Dua hari menjelang pernikahan megahnya, Cinderella Huntington harus menelan kenyataan pahit: sang tunangan mengkhianatinya bersama adik kandungnya sendiri.
Dijatuhi tuduhan tak adil dan selalu dituntut mengalah oleh keluarganya, Cinderella memilih pergi melintasi dinginnya malam untuk meluapkan amarah dan rasa sakitnya hingga mengakhiri hidup.
Namun takdir berkehendak lain. Ia terbangun dalam raga Marcella Ember Vitiello—gadis 18 tahun yang tewas mengakhiri hidup akibat pengabaian orang tuanya.
Di tengah keputusasaan, takdir mempertemukannya kembali dengan Draxler Lutolf Ashford—pemuda 19 tahun berparas tampan yang ia kira hanyalah mahasiswa biasa.
Cinderella bertekad membalas setiap ketidakadilan.
Bisakah ia benar-benar menghapus jejak Draxler dari hidupnya ketika takdir pria muda itu ternyata jauh lebih rumit dari yang pernah ia bayangkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#10
Langkah kaki Cinderella—yang kini bersemayam penuh dalam raga Marcella Ember Vitiello—terasa dingin menapak di atas trotoar sore.
Angin yang berembus melintasi tepian jalanan California membawa hawa gersang.
Namun, fokus Cinderella sama sekali tak terganggu oleh konfrontasi impulsif bersama Draxler di bawah pohon mapel beberapa saat lalu.
Bagi mantan pimpinan eksekutif yang biasa menghadapi intrik politik korporasi tingkat tinggi, amarah seorang pemuda berusia 19 tahun hanyalah dinamika ego yang dangkal.
Cinderella tidak melangkah menuju rumah sewaan bertembok kusam milik orang tua Ember yang telah ditinggalkan.
Sebaliknya, menyusuri ingatan rahasia yang terpatri dalam benak raga ini, langkahnya mengarah pada sebuah area hunian berkonsep minimalist-modern yang terletak beberapa blok dari jalan utama—sebuah area yang tersembunyi namun jauh lebih aman dan bersih.
Di sinilah rahasia terbesar Marcella Ember Vitiello tersimpan.
Ember tidak sepenuhnya pasrah pada nasibnya sebagai anak terbuang.
Dari hasil kerja kerasnya menahan lelah dan cemoohan di bar malam eksklusif, gadis itu secara sembunyi-sembunyi menyewa sebuah unit apartemen studio yang amat sederhana namun sangat privat.
Sebuah tempat perlindungan yang tidak diketahui oleh kedua orang tuanya yang toxic, teman-teman kampusnya, ataupun siapapun di dunia ini.
Cinderella menempelkan kartu akses pada panel digital pintu nomor 304. Suara bip halus terdengar, disusul pintu kayu tebal yang terbuka perlahan.
Aroma lavender lembut yang menenangkan seketika menyapa indra penciumannya.
Unit apartemen studio itu tidak luas, namun tertata sangat rapi dan bersih.
Ada tempat tidur queen-size dengan seprai abu-abu lembut, dapur bersih serba putih, meja kerja kecil bersisi jendela berpanorama kota, serta kamar mandi berdinding keramik mengilap.
Sama sekali tidak mencerminkan kehidupan tragis dari seorang gadis yang dicap miskin dan terbuang.
Cinderella menutup pintu, lalu menguncinya rapat. Ia melepaskan tasnya, berjalan perlahan menuju cermin besar di dekat meja rias.
"Jadi di sini tempatmu bersembunyi dari kejamnya dunia, Ember?" gumam Cinderella lirih.
Ia memandangi pantulan dirinya. Wajah Ember yang tadinya pucat kini memancarkan ketegasan dingin.
Di tempat inilah Ember menyimpan sisa harganya diri, mengumpulkan tenaga sebelum akhirnya rasa patah hati atas perceraian orang tuanya dan penolakan dunia menghancurkan pertahanan terakhirnya.
Cinderella melangkah ke arah meja kerja. Ia membuka laptop tipis yang dibeli Ember dari hasil tabungannya.
Layar menyala, memantulkan angka saldo rekening rahasia yang terkumpul atas nama pribadi Ember—jumlah yang tidak fantastis bagi seorang Cinderella Huntington, namun lebih dari cukup untuk menopang kehidupan seorang mahasiswi mandiri selama beberapa tahun ke depan tanpa perlu bergantung pada siapapun.
Ukiran senyum tipis terbit di bibir Cinderella.
"Kau gadis yang sangat cerdas dan pekerja keras, Ember. Kau hanya berada di lingkungan yang salah dan mencintai orang yang tidak tepat."
Cinderella menyandarkan tubuhnya di kursi kerja, menatap pemandangan garis langit kota dari balik jendela kaca.
Fokusnya kini sepenuhnya terarah pada perancangan strategi: bagaimana ia akan membangun kembali identitasnya, mengambil alih panggung ekonomi dengan kemampuan analitisnya sebagai mantan pimpinan Huntington Group, dan membalas setiap perlakuan hina yang pernah diterima raga ini.
Sementara itu, di sisi lain kota California.
Griya tawang megah milik keluarga Ashford tampak begitu lengang dan sunyi.
Sinar lampu warm white memendarkan kesan mewah pada lantai marmer dan perabotan kelas atas.
Di dalam kamar pribadinya, Draxler Lutolf Ashford berdiri membisu di dekat jendela kaca raksasa yang mengarah ke pemandangan malam kota.
Pria berpostur tinggi tegap itu bertelanjang dada, hanya mengenakan celana kain santai. Rambutnya masih sedikit basah seusai mandi, namun raut wajahnya sama sekali tidak menunjukkan ketenangan.
Pikirannya berantakan.
Berantakan total.
Di atas meja kaca di sampingnya, ponsel pintar milik Draxler terus bergetar dan menyala berulang kali.
Ada puluhan panggilan tak terjawab dari Brave dan Kal El di grup percakapan mereka, namun Draxler tak memedulikannya sama sekali.
Jemarinya yang panjang meraih ponsel itu. Ia membuka aplikasi pesan singkat, lalu jarinya berhenti tepat di atas nama kontak yang selama enam bulan terakhir ini selalu menjadi penyebab sakit kepalanya: Marcella Ember Vitiello.
Draxler mengetikkan beberapa kata di papan ketik layar:
Kau ada di mana?
Ia menatap tiga kata itu selama beberapa detik. Ibu jarinya menggantung ragu di atas tombol kirim. Namun sebelum sempat menekan kirim, rasa gengsi dan amarah menahannya.
Kenapa aku yang harus mengirimkan pesan padanya lebih dulu?! batin Draxler murka pada dirinya sendiri.
Ia menghapus ketikan itu.
Draxler berjalan bolak-balik di kamar luasnya dengan napas terengah pelan.
Rasa tak terima yang membakar dadanya sejak sore tadi di bawah pohon mapel bukannya mereda, justru kian menjadi-jadi saat malam makin larut.
Ember biasanya akan mengirimkan minimal sepuluh pesan tidak penting setiap malam.
Pesan-pesan konyol yang menanyakan apakah ia sudah makan, ajakan berkencan besok pagi, hingga stiker-stiker heboh yang tidak pernah Draxler balas.
Pria itu selalu membiarkan kotak masuknya dipenuhi oleh omong kosong gadis itu, menganggapnya sebagai gangguan harian yang menyebalkan.
Namun malam ini... ponselnya begitu hening.
Tidak ada satu pun pesan dari Ember.
Tidak ada panggilan.
Tidak ada pemberitahuan sama sekali.
Draxler kembali menyalakan layar ponselnya. Ia mengetikkan kalimat baru dengan emosi yang menumpuk di dadanya:
Jelaskan padaku apa maksud ucapanmu di perpustakaan tadi. Jangan bertingkah konyol.
Ia memandangi pesan bernada menuntut itu. Draxler menghembuskan napas kasar.
Tidak, ini terlalu kentara kalau aku memikirkannya.
Ia menghapus kalimat itu lagi.
Jemarinya kembali mengetik secara cepat:
Besok pagi temui aku di parkiran kampus. Jangan terlambat.
Lagi-lagi, tepat sebelum tombol kirim ditekan, Draxler menahan napasnya.
Ia membanting tubuhnya ke atas kasur king-size, melemparkan ponselnya ke samping bantal dengan raut wajah frustrasi yang belum pernah ia alami sepanjang 19 tahun hidupnya.
"Sialan..." umpat Draxler parau seraya mengusap wajahnya kasar dengan kedua telapak tangan.
Bagaimana bisa seorang gadis 18 tahun yang selama ini berada di bawah kendalinya—gadis yang selalu bertekuk lutut dan mengejar-ngejarnya bagaikan orang gila—bisa membuat seorang Draxler Lutolf Ashford berantakan hanya dalam kurun waktu satu hari?
Tatapan dingin Ember, dorongan tangannya yang penuh penolakan di dadanya tadi sore, serta kalimat 'Gadis bodoh yang mengejar-ngejarmu itu sudah mati' berputar tanpa henti di kepalanya bagaikan teror.
Draxler meraih ponselnya kembali.
Dengan gigi terkatup rapat dan kebalikan ego yang akhirnya runtuh oleh rasa penasaran mendalam, ia mengetikkan satu kalimat singkat, pendek, dan langsung:
Di mana rumahmu?
Draxler menarik napas dalam-dalam, lalu menekan tombol kirim.
Layar ponsel menampilkan tanda centang, menandakan pesan itu telah terikirim.
Draxler duduk tegak di atas ranjangnya, menggenggam ponselnya erat-erat, menantikan balasan dari nomor Ember dengan jantung yang berdegup tak beraturan di dalam dadanya.