Di balik jubah dakwahnya sebagai ustadz muda karismatik, Musa menyimpan rahasia besar sebagai mafia yang disegani. Selama setahun, ia terus bayangi sosok wanita misterius yang pernah mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkannya dari jebakan musuh sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak.
Titik terang muncul ketika orang tua Musa, Kyai Adam dan Umi Sinta menjodohkannya dengan Musdalifah, putri seorang sahabat. Namun, kejutan besar menanti: wanita misterius yang dicarinya selama ini ternyata adalah Laila, adik kandung Musdalifah. Tanpa ragu, Musa menolak Musdalifah dan menuntut untuk menikahi Laila. Decision nekat itu tidak hanya memicu rasa sakit hati dan dendam Musdalifah, tetapi juga menyeret mereka ke dalam konflik keluarga yang sengit, dibayangi oleh rahasia masa lalu serta bahaya dari dunia kelam Musa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Suasana di dalam gudang tua itu berubah menjadi mimpi buruk yang mencekam.
Di tengah ruangan yang hanya diterangi satu lampu gantung berayun, dekorasi kain putih yang dipasang acak-acakan terlihat seperti kain kafan yang membentang.
Nakula kembali muncul dari balik bayangan. Langkah kakinya berderap berat di atas lantai beton yang berdebu.
Ia mengenakan setelan jas hitam rapi, tampak sangat kontras dengan situasi mengerikan di sekelilingnya.
Di tangannya, sebuah kotak kecil beludru merah dibuka—memamerkan cincin berlian berkilau dingin.
"Waktunya tiba, Sayang," ucap Nakula dengan senyum tipis yang mengerikan.
Ia mendekati Laila dan merobek kasar sumpalan kain di mulut wanita itu.
"Jangan mendekat, bajingan!" teriak Laila dengan suara parau, napasnya memburu.
Air matanya mengalir deras, namun pendar mata gadis itu menyala penuh perlawanan.
"Sampai mati pun aku tidak akan sudi menjadi istrimu!"
Nakula sama sekali tidak bergeming. Ia mencengkeram dagu Laila dengan kuat, memaksa wanita itu mendongak menatap wajahnya.
"Kamu tidak punya pilihan, Laila. Suamimu yang berandal itu sebentar lagi tiba, dan dia hanya akan datang untuk menyaksikan hari penyatuan kita, sebelum peluru menembus kepalanya."
Tanpa memedulikan rontaan hebat dan jeritan penolakan Laila, Nakula menarik paksa tangan kiri gadis itu yang masih terikat di sandaran kursi.
Dengan gerakan keji, ia memaksa menyarungkan cincin perak itu ke jari manis Laila yang terus berontak mencengkeram kepalan tangannya sendiri.
"Dengan ini, di hadapan sunyinya malam dan kehancuran suamimu, aku nyatakan kamu sah menjadi milikku, Laila!" bisik Nakula tepat di telinga Laila, tertawa kecil dalam delusi gilanya.
Laila menangis histeris, meronta hingga pergelangan tangannya lecet dan berdarah akibat gesekan tali yang kasar.
Musa, cepatlah datang. batin Laila menjerit dalam keputusasaan yang teramat sangat.
Namun, di saat Nakula hendak mendekatkan wajahnya untuk mencium paksa kening Laila, suara dentuman keras tiba-tiba mengguncang malam.
BARRR!
Pintu besi utama gudang tua itu hancur berkeping-keping, diterjang dari luar.
Asap mengepul tebal, disusul deru puluhan mesin kendaraan berat yang mengepung bangunan.
Dari balik kabut debu dan sorot lampu tajam kendaraan, siluet seorang pria berjas panjang dengan pendar mata membara melangkah masuk. Aura kematian menyelimuti setiap langkahnya—Musa telah tiba.
Lampu gantung di langit-langit gudang berayun makin kencang, memantulkan bayangan-bayangan mencekam di atas ubin beton yang berdebu.
Suasana di dalam bangunan tua itu seketika pecah saat puluhan pria bersenjata milik sindikat Scorpion muncul dari balik pilar-pilar besi, langsung melepaskan tembakan beruntun ke arah pasukan Musa!
DOR! DOR! DOR! BARRR!
Baku tembak sengit meledak hebat. Kilatan api menyambar kegelapan gudang, diiringi dentuman peluru yang merontokkan dinding batu bata dan memecahkan sisa-sisa kaca jendela.
Pasukan pribadi Musa bergerak cepat membentuk formasi perlindungan, membalas serangan lawan dengan presisi mematikan.
