Olivia seorang penyanyi, karirnya semakin bersinar setelah mendapat warisan bros dari sang nenek yang dulunya juga seorang sinden terkenal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindia Andin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
hari pertama di rumah nenek
Olivia damayanti anak semata wayang. Gadis belia memiiki suara emas, almarhum kedua orang tuanya selalu mendukung hobi Olivia sampai mengikuti berbagai macam lomba.
sore hari sepulang dari sekolah rumah Olivia dikerumuni banyak orang
"ada apa ini?" Olivia berusaha menerobos kerumunan orang-orang Itu
"permisi..." Olivia sampai di pintu rumahnya, berdiri 3 orang berseragam polisi di depan pintu
"ada apa ini? " teriak Olivia
"via... bapak ibumu" ujar salah satu tetangga
"ibuk?" Olivia menerobos polisi di depan pintu itu
Olivia mendapati bu santi terkapar bersimbah darah di sofa ruang tamu
"ibuukkkkk.... " Olivia berusaha mendekati ibunya namun di cegah salah satu polisi
"lepas... lepas.. itu ibuku... " teriak Olivia menangis melihat keadaan ibunya. Olivia menoleh kedalam kamar.
"bapak... pak.. " Olivia kembali menerobos kerumunan orang - orang.
"bapak.. bapak.... " teriak Olivia terkejut melihat pak oki gantung diri di ventilasi udara kamar, lidah pajangnya terjulur keluar. Olivia menutup matanya
"pak... buk.... " Olivia jatuh pingsan
Beberapa orang menolong Olivia, mengoleskan minyak kayu putih di hidung dan perutnya
mata Olivia kembali terbuka, dirumahnya semakin banyak orang yang berkerumun
Hari itu menjadi hari yang baru untuk Olivia, di tinggal oleh kedua orang tuanya dengan kondisi yang tidak wajar
******
Satu bulan sepeninggal kedua orang tuanya, Olivia sudah tidak sanggup hidup di rumahnya itu.
"via ikut nenek pulang ya" nek Marni merayu Olivia agar ikut pulang dengannya
"iya nek" Olivia mengemasi barang-barangnya
6 jam mereka tempuh dari rumah orang tua Olivia sampai di rumah nek Marni. rumah berlantai marmer tapi berbangunan Tua. jika siang hari rumah nek Marni asri, berada di depan persis area persawahan
"semoga kerasan disini. temani nenek ya" ucap nek Marni
Olivia dan nek Marni hubungannya tidak terlalu dekat, kedua orang tuanya jarang mengajak ke rumah neneknya itu
Olivia masuk kedalam rumah tua itu, auranya dingin, benar-benar rumah dengan suasana pedesaan
Olivia mengikuti nek Marni
"ini kamarmu, kamar nenek di sebelah mu" ucap nek Marni mengantar Olivia masuk kedalam kamar yang kini menjadi miliknya
Olivia masuk kedalam dan melihat sekeliling kamar. Olivia membuka jendela kamarnya, angin segar masuk kedalam kamar itu
"nek... Lampunya mati" ucap Olivia
"iya, nanti biar di betulin tejo"
"mas tejo itu siapa nek?"
" tejo itu yang biasa bantu do rumah ini"
"owww... " Olivia mulai mengeluarkan semua baju-bajunya
"nenek tinggal masak ya. kalau sudah selesai bantu nenek"
"iya nek" Olivia pernah kerumah nek Marni tapi kali ini dia akan tinggal cukup lama
Setelah mengemasi semua baju-bajunya, Olivia keluar dari kamar.
"nek... ini lantainya dari marmer?" tanya Olivia
"iya.. enak to. adem" ujar nek mirna
"aku bantu nek. mau masak apa?"
"masak yang gampang-gampang aja via. kalau tejo belum datang. nanti tidur dikamar nenek dulu ya"
"iya nek"
*****
waktu semakin gelap Olivia berada di ruang TV
"nek.. kalau tidur di tempat yang baru itu biasanya ndak bisa tidur"
"Lama-lama kan terbiasa" ujar nek Marni sama-sama Menonton acara televisi itu
"nenek disini sendiri ndak takut?"
"takut kenapa? rumah sendiri kok takut"
"aku lama ndak kesini ya nek"
"lama.. ya bapakmu itu ndak ngajak kamu kesini"
malam semakin larut. Olivia masuk kedalam kamar neneknya itu
Nek Marni menutup semua pintu rumahnya
"ini foto nenek?" ujar Olivia melihat figura berisi sebuah foto nek marni
"cantik?"
