Ratna Wulandari, dokter desa berusia enam puluh tahun, telah mengabdikan 37 tahun hidup untuk suami Bambang dan seluruh keluarga. Namun sebuah paket terlarang membongkar rahasia gelap suaminya: selama puluhan tahun ia berselingkuh dengan cinta pertama Sari, rutin kirim uang, belikan rumah bahkan pesan kavling makam pasangan untuk berdua. Saat Ratna buktikan semua fakta ke anak-anaknya, mereka justru minta dia diam demi nama keluarga dan harta. Dikhianati suami, diabaikan anak, Ratna akhirnya berhenti bersabar dan berjuang merebut hak hidupnya yang sempat terbuang sia-sia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindita Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Bab 21 - Luka yang Terlihat
Pagi setelah Bambang mengamuk, Ratna tetap membuka klinik.
Raka tidak setuju.
"Bu, lengan Ibu masih merah. Minimal tutup sehari."
Ratna mengancingkan manset bajunya. Bekas jari Bambang memang masih terlihat samar di lengan bawah, seperti bayangan ungu yang malas pergi.
"Kalau Ibu tutup, orang makin ramai."
"Orang memang sudah ramai."
"Maka jangan beri mereka tambahan bahan."
Raka berdiri di pintu ruang periksa, wajahnya kusut karena tidur di kursi plastik. "Bu, kadang Ibu terlalu kuat sampai bikin orang lain merasa tidak perlu melindungi Ibu."
Ratna berhenti.
Kalimat itu membuatnya menoleh.
Raka tampak menyesal sudah bicara, tetapi tidak menariknya kembali.
"Aku bukan marah," katanya pelan. "Aku cuma... semalam lihat Bapak pegang lengan Ibu begitu, rasanya ingin menghajar dia. Tapi Ibu masih sempat bilang tidak apa-apa."
Ratna menatap bekas merah di lengannya.
"Ibu terbiasa mengatakan tidak apa-apa."
"Nah. Jangan biasakan lagi."
Ratna tersenyum lelah. "Baik. Hari ini Ibu akan bilang sakit kalau sakit."
"Janji?"
"Janji."
Raka baru mau menjawab ketika ponsel Ratna berdering. Nama Farida muncul di layar.
Ratna mengangkat.
"Assalamualaikum, Bu Ratna. Saya sudah lihat foto yang Raka kirim. Bekas cengkeraman itu sebaiknya diperiksa dan dibuat catatan medis. Bukan berarti harus langsung lapor polisi, tapi dokumentasi penting."
Ratna melirik Raka.
"Catatan medis oleh siapa? Saya sendiri dokter."
"Justru jangan Ibu sendiri. Bisa ke Puskesmas atau klinik lain. Minta visum ringan kalau memungkinkan, atau minimal rekam medis luka."
Ratna diam.
Raka langsung berkata, "Kita ke Puskesmas."
Ratna menutup mikrofon ponsel. "Ibu ada pasien."
"Pasien bisa ke Puskesmas juga. Kali ini Ibu yang jadi pasien."
Farida seperti mendengar, karena ia berkata dari telepon, "Raka benar."
Akhirnya klinik dibuka hanya satu jam. Bu Rini yang datang untuk membeli obat maag langsung diminta menempelkan pengumuman.
Klinik buka kembali sore. Bu Dokter ada urusan medis.
Bu Rini membaca tulisan itu, lalu menatap Ratna. "Urusan medis siapa, Bu?"
Raka menjawab sebelum ibunya, "Ibu saya."
Bu Rini langsung diam.
Di Puskesmas Sukamaju, Ratna duduk di kursi pasien. Rasanya aneh. Biasanya ia yang memegang tensimeter, ia yang bertanya keluhan. Hari itu, seorang dokter muda memeriksa lengannya dan bertanya, "Ini karena apa, Bu?"
Ratna membuka mulut, tetapi suara tidak langsung keluar.
Raka berdiri di sampingnya, menatapnya, tidak mendesak.
Ratna akhirnya berkata, "Dicengkeram suami."
Dokter muda itu berhenti menulis sebentar, lalu mengangguk profesional.
"Kapan kejadiannya?"
"Semalam."
"Ada nyeri saat digerakkan?"
"Sedikit."
"Ada ancaman lain?"
Ratna menatap meja.
Pertanyaan itu sederhana, tetapi membuat tenggorokannya kering. Dulu, kalau ditanya orang apakah Bambang pernah menyakitinya, ia pasti menjawab tidak. Karena Bambang jarang memukul. Karena kata-kata kasar dianggap biasa. Karena cengkeraman dianggap emosi sesaat. Karena dalam rumah tangga, banyak hal buruk diberi nama "khilaf".
"Ada keributan," jawab Ratna. "Dia memaksa saya pulang."
Dokter muda mencatat.
Raka menggenggam sandaran kursi.
Setelah pemeriksaan selesai, Ratna mendapatkan salinan rekam medis dan saran untuk datang lagi jika nyeri bertambah. Dokter muda juga memberi nomor layanan pendampingan perempuan di kabupaten.
Ratna menerima kertas itu dengan canggung.
"Saya tidak sampai..."
Dokter muda berkata lembut, "Disimpan saja, Bu. Tidak harus dipakai hari ini."
Di mobil Raka, Ratna memandangi kertas itu lama.
Raka tidak menyalakan mesin.
"Bu."
"Ya?"
"Dulu pernah?"
Ratna tahu maksudnya.
"Tidak seperti semalam."
"Tapi pernah?"
Ratna menatap halaman Puskesmas. Ada ibu muda menggendong bayi, bapak tua membeli masker, anak sekolah tertawa sambil menunggu obat. Hidup orang lain terus berjalan.
"Bapakmu kalau marah kadang menarik tangan. Mendorong kursi. Membanting piring. Ibu selalu pikir itu bukan apa-apa."
Raka menutup mata.
"Kenapa Ibu tidak pernah bilang?"
"Kamu masih kecil. Lalu kamu besar, punya hidup sendiri. Ibu juga tidak punya bahasa untuk menyebutnya."
"Itu kekerasan, Bu."
Ratna mengangguk pelan.
"Sekarang Ibu tahu."
Raka menyalakan mesin, tetapi tidak langsung jalan.
"Aku minta maaf."
"Untuk apa?"
"Karena baru tahu sekarang."
Ratna menyentuh tangan anaknya.
"Anak tidak bertanggung jawab atas dosa ayahnya."
"Tapi anak bisa bertanggung jawab menjaga ibunya setelah tahu."
Ratna tidak menjawab.
Sore itu, ketika mereka kembali ke klinik, Arman sudah menunggu di depan warung Bu Rini. Ia tidak masuk, mungkin karena tahu kehadirannya bisa membuat cerita baru.
Raka turun lebih dulu. Tatapannya pada Arman hati-hati.
"Pak Arman."
"Raka, ya?"
"Iya."
Keduanya berjabat tangan.
Ratna turun dari mobil. "Pak Arman, ada apa?"
Arman melihat lengannya. Tatapannya berhenti sebentar, lalu kembali ke wajah Ratna.
"Saya hanya ingin memastikan Ibu baik-baik saja."
"Saya baik."
Raka berdeham.
Ratna mengoreksi, "Lengan saya sakit. Tapi saya sudah periksa."
Arman mengangguk. "Bagus."
Ia tidak berkata, "Saya sudah bilang." Tidak bertanya detail. Tidak menyuruhnya melapor. Ia hanya mengeluarkan sebuah kartu dari saku.
"Ini nomor langsung saya dan nomor asisten saya. Kalau Pak Bambang datang lagi dan Ibu butuh saksi tambahan, telepon."
Ratna menerima kartu itu.
Raka menatap Arman lebih lama, lalu berkata, "Terima kasih."
Arman mengangguk. "Saya menghormati Bu Ratna. Bukan mau mengambil alih."
Kalimat itu seperti sengaja ditujukan pada Raka.
Raka terdiam, lalu mengangguk singkat.
Malamnya, Ratna menyimpan rekam medis luka di map gugatan. Di samping bukti chat, foto, kuitansi makam, dan perjanjian rumah untuk Sari, kini ada bukti baru.
Bekas tangan Bambang.
Luka yang dulu mungkin ia sembunyikan di balik lengan panjang, kini tertulis rapi dalam bahasa medis.
Nyeri tekan pada lengan bawah kanan. Memar akibat trauma tumpul.
Ratna membaca kalimat itu.
Sederhana.
Dingin.
Tetapi benar.
Untuk pertama kalinya, sakitnya punya nama.
Malam itu, Raka pulang setelah Anisa menelepon tiga kali. Sebelum pergi, ia memeriksa pagar rumah sewa Ratna, jendela dapur, dan kunci belakang seperti petugas keamanan.
"Bu, kalau Bapak datang, jangan buka pintu sendirian."
"Iya."
"Kalau Sari datang?"
"Ibu juga tidak buka sendirian."
"Kalau Pak Arman datang?"
Ratna menatapnya.
Raka mengangkat bahu. "Aku cuma memastikan aturan berlaku untuk semua laki-laki."
Ratna hampir tersenyum. "Kalau Pak Arman datang, Ibu juga akan bicara di teras."
"Bagus."
Setelah Raka pergi, rumah sewa itu terasa lebih sunyi, tetapi tidak menakutkan. Ratna mengambil kompres dingin dan menempelkan pada lengannya. Memar itu tidak besar, tetapi cukup untuk mengingatkan bahwa tubuhnya pernah dipaksa mengikuti kehendak orang lain.
Ponselnya bergetar.
Arman: Sudah dikompres?
Ratna menatap pesan itu. Ia tidak tahu siapa yang memberi tahu Arman soal kompres, mungkin Raka, mungkin Farida, mungkin Arman memang terbiasa memikirkan hal kecil.
Ratna: Sudah.
Arman: Jangan pijat bagian memar.
Ratna: Saya dokter.
Arman: Dokter juga kadang keras kepala.
Ratna membaca pesan itu dan menggeleng pelan.
Ia membalas:
Ratna: Pasien juga kadang terlalu cerewet.
Arman: Saya sedang belajar dari dokter saya.
Ratna meletakkan ponsel di meja. Ada senyum kecil yang muncul, tetapi kali ini ia tidak buru-buru menghapusnya.
Di rumah utama, lampu ruang tamu Bambang masih menyala. Dari kejauhan, Ratna bisa melihat bayangannya bergerak di balik gorden.
Dulu bayangan itu membuatnya merasa harus pulang.
Malam ini, bayangan itu hanya bagian dari rumah lama.
Keesokan paginya, Ratna memotret lengannya sendiri sebelum mandi.
Memarnya mulai berubah warna, dari merah keunguan menjadi biru samar. Tubuh memang punya cara sendiri untuk menyembuhkan. Tapi Ratna tahu luka batin tidak otomatis berubah warna lalu hilang.
Ia mencetak foto itu di toko fotokopi dekat pasar dan memasukkannya ke map.
Petugas fotokopi sempat melirik, tetapi Ratna menatap balik sampai anak muda itu menunduk.
Dulu ia malu membawa bukti luka.
Sekarang ia lebih malu kalau membiarkan orang lain menghapusnya.
Di perjalanan pulang dari toko fotokopi, Ratna membeli map plastik baru warna biru.
Ia menulis di depannya dengan spidol hitam: Bukti.
Tulisan itu pendek, tetapi membuat langkahnya lebih mantap. Selama ini banyak hal dalam hidupnya hanya disebut perasaan. Hari ini, sebagian sudah menjadi bukti.
keren bued...
Bu Rini bukan nya punya warung dkt klinik Bu Ratna dl?
Iki sing bener sing mana?
koq ga ada mediasi dan sidang?
ato pas crita ini di skip?
ini td melati di awal katanya hamil anak ke2
koq ini bilang blm PNY anak
ini Bu Ratna pindah ke kontrakan dkt ma rmh pak RT? Bu Rini juga? ato ak yg gagal paham nich?
emosiiii akuuuuu
Sayang ya Melati kaya bikin ibunya jd pelacur dg meminta pd lelaki lain yg masih bs dibilang bukan siapa²nya, cuma kenalan