburu lecet kena pipa besi!"
Vanya keluar dari mobil dengan gerakan anggun namun sangat cepat. Salah satu anggota penjahat yang memegang pipa besi langsung berlari mendekati Vanya, mengira wanita bergaun simpel itu adalah mangsa empuk yang mudah dijadikan sandera.
"Serahkan wanita itu!" teriak si penjahat sambil mengayunkan pipa besinya ke arah bahu Vanya.
Vanya bahkan tidak berkedip. Dalam mode bertarung, otaknya bekerja dalam hitungan milidetik.
Ia memiringkan tubuhnya sedikit ke kanan, membiarkan pipa besi itu meleset menabrak angin. Sebelum si penjahat menyadari apa yang terjadi, Vanya melangkah masuk ke area jarak dekat, menggunakan telapak tangannya untuk menghantam dagu pria itu dengan gaya *palm strike* yang sangat presisi!
*Brak!*
Pria berbadan besar itu langsung pingsan di tempat dengan rahang tergeser.
Vanya dengan mulus menangkap pipa besi yang terlepas di udara, memutarnya di jemarinya dengan lihai, lalu melakukan tendangan memutar yang mengenai dada penjahat kedua yang mencoba mendekat!
*Krak!*
"Aaargh!"
Hanya dalam waktu kurang dari lima belas detik, dua penjahat roboh di atas aspal tanpa sempat menyentuh gaun Vanya sedikit pun.
Pengawal Adrian yang baru saja melompat keluar dari mobil belakang mematung di tempat. Mereka ternganga menyaksikan Nona Muda keluarga Valeria—wanita yang dilaporkan sangat lemah dan penakut—sedang berdiri santai sambil memutar-mutar pipa besi di tangannya bak seorang profesional.
Adrian yang keluar dari mobilnya berdiri membatu. Matanya menangkap setiap gerakan Vanya yang serba cepat, efisien, dan mematikan. Tidak ada keraguan, tidak ada ketakutan. Gerakan itu adalah hasil latihan bertahun-tahun dalam seni membunuh.
"Siapa lagi yang mau maju?!" tantang Vanya secepat senapan mesin, memutar pipa besi itu ke arah sisa penjahat. "Cepat! Aku mau mandi dan tidur, jangan buang-buang waktuku!"
Sisa penjahat yang melihat rekannya tumbang dalam hitungan detik langsung ciut. Mereka menyeret teman-teman mereka yang pingsan dan buru-buru masuk kembali ke dalam SUV, lalu tancap gas melarikan diri dari tempat kejadian.
"Pengecut," cibir Vanya sambil melempar pipa besi itu ke pinggir jalan dengan santai.
Ia berbalik, hendak berjalan kembali menuju mobil Adrian dengan gaya bak pahlawan yang menang perang. Namun, sifat ceroboh jiwanya yang mendadak muncul saat ketegangan mereda kembali membawa petaka.
Tumit sepatu *heels* yang dikenakannya tersangkut di celah lubang saluran air di tepi jalan.
"Waaa!"
Vanya hilang keseimbangan total dan tubuhnya meluncur jatuh ke depan!
*Greb!*
Untuk ketiga kalinya dalam semalam, Adrian berhasil menangkap tubuh Vanya. Kali ini, Adrian mendekapnya erat, menahan dada Vanya di pelukannya agar tidak menghantam aspal.
Keheningan kembali melingkupi jalanan sepi itu.
Vanya menengadah, mendapati wajah Adrian yang berjarak hanya beberapa senti dari wajahnya. Mata gelap pria itu menatapnya dengan intensitas yang begitu kuat hingga dada Vanya berdesir aneh.
"Mematikan saat bertarung, tapi tersandung lubang jalanan saat berjalan biasa," suara Adrian bergetar pelan, ada nada geli sekaligus ketertarikan yang sangat mendalam dalam suaranya. "Istriku... rahasia apa lagi yang kamu sembunyikan dariku?"
Vanya buru-buru berdiri tegak, merapikan gaunnya dengan wajah yang mendadak memerah panas.
"I-itu gara-gara hak sepatunya kepanjangan! Lagipula jalanan kota ini buruk sekali pembangunannya!" elak Vanya secepat kilat, bicaranya yang serba cepat berusaha menutupi rasa malu akibat kecerobohannya sendiri. "Sudah ah! Cepat jalan! Jangan senyum-senyum begitu, kelihatannya aneh tahu!"
Vanya langsung masuk kembali ke dalam mobil dan menutup pintunya dengan keras.
Adrian berdiri di luar mobil, mendengus kekeh pelan—sebuah tawa kecil yang belum pernah didengar oleh para pengawalnya selama bertahun-tahun. Sang CEO berdarah dingin itu menyapu jasnya, lalu melangkah masuk ke dalam mobil.
Malam ini, Adrian sadar bahwa pernikahan formalitasnya yang membosankan telah berubah menjadi permainan paling berbahaya dan menarik dalam hidupnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
TBC ❤️🥰😘