Ranti merasa hidupnya sempurna. Suaminya, Sony, adalah pria idaman—penyayang, sukses, dan setia. Bahkan, Ranti begitu percaya pada Sony hingga tak pernah sekalipun menaruh curiga.
Namun, kebahagiaan itu hancur dalam sekejap. Kejadian tak terduga mengungkap kenyataan pahit. Ternyata menyimpan makna lain yang menyakitkan. Nama Raya, guru TK anak mereka.
Kekecewaan dan pengkhianatan mengguncang dunia Ranti. Kebohongan Sony selama ini tak hanya menghancurkan biduk rumah tangga mereka, tapi juga persahabatan Ranti dengan Raya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: RINDU ANANDA
Suasana akhir pekan di lantai atas apartemen Ranti terasa sunyi dan dingin. Di dalam kamar anak yang bernuansa biru lembut, Bima duduk di tepi ranjangnya, memangku sebuah robot rakitan yang salah satu tangannya mulai longgar. Sudah hampir satu jam anak laki-laki berusia lima tahun itu hanya menatap jendela kamar tanpa memainkan mainannya.
Ranti berdiri di ambang pintu, memperhatikan putranya dengan dada yang terasa teriris. Ranti tahu persis apa yang sedang mengganggu pikiran Bima. Sejak kepindahan mereka dan bergulirnya badai hukum yang menutup rapat akses Sony ke kehidupan mereka, Bima tak pernah lagi bertemu ayahnya secara langsung.
Ranti melangkah masuk, lalu berlutut di samping ranjang Bima. Ia mengelus lembut pipi gembul putranya.
"Sayang... kok mainannya dipegang saja? Bima mau Mama ambilkan mobil-mobilan yang baru?" tanya Ranti dengan nada suara sehangat mungkin.
Bima mendongak, matanya yang bulat jernih menatap Ranti dengan pendar kerinduan yang polos dan jujur. Tatapan mata yang begitu mirip dengan bentuk mata Sony.
"Mama..." cicit Bima pelan, jarinya meremas ujung baju kaosnya. "Papa kapan pulang? Bima kangen sama Papa... Papa kok sudah lama tidak tidur di sini? Waktu Bima ulang tahun kemarin Papa kan janji mau rakit robot ini bareng-bareng..."
Pertanyaan sederhana itu menghantam ulu hati Ranti. Ada gelombang emosi yang mendadak bergejolak di dalam dadanya—campuran antara kepedihan untuk Bima dan rasa benci yang pekat terhadap Sony. Pria itu bukan hanya mengkhianati pernikahan mereka, tetapi juga telah merampas keceriaan polos dari anak kandungnya sendiri.
Ranti menarik napas dalam-dalam, menguasai getaran di dadanya. Ia tersenyum tipis, merapikan poni rambut Bima.
"Bima... Mama kan sudah pernah cerita, Papa sekarang sedang banyak pekerjaan dan tinggal di rumah Nenek," tutur Ranti berusaha menata kalimat agar tidak menanamkan kebencian di pikiran anak sekecil Bima.
"Tapi Bima mau ketemu Papa, Ma..." air mata Bima mulai menggenang di pelupuk matanya. "Cuma sebentar saja... Bima mau kasih lihat robot yang sudah Bima benerin sendiri. Ya, Ma? Sabtu ini Bima boleh ketemu Papa?"
Ranti membisu. Tenggorokannya terasa kaku. Setiap sel di dalam tubuhnya menolak keras gagasan untuk berada di satu ruangan atau bahkan berjarak beberapa meter dari Sony. Rasa sakit dari pengkhianatan di atas ranjangnya sendiri telah membuat Ranti mengubur rapat-rapat nama pria itu. Membayangkan wajah Sony saja sudah cukup untuk memicu rasa mual yang hebat di perutnya.
Aku tidak akan pernah bersedia menatap muka pria itu lagi, batin Ranti membaja. Sampai kapan pun, aku tidak sudi menemuinya.
Namun, saat melihat linangan air mata di pipi Bima, tembok ketegasan Ranti luluh untuk urusan perasaan putranya. Ia tahu Bima tidak bersalah dalam peperangan orang dewasa ini.
"Nanti Mama pikirkan ya, Sayang..." bisik Ranti pelan, mengusap air mata di pipi Bima lalu memeluk tubuh kecil itu erat-erat.
Malam harinya, Ranti mengundang Tasya dan Hendra ke apartemennya. Di ruang tengah, setelah Bima tertidur pulas, Ranti duduk berhadapan dengan pasangan suami istri tersebut.
"Sya, Mas Hendra... aku butuh bantuan kalian," Ranti membuka pembicaraan, suaranya terdengar sangat lelah namun penuh ketegasan.
Tasya memegang tangan Ranti. "Ada apa, Ti? Bilang saja. Soal persiapan sidang hari Senin nanti?"
"Bukan," Ranti menggeleng pelan. "Ini soal Bima. Tadi sore dia menangis... dia sangat merindukan Sony. Dia minta bertemu Sabtu ini sebelum sidang perceraian dimulai."
Tasya menghela napas panjang, menatap suaminya sejenak. "Lalu, kamu mau mengizinkan mereka ketemu?"
"Aku tidak ingin merampas hak Bima untuk melihat ayahnya, Sya. Bagaimanapun jahatnya Sony padaku, Bima masih sangat polos," kata Ranti, matanya bergetar menahan gejolak emosi. "Tapi aku... aku tidak sanggup, Sya. Aku tidak akan pernah bersedia bertemu dengan laki-laki yang sudah menghancurkan hidupku itu. Menatap mukanya saja aku tidak mau."
Hendra yang duduk bersandar di sofa mengangguk paham. Sebagai pengacara yang menangani kasus ini dari awal, Hendra sangat mengerti sedalam apa luka batin yang dirasakan Ranti.
"Aku mengerti posisi kamu, Bu Ranti," ujar Hendra tenang dan berwibawa. "Secara hukum dan psikologis, sangat tidak disarankan bagi Anda untuk bertemu langsung dengan pihak tergugat di luar koridor persidangan, apalagi jelang agenda putusan hari Senin. Itu hanya akan menguras energi emosional Anda."
"Jadi bagaimana, Mas?" tanya Ranti.
"Biarkan aku dan Tasya yang mengantar Bima Sabtu besok," potong Tasya cepat tanpa ragu. "Kami yang akan dampingi Bima bertemu Sony di tempat netral. Kamu tinggal di rumah saja, istirahat dan tenangkan pikiranmu."
Ranti menatap Tasya dan Hendra dengan rasa haru yang membuncah. "Kalian serius? Apa tidak merepotkan kalian?"
"Astaga, Ranti! Kamu ini bicara apa sih?" omel Tasya gemas seraya menepuk pelan punggung tangan Ranti. "Kita ini sudah seperti saudara. Bima itu juga keponakan kami. Mas Hendra juga sekalian bisa mengawasi agar Sony tidak macam-macam atau mencoba mempengaruhi Bima."
"Benar," tambah Hendra. "Aku akan atur lokasinya di playground pusat perbelanjaan yang ramai dan aman. Pertemuan dibatasi maksimal dua jam. Setelah itu, Bima langsung kami bawa pulang kembali padamu."
Ranti menghembuskan napas lega yang sangat panjang. Beban berat yang menggelayuti dadanya sejak sore tadi seketika terangkat. "Terima kasih banyak ya, Sya, Mas Hendra... Aku tidak tahu harus membalas kebaikan kalian seperti apa."
Sabtu Siang – Restoran dan Area Bermain Anak
Suara riuh anak-anak yang berlarian beradu dengan alunan musik lembut di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta Pusat. Di sudut restoran keluarga yang tenang, Sony duduk menunggu di sebuah meja bundar.
