NovelToon NovelToon
Office Girl Milik Tuan Mahrup

Office Girl Milik Tuan Mahrup

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ragan Fian

Bosan dengan kisah cinta biasa? Siap-siap dibuat gemas, terharu, dan ketagihan lewat kisah Hazelia!

Gadis muda yang super ceria, tengil, dan penyayang ini terpaksa menunda mimpinya demi menjadi office girl di perusahaan raksasa demi membiayai pengobatan sang ibu dan sekolah adiknya. Siapa sangka, ketidaksengajaannya menabrak sang CEO dingin, Tuan Mahrup, justru memercikkan benih cinta tak terduga!


Dari ruang pantry penuh gosip hingga diangkat menjadi asisten pribadi, Hazel harus menghadapi cemburu rekan kerja, tuduhan miring, hingga kembalinya masa lalu Sang Tuan yang penuh rahasia. Bisakah ketulusan gadis sederhana ini meluluhkan hati pria sekaku es dan melewati badai ujian cinta mereka?


Penasaran bagaimana kelanjutan hubungan beda kasta yang penuh drama dan kejutan ini? Yuk, baca selengkapnya dan ikuti liku-liku cinta Tuan Mahrup dan Hazel sekarang juga!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragan Fian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

OGMTM-12

..."Mahrup! Siapa cewek dekil ini yang berani-beraninya berdiri sedekat itu di ruang kerjamu?!"

Pekikan tajam wanita bergaun merah itu masih terngiang-ngiang dan membakar telinga Hazel hingga ia melangkah turun menuju lantai dasar. Langkah kakinya terasa berat saat mendorong pintu ruang pantry pusat.

Beban kebahagiaan karena kabar pelunasan tagihan medis ibunya mendadak menguap, berganti rasa cemas yang menghimpit dada.

Di dalam pantry, bau tebal seduhan Kopi Kapal Api beradu dengan aroma pembersih lantai yang tajam.

Luna sedang berdiri di depan mesin cermin dispenser, menata kembali sanggul rambutnya sembari mematut diri. Begitu melihat Hazel masuk membawa baki kosong, matanya yang tajam langsung menyipit penuh selidik.

"Wah, wah... yang habis dipanggil ke lantai eksekutif akhirnya turun juga," sindir Luna dengan nada manis yang dibuat-buat, namun sarat akan racun.

Tangannya melipat di depan dada saat menghampiri Hazel. "Ada urusan penting apa sih, Hazelia? Perasaan kemarin cuma disuruh ngelap kaca, kok sekarang malah sering banget dipanggil ke ruang CEO? Pakai bawa-bawa cangkir khusus segala lagi."

Hazel mengembuskan napas pelan, mengusap bekas air mata di pipinya yang sudah mengering. "Mbak Luna... Hazel cuma nganterin kopi pesanan Tuan Mahrup, kok. Nggak ada urusan apa-apa lagi."

"Nganterin kopi atau sengaja tebar pesona?" sergap Luna cepat, melangkah maju hingga memotong jalan Hazel.

"Anak baru seumuran kamu mana ada yang betah di lantai dua belas kalau nggak ada 'sesuatu' yang dicari. Jangan pura-pura polos deh, Hazel. Aku tahu persis tipe-tipe cewek kayak kamu yang memanfaatkan wajah manis buat cari jalan pintas!"

"Mbak Luna! Hazel kerja di sini halal ya!" sahut Hazel, dadanya mulai naik turun menahan emosi. "Hazel nggak pernah punya niat buruk sama siapa pun!"

"Halah, halah! Kenapa pada meributkan hal yang nggak jelas begini sih?"

Suara nyaring Vita memotong perdebatan. Wanita berpipi chubby itu keluar dari ruang penyimpanan membawa dua gulung kantong sampah hitam.

Ia melempar salah satu kantong ke atas meja dengan sentakan pelan, lalu menatap Hazel dengan pandangan lurus yang sulit diartikan.

"Zel," panggil Vita dengan nada ceplas-ceplosnya yang khas, namun kali ini terasa dingin tanpa tawa. "Jujur aja deh. Kamu itu baru beberapa hari di sini, tapi perlakuan yang kamu dapet dari lantai atas beda banget sama kita-kita yang udah bertahun-tahun meras keringat di sini. Kalau kamu memang pake 'pelacur" biar disayang atasan, ya mending ngomong dari awal aja. Jangan sok jadi korban di depan kita."

Jlebb!

Kata-kata Vita yang terlontar polos tanpa filter itu menghantam hati Hazel jauh lebih keras daripada bentakan Luna. Vita yang biasanya menjadi tempatnya tertawa dan bercanda, kini justru memandang Hazel dengan tatapan curiga yang sama.

Hazel membeku di tempatnya. Bibirnya gemetar, tak sanggup menyusun patahan kata untuk membela diri.

"Mbak Vita... Mbak Vita juga mikir Hazel segampang itu?" bisik Hazel dengan suara parau yang menahan perih.

Vita mengalihkan pandangannya ke samping, enggan menatap mata Hazel yang berkaca-kaca. "Ya gimana kita nggak mikir gitu, Zel? Zaman sekarang nggak ada makan siang gratis. Apalagi buat cewek ingusan yang mendadak jadi anak emas CEO."

Luna menyunggingkan senyum kemenangan di sudut bibirnya, merasa puas melihat Hazel terpojok tanpa pembelaan.

Rasa sedih yang teramat sangat menyergap Hazel. Hatinya mencelos. Di saat ia berjuang mati-matian demi pengobatan ibunya, orang-orang di sekitarnya justru mencap dirinya wanita murahan yang menghalalkan segala cara.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, Hazel meletakkan bakinya di atas meja dan berlari keluar dari pantry, menahan lelehan air mata yang akhirnya pecah membasahi pipinya.

Hazel berlari menyusuri lorong belakang menuju tangga darurat yang sepi. Ia terduduk di anak tangga yang dingin, menyembunyikan wajahnya di antara kedua lutut sembari terisak pelan.

Namun, di tengah kesendirian dan rasa sakit yang menghimpitnya, suara derap langkah kaki tergesa-gesa terdengar mendekat dari arah pintu lantai dua belas.

"Hazelia!"

Suara berat dan tegas milik Sekretaris Rian memanggil namanya dari atas tangga, memecah heningnya lorong. Hazel mendongak kaget dengan mata sembap.

"P-Pak Rian? Ada apa, Pak?" tanya Hazel terbata-bata.

Rian menatap Hazel dengan raut wajah panik yang tak biasa. "Tuan Mahrup memanggilmu ke ruangannya sekarang juga! Dan kamu... harus siap-siap, karena Nona Clarissa sedang mengamuk di dalam!"

1
falea sezi
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!