NovelToon NovelToon
Maaf, Aku Tak Mengemis Cinta

Maaf, Aku Tak Mengemis Cinta

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Masuk ke dalam novel / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:1.1M
Nilai: 4.9
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

Ia masuk ke tubuh wanita yang ia anggap bodoh, dan memilih mengubah takdirnya, bukan mengulangnya

Dina, yatim piatu cerdas yang selalu diremehkan karena penampilan, meninggal dalam kecelakaan dan terbangun sebagai Belvina Laurent, sosialita cantik yang dulu ia anggap bodoh. Terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan Alden Virel, pria dingin yang membencinya,

Dina dalam tubuh Belvina memutuskan berhenti mengejar cinta yang bukan miliknya.

Perubahannya membuat Alden gelisah, sementara Seraphina, wanita yang tampak lembut, perlahan menunjukkan sisi tersembunyi.

Dengan kecerdasan yang kini jadi senjata, Belvina mulai membalik keadaan, mengungkap kebohongan, dan membuktikan bahwa harga diri lebih berharga daripada cinta sepihak.

Namun semakin ia menjauh, semakin Alden tak mampu melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28. Keyakinan Ganjil

Mobil Alden melaju cepat menuju kawasan selatan kota. Tangannya mantap di setir, tapi pikirannya jauh dari tenang.

Laporan tentang Belvina terus berputar di kepalanya.

Bermain dengan anak-anak panti. Menggendong bayi yang menangis. Berbicara lama dengan kepala panti.

Ia tak tahu kenapa itu mengganggunya. Atau mungkin ia tahu, tapi tak mau mengakuinya.

Ia ingin melihat sendiri.

Melihat seperti apa wajah Belvina saat berada di tempat yang tak pernah cocok dengan wanita lama yang ia kenal.

Saat mobil memasuki gerbang panti, seorang pengurus buru-buru menghampiri.

“Tuan mencari Nyonya Belvina?”

Alden turun separuh badan dari mobil.

“Di mana dia?”

“Baru saja pulang sekitar sepuluh menit lalu.”

Otot rahangnya bergerak samar.

“Ke arah mana?”

Pengurus menunjuk jalan luar.

Alden langsung membanting pintu mobil dan memutar setir kembali.

Beberapa menit kemudian, ponselnya berdering.

“Tuan, Nyonya Belvina didekati empat pria di jalan sepi—”

Sorot Alden berubah tajam.

“Lokasi.”

Orang itu cepat menyebut titik jalan.

"Kalau terjadi sesuatu pada istriku…” Suara Alden rendah dan dingin. “...kau akan tahu akibatnya.”

Sambungan terputus. Kakinya menginjak pedal gas lebih dalam.

 

Di tempat lain--

Mata Belvina bergerak menilai keempat pria itu satu per satu.

Dua di depan. Satu terlalu banyak bicara. Satu lagi tampak paling berani. Dua sisanya masih di dekat motor.

Ia menghela napas pendek.

“Tunggu sebentar.”

Keempat pria itu saling pandang, lalu tertawa.

Belvina berbalik menuju bagasi mobil.

“Wah, nurut juga,” ejek salah satu dari mereka.

“Takut kali.”

Belvina membuka bagasi tanpa tergesa. Tangannya masuk ke kompartemen bawah, lalu menarik keluar kunci roda berbahan besi.

Belvina menutup bagasi pelan.

Ia berbalik sambil menggenggam kunci roda di tangan. Besi itu berayun ringan di sisi pahanya.

Para lelaki itu justru makin mendekat.

 

Tak jauh dari sana, sebuah mobil berhenti mendadak.

Pria suruhan Alden turun cepat, berniat menolong. Namun langkahnya terhenti di samping pintu mobil.

Nyonya mudanya berdiri tenang di tengah jalan, kunci roda tergenggam di tangan.

Senyum terukir di wajahnya.

Bukan senyum takut. Bukan pula senyum ramah.

Melainkan senyum seseorang yang baru saja menemukan tempat menyalurkan kekesalan.

