"Salah satu kakinya diamputasi setelah ditabrak sebuah mobil 8 tahun silam. Sayangnya, mobil itu kabur, CCTV rusak." Kenan tersenyum getir, seolah hal itu sudah biasa terjadi jika pelakunya orang-orang berduit. "Ada saksi yang mengatakan jika yang menabrak Ilona adalah mobil sport warna merah, tapi..." Ia kembali terkekeh. "Beberapa hari kemudian, kesaksiannya berubah. Entahlah."
Mendengar itu, tubuh Elang seketika mengalami tremor. Jantungnya berdebar kencang, dan keringat dingin mulai membasahi tubuhnya.
Semoga saja ini hanya kebetulan. 8 tahun yang lalu, Elang menabrak seseorang saat dini hari, sepulang dari party kelulusan SMA bersama teman-temannya. Kondisinya setengah mabuk saat itu. Karena takut, di tambah kondisi jalanan yang sepi, ia langsung kabur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4
Bermula dari akun instagram Kenan, ke akun Eliana, hingga akhirnya Elang menemukan yang ia cari. Akun milik Ilona.
Bio Instagram Ilona cuma satu baris: _"Minggu pagi di Taman Kota. Jam 6.30 WIB. Ketemu aku dan buketku ya."_
Dan Minggu pagi, masih jam 6.10 WIB, Elang sudah sampai duluan di taman. Udara masih dingin, embun masih di rumput. Namun beberapa orang sudah terlihat sibuk berolah raga. Ia yang memakai celana training, kaos plus jaket serta sepatu, segera berlari di trek joging yang ada di taman. Putaran pertama, ia masih belum melihat Ilona. Putaran kedua, akhirnya ia melihat gadis itu. Langkahnya terhenti.
Ilona sudah di sana, tidak di atas kursi roda, tidak juga memakai tongkat. Ia berjalan, membawa sebuah keranjang rotan berisi beberapa buket bunga. Sekilas terlihat normal, seperti orang lainnya. Namun jika diperhatikan baik-baik, langkahnya terlihat kurang natural. Gadis itu memakai kaos oversize dan rok panjang. Dan dibalik rok panjangnya itu, ia yakin ada kaki prostetik yang disembunyikan.
Ilona menjajakan buket bunganya. Ia selalu memakai kaki prostetik saat jualan meski rasanya sedikit kurang nyaman. Ia ingin orang melihat bunganya, menghargai hasil karyanya, bukan membeli karena kasihan padanya. Ia benci pada tatapan kasihan orang-orang.
Elang menarik nafas dalam, lalu membuangnya perlahan. Ia berlari ke arah Ilona dengan jantung berdebar kencang.
Delapan tahun kabur. Hari ini ia yang datang sendiri, menghampiri orang yang dulu ia tinggalkan dalam kondisi tergeletak di aspal jalan.
"Ilona," sapanya pelan, sedikit ragu.
Ilona menoleh. Matanya menyipit, berusaha memastikan laki-laki yang memanggilnya, takut salah orang. Ia lalu tersenyum. "Temannya Kenan ya?"
Elang mengangguk. Berada di dekat Ilona, membuatnya gugup. "Iya. Ternyata kamu masih ingat. Aku Elang." Ia mengulurkan tangan.
"Ilona." Menyebut nama sambil menjabat tangan Elang. "Ah, kamu sudah tahu namaku. Dan sebenarnya aku juga sudah tahu nama kamu."
"Benarkah?"
Ilona mengangguk. "Hari itu aku mencari kamu."
Deg
Elang kaget. Mungkinkah Ilona tahu tentang dia? "Me, mencari?"
Ilona mengangguk. "Aku ingin mengembalikan jas kamu, tapi kata Kenan kamu sudah balik ke Jakarta."
Elang bernafas lega.
"Aku titipin Kenan, tapi dia tidak mau," lanjut Ilona. "Katanya buang aja, kamu gak butuh, duitnya banyak, bisa beli lagi." Ia terkekeh.
"Oh.." Elang tersenyum kaku. di depan Ilona, ia masih belum bisa bersikap seperti tidak pernah terjadi sesuatu. Rasa bersalah itu, terus membuatnya gelisah.
"Tapi tenang aja, masih aku simpan kok jasnya. Kamu kasih alamat, nanti biar aku kirim ke alamat kamu."
Elang menggeleng. "Gak usah."
Ilona tersenyum. "Ternyata benar kata Kenan, kamu gak butuh."
"Bukan, bukan karena itu. Tapi...kalau kamu gak keberatan, biar aku ambil ke rumah kamu aja." Elang penasaran dengan kehidupan yang dijalani Ilona selama ini. Ia memperhatikan keranjang rotan yang dibawa Ilona, lalu turun ke kakinya.
"Kenapa?" Ilona merasa tatapan Elang seperti tak biasa. "Aku pakai kaki prostetik." Mengangkat sedikit roknya ke atas. "Hari itu saat di resepsi El dan Kenan, kaki prostetikku rusak, jadi aku tidak bisa memakainya. Padahal aku sudah bersiap untuk menjadi bridesmaid," ia tersenyum getir.
"Kamu...jualan bunga?" Tatapan Elang kembali ke keranjang rotan di tangan Ilona.
"Oh ini." Ilona menunjukkan keranjangnya. "Jualan kecil-kecilan. Buat nambah-nambah. Kalau cuma ngandelin pesenan orang, rasanya...Intinya aku pengen nambah penghasilan. Gak ada salahnya kan, menjemput rezeki? Salah satu kakiku memang sudah hilang, tapi bukan berarti, semangat hidupku hilang juga."
Elang mengangguk sambil menunduk. Kata-kata Ilona seperti tamparan untuknya. Ia merasa kecil sekali di hadapan Ilona. Gadis itu telah kehilangan kakinya, tapi masih begitu semangat menjalani hidup, bahkan kekurangan tidak membuatnya terpuruk, ia tetap melanjutkannya hidup, mencari rezeki. Sementara dia, bagaimana bisa 8 tahun lalu begitu miskin hati nurani. Alih-alih membawa ke rumah sakit, malah meninggalkannya begitu saja.
Hening. Canggung.
Elang menatap keranjang itu, lalu menatap Ilona.
"Butuh... butuh bantuan nggak? Maksudnya, buat nawarin ke orang."
Ilona kaget. "Hah?"
"Aku nggak bisa diem aja liat kamu keliling sendiri," lanjut Elang cepat. "Anggap aja... olahraga pagi."
"Kamu yakin?" Ilona masih seperti tak percaya. Kata Kenan, Elang itu anak orang kaya. Apa iya, anak orang kaya mau keliling jualan bunga?
Elang mengangguk cepat.
Ilona menimbang. Lalu ia tertawa kecil. "Boleh sih. Tapi kamu nggak malu?"
Elang mengusap tengkuk, tersenyum canggung. Entah dapat ide darimana tadi dia menawarkan diri. Kalau ditanya malu atau tidak, tentu ia malu. Tapi terlambat untuk menarik kata-katanya, Ilona menyerahkan 3 buket padanya.
"Coba 3 dulu. 50 ribu masing-masing. Kalau ada yang nawar, mentok 40. Dibawah itu jangan dikasih."
Elang mengangguk faham, lalu mulai berpencar dengan Ilona.
Jam 06.45, taman mulai ramai. Selain banyak anak muda yang joging, bapak-bapak dan Ibu-ibu tidak mau ketinggalan, mereka jalan kaki sambil menikmati mentari pagi yang bagus untuk kesehatan. Selain dua generasi tadi, banyak juga anak-anak.
Bukannya menawarkan bunga, Elang malah membisu. Ia bingung, berkali-kali menoleh ke arah Ilona, melihat gadis itu bersemangat sekali menawarkan jualannya.
Ayo Lang, lo pasti bisa.
Awalnya Elang kaku saat menawarkan pada sepasang suami istri. Selain suaranya, tangannya yang memegang buket juga gemetar, tapi ia sudah terlanjur menawarkan diri untuk membantu. Ia tak boleh kembali dengan 3 buket yang belum laku sama sekali.
Muka Elang memerah, jangankan menjawab tawarannya, sepasang suami istri itu sama sekali tak menghiraukannya, melihat pun tidak, terus berlari seolah ia tak kasat mata.
"Mbak... mau beli bunga? Buat... buat di rumah." Elang kembali menawarkan pada dua orang gadis muda yang sedang joging.
Kedua gadis itu sama-sama menggeleng. Penolakan kedua membuat ia hampir putus asa. Ia menoleh ke arah Ilona, yang kebetulan menghadap ke arahnya.
Dari kejauhan, Ilona tersenyum sambil melambaikan tangan pada Elang. "Semangat!"
Elang tersenyum kecut. Ia kembali menawarkan bunganya, namun lagi dan lagi ditolak. Ia menatap buket di tangannya, sudah hampir 1 jam, tapi tak satu pun buket terjual.
Jam 08.00, sesuatu berubah.
Ada anak kecil narik tangan ayahnya. "Ayah, beliin bunga untuk Ibu. Besok Ibu ulang tahun."
Seperti mendapatkan angin segar, Elang langsung membungkuk di depan bocah perempuan itu. "Ini ada mawar putih. Wangi. Ibu kamu pasti suka."
Laku.
Elang menatap uang 30 ribu di tangan, karena tadi ia memberikan diskon. Ilona bilang harga mentok 40, biarlah, nanti ia yang nombokin, yang penting laku. Ternyata sesusah ini mencari uang.