Di tengah kepulan asap mesiu dan kekacauan pertempuran, sosok tinggi berjaket kulit hitam melangkah perlahan keluar dari bayangan utama.
Pria itu menyunggingkan senyum dingin, lalu perlahan mengangkat wajahnya—memamerkan tato kalajengking pekat yang membentang dari leher hingga rahang kirinya.
Langkah Musa terhenti seketika. Pendar matanya membelalak lebar, diliputi rasa terkejut yang teramat sangat. Senjata di genggamannya bergetar pelan.
"Zafar?! Bukankah kamu, sudah mati?!" bisik Musa dengan suara bergetar tak percaya.
Pria bertato kalajengking itu terkekeh sinis, tatapannya menyala penuh dendam yang telah membatu belasan tahun.
"Iya, Musa. Zafar yang dulu penuh belas kasih memang sudah mati! Dan, akulah yang membunuhnya!"
Dendam membara di dada Zafar meledak. Selama ini, Zafar menyimpan kesalahpahaman fatal dari masa lalu mereka.
Ia percaya Musa telah mengkhianati dan meninggalkannya dalam kepungan musuh hingga ia sekarat dan dikira tewas.
Padahal, kenyataannya Musa tidak pernah melarikan diri—Musa bertaruh nyawa kembali ke lokasi pembantaian, menunggu dan mencari keberadaan Zafar berturut-turut di tengah hujan peluru hingga pertumpahan darah berakhir.
Namun Zafar yang telanjur diselamatkan pihak lawan kini hanya memelihara kebencian gila.
"Kamu meninggalkanku membusuk, Musa!" jerit Zafar murka di tengah deru tembakan.
Di saat perhatian Musa sepenuhnya teralih dan lengah oleh kejutan sosok Zafar—
DOR!!
Sebuah tembakan telak meletup dari samping. Nakula, yang memanfaatkan kekacauan itu, mengarahkan moncong pistolnya dan melepaskan tembakan tepat ke tubuh Musa!
Musa tersentak hebat. Darah segar menyembur membasahi kemeja hitamnya saat tubuhnya limbung dan roboh ke tanah.
"TIDAKKK!" jerit Laila histeris.
Dengan sisa tenaga dan genggaman tali yang mengendur akibat rontaan sebelumnya, Laila berhasil melepaskan diri dari kursi.
Tanpa peduli pada bahaya, ia berlari nekat menerobos hujan peluru menuju arah suaminya yang tergeletak.
"BOM ASAP!" teriak Yusuf nyaring.
CSHHH! CSHHH!
Yusuf melemparkan beberapa granat asap militer ke tengah area pertempuran.
Dalam hitungan detik, kabut putih tebal yang memedihkan mata membumbung tinggi, membutakan pandangan Nakula dan pasukan Zafar secara total.
Dengan gerak cepat dan sigap, Yusuf dan pengawal intinya menerobos asap, menyambar tubuh Musa yang bersimbah darah serta merengkuh Laila ke dalam perlindungan taktis.
Mereka dengan cepat mengevakuasi keduanya keluar dari area inti gudang menuju mobil lapis baja yang sudah bersiap di luar.
Sementara itu, di sudut gudang yang terkepung asap, Musdalifah yang terikat di pilar menjerit histeris dalam keputusasaan.
"Tolong! Tolong selamatkan aku! Jangan tinggalkan aku di sini!"
Sebelum Musdalifah sempat melarikan diri, sebuah tangan kekar bertato kalajengking mencengkeram lengannya dengan kasar.
Zafar menyeret Musdalifah tanpa ampun menuju pintu belakang gudang.
"Diam!" bentak Zafar dingin, lalu melempar tubuh Musdalifah yang menangis ketakutan ke dalam bagasi mobilnya sebelum meluncur kencang membelah kegelapan malam.
Di dalam mobil lapis baja yang memacu kencang membelah kegelapan malam, suasana terasa begitu menegangkan dan sarat kepanikan.
Suara sirine pengawalan mengaung di luar, sementara di dalam kabin, Laila menangis histeris melihat darah segar terus mengucur deras dari dada Musa.
Tanpa berpikir panjang, Laila menarik dan merobek sebagian kain pakaian bagian bawahnya.
Dengan jemari bergetar hebat, ia melilitkan sebagian kain tebal itu pada luka tembak Musa untuk menahan pendarahan, lalu mengikat sisanya mengelilingi wajahnya sebagai pengganti cadarnya yang telah hilang.
Musa yang terkulai lemah dalam pangkuan Laila perlahan membuka matanya yang kuyu. Pendar matanya membias kerinduan dan rasa syukur yang mendalam.