"cantik banget nek.. puji Olivia melihat gambar nek Marni memakai baju maron
"ini juga nenek?" Olivia mengambil satu bingkai foto dari atas meja kamar nek Marni
"itu waktu nenek jadi sinden dulu"
"wahhh... suara nenek pasti bagus kan?" puji Olivia
"bagus donk. mau dengar?"
"mau nek... "
"besok aja ya. nenek ngantuk"
"ah nenek... "
"ayo tidur" ajak nek Marni merebahkan tubuhnya
Olivia menyusul nek marni, tidur di samping nek Marni
"nek... kenapa bapak setega itu ke ibuk ya?"
"jangan di tangisi terus via, itu sudah menjadi takdir kedua orang tuamu"
"tapi kenapa ibuk sampai selingkuh nek"
"jika ibumu selingkuh pasti ada sebabnya via"
Olivia masih belum bisa melupakan ibunya tak bernyawa bersimbah darah
"tidur yuk" ajak nek Marni
Olivia memejamkan matanya, ingin sekali segera tidur tapi tetap tidak bisa
Olivia memasang handsfree pada telinganya, mendengarkan lagu mellow pengantar tidur
*****
Keesokan harinya Olivia bangun ketika matahari sudah terik
keluar kamar mencari keberadaan neneknya itu. nek Marni menimba air di sumur yang berada di antara dapur dan kamar mandi
"aku bantu nek" ucap Olivia mengambil alih timba dari tangan nek Marni
"pompanya rusak via. biar nanti suruh tejo benahi sekalian
"kenapa ndak bangunin aku nek"
"nenek kasian lihat kamu, semalam sepertinya sulit tidur"
"iya nek... di mata ku ini masih terbayang ibuk"
"sabar.. pelan-pelan pasti akan hilang sendiri"
Olivia menimba air untuk memenuhi gentong air minum sambil menyanyi pelan
"suaramu bagus"
"iya nek. seharusnya kemarin aku ikut audisi di surabaya nek"
"jangan sedih. nenek yakin kamu akan menjadi penyanyi terkenal"
"aamiin... " ucap Olivia
Nek Marni menyanyikan sebuah tembang Jawa, suaranya merdu
"wah sudah terjawab dari mana asal suaraku ini nek"
"dari mana? dari nenek?"
"iya... walaupun sudah tua, suara nenek masih merdu"
Nek Marni melanjutkan tembangnya
Setelah dirasa cukup mengisi gentong air, Olivia membersihkan tubuhnya sambil terus bernyanyi
"nek.. siapa itu?" tejo datang dari arah pintu belakang rumah nek Marni
"cucuku jo... enak yo suaranya?"
"iya nek"
Nek Marni menyuruh tejo mengganti lampu di kamar Olivia
"setelah ganti lampu, tolong benerin pompa air ya jo"
"siap nek"
Tejo mengambil stock lampu di dalam bufet
"suweger nek" ucap Olivia keluar dari kamar mandi
Olivia masuk kedalam kamarnya "auuwww... " Olivia terkejut melihat tejo didalam kamarnya. hampir saja handuk yang melilit tubuhnya
Olivia keluar lagi
"sudah mbk" ucap tejo kembali ke dapur
"nek... itu cucu nenek?"
"iya.. kenapa? cantikkan?"
"cantik banget nek... mulus"
"neneknya aja secantik ini, cucunya ya pasti cantik"
"cantik.. suaranya bagus, bodi mulus. komplit nekkk" ucap tejo sambil mendongak ke dalam rumah
"ngiler... ngiler... wis jangan ngomong terus. benahin pompa"
tejo mulai mengangkat pompa air itu dari dalam sumur. tak lama kemudian Olivia datang
"nek.. kok ndak bilang kalau ada mas tejo"
"nenek lupa"
"hampir aja handuk ku lepas nek" ucap Olivia sambil melihat tejo
"kenalkan.. saya tejo mbak" tejo mengulurkan tangganya
"Olivia... panggil saja via"
tejo melanjutkan pekerjaannya
"nek. ini harus ganti pompa" ujar tejo menunjukkan pompa sudah rusak parah
"minta tolong belikan ya jo" ucap nek Marni sambil mengeluarkan sejumlah uang
"aku ikut" ucap Olivia
"panas lho mbak. nanti kalau hitam bagaimana?"
"pakai jaket" ujar Olivia mengambil jaket dari kamarnya
setelah berpamitan dengan nek Marni. Olivia pergi dengan tejo mengendarai motor
"mbak via masih sekolah?"
"sudah lulus mas.. "
obrolan ringan antara tejo dan Olivia selama dalam perjalanan.
tejo biasanya tidak diperhatikan ketika lewat, kini hampir semua mata tertuju pada tejo dan Olivia.