Entah kenapa, pria itu tidak melihat seorang wanita yang sedang terancam.

Ia justru berhenti melangkah. Rasa penasaran muncul lebih dulu.

Dan keyakinan ganjil... bahwa empat pria itulah yang sebentar lagi akan celaka.

 

“Wah,” salah satu pria menyeringai. “Aku suka yang galak.”

Belvina memiringkan kepala sedikit. “Bagus.”

Detik berikutnya—

Brak!

Ujung besi menghantam lutut pria terdepan hingga ia roboh sambil menjerit.

Tiga lainnya membeku.

Belvina sudah bergerak lagi. Sikutnya menghajar rahang pria kedua sampai kepalanya terlempar ke samping.

Tumit sepatunya menendang perut pria ketiga hingga tubuhnya mundur menabrak motor.

Pria terakhir baru hendak maju sambil menghunus pisau ketika Belvina memutar kunci roda dan menghantam punggung tangannya keras.

“Aaargh!”

Pisau terlepas dan jatuh beradu dengan aspal.

Belvina tak memberi celah. Saat pria itu membungkuk memegangi tangan, lututnya melesat ke perut lawan.

Tubuh pria itu terlipat.

Satu ayunan terakhir menghantam bahunya telak hingga ia ambruk di jalan.

 

Tak jauh dari sana, orang suruhan Alden hanya bisa menatap tak percaya.

Sosok wanita itu masih tegak di antara empat tubuh yang bergelimpangan.

Ia sempat teringat instruksi Alden.

Jaga Belvina.

Di momen ini, perintah itu mendadak terasa lucu. Yang perlu dijaga sepertinya justru orang lain dari Nyonya mudanya.

 

Beberapa detik kemudian, mobil hitam lain berhenti tajam tepat di belakangnya.

Pintu terbuka keras.

Alden turun dengan wajah gelap. Arah matanya langsung tertuju pada anak buahnya yang malah berdiri diam.

“Apa yang kau—”

Kemarahan itu terputus.

Di depannya, Belvina berdiri sambil memegang besi. Rambut sedikit berantakan. Napas tenang.

Empat pria terkapar di jalan seperti karung rusak.

Alden melihat pemandangan itu cukup lama. Untuk sesaat, bahkan ia tak berkata apa-apa.

Belvina berbalik menuju bagasi mobilnya sambil membawa kunci roda.

Di saat yang sama, Alden refleks bergerak cepat dan bersembunyi di balik mobil milik orang suruhannya.

Gerakan itu begitu mendadak hingga pria suruhannya menoleh bingung.

"Tuan.. sedang sembunyi?"

Alden memberi tatapan tajam tanpa bicara, seolah melarang satu komentar pun keluar.

Pria itu langsung menegakkan badan.

Belvina melangkah mendekat ke bagasi tanpa tergesa.

Matanya sempat menyapu ke arah pria suruhan Alden yang berdiri kaku di pinggir jalan. Seolah menyadari ada sesuatu yang ganjil.

Namun ia tak berkata apa-apa. Ia hanya meletakkan kunci roda ke dalam bagasi, lalu menutupnya pelan.

Setelah itu, Belvina berbalik dan berjalan menuju salah satu motor yang tergeletak di sisi jalan.

Motor tua dengan bodi ramping dan knalpot panjang—RX-King.

Belvina menegakkan motor itu, lalu duduk di atas joknya dengan tenang. Sebelum menyalakan mesin, ia menoleh pada mereka.

“Pinjam dulu.”

“Woi—!” salah satu berteriak lirih sambil memegangi lutut.

Tapi tangan Belvina sudah memutar kunci kontak.

Kaki kanannya menginjak pedal starter beberapa kali hingga mesin menyala.

Greng!

Suara mesin meraung kasar.

Tangan kirinya menarik kopling, lalu ujung kakinya menekan gigi satu.

Belvina menoleh santai ke arah para pria yang merintih.

“Terima kasih sudah datang.”

Keempat lelaki itu masih terkapar di aspal, menatap Belvina dengan campuran ngeri dan dendam.

