Ophelia (31), karyawan biasa di perusahaan terkaya di Indonesia, sudah kebal dengan pertanyaan "kapan nikah?" di setiap pertemuan keluarga. Ia tidak anti-cinta, ia hanya terlalu sering mendengar keluhan tentang beratnya pernikahan.
Lalu datanglah Navin (28), CEO dingin dengan lidah setajam silet. Dalam pertemuan pertama, kalimatnya melukai Lia. Yang tidak Lia tahu, sejak detik itu Navin tidak bisa berhenti memikirkannya. Navin jatuh lebih dulu, menyangkalnya, lalu jatuh jauh lebih dalam dari yang pernah ia bayangkan. Ketika restu keluarga menjadi tembok, dialah yang hancur paling parah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jivana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34 Kantor yang Kebingungan
Grup obrolan bernama Lantai 3 Ceria biasanya hanya ramai saat ada arisan atau pembagian jatah kue ulang tahun. Kamis pagi, notifikasinya meledak sebelum jam kerja dimulai.
Widya: URGENT. Pak Navin tahu namaku.
Rini: Namaku juga! Dia bilang selamat pagi Rini!
Rangga: Dia minta maaf padaku kemarin di pantry. Aku sampai jatuhin sendok.
Sinta: Aku juga. Aku nangis. Aku nggak tahu kenapa nangis.
Pak Harto: Ehem. Beliau bilang terima kasih untuk kerja tim kami. Saya masih mencerna.
Widya: Pasti ada apa-apa.
Rini: Teori 1: dia kena guna-guna.
Rangga: Teori 2: dia inspektur dari pusat yang menyamar jadi baik supaya kita lengah.
Widya: Teori 3: dia mau jual perusahaan dan merasa bersalah.
Rini: Teori 4: dia mau memecat kita semua dan ini "hadiah perpisahan".
Dinda: Teori 5: kalian terlalu banyak nonton drama.
Widya: Dinda, kamu nggak curiga sedikit pun?
Dinda: Aku curiga. Tapi aku tidak mau bilang.
Di sudut ruang rapat kecil, Rangga membuka buku catatan dan mulai membuat daftar taruhan. Dua bungkus nasi kuning untuk teori guna-guna. Satu es kopi susu untuk teori inspektur. Sepanjang hari, daftar itu bertambah panjang, dan ada yang mengusulkan taruhan tambahan: berapa hari lagi CEO mereka akan kembali menjadi Navin yang lama. Angka terendah tiga hari, tertinggi sebulan. Tak seorang pun berani menulis "tidak pernah". Sinta, yang awalnya menolak ikut, akhirnya menyerahkan sepuluh ribu rupiah untuk teori yang tidak ia sebutkan, dan hanya menggumam, "Aku tidak percaya dia jahat lagi."
Menjelang siang, dua kardus brownies kukus muncul di pantry lantai tiga tanpa nama pengirim, hanya dengan secarik kertas berisi satu kata: Terima kasih. Rangga mengendus kardus itu seperti anjing pelacak yang curiga pada koper asing, memeriksa bagian bawahnya, lalu menyimpulkan bahwa itu tidak beracun. Dalam sepuluh menit, kardus itu ludes. Sinta menyisihkan satu potong dan menyimpannya di laci, untuk alasan yang tidak ia jelaskan.
* * *
Di rumah kecil dekat pos jaga, Pak Darman duduk di meja makan dan bercerita untuk kelima kalinya kepada tiga anaknya. "Beliau tahu namaku. Dan tahu si bungsu baru masuk SMP."
"Papa," ujar si sulung dengan alis terangkat, "jangan-jangan itu bagian dari audit."
"Audit apa, audit ada anak?"
"Ya siapa tahu."
"Diam. Papa lagi bahagia."
* * *
Pak Harto pulang malam itu dengan langkah aneh. Istrinya membuka pintu dan langsung menatapnya dengan curiga.
"Kamu dipecat?"
"Tidak."
"Kamu dipromosikan?"
"Tidak."
"Terus kenapa mukamu seperti orang yang baru dapat undian?"
Pak Harto duduk di kursi teras dan menatap sepatunya. "Hari ini, Pak Navin bilang padaku, 'Terima kasih atas kesabaran Bapak menghadapi saya.' Menghadapi saya. Dia bilang begitu. Aku sudah dua puluh tahun bekerja, Bu, dan belum pernah ada atasan yang bilang terima kasih."
Istrinya duduk di sisinya, dan untuk beberapa saat tidak berkata apa-apa. "Kalau begitu," ujarnya akhirnya, "mungkin dia memang sedang berubah."
"Atau sedang sakit."
"Kalau sakit pun, semoga tidak cepat sembuh."
* * *
Di kantin, Bastian menyendok nasinya dan menatap ke seberang ruangan dengan alis terangkat. Nica, yang siang itu datang menemuinya sepulang urusan di dekat sana, mengikuti arah pandangnya.
