NovelToon NovelToon
Zombie Cordyceps

Zombie Cordyceps

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Zombie / Hari Kiamat
Popularitas:640
Nilai: 5
Nama Author: Fery Oktavian

Ketika kebocoran fasilitas riset menyebarkan mutasi jamur pembawa wabah kematian, dunia runtuh dalam hitungan hari dan mengubah manusia menjadi mayat hidup yang dikendalikan spora ganas. Di tengah kekacauan Kota Mati, Luna harus memimpin empat penyintas lain, Steve si petarung, Nancy sang peretas, Endru si tenaga medis, dan Onad sang mekanik humoris. untuk bertahan hidup dari kejaran monster cordyceps dan ancaman kejam kelompok penyintas manusia lainnya. Di antara semak sisa peradaban, adegan penjarahan yang menegangkan, serta benih-benih cinta yang hangat di tengah malam kelam, mereka harus memperebutkan satu-satunya wilayah safe zone yang tersisa. Mampukah naluri survival dan ikatan manusiawi membawa kelimanya selamat, ataukah mereka justru hancur oleh kejamnya sesama penyintas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8 - DUA KEPALA

Embusan angin pagi membawa aroma lembap bercampur tengiknya sisa-sisa spora yang mulai mengendap di atas semen basah. Luna berjalan paling depan, melangkah anggun menyusuri gang sempit yang diapit oleh dinding-dinding rumah warga berlantai dua. Di belakangnya, Steve melangkah kaku dengan pipa besi bengkoknya bertumpu di bahu kekarnya, sementara Rian mengekor paling belakang sambil memeluk erat tali ransel hijau zaitunnya.

Di ujung lorong, sebuah rumah tinggal berpagar besi tinggi tampak sepi. Cat tembok abu-abunya mulai mengelupas, dan pintunya yang terbuat dari kayu jati tebal tertutup rapat.

"Di dalam sini. Pagar dan pintunya masih utuh." Luna berbisik seraya menunjuk halaman rumah tersebut.

Steve maju dua langkah, memeriksa slot kunci pagar besi menggunakan ujung pipa besinya dengan sangat perlahan agar tidak menimbulkan suara gemerincing.

"Selotnya terkunci dari dalam, tapi engsel bawahnya sudah agak renggang." Steve berbisik sambil melirik Luna.

"Geser engselnya perlahan. Rian, tahan pintu gerbang agar tidak berderit." perintah Luna tegas.

Dengan kerja sama yang cekatan, Steve menggunakan kekuatan otot lengannya untuk mengangkat sedikit daun pintu gerbang besi itu, sementara Rian menahan poros bawahnya dengan ujung sepatu. Pagar besi itu terbuka cukup lebar tanpa memicu suara derit tajam. Ketiganya dengan cepat menyelinap masuk ke dalam halaman kecil yang dipenuhi pot tanaman layu, lalu mengunci kembali gembok darurat pagar tersebut dari dalam.

Pintu kayu utama rumah itu terbuka pelan setelah Steve mendorong kaitnya menggunakan bilah pisau milik Luna. Suasana di dalam ruang tamu rumah terasa remang-remang dan dingin. Udara bersih yang terperangkap di dalam ruangan berbau dusta kayu tua dan kain gorden kering, memberikan rasa lega yang sesaat bagi paru-paru mereka yang sudah kelelahan.

BRAM!

Steve menutup pintu kayu itu rapat-rapat, lalu menggeser sebuah lemari kayu tebal untuk mengganjal daun pintu dari dalam. Setelah dipastikan aman, ia menghempaskan tubuh kekarnya ke atas sofa kain yang berdebu, meluruskan kedua kakinya yang terasa pegal luar biasa.

Rian menyandarkan ransel besarnya di sudut dinding, lalu jatuh terduduk di lantai sambil memegang dadanya yang kembang kempis.

"Rasanya... jiwaku hampir ketinggalan di gedung parkir tadi." Rian berbisik dengan napas terengah-engah.

Luna berdiri di tengah ruangan. Ia tidak langsung duduk atau mengendurkan kewaspadaannya. Busur recurve-nya masih berada di tangan kiri, sementara mata kelamnya menatap lurus ke arah Steve yang sedang menyapu darah kering di dahinya.

"Buka kemejamu sekarang." Luna menunjuk dada Steve dengan mata panahnya yang tajam.

Steve yang baru saja memejamkan mata kaget, mendongak menatap wanita di hadapannya.

"Sabar dulu, Mbak. Aku baru selamat dari kepungan belasan zombie, bukan mau ganti baju di pantai." Steve terkekeh pelan dengan suara serak, mencoba mencairkan ketegangan.

"Aku harus memastikan kamu tidak membawa gigitan ke tempat ini." Luna menatap mata Steve tanpa sedikit pun senyuman di wajahnya.

Sikap dingin dan tanpa kompromi dari Luna membuat tawa kecil Steve terhenti. Pria kekar itu mengamati raut wajah Luna sejenak, menyadari bahwa wanita di hadapannya sama sekali tidak sedang bercanda. Di dunia yang baru saja hancur ini, satu gigitan tersembunyi berarti kematian bagi seluruh anggota kelompok.

"Baiklah, prinsip yang bagus." Steve mengangguk pelan seraya membongkar kancing kemeja hitamnya yang sudah robek-robek.

Ia melepaskan kemeja lusuhnya, memperlihatkan dada bidang dan otot lengannya yang dipenuhi noda oli, debu, dan cucuran darah hitam yang mengering. Luna melangkah mendekat, mengamati setiap jengkal kulit paha, lengan, dada, hingga bagian belakang leher Steve dengan sangat teliti.

Di bahu kiri Steve, terdapat goresan merah memanjang yang masih mengeluarkan darah segar tipis.

"Ini luka apa?" Luna menunjuk luka di bahu Steve dengan ujung jarinya yang dilapisi sarung tangan taktis.

"Itu goresan kaca mobil sedan pas aku lompat tadi. Bukan gigitan." Steve menjawab tenang seraya memutar bahunya untuk memperlihatkan arah robekan kulitnya yang lurus.

Luna memeriksa pola luka tersebut dari dekat. Robekannya memang bersih dan lurus, tipikal luka akibat gesekan tajam semen atau pecahan kaca bertekanan tinggi, bukan bekas taring atau gigi manusia.

"Rian, ambilkan botol alkohol dan kasa steril dari tas." Luna memberi instruksi tanpa berpaling.

"Ini, Luna." Rian segera merangkak mendekat, menyerahkan perlengkapan medis yang dimintanya.

Luna berlutut di samping sofa, membuka tutup botol alkohol lalu membasahi lembaran kasa steril. Tanpa peringatan lebih dulu, ia menekan kasa beralkohol itu tepat di atas luka gores bahu Steve.

"Agh... sial, perih juga!" Steve meringis menahan sengatan alkohol, giginya gemeretak kaku.

"Kalau tidak dibersihkan sekarang, kotoran jalanan dan spora luar bisa membuat lukamu infeksi." Luna mengusap luka itu dengan gerakan tangan yang cekatan dan efisien.

Steve menatap cara Luna merawat lukanya. Gerakan jemari wanita itu sangat presisi, sama seperti caranya menarik tali busur di medan tempur tadi. Tidak ada keraguan atau kecanggungan sedikit pun dalam setiap tindakannya.

"Nama kamu siapa?" Steve bertanya sambil memperhatikan Luna yang sedang membalut bahunya dengan perban putih.

"Luna." Luna menjawab singkat.

"Aku Steve. Mantan pekerja bangunan dan petarung amatir." Steve mengulurkan tangannya yang bersimpul otot kuat.

Luna menatap uluran tangan Steve sejenak, lalu menjabatnya sebentar dengan cengkeraman jari yang tak kalah kokoh.

"Terima kasih untuk tembakan panahmu di parkiran tadi. Kalau kamu tidak muncul, mungkin kepalaku sudah jadi makanan makhluk-makhluk itu." Steve berkata dengan nada jujur yang membumi.

"Aku tidak menolongmu karena kasihan. Aku butuh orang yang bisa bertarung di baris depan dan menahan gelombang musuh." Luna menjawab datar seraya membereskan sisa kasa medis.

Steve terkekeh pendek mendengarnya. "Alasan yang masuk akal dan sangat praktis. Aku suka gaya bicaramu yang tidak berbelit-belit."

Steve memiringkan kepalanya, melirik ke arah Rian yang sedang merapikan botol air minum di pojokan ruangan.

"Siapa pemuda di pojokan itu? Adikmu?" tanya Steve.

"Bukan. Nama dia Rian, barista kafe yang ikut bersamaku dari pusat kota saat wabah meletus kemarin." Luna menjelaskan seraya berdiri tegak kembali.

"Dia kelihatannya tidak terbiasa dengan pertarungan darah." gumam Steve pelan.

"Dia bisa membawa barang dan mendengarkan instruksi dengan baik. Di situasi seperti ini, itu sudah lebih dari cukup." Luna menanggapi.

Luna berjalan menuju jendela depan rumah, mengintip pelan dari balik celah tirai kain tebal yang berdebu. Halaman luar tampak lengang, namun kabut spora kuning di atas atap rumah-rumah warga terlihat kian menebal seiring meningkatnya suhu udara pagi.

Steve berdiri dari sofa, mengenakan kembali kemejanya yang robek tanpa mengancingkannya, lalu mengambil pipa besi tebalnya yang bersandar di meja. Ia melangkah mendekati Luna, berdiri di sampingnya dengan jarak aman.

"Kalian punya rencana setelah ini? Kota ini sudah mati total, jalan raya terkunci rapat." Steve menatap profil samping wajah Luna dengan selidik.

"Kita butuh informasi mengenai kondisi luar distrik dan lokasi yang punya pasokan makanan melimpah. Bertahan di rumah-rumah warga seperti ini cuma menunda kelaparan." Luna menjelaskan analisanya.

"Aku setuju. Di daerah kompleks elektronik dua kilometer dari sini, ada beberapa toko besar yang mungkin punya peralatan radio transmisi atau generator." Steve memberikan masukan.

Luna menoleh menatap Steve. Pria di sampingnya ini tidak hanya memiliki fisik yang tangguh untuk pertempuran jarak dekat, tetapi juga memiliki insting navigasi jalanan yang cukup baik di area perkotaan ini.

"Dua kepala yang berpikir jelas bakal lebih tahan lama bertahan hidup di kota mati ini daripada berjalan sendirian." Steve tersenyum tipis, menawarkan aliansi tersirat di antara mereka.

"Aku tidak keberatan berjalan bersamamu, Steve. Tapi harus ada satu komando yang jelas saat kita di luar." Luna menatap mata Steve dengan ketegasan murni seorang mantan taruna.

Steve menatap keteguhan di mata Luna. Sebagai pria yang terbiasa memimpin rekan-rekan kerjanya di lapangan proyek, ia bisa mengenali aura kepemimpinan sejati ketika melihatnya. Luna memiliki dinginnya taktik dan kejelasan pikiran yang sangat dibutuhkan dalam situasi kiamat seperti ini.

"Adil buatku. Selama perintahmu membuat kita bertiga tetap bernapas, aku bakal ikuti komandomu." Steve mengangguk mantap, menyegel kesepakatan mereka.

Luna mengangguk pelan menandakan persetujuan. Di dalam rumah asing yang sunyi itu, ikatan kepercayaan pertama antara sang taruna taktis dan sang petarung tangguh resmi terjalin di atas puing-puing peradaban yang runtuh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!