"K-kamu,menyelamatkanku lagi, Sayang." bisik Musa parau, napasnya tersengal menahan rasa sakit yang luar biasa.
Laila menahan isak tangisnya, meraih jemari tegap suaminya yang dingin lalu mencium lembut punggung tangan Musa.
"Bertahanlah, Musa. Aku mohon, bertahanlah demi aku!"
Dengan cepat, Laila merogoh ponsel Yusuf dan langsung menghubungi Perawat Tika di rumah sakit.
"Tika! Siapkan ruang operasi darurat dan tim bedah sekarang juga! Suamiku terkena luka tembak di dada, pendarahan hebat! Aku ingin semua instrumen steril saat kami tiba dalam lima menit!" tegas Laila dengan nada komando yang presisi.
Begitu mobil berhenti di depan ruang gawat darurat, pasukan pribadi Musa langsung membopong tubuh pimpinan mereka ke atas brankar dan mendorongnya cepat menuju ruang operasi.
Di depan pintu ruang bedah, Dokter Hadi—ahli bedah senior—mencegat Laila yang hendak menerobos masuk dengan pakaian berlumur darah.
"Laila, tunggu! Kamu tidak boleh mengoperasi pasien yang punya ikatan emosional setertutup ini! Dia suamimu, kondisi psikologis dokter akan sangat membahayakan keselamatan pasien!" larang Dokter Hadi tegas.
Laila menatap Dokter Hadi dengan mata berkaca-kaca namun memancarkan tekad bulat yang tak tergoyahkan.
"Saya seorang dokter spesialis bedah, Dokter Hadi! Saya tahu risikonya, tapi tidak ada yang lebih paham anatomical trauma Musa melebihi saya! Tolong, beri saya izin menyelamatkan suami saya sendiri!"
Dokter Hadi membeku menatap pendar mata Laila yang penuh ketegasan profesional.
Setelah menghela napas panjang, ia akhirnya menganggukkan kepala.
"Baik. Tapi saya dan tim akan mendampingi penuh di dalam."
Laila tak membuang waktu. Ia segera melangkah cepat menuju ruang steril, mengganti pakaiannya dengan gaun bedah hijau, memasang masker, serta mencuci tangannya sesuai standar medis.
Di dalam ruang operasi yang dingin beraroma antiseptik pekat, monitor vital sign berbunyi bip berulang kali dengan irama yang kian melemah.
Dokter anestesi dengan sigap menyuntikkan obat bius total, membuat Musa perlahan menutup matanya sepenuhnya.
Laila mengambil posisi di samping meja operasi. Di bawah sorotan lampu bedah utama yang menyilaukan, ia memegang scalpel (pisau bedah) dengan tangan yang kini berubah sangat tenang dan fokus.
"Lampu fokuskan ke area dada kiri. Suction siap," perintah Laila dingin dan presisi.
Garis insisi pertama dibuat. Suara denting instrumen logam, desis mesin penyedot darah, dan irama monitor yang naik-turun menciptakan atmosfer mencekam di dalam ruangan.
Jemari Laila bergerak lihai memotong jaringan, mengklem pembuluh darah yang pecah, dan mencari keberadaan proyektil peluru yang bersarang di dekat organ vital suaminya.
Sementara itu, di lorong luar ruang operasi, suasana tak kalah tegang.
Kyai Adam, Umi Sinta, Kyai Adi, dan Umi Mina berlari tergesa-gesa menyusuri koridor dengan raut wajah pucat pasi dan penuh penyesalan.
Melihat Yusuf yang berdiri tegap menjaga pintu besi ruang operasi bersama puluhan pengawal bersenjata, Umi Sinta langsung mendekat dengan tangis yang pecah.
"Yusuf! Bagaimana keadaan Musa?! Bagaimana anakku?!" isak Umi Sinta histeris.
Yusuf menundukkan kepalanya dalam-dalam, menatap keluarga besar itu dengan pendar mata serius.
"Bos Musa sedang dalam kondisi kritis akibat luka tembak di dada. Dan, saat ini, Umi Laila sendiri yang sedang memimpin operasi di dalam untuk mencabut peluru itu."
😒😒😒😒😒🥱🥱🥱
makany jgn coba2 ngusik umi Laila ,,
jd hancur lebur kn Hrga diri kalian ,, 😏😏😏😏😏
umi Sinta bisa menerima Laila dg baik ,,
bisa2 ny pak kiyai nikahin perempuan model gtuu ,,
semangat Musa berantas semua org2 yg udh nyakitin Laila ,,
sedangkan Nakula ny B aj ,, 🤭🤭🤣🤣🤣🤣🤣
msh aj di pilih ,, buka mata mu lebar2 umiiiiii