"Itu bosmu?"
"Itu bosku."
"Dia duduk di meja satpam."
"Aku tahu."
"Dia makan gado-gado sambil mendengarkan bapak-bapak bercerita tentang anaknya."
"Aku sedang mencoba tidak melihat." Basti menghela napas panjang. "Aku mau membencinya dengan tenang. Tapi dia terus mengganggu."
"Membenci itu butuh konsistensi."
"Aku tahu. Dan dia terus merusak rencanaku."
Nica tertawa kecil dan menyodorkan tempe goreng ke piring Basti. Di seberang ruangan, Navin mengangguk mendengar sesuatu yang dikatakan Pak Darman, dan untuk sesaat, Bastian melihat wajah itu tanpa topeng: tenang, sedikit malu, dan sangat, sangat serius.
"Aku tetap tidak percaya," gumam Basti, mengaduk es tehnya tanpa minat. "Orang tidak berubah dalam tiga hari."
"Aku tahu."
"Tapi aku juga tidak bisa bilang dia berpura-pura."
* * *
Sore harinya, Bu Retno memanggil Dimas ke ruangannya dan menutup pintu.
"Pak Dimas. Saya sudah tiga puluh tahun di perusahaan ini. Saya sudah melihat banyak hal. Tapi saya belum pernah melihat CEO menyapa petugas kebersihan dengan nama."
"Ya, Bu."
"Apa yang terjadi padanya?"
Dimas menimbang jawabannya. "Beliau belajar, Bu."
"Belajar apa?"
"Cara menjadi orang yang ingin ia hormati."
Bu Retno menatapnya lama, lalu perlahan tersenyum. "Kalau begitu, kita semua sedang menyaksikan sesuatu yang bersejarah."
* * *
Dinda mencondongkan tubuh dari balik sekat ketika Lia melewati mejanya. "Kamu tahu sesuatu."
"Aku tidak tahu apa-apa."
"Kalau kamu tahu, kamu akan bilang?"
"Tidak."
"Nah. Itu jawaban orang yang tahu."
Lia hanya tersenyum kecil dan terus berjalan.
* * *
Di pantry lantai tiga, Widya dan Rini berdiri di dekat mesin kopi dengan gelas kosong dan tampang seperti dua detektif yang kehabisan petunjuk. Ketika Lia masuk untuk mengisi cangkir, keduanya langsung menegakkan tubuh.
"Bu Lia," ujar Widya. "Boleh tanya?"
"Silakan."
"Menurut Ibu, apa yang terjadi pada Pak Navin?"
Lia menekan tombol kopi hitam. Cairan pekat mengalir ke cangkir. Ia menatapnya sebentar, lalu menjawab dengan nada yang datar tapi sedikit lebih lembut dari biasanya.
"Mungkin beliau sedang belajar."
"Belajar apa, Bu?"
"Hal-hal yang seharusnya dipelajari lebih awal."
Ia mengambil cangkirnya dan berjalan kembali ke meja. Widya dan Rini saling pandang, lalu Rini berbisik, "Tuh kan. Bu Lia tahu sesuatu."
Lia duduk, menyalakan komputer, dan membuka laci kiri. Di bawah tumpukan formulir, terselip selembar kertas yang sudah dilipat dan dibuka berkali-kali hingga lipatannya lunak seperti kain.
Ia sudah membacanya pertama kali Selasa pagi, di bilik toilet lantai tiga, dengan pintu terkunci dan jantung berdegup seperti orang mencuri. Ia sudah membacanya Selasa malam di kamar. Rabu malam di taksi daring. Kamis pagi ini, di pantry, sebelum siapa pun datang.
Surat ini tidak meminta apa pun.
Ia mengulang kalimat itu tanpa suara. Bibirnya bergerak, tidak bersuara, seperti orang yang sedang belajar bahasa asing.
Ini hanya sesuatu yang seharusnya sudah saya katakan sejak hari itu.
Ia tidak tahu kenapa ia menyimpannya. Ia tidak tahu kenapa ia tidak membuangnya. Ia tidak tahu kenapa, setiap kali membaca kata saya minta maaf, dadanya terasa seperti ada sesuatu yang perlahan meleleh.
Dinda muncul dari balik sekat. "Lia, kamu baca apa?"
Lia melipat kertas itu cepat-cepat dan menyelipkannya kembali. "Surat tagihan."
"Tagihan apa, senyum-senyum begitu?"
"Aku tidak senyum."
"Kamu senyum."
Lia menyentuh sudut bibirnya. Dan, untuk pertama kalinya, ia tidak punya bantahan.
Di ruangan kaca, Dimas membuka tablet dan mengetik catatan hari itu: Kamis: kantor kebingungan. Bapak bahagia. Saya juga.