NovelToon NovelToon
TERLAHIR KEMBALI : KONTRAK 500 JUTA JADI CINTA SEUMUR HIDUP

TERLAHIR KEMBALI : KONTRAK 500 JUTA JADI CINTA SEUMUR HIDUP

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Racun Outfit

Ditolak mentah-mentah ,Lili cuman bisa nangis kehujanan di parkiran.

Tiba tiba CEO tempatnya magang berkata.

"Daripada nangisin sampah, nikah sama saya aja."

Lili kira bercanda.

Besoknya lamaran beneran datang.

Kontrak setahun 500 juta.

Tapi yang awalnya kontrak berubah jadi benih benih cinta.

Kontrak 500 juta sudah dihapus.
sekarang cuma ada satu kontrak
SEUMUR HIDUP.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Racun Outfit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9 - TETANGGA MULAI GOSIP, MANTAN MULAI DATANG

Jam enam pagi di kampungku punya suara sendiri.

Ayam berkokok, kayu terbakar di dapur, dan asapnya membuat mataku perih. Tidak ada AC, mesin kopi mahal, atau suara lift seperti di apartemen Damian.

Semalam aku tidur berdesakan dengan Ibu di kasur tipis. Pinggangku pegal, tetapi tidurku justru lebih nyenyak.

Mama Damian sudah pulang ke hotel tadi malam. Jadi pagi ini tinggal kami bertiga.

Aku, Ibu, dan Damian.

Saat keluar kamar, aku melihat tikar tempat Damian tidur sudah dilipat.

“Bu, Pak Damian mana?”

“Di depan. Dari setengah enam membantu Pak RT memperbaiki genteng.”

Aku langsung berlari keluar.

Benar saja. Damian berdiri di atas tangga bambu dengan kaos putih penuh debu dan celana jins kotor. Tangannya sibuk memasang terpal biru di atap.

“Pak! Turun dulu!”

“Kenapa?”

“Nanti jatuh!”

“Tidak akan aku jago. Gak usah khawatir.”

“Baju Bapak kotor!”

Damian melirik kaosnya.

“Lili, kalau saya turun sekarang, atap ini tetap bocor. Kalau hujan, ibumu yang kebasahan.”

Aku terdiam.

CEO yang biasanya berpakaian rapi itu sekarang memperbaiki atap rumah ibuku tanpa mengeluh.

Belum sempat aku bicara, suara tetangga terdengar.

“Lili beruntung banget dapat suami kaya!”

“Dulu ditolak anaknya Bu Warung, sekarang dapat CEO!”

Aku meringis. Kenapa nama Rio harus muncul pagi-pagi?

Seolah dipanggil oleh gosip, sebuah motor berhenti di ujung gang.

Rio turun dengan jaket hitam dan wajah kusut. Di tangannya ada kantong plastik.

“Lil.”

Gang mendadak sunyi.

Rio mengeluarkan bando krem kesayanganku.

“Gue nemu ini dekat got waktu lo pergi dari Kafe Arwana. Udah gue cuci pakai Molto.”

Tanganku refleks terulur. Bando itu memang benda kesayanganku.

Namun, Damian turun dari tangga dan berdiri di sampingku. Tangannya menahan pergelangan tanganku dengan lembut.

“Tidak usah diambil.”

Aku menatapnya.

“Nanti saya belikan yang baru.”

Rio tertawa sinis.

“Lo serius memilih dia, Lil? Cowok yang baru lo kenal sehari?”

Dia menunjuk Damian.

“Cowok yang membeli lo pakai lima ratus juta?”

Dadaku langsung sesak. Tetangga yang tadi berbisik kini terdiam.

Damian menatap Rio dingin.

“Pulang sana Rio.”

Rio malah melanjutkan ucapannya.

“Lo tahu nggak, Lil? Mantan istrinya kabur karena dia kasar.”

Aku menoleh kepada Damian. Pikiranku mendadak kosong. Aku tidak tahu apakah ucapan Rio benar atau sekadar cara untuk menghancurkan kepercayaanku.

Damian tidak membela diri.

“Kalau kamu datang untuk membuat masalah, pulang.”

“Gue cuma mau menyelamatkan Lili!”

“Rio, cukup!” kataku akhirnya.

Dia menatapku kecewa.

“Gue tunggu lo di Kafe Arwana jam tujuh malam. Kalau lo nyesel, gue masih ada. Gue nggak akan nikah sama Rina.”

Aku menggeleng.

“Aku tidak pernah memintamu menunggu.”

Wajah Rio berubah. Tanpa menjawab, dia naik motor dan pergi.

Damian memungut bando yang terjatuh, membersihkan debunya, lalu menyerahkannya kepada Ibu.

“Bu, tolong simpan dulu.”

Aku menatapnya heran.

“Pak, kenapa tadi Bapak melarang saya mengambilnya?”

“Karena saya tidak ingin kamu merasa harus menerima sesuatu dari orang yang pernah menyakiti kamu.”

Aku terdiam. Damian tidak memaksaku membuang bando itu. Dia hanya tidak ingin aku merasa berutang kepada Rio.

Kami masuk ke rumah.

Saat membantu Ibu menyiapkan sarapan, beliau menarikku ke dapur.

“Lili, apa benar kamu menikah karena kontrak lima ratus juta?”

Tanganku berhenti mengaduk sambal.

“Iya, Bu. Pernikahan kami memang berawal dari kontrak satu tahun. Aku butuh uang untuk kos dan UKT. Pak Damian juga punya masalah keluarga.”

Ibu menunduk.

“Ibu punya tabungan delapan ratus ribu. Ibu kumpulkan selama tiga bulan. Ibu pikir uang itu bisa membantu kamu.”

Dadaku terasa sesak.

“Bu, jangan menyalahkan diri sendiri.”

“Maafkan Ibu, Nak.”

Aku langsung memeluknya.

“Ini bukan salah Ibu. Aku tidak menjual diri. Kami membuat kesepakatan, dan kami masih tidur terpisah.”

Tiba-tiba Damian muncul di pintu dapur.

“Bu, saya minta maaf,” katanya.

Ibu mengusap wajahnya.

“Saya yang menawarkan kontrak itu kepada Lili. Dia tidak memaksa saya. Saya membutuhkan pernikahan ini untuk menyelesaikan masalah keluarga saya.”

Damian menarik napas.

“Seharusnya saya datang menemui Ibu lebih dulu. Saya juga ingin Ibu tahu bahwa uang untuk memperbaiki rumah ini bukan pembayaran atas diri Lili.”

Ibu menatapnya.

“Lalu kenapa kamu mau membantu kami?”

“Karena Lili istri saya, Bu. Dan Ibu keluarganya. Kontrak kami memang tertulis di atas kertas, tetapi saya tidak ingin hubungan saya dengan Ibu hanya sebatas itu.”

Aku menatap Damian. Entah kenapa, dadaku terasa hangat.

Ibu mengusap matanya.

“Nak Damian, bangun. Lantainya kotor.”

Damian berdiri dan melihat celananya yang penuh debu.

“Sepertinya celana ini sudah melewati masa sulitnya, Bu.”

Aku tertawa kecil di tengah tangis.

Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.

TIIIN! TIIIN!

Sebuah mobil putih besar berhenti di ujung gang. Mama Damian turun dengan kacamata hitam, diikuti seorang tukang yang membawa dua kaleng cat.

“Liliii! Mama datang membawa tukang cat!”

Aku memejamkan mata.

“Ma, kenapa tidak bilang dulu?”

“Kalau bilang dulu, nanti kamu melarang Mama!”

Mama langsung menunjuk rumah kami.

“Catnya biru langit! Atapnya juga harus diperiksa. Kalau perlu diganti, kita ganti sekalian!”

Tetangga kembali berdatangan. Beberapa bahkan membawa kursi untuk menonton.

Aku melihat daster kebesaran yang masih kupakai, lalu menatap Damian yang kaosnya penuh debu.

Pagi ini kami menghadapi Rio, rahasia kontrak terbongkar, dan aku menangis di dapur. Sekarang Mama datang membawa tukang cat.

“Pak Damian,” panggilku.

“Hm?”

“Pernikahan kita cuma satu tahun, kan?”

“Iya. Kenapa?”

“Kenapa masalahnya sudah seperti sepuluh tahun?”

Damian tertawa kecil.

“Mungkin karena kamu menikah dengan keluarga yang tidak bisa diam.”

Aku mendengus, tetapi akhirnya ikut tersenyum saat melihatnya membantu Pak RT mengangkat ember cat.

Pernikahan ini memang dimulai dengan kontrak, uang lima ratus juta, dan batas waktu satu tahun.

Namun, perlahan, sesuatu mulai berubah.

Bukan pada isi kontrak.

Bukan pada jumlah uangnya.

Melainkan pada cara Damian memperlakukan keluargaku dan cara jantungku bereaksi setiap kali dia melakukan sesuatu yang tidak pernah kuminta.

Aku belum tahu apakah perubahan itu akan menjadi masalah.

Atau justru menjadi alasan kenapa suatu hari nanti, satu tahun terasa terlalu singkat.

Namun, perlahan, sesuatu mulai berubah.

Bukan pada isi kontrak.

Bukan pada jumlah uangnya.

Melainkan pada cara Damian memperlakukan keluargaku dan cara jantungku bereaksi setiap kali dia melakukan sesuatu yang tidak pernah kuminta.

Aku belum tahu apakah perubahan itu akan menjadi masalah. Atau justru menjadi alasan kenapa suatu hari nanti, satu tahun terasa terlalu singkat.

Aku menatap rumah bilik bambu kami yang cat birunya mengelupas, sekarang ada dua kaleng cat biru langit tergeletak di halaman berlumpur. Besok rumah ini akan berubah warna, tapi bisik-bisik tetangga tentang 'lima ratus juta' tidak akan hilang secepat cat kering.

Aku memegang ujung daster kebesaran yang kupakai, melihat Damian yang masih membantu Pak RT mengaduk cat, kaos putihnya sudah tidak putih lagi. Tiba-tiba aku takut. Bukan takut Ibu kecewa atau Rio datang lagi, tapi takut satu tahun nanti aku sudah terlalu nyaman dengan aroma cat baru, suara kipas berisik, dan cara Damian memanggilku Lili. Takut kalau kontrak selesai, aku yang justru tidak mau pulang.

1
sunflower
oh romantisnya sayang sedikit updatenya
sunflower
ya gak ada kelanjutannya
sunflower
ah gengsi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!