"Memosisikan dirimu sebagai musuhku adalah kesalahan terbesar dalam hidupmu, Aleeza!"
AUSTIN VANDERBILT — Miliarder Spanyol yang sempurna, kaya, dan berkuasa. Pria yang disembah semua wanita, kecuali ALEEZA WIRA, paparazzi blasteran Indonesia yang paling ia benci.
Hidup Aleeza hancur saat berita skandal panas Austin mendadak meledak dan namanya difitnah sebagai dalang utama. Demi membalas dendam, Austin menyeret Aleeza masuk ke dalam sangkarnya.
Di antara kebencian, jebakan konspirasi, dan pesona berbahaya, akankah Aleeza berhasil lolos atau justru sang miliarder yang akan berlutut pada wanita yang paling ia benci?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veyra Noir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32 | KEMARAHAN SANG PENGUASA
Austin melangkah menuruni tangga utama kediaman Vanderbilt dengan ponsel yang masih menempel erat di telinganya. Wajahnya mengeras, memancarkan aura dingin yang membuat siapa pun di sekitar memilih untuk menunduk dan menghindar.
"Sepuluh menit, atau saya akan benar-benar mencopot posisi Anda sebagai dokter utama keluarga ini. Selamat pagi, Dokter!" bentak Austin tajam sebelum mematikan sambungan secara sepihak.
Ia berbalik dan mendapati ibunya Olivia tengah berdiri menatapnya dengan kening berkerut dalam di ujung tangga.
"Austin ada apa? Kenapa kau berteriak marah-marah begitu pada pukul lima pagi?" tanya Olivia cemas, sorot mata ibunya menyiratkan kecurigaan. "Apa ini ada hubungannya dengan wanita yang kau bawa tidur di kamarmu itu?"
Austin mengusap wajahnya kasar. "Mungkin saja, Mommy."
Olivia menatap putranya dengan kilatan tajam penuh peringatan. "Kau ini bagaimana, Austin?! Dia tunanganmu! Jika kau benar-benar mencintainya, jaga dia, jangan membuatnya sakit seperti ini! Mommy tidak pernah mengajarkanmu menjadi pria pengecut yang menyiksa wanita!"
Sebelum Austin sempat melontarkan pembelaan, suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari arah pintu depan. Norman muncul dengan napas tersengal dan raut wajah tegang.
"Tuan Vanderbilt maaf mengganggu, tapi ada tamu tidak diundang di gerbang depan," lapor Norman cepat. "Julian Pria itu datang memaksa ingin menerobos masuk."
Mendengar nama itu, rahang Austin mengeras seketika. Manik birunya menyala bagai bara api.
"Dia berani datang ke sini setelah apa yang diperbuatnya pada Aleeza?" gumam Austin mematikan, seringai mengerikan terukir di bibirnya. "Biarkan dia masuk, Norman. Aku sendiri yang akan menyambutnya."
Beberapa menit kemudian, di ruang tamu utama berdesain klasik modern, Julian berdiri dengan tongkat penyangganya meskipun kini Austin tahu betul bahwa alat itu hanyalah akal bulus belaka untuk mencari simpati. Pria itu tampak babak belur secara emosional, namun matanya menyiratkan tekad gelap.
"Kau punya keberanian juga datang ke kandang serigala, Julian," sapa Austin dingin, melangkah mendekat dengan tangan dimasukkan ke dalam saku celana.
Julian mendengus sinis, menatap tajam ke arah penguasa Vanderbilt itu. "Aku tidak Peduli dengan kekayaanmu, Austin. Kembalikan Aleeza. Dia tunanganku, dan permainan kotor kalian sudah berakhir."
Austin tertawa hambar sebuah tawa yang terdengar jauh lebih menakutkan daripada bentakan. Ia mendekatkan wajahnya pada Julian, membisikkan kalimat telak yang meremukkan sisa-sisa harga diri pria itu.
"Permainan ini tidak akan pernah berakhir sampai aku memutuskan waktu selesai, Julian," bisik Austin tajam. "KAU membuangnya, KAU mengkhianatinya dengan sepupunya sendiri dan sekarang kau berharap wanita itu kembali padamu setelah semua air matanya yang kubersihkan?"
Julian tertegun, wajahnya pucat pasi menyadari bahwa rahasia busuknya telah terbongkar sepenuhnya di hadapan sang billionaire.
"Aleeza adalah milikku," lanjut Austin penuh penekanan, menepuk bahu Julian perlahan namun bertenaga. "Mulai minggu depan, di atas altar pertunangan megah yang disaksikan seluruh dunia namanya akan resmi terukir di samping marga Vanderbilt. Jadi, simpan sisa tenagamu untuk meratