NovelToon NovelToon
Perang Tanpa Pahlawan

Perang Tanpa Pahlawan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan
Popularitas:530
Nilai: 5
Nama Author: areann._

PERANG TANPA PAHLAWAN

Ardan hanyalah seorang pemuda biasa dari desa kecil yang tidak pernah membayangkan dirinya akan menginjakkan kaki di medan perang. Ia bukan bangsawan, bukan kesatria terpilih, dan tidak memiliki kekuatan istimewa. Baginya, kehidupan sederhana bersama keluarga sudah lebih dari cukup.

Namun semuanya berubah ketika perang pecah dan desanya menjadi salah satu korban pertama. Kehilangan rumah dan keluarganya membuat Ardan bergabung dengan militer, bukan demi kejayaan, melainkan hanya untuk bertahan hidup.

Di medan perang, ia menemukan kenyataan yang jauh lebih mengerikan daripada cerita tentang kepahlawanan. Ia menyaksikan sahabat-sahabatnya gugur, desa-desa terbakar, dan ribuan manusia saling membunuh tanpa benar-benar memahami alasan mereka berperang.

Seiring waktu, Ardan naik pangkat dari prajurit biasa hingga menjadi seorang komandan. Setiap kenaikan pangkat memberinya kekuasaan lebih besar, tetapi juga tanggung jawab yang semakin berat. Setiap perintah yang ia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13 — Serangan Musim Semi

Salju mulai mencair menjelang akhir musim dingin, dan dengan pencairan itu, ketenangan relatif yang telah mereka nikmati selama berbulan-bulan mulai retak.

"Pengintai melaporkan pergerakan besar pasukan Ravharn di sisi timur," Kapten Orwin mengumumkan dalam briefing pagi, menunjuk pada peta yang kini dipenuhi tanda-tanda baru. "Tampaknya mereka telah menggunakan musim dingin untuk mengumpulkan kekuatan, bersiap untuk dorongan besar begitu salju mencair sepenuhnya."

Thalion, yang hadir mewakili pasukan Sylvaris, menambahkan kekhawatirannya sendiri. "Pengintai elf kami melaporkan hal yang sama. Ini bukan sekadar serangan biasa. Mereka membawa mesin pengepungan dalam jumlah yang belum pernah kami lihat sebelumnya."

Ardan memperhatikan peta dengan seksama, insting strategisnya yang telah berkembang sejak Sungai Aldis kini bekerja secara otomatis, menganalisis kemungkinan jalur serangan dan titik-titik lemah dalam pertahanan mereka.

"Jika mereka menyerang di tiga titik seperti pola sebelumnya," katanya, "kemungkinan besar sasaran utama adalah Jembatan Aldenwood, satu-satunya jalur cepat menuju jantung wilayah Sylvaris."

Orwin dan Thalion bertukar pandang, mengonfirmasi bahwa analisis Ardan sejalan dengan penilaian mereka sendiri.

"Sersan Ardan akan memimpin salah satu unit pertahanan utama di Jembatan Aldenwood," putus Orwin. "Bersama dengan pasukan elf di bawah komando Thalion."

---

Persiapan untuk pertempuran besar yang akan datang mengambil alih hari-hari berikutnya. Ardan menghabiskan waktu tak terhitung mempelajari medan di sekitar Jembatan Aldenwood, berkoordinasi dengan Thalion untuk mengintegrasikan taktik manusia dan elf secara efektif.

"Pasukan kalian kuat dalam formasi rapat," kata Thalion suatu sore, ketika mereka berdua memeriksa posisi pertahanan. "Pasukan kami unggul dalam mobilitas dan jarak jauh. Jika kita bisa menggabungkan kekuatan itu, bukan hanya menempatkan mereka berdampingan, kita akan jauh lebih kuat daripada jumlah kita masing-masing."

"Bagaimana kita melakukannya secara praktis?"

Thalion menunjukkan rencana yang telah ia kembangkan—pasukan tombak manusia membentuk garis pertahanan utama, sementara pemanah elf mengambil posisi tinggi di pepohonan sekitar, memberikan tembakan penekan yang tepat sasaran, dan pasukan berkuda cepat elf siap untuk serangan balik kilat begitu formasi musuh mulai goyah.

Ardan mengadaptasi rencana itu dengan wawasan dari pengalamannya sendiri di Sungai Aldis, menambahkan lapisan pertahanan tambahan untuk mengantisipasi kemungkinan serangan sihir yang telah mereka saksikan sebelumnya.

Regu Ardan, kini terintegrasi dengan unit elf yang dipimpin oleh seorang prajurit muda bernama Faelan, mulai berlatih bersama, mempelajari cara berkoordinasi meski berbeda bahasa dan gaya bertarung.

"Sersanmu punya pikiran yang tajam untuk taktik," kata Faelan pada Kael suatu hari, mengamati Ardan yang sedang mendiskusikan penyesuaian posisi dengan beberapa prajurit. "Jarang menemukan manusia yang berpikir seperti itu."

"Kau belum mengenalnya cukup lama," jawab Kael bangga. "Dia lebih dari sekadar tajam."

---

Malam sebelum serangan yang diperkirakan, Ardan mengumpulkan seluruh regunya untuk briefing terakhir, memastikan setiap orang memahami peran mereka dan posisi rekan-rekan di sekitar mereka.

"Aku tidak akan berbohong pada kalian," katanya, menatap wajah-wajah yang telah menjadi keluarga baginya selama berbulan-bulan terakhir. "Ini akan menjadi pertempuran besar, mungkin yang terbesar yang pernah kita hadapi. Beberapa dari kita mungkin tidak akan melihat matahari terbit berikutnya."

Keheningan menyelimuti mereka, berat namun tidak dipenuhi ketakutan yang melumpuhkan—lebih seperti penerimaan yang telah mereka pelajari selama bulan-bulan bertahan di garis depan.

"Tapi aku juga tahu ini," lanjut Ardan. "Kita telah bertahan lebih lama dan lebih baik daripada yang pernah aku bayangkan mungkin ketika aku pertama kali mendaftar di Karhold. Bukan karena kita individu-individu hebat, tapi karena kita saling menjaga. Itu tidak akan berubah besok."

Corin, prajurit tertua di antara mereka, mengangguk pelan. "Kata-kata yang bijak dari seorang pemimpin muda."

"Aku belajar dari yang terbaik," jawab Ardan, memikirkan Halric sejenak.

Sebelum membubarkan pertemuan, Ardan melakukan sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya—ia meminta setiap anggota regunya untuk membagikan satu hal yang mereka perjuangkan, satu alasan mengapa mereka ingin bertahan hidup melewati esok hari.

Farin bicara tentang saudara perempuannya yang menunggu di rumah. Ilsa tentang janji untuk tidak membiarkan lagi anak-anak kehilangan ibu mereka. Bryn tentang keinginan untuk membuat cincin itu untuk seseorang yang belum ia temukan. Ress dan Davo tentang kapal yang akan mereka beli bersama. Corin tentang ketiga anaknya. Serena tentang keinginan untuk membuktikan bahwa nama keluarganya bisa berarti lebih dari sekadar politik istana.

Tobin bicara tentang persahabatan yang telah menyelamatkannya berkali-kali. Kael, dengan mata yang tiba-tiba serius, bicara tentang keluarganya di utara yang masih menunggu kabar bahwa ia pulang dengan selamat.

Ketika giliran Ardan tiba, ia menatap semua wajah di sekelilingnya, dan menemukan jawabannya lebih sederhana daripada yang ia duga.

"Aku berjuang," katanya, "agar tidak ada lagi desa seperti Elar yang harus terbakar tanpa alasan yang benar-benar dipahami oleh mereka yang kehilangan segalanya karenanya."

---

Fajar menyingsing dengan warna merah darah di cakrawala timur, dan tak lama kemudian, pasukan Ravharn muncul dari balik perbukitan, jumlah mereka jauh melebihi perkiraan awal para pengintai.

"Formasi!" teriak Ardan, suaranya bergema di sepanjang garis pertahanan Jembatan Aldenwood. Di sekelilingnya, prajurit manusia dan elf bergerak dengan koordinasi yang telah mereka latih selama berminggu-minggu, membentuk dinding pertahanan yang solid meski hati mereka berdebar kencang.

Mesin pengepungan Ravharn mulai bergerak maju, balista-balista besar menembakkan panah raksasa yang menghantam pertahanan kayu dengan kekuatan menghancurkan. Di udara, cahaya biru mulai berkelap-kelip dari beberapa titik dalam formasi musuh—penyihir-penyihir Ravharn bersiap untuk menyerang.

"Pemanah, bersiap!" teriak Faelan dari posisinya di antara pepohonan, dan barisan pemanah elf mengangkat busur mereka serempak.

Gelombang pertama serangan datang seperti badai, panah dan bola api menghujani pertahanan mereka. Ardan merasakan tanah bergetar ketika sebuah ledakan menghantam dekat posisinya, melontarkan tanah dan serpihan kayu ke udara.

"BERTAHAN!" teriaknya, mengangkat perisainya untuk melindungi dirinya dan Bryn yang berdiri di sampingnya.

---

Ketika pasukan darat Ravharn akhirnya mencapai jembatan, pertempuran jarak dekat pun pecah dengan kebrutalan yang belum pernah Ardan saksikan bahkan di Sungai Aldis. Jembatan sempit itu menjadi titik pertemuan maut, di mana setiap inci tanah diperjuangkan dengan darah.

Ardan bertarung di garis depan, tombak dan pedang Halric bergantian ia gunakan tergantung situasi, insting bertarungnya yang telah terasah selama berbulan-bulan kini menjadi ekstensi alami dari dirinya. Di sekelilingnya, regunya bertarung dengan keberanian yang telah mereka kumpulkan dari begitu banyak pertempuran sebelumnya.

"Ress! Davo! Sisi kiri!" teriak Ardan, melihat celah dalam formasi yang bisa dimanfaatkan musuh. Kedua bersaudara itu bergerak serempak, seperti biasanya, mempertahankan posisi dengan koordinasi sempurna yang hanya bisa dimiliki oleh mereka yang tumbuh besar bersama.

Tapi keberuntungan tidak selalu berpihak pada keberanian. Sebuah bola api, dilepaskan oleh penyihir Ravharn yang berhasil mendekat cukup jauh, menghantam tepat di posisi kedua bersaudara itu.

"RESS! DAVO!"

Ardan berlari ke arah mereka, tapi ia sudah terlambat. Ledakan itu telah melakukan kerusakan yang tidak bisa diperbaiki. Ress masih bernapas, meski luka-lukanya parah, tapi Davo—Davo tidak bergerak sama sekali.

"Tidak, tidak, tidak," Ress merangkak menuju saudaranya, mengabaikan lukanya sendiri, mengguncang tubuh Davo dengan putus asa. "Bangun, Davo. Kita harus membeli kapal itu bersama, ingat? Kau tidak bisa pergi sekarang!"

Ardan berlutut di samping mereka, memeriksa Davo meski jauh di lubuk hatinya ia sudah tahu jawabannya. Tidak ada denyut nadi. Tidak ada napas.

"Ress," katanya pelan, suaranya bergetar. "Kita harus bergerak. Musuh masih menyerang."

"Aku tidak bisa meninggalkannya!"

"Aku tahu." Ardan menggenggam bahu Ress erat. "Tapi jika kau mati di sini juga, siapa yang akan membeli kapal itu untuk Davo? Siapa yang akan mengingatnya?"

Kata-kata itu, meski kejam dalam kejujurannya, berhasil menembus keputusasaan Ress. Dengan air mata masih mengalir, ia mengangguk dan membiarkan Farin membantunya berdiri, memapahnya ke posisi yang lebih aman sambil pertempuran terus berlangsung di sekitar mereka.

---

Pertempuran berlangsung berjam-jam, gelombang demi gelombang pasukan Ravharn menghantam pertahanan mereka, hanya untuk dipukul mundur dengan kombinasi taktik manusia-elf yang telah mereka rencanakan dengan matang. Tapi setiap gelombang yang berhasil mereka tahan datang dengan harga.

Corin, prajurit tertua di regu mereka, bertarung dengan keganasan yang mengejutkan untuk usianya, melindungi beberapa rekrut muda yang hampir kewalahan menghadapi serangan bertubi-tubi. Ketika seorang prajurit Ravharn hampir berhasil menembus pertahanan seorang rekrut muda bernama Wyn, Corin melompat maju, mengorbankan posisinya sendiri untuk melindungi pemuda itu.

Pedang musuh yang seharusnya menghantam Wyn, malah menembus sisi Corin.

"CORIN!"

Ardan berlari ke arahnya begitu melihat lelaki tua itu roboh, tapi Corin, meski terluka parah, masih tersenyum ketika Ardan mencapainya.

"Aku bilang... aku akan biarkan generasi berikutnya... menjalani hidup mereka," katanya, napasnya tersengal. "Aku sudah menjalani hidupku, Sersan. Ini... ini pilihanku."

"Jangan bicara begitu, kau akan baik-baik saja—"

"Ardan." Corin menggenggam tangannya dengan sisa kekuatannya. "Beri tahu anak-anakku... beri tahu mereka ayah mereka mati melindungi seseorang yang masih punya banyak hidup untuk dijalani. Beri tahu mereka aku mencintai mereka."

Napasnya berhenti sebelum Ardan sempat menjawab.

---

Ketika akhirnya trompet kemenangan berbunyi—Ravharn mundur setelah gagal menembus Jembatan Aldenwood meski dengan korban besar di kedua belah pihak—Ardan berdiri di tengah medan pertempuran yang porak-poranda, tubuhnya penuh luka kecil, tapi hatinya jauh lebih terluka oleh apa yang telah hilang.

Davo. Corin. Dan beberapa nama lain yang telah ia hafal sejak mereka bergabung dengan regunya.

Ress duduk di samping tubuh saudaranya, air mata mengalir tanpa henti tapi tangannya tetap menggenggam tangan Davo, tidak ingin melepaskannya meski jasadnya telah dingin.

Wyn, rekrut muda yang diselamatkan Corin, berdiri kaku di dekat tubuh lelaki tua itu, wajahnya pucat oleh syok dan rasa bersalah yang belum sepenuhnya ia pahami.

"Ini bukan salahmu," kata Ardan padanya, meski tahu kata-kata itu tidak akan cukup untuk meredakan beban yang baru saja jatuh di pundak pemuda itu. "Corin memilih untuk melindungimu. Itu adalah hadiah, bukan kutukan. Jangan sia-siakan dengan menghukum dirimu sendiri karenanya."

Menjelang senja, ketika penghitungan korban akhirnya selesai—jumlahnya lebih besar dari yang pernah mereka alami sebelumnya, namun kemenangan tetap menjadi milik mereka—Ardan berdiri sendirian di tepi jembatan yang telah mereka pertahankan dengan darah begitu banyak orang.

Ia memikirkan kata-kata terakhir Corin. *Beri tahu mereka aku mencintai mereka.*

Ia memikirkan Davo, yang bahkan tidak sempat mengucapkan kata-kata terakhir sebelum kegelapan mengambilnya.

Perang ini, pikirnya, terus mengambil begitu banyak, memberi begitu sedikit selain kesempatan untuk terus bertahan sedikit lebih lama, untuk melindungi sedikit lebih banyak orang, sebelum akhirnya giliran mereka sendiri tiba.

1
Aisyah Suyuti
good
johanes ronald
dr awal negara itu cm bertahan dan bertahan tanpa ada upaya utk menyerang sm skali ya??????
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!