Setelah itu, Belvina memutar gas perlahan dan motor pun melesat maju.

Dari balik tempat sembunyi, Alden akhirnya keluar perlahan. Matanya masih tertuju ke arah Belvina pergi.

Pria suruhannya bergumam tak percaya.

“Nyonya... bisa naik motor begitu?”

Alden tak menjawab.

 

Di kejauhan, Belvina yang melaju di jalan raya menggigit bibir menahan senyum kecil.

“Untung dulu pernah belajar dari satpam panti.”

 

Di belakang sana, empat pria yang terkapar mulai mengumpat bersahutan.

“Motor gueee!”

“Sialan tuh cewek!”

“Pinggang gue patah duluan, goblok!”

Alden mengalihkan pandangan pada mereka sebentar, lalu berkata dingin pada orang suruhannya,

“Urus mobil Nyonya. Dan urus tikus-tikus itu.”

Alden terdiam sesaat sebelum menambahkan,

“Dan cari tahu... sejak kapan istriku bisa melakukan semua itu.”

“Baik, Tuan.”

Alden berbalik menuju mobilnya sendiri. Ia masuk, lalu membanting pintu.

Beberapa detik kemudian, mesin meraung dan mobil melesat menyusul.

 

Di depan sana, Belvina membelah jalan dengan motor tua itu.

Angin menerpa rambutnya. Bibirnya terbuka dalam senyum lebar.

Ia menyalip satu mobil, lalu dua kendaraan lain tanpa ragu.

“Ah... sudah lama sekali.”

Matanya berbinar.

“Seruuuu!”

Tangannya memutar gas lebih dalam.

Motor melesat kencang ke depan.

Jauh di belakang, Alden menatap siluet wanita itu dari balik kaca depan.

Wajahnya menegang sesaat.

“Siapa sebenarnya wanita yang kunikahi?”

-

...✨"Yang kabur hari itu bukan hanya motor tua di depan sana, tapi jawaban atas siapa sebenarnya Belvina."✨...

.

To be continued

1
anonim
Seraphina berulah, Alden mengambil langkah cepat dengan pemutusan seluruh kerja sama yang masih berjalan.

Semua proyek yang belum berjalan juga dihentikan.

Seraphina sudah terlalu lama menikmati hasil kelicikannya. Kini tinggal menunggu kehancurannya.

Sifat jahat Seraphina meronta tak mau kalah.

Semoga perbuatan nekatnya mau mencelakakan Belvina yang sedang mengandung tidak terlaksana.
anonim
Belvina lebih baik tidak usah keluar rumah sebelum Alden menemukan bukti-bukti kuat kejahatan Seraphina di perusahaan keluarga Alden.

Seraphina tidak sadar kalau perbuatannya pasti segera diketahui Alden.
anonim
Alden mendapatkan laporan dari Dimas tentang sepak terjang Seraphina yang menjadi pahlawan perusahaannya.

Kepala keuangan di perusahaannya terlibat kerja sama dengan Seraphina dengan membocorkan situasi internal perusahaan. Menjual data perusahaan kepada Seraphina.

Licik sekali Seraphina. Bertahun-tahun Alden baru mengetahui perbuatan jahat Seraphina. Bertahun-tahun pula Alden merasa berhutang budi pada Seraphina.

Menjadikan Seraphina sebagai pahlawan penyelamat perusahaan.

Sekarang tinggal penyesalan yang sangat terlambat Alden sadari. Istrinya banyak terluka karena dirinya lebih membela Seraphina.
anonim
Orang suruhan Seraphina ini apa tidak punya istri dan anak. Mau-maunya menerima pekerjaan mencelakakan Ibu hamil.

Orang-orang yang mengawasi Belvina mestinya siaga tidak jauh dari Belvina berada.
anonim
Seraphina penjahat terselubung, melakukan kejahatan dengan membayar seseorang.

Alden sudah memilih Balvina, Seraphina tidak terima.