Kondisi fisik Sony tampak sangat memprihatinkan. Kemeja longgar berwarna biru tua yang ia kenakan tak mampu menyembunyikan tonjolan balutan perban di bahu dan lehernya. Wajahnya tirus, lingkar hitam tebal menghiasi bawah matanya yang sayu, dan gerakannya tampak kaku menahan nyeri yang belum sepenuhnya hilang dari jaringan kulitnya yang melepuh.
Ketika ia melihat Hendra dan Tasya berjalan mendekat seraya menggandeng Bima, mata Sony seketika berbinar basah.
"Bima!" seru Sony parau, mencoba bangkit dari kursinya dengan tergesa-gesa hingga ia meringis kesakitan akibat tarikan perban di dadanya. "Aww..."
"Papa!" jerit Bima gembira, melepaskan pegangan tangan Tasya dan berlari kecil mendekati ayahnya.
Sony berlutut dengan sebelah kaki, merengkuh tubuh Bima ke dalam pelukannya. Air mata pria itu menetes deras membasahi bahu baju anak laki-lakinya. Rasa rindu, penyesalan, dan kehancuran diri menumpuk menjadi satu di dalam dadanya.
"Bima... Papa kangen banget sama kamu, Nak..." tangis Sony pecah, mencium puncak kepala dan pipi Bima bertubi-tubi.
"Bima juga kangen Papa!" sahut Bima ceria, memamerkan robot mainan di tangannya. "Lihat Pa! Bima sudah bisa pasang tangan robotnya sendiri!"
Sony tersenyum getir, mengusap air matanya dengan tangan kiri. Pandangannya kemudian terangkat, mencari-cari sosok yang sangat ia harapkan hadir di belakang Tasya dan Hendra. Namun, koridor di belakang mereka kosong.
Raut wajah Sony seketika berubah kusam dan kecewa.
"Ranti... Ranti mana, Mas?" tanya Sony pada Hendra dengan suara gemetar dan penuh harapan yang pupus. "Dia... dia tidak ikut?"
Tasya menyilangkan kedua tangannya di dada, menatap Sony dengan pandangan dingin dan jijik. "Ranti tidak sudi bertemu denganmu, Sony. Jangan bermimpi dia mau menginjakkan kaki di tempat yang ada kamunya."
Sony menelan ludah dengan susah payah, rasanya amat menyengat di kerongkongan. "Sya... tolonglah... aku cuma mau bicara sebentar saja sama Ranti. Aku mau minta maaf secara langsung..."
"Sudah terlambat, Saudara Sony," sela Hendra tegas seraya melihat jam tangannya. "Kehadiran kami di sini murni untuk memfasilitasi kerinduan Bima pada ayahnya. Ranti menyerahkan sepenuhnya urusan ini pada kami. Anda punya waktu tepat dua jam untuk bersamanya. Tolong manfaatkan dengan baik dan jangan menanyakan hal-hal yang tidak perlu pada anak di bawah umur."
Sony menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyembunyikan wajahnya yang merah padam oleh rasa malu dan bersalah. Ia menyadari sepenuhnya bahwa Ranti telah benar-benar menutup pintu maaf dan keberadaannya secara mutlak. Bagi Ranti, Sony sudah dianggap mati.
Selama dua jam berikutnya, Sony mencoba memberikan perhatian terbaiknya untuk Bima. Ia menemani Bima merakit mainan, memesankan makanan kesukaan anaknya, dan mendengarkan cerita-cerita polos Bima tentang sekolah barunya. Namun di balik tawa kecil yang dipaksakan, hati Sony terus teriris. Ia sadar bahwa momen-momen hangat ini mungkin adalah sisa-sisa terakhir dari perannya sebagai seorang ayah sebelum status hukumnya dicabut secara resmi.
Tepat pukul dua siang, Hendra mengetukkan jarinya di meja. "Waktu sudah habis, Sony. Kami harus membawa Bima pulang."
Bima menatap ayahnya dengan raut wajah agak sedih. "Papa tidak ikut pulang ke rumah baru Bima?"
Sony menggigit bibir bawahnya erat-erat, menahan tangis yang hendak meledak di depan putranya. Ia berlutut kembali, memegang kedua bahu Bima dengan tangan gemetar.
"Belum bisa, Sayang..." bisik Sony dengan suara parau. "Bima... Bima penurut ya sama Mama. Janji sama Papa, Bima harus jadi anak yang pintar dan jaga Mama baik-baik... ya?"
"Iya, Papa! Bima janji!" jawab Bima polos, memeluk leher Sony untuk terakhir kalinya.
Tasya mengambil alih menggandeng tangan Bima. Tanpa mengcapkan satu kata pun pada Sony, Tasya membalikkan badan dan berjalan menjauh. Hendra menatap Sony sejenak dengan pandangan profesional yang kaku.
"Sampai bertemu di ruang sidang Pengadilan Agama hari Senin besok, Saudara Sony. Agenda pembacaan putusan akhir perceraian dan pengesahan hak asuh anak," ujar Hendra dingin sebelum berbalik menyusul istri dan Bima.
Sony terduduk lemas di kursinya, memandangi punggung anak kandungnya yang perlahan menghilang di balik kerumunan pengunjung mal. Rasa hampa yang luar biasa mencekik dadanya. Ia telah membuang surga rumah tangganya demi kenikmatan semu, dan kini, ia harus membayar harganya dengan kesendirian yang abadi.
Minggu Malam – Apartemen Ranti
Malam beranjak larut. Bima sudah tertidur lelap di kamarnya setelah seharian ceria menceritakan pertemuannya dengan Sony kepada Ranti. Anak itu tampak puas dan tenang, seolah rindu yang mengganjal di dadanya telah terobati.
Di dalam kamar utamanya, Ranti berdiri di depan cermin besar. Ia mengenakan piyama sutra berwarna abu-abu. Wajahnya tenang, tidak ada lagi jejak-jejak ketakutan atau keraguan.
Besok adalah hari Senin—hari penentuan di mana hakim majelis Pengadilan Agama akan mengetokkan palu, memutus secara resmi ikatan pernikahan antara dirinya dan Sony Kurniawan. Hari di mana statusnya sebagai istri sah akan berakhir, berganti menjadi wanita merdeka yang memegang hak asuh penuh atas Bima serta seluruh aset kekayaannya.
Ranti meraih sebuah map kertas berwarna merah di atas meja riasnya—berkas tuntutan akhir yang telah disempurnakan oleh Pak Hendra. Ia memandangi pantulan dirinya di dalam cermin.
"Hari Senin..." bisik Ranti pada dirinya sendiri, sebuah senyum tipis yang sarat akan kemenangan mengulas di bibirnya. "Hari di mana riwayatmu resmi tamat, Sony."
Tidak ada rasa takut menghadap hari esok. Yang ada hanyalah kepuasan dingin dari seorang wanita yang berhasil merebut kembali seluruh kehormatan dan masa depannya dari tangan pengkhianat. Badai telah berlalu, dan besok pagi, Ranti siap menyambut fajar kebebasannya dengan kepala terangkat paling tinggi.
pengacara ranti abal abal cm butuh duit Tok mkne keder mengjadapi pengacara Sony. mkne ranti kalah sidang.
pdhl Sony jelas selingkuh Dan korupsi tp masih bisa dpt hak asuh. 👍
farhan Dan pengacara ranti memang memgalah agar farhan bebas mndekati ranti tanpa bima. 🤣.
pdhl jelas jelas Sony napi kan 🤣
ranty pengacara ne goblok 🤣
farhan kayak nya gk mau bima, cm mau ranti mkne suruh ranti nyerah.
pengacara ranti yg kurang keren
trus sekarang bpk nya nikah dng selingkuh annya apa gk di Banting tu anak.
ranti punya kerjaan hidup mapan knp gk dpt hak asuh. pdhl anak di bawah umur itu dng ibunya 🤣.
hrse dng status napi Dan gk punya penghasilan gk dpt hak asuh kan.
bukan kah kemarin hak asuh resmi ke ibunya. kok mulek.