NovelToon NovelToon
Jodohku Mas Bule

Jodohku Mas Bule

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: mitha

Retna tak pernah menyangka rumah tangga yang mati-matian ia pertahankan akan berakhir dalam satu keputusan kejam: perceraian. Atas desakan suami dan ibu mertuanya, ia diusir dari rumah, seolah seluruh pengorbanan, cinta, dan tahun-tahun yang ia jalani bersama keluarga itu tak pernah berarti.

Dengan hati hancur, Retna bersumpah tak akan lagi percaya kepada laki-laki. Baginya, cinta hanyalah pintu menuju luka yang lebih dalam.

Namun, ketika ia memilih mengunci rapat hatinya, seorang pria asing justru hadir membawa kehangatan yang belum pernah ia rasakan. Pria yang dijulukinya “Mas Bule” itu memperlakukannya dengan tulus, penuh perhatian, dan kasih sayang—perlahan menggoyahkan sumpah yang selama ini ia pegang.

Di antara trauma masa lalu dan harapan yang mulai tumbuh, mampukah Retna kembali membuka hati? Ataukah pria asing itu benar-benar hadir sebagai penyembuh luka sekaligus jodoh yang selama ini diam-diam menunggunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mitha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 - Pertengkaran Kecil

Nathan masih belum benar-benar pulih.

Meskipun rasa sakit di lambungnya sudah berkurang, tubuhnya masih terlihat lemas. Dokter menyarankan agar ia banyak beristirahat dan tidak terlalu memaksakan diri untuk bekerja.

Bagi Nathan, hal itu cukup menyiksa.

Ia terbiasa bekerja hampir sepanjang hari.

Bahkan ketika berada di rumah, laptop dan beberapa gambar rancangan selalu berada di dekatnya.

Namun kali ini Retna benar-benar melarangnya bekerja.

“Mas Nathan, jangan buka laptop dulu.”

Nathan yang baru saja membuka layar laptop menatap Retna.

“Sebentar saja.”

“Tidak.”

“Tapi ada pekerjaan yang harus saya selesaikan.”

“Pekerjaan bisa menunggu.”

Nathan menghela napas.

“Klien saya tidak bisa menunggu.”

“Kalau Mas sakit, klien juga tidak akan mendapatkan apa-apa.”

Nathan terdiam.

Retna berdiri dengan kedua tangan bersedekap.

“Jadi,tolong ditutup ya.”

Nathan tersenyum melihat ketegasan perempuan itu.

“Baik lah.”

Ia menutup laptop.

Retna tersenyum puas.

“Bagus,terima kasih mister.”

Nathan kemudian bersandar di sofa.

“Sekarang saya harus melakukan apa?”

“Tidur.”

“Baru bangun.”

“Kalau begitu, duduk saja.”

Nathan tertawa kecil.

“Jadi saya tidak boleh melakukan apa-apa?”

“Untuk sementara.”

Retna kemudian berjalan ke dapur untuk mengambil air hangat.

Namun ketika kembali, Nathan terlihat hendak mengambil gelas yang berada di meja.

“Biar saya ambil.”

Retna buru-buru mendekat.

“Aduh!”

Tangannya hampir bersamaan dengan tangan Nathan.

Gelas itu tersenggol.

Tubuh Retna kehilangan keseimbangan.

Nathan spontan berdiri untuk menahannya.

Namun karena kondisi tubuhnya belum pulih, justru Nathan yang ikut kehilangan keseimbangan.

Dalam hitungan detik, mereka berdua jatuh ke sofa.

Retna berada sangat dekat dengan Nathan.

Tangannya masih mencengkeram bahu pria itu.

Sementara tangan Nathan secara refleks berada di pinggang Retna untuk mencegahnya jatuh.

Keduanya terdiam.

Jarak wajah mereka begitu dekat.

Retna bisa merasakan napas Nathan.

Jantungnya berdetak sangat cepat.

Nathan juga tidak segera bergerak.

Tatapannya bertemu dengan mata Retna.

Beberapa detik terasa begitu panjang.

“Mas...” suara Retna nyaris berbisik.

Nathan tersadar.

“Maaf.”

Ia segera melepaskan tangannya.

Retna buru-buru bangkit.

Wajahnya merah.

“Saya... saya kira Mas jatuh.”

“Saya juga kira kamu jatuh.”

Keduanya sama-sama salah tingkah.

Retna merapikan rambutnya.

“Gelasnya hampir pecah.”

Nathan mengambil gelas tersebut.

“Untung tidak.”

Retna mengangguk.

Namun ketika hendak berdiri, ia kembali kehilangan keseimbangan karena ujung bajunya tersangkut pada sudut sofa.

Nathan refleks menarik tangannya.

Retna kembali terdorong mendekat.

Kali ini Nathan tertawa kecil.

“Sepertinya hari ini kita sama-sama ceroboh.”

Retna ikut tertawa malu.

“Iya.”

Nathan memandangnya.

“Kamu tidak apa-apa?”

“Tidak.”

“Yakin?”

Retna mengangguk.

Namun wajahnya masih merah.

Nathan tersenyum.

“Saya kira kamu takut.”

“Bukan takut.”

“Lalu?”

Retna menunduk.

“Malu.”

Nathan tertawa pelan.

“Kenapa malu?”

Retna tidak menjawab.

Nathan tidak menggoda lebih jauh.

Ia hanya tersenyum.

Namun dalam hati, momen singkat itu membuat perasaannya semakin sulit diabaikan.

Retna pun merasakan hal yang sama.

Ia segera pergi ke dapur dengan alasan ingin membuatkan teh hangat.

Padahal ia hanya ingin menyembunyikan wajahnya.

Sore harinya, Nathan sudah sedikit lebih baik.

Ia bahkan bisa berjalan keluar ke teras.

Retna membawa makanan ringan dan meletakkannya di meja.

“Jangan lupa dimakan.”

Nathan mengangguk.

“Baik.”

Retna hendak kembali ke dapur ketika Nathan memanggilnya.

“Retna.”

“Iya?”

“Terima kasih.”

Retna tersenyum.

“Untuk apa?”

“Sudah menjaga saya.”

Retna menggeleng.

“Mas terlalu banyak berterima kasih.”

Nathan menatapnya.

“Karena memang saya berterima kasih.”

Retna terdiam.

Ada kelembutan dalam tatapan pria itu yang membuatnya kembali salah tingkah.

Ia kemudian memilih pergi.

Namun sebelum masuk ke rumah, Nathan berkata,

“Retna.”

Retna menoleh.

“Kalau saya sudah sembuh nanti, saya traktir kamu makan.”

Retna tersenyum.

“Boleh.”

“Jadi itu janji?”

Retna mengangguk.

“Iya.”

Nathan tersenyum puas.

Di sisi lain, Arman sedang menghadapi masalah yang berbeda.

Hari itu ia membawa Claudia melihat sebuah rumah yang sudah dipilihnya.

Rumah tersebut berada di sebuah perumahan yang cukup nyaman.

Tidak terlalu mewah.

Tetapi lingkungannya aman, tenang, dan dekat dengan kantor Arman.

Arman turun dari mobil dengan wajah puas.

“Menurutku rumah ini cocok.”

Claudia berdiri di sampingnya.

Namun begitu melihat rumah tersebut, ekspresinya langsung berubah.

“Ini?”

“Iya.”

Claudia menatap sekeliling.

Rumah-rumah di sekitar mereka memang bagus, tetapi jelas bukan kawasan elite yang biasa ia tinggali.

“Kamu serius?”

Arman mengangguk.

“Kenapa?”

“Aku minta kamu mencarikan apartemen.”

Arman terdiam.

“Aku tahu.”

“Tapi kamu malah membeli rumah di sini?”

“Bukan membeli. Aku sudah membayar tanda jadinya.”

Wajah Claudia langsung memerah.

“Kamu bahkan sudah mengambil keputusan tanpa bertanya kepadaku?”

“Aku pikir rumah lebih baik daripada apartemen.”

“Menurutmu.”

Arman menghela napas.

“Claudia, rumah ini nyaman.”

“Aku tidak peduli hanya soal nyaman.”

Claudia menunjuk sekeliling.

“Aku mau tinggal di apartemen mewah. Dengan fasilitas lengkap. Kolam renang, gym, keamanan dua puluh empat jam.”

“Kita bisa mendapatkan semua itu nanti.”

“Kenapa nanti?”

Arman mulai kehilangan kesabaran.

“Karena aku harus menyesuaikan dengan kemampuan finansialku.”

Claudia menatapnya tajam.

“Jadi setelah menikah denganku, kamu mau hidup seperti ini?”

“Tidak ada yang salah dengan rumah ini.”

“Buatmu mungkin tidak.”

Claudia tertawa sinis.

“Kamu tahu keluarga ku tinggal di mana?”

Arman diam.

“Rumah orang tua ku saja lebih besar dari rumah ini.”

“Claudia.”

“Aku tidak meminta sesuatu yang tidak mampu kamu berikan.”

Claudia melangkah mendekatinya.

“Aku meminta sesuatu yang sejak awal sudah kamu janjikan.”

“Aku tidak pernah menjanjikan apartemen tertentu.”

“Kamu bilang kita akan hidup nyaman.”

“Kita tetap nyaman di sini.”

Claudia menggeleng.

“Tidak.”

Arman menghela napas panjang.

“Kamu terlalu mempermasalahkan tempat tinggal.”

“Karena buatku itu penting.”

Claudia menatapnya tajam.

“Aku tidak mau setelah menikah justru merasa hidupku turun jauh dibandingkan sebelumnya.”

Arman mulai tersinggung.

“Jadi kamu menganggap rumah ini rendah?”

“Aku tidak bilang begitu.”

“Tapi sikapmu begitu.”

Claudia terdiam.

Beberapa detik kemudian, ia berkata,

“Kalau kamu memang ingin menikah denganku, seharusnya kamu memahami standar hidupku.”

Arman menatapnya.

“Dan kalau kamu ingin menikah denganku, kamu juga harus memahami keadaanku.”

Keduanya terdiam.

Pertengkaran kecil itu mulai berubah menjadi ketegangan serius.

Claudia akhirnya menarik napas.

“Baik.”

“Apa?”

“Kita pikirkan lagi pernikahan ini.”

Arman langsung menatapnya.

“Jangan bercanda.”

“Aku tidak bercanda.”

Claudia membuka pintu mobil.

“Aku tidak akan menikah hanya untuk hidup dengan standar yang tidak sesuai dengan kehidupanku.”

“Claudia.”

Perempuan itu berhenti.

“Aku masih mau menikah denganmu.”

Ia menatap Arman.

“Tapi kalau dari sekarang saja kamu sudah tidak bisa memenuhi hal yang menurutku penting, aku tidak yakin kita bisa menjalani rumah tangga.”

Arman terdiam.

Claudia masuk ke mobil.

Sebelum menutup pintu, ia kembali berkata,

“Cari apartemen yang sesuai dengan keinginanku.”

“Kalau tidak?”

Claudia menatapnya dingin.

“Kalau tidak, mungkin kita harus membatalkan pernikahan ini.”

Pintu mobil tertutup.

Arman berdiri terpaku.

Ancaman itu terasa nyata.

Pernikahan yang awalnya ia pikir akan menjadi jalan menuju kehidupan yang lebih baik ternyata mulai dipenuhi tuntutan.

Ia menatap rumah yang sudah dipilihnya.

Kemudian menghela napas panjang.

Entah mengapa, pikirannya kembali kepada Retna.

Dulu, ketika mereka menikah, Retna tidak pernah bertanya rumah mereka harus sebesar apa.

Tidak pernah meminta apartemen mewah.

Tidak pernah menuntut kehidupan yang berlebihan.

Ia hanya mengatakan satu hal.

"Yang penting kita bisa hidup bersama."

Saat itu Arman menganggap kesederhanaan Retna sebagai sesuatu yang biasa.

Sekarang ia justru merindukannya.

Sementara di Bali, Retna sedang menyelimuti Nathan yang tertidur di sofa.

Ia memandang wajah pria itu beberapa saat.

Tanpa sadar, bibirnya tersenyum.

Hari ini ada sesuatu yang berbeda.

Sesuatu yang membuat jantungnya berdebar setiap kali mengingat kejadian di sofa tadi.

Retna buru-buru menggeleng.

“Jangan berpikir macam-macam.”

Ia kemudian kembali ke dapur.

Namun senyum kecil di wajahnya tidak juga hilang.

Sedangkan Nathan yang ternyata belum benar-benar tidur membuka mata perlahan.

Ia melihat Retna yang berjalan menjauh.

Sudut bibirnya terangkat.

Mungkin sakit lambungnya belum sepenuhnya sembuh.

Tetapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Nathan merasa sakit beberapa hari ini justru memberinya sesuatu yang menyenangkan.

Kedekatan dengan Retna.

Dan ia mulai menyadari...

Ia tidak hanya nyaman ketika perempuan itu berada di rumahnya.

Ia mulai membutuhkan kehadirannya.

1
vania larasati
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!