Jelas Alden akan marah kalau Belvina sampai kenapa-napa. Apalagi karena ulah Seraphina.
SediaKala
Bukannya ponselnya di tinggal d rumah ya?🤏
anonim
Alden benar-benar marah kepada Seraphina yang telah mencoba menghancurkan rumah tangganya.

Kalimat-kalimat selanjutnya yang terucap dari Alden membuat Seraphina terdiam. Seperti tak percaya.

Seraphina telah meninggalkan ruangan Alden.

Dimas takut Seraphina berbuat nekat.

Alden pun berpikiran sama. Bahkan takut kalau Belvina yang akan jadi sasaran.
anonim
Seraphina datang ke gedung Astera Group memenuhi panggilan dari Alden.

Seraphina sudah berada diruang kerja Alden.

Alden tanpa basa basi bicara soal kejadian di klub malam. Tentang foto-foto mereka berdua kepada Belvina.

Seraphina pura-pura terkejut mendengarnya. Dan berkata tidak tahu soal itu.

Tapi tak lama kemudian, pura-pura terkejut itu menjadi benar-benar terkejut.

Masih pura-pura tidak mengerti dengan rekaman yang sudah Alden lihat.

Seraphina mau mengelak apa lagi. Alden mempunyai bukti rekaman.
anonim
Seraphina menghancurkan gelas wine yang isinya sudah tandas dia teguk dengan emosi tinggi

Kata-kata Belvina terus terngiang di telinganya.

Seraphina menahan amarah.

Seraphina menghubungi seseorang, dengan ponselnya.

Dia menyuruh orang tersebut menjatuhkan Belvina. Tidak peduli dengan Belvina yang diawasi cukup ketat oleh Alden.
anonim
Belvina tidak mau membantu Alden lepasin baju.

Kalau Belvina sudah mode datar, Alden merasa ada sesuatu yang tidak beres.

Alden baik. Maunya, Belvina terus terang bicara apa yang menjadikan kesal terhadap dirinya. Biar dia tahu kesalahannya.

Omongan Seraphina yang bikin Belvina kesal, ditanyakan pada Alden.

Belvina setelah mendengar penjelasan dari Alden, mestinya sadar kalau omongan Seraphina itu supaya Belvina terpancing kemarahannya.

Kemarahan Ibu hamil bisa membahayakan bayi dalam kandung. Itu yang dikehendaki Seraphina.
beybi T.Halim
setelah mood yg up & down baca cerita ini akhirnya kelar juga,happy ending buat semuanya,semangat buat penulisnya,sehat2 sll💝
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
anonim
Keren juga Belvina dalam menghadapi Seraphina yang dengan sengaja bicara tentang perlakuan Alden yang sudah berlalu.

Sayangnya Belvina tak terpengaruh dengan Seraphina. Tidak terpancing untuk marah.

Kalimat demi kalimat yang terucap dari mulut Belvina membuat Seraphina tak berkutik.

Kebanggaannya diperlakukan istimewa oleh Alden, tak ditanggapi Belvina sesuai harapannya.

Belvina tak bisa diremehkan. Pasti akan mekawan dengan cara yang elegan. Seperti saat ini.

Tidak perlu marah pakai teriak-teriak.
anonim
Seraphina sengaja mengikuti Belvina kah ?

Belvina mesti hati-hati kalau dekat Seraphina. Mesti waspada terhadap gerak-gerik Seraphina. Jangan sampai membahayakan kehamilannya.
Nurlaila Hidayah
gmna Lo mau tahu sama istri Lo aja cuek lbih perhatian sama cwek lain, mka'a aneh kan sama istri sndri, kerasa kan skrg keadaan'a di balik, emg enak, sangka thor
RusNa ANtox DEwi
baguss
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Bakulgeblek
keren2... bakal saya lahap habis ini karya2mu...
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Bakulgeblek
home sweet home...
Bakulgeblek
nha... senyum2 besoknya pasti ini pak COD koplak...
Bakulgeblek
titik terendah harga diri laki2 di depan istri, sekaligus puncak kelaki2an utk menahan dan hanya melepas kepada istri...💪💪💪
Bakulgeblek
"sudah boleh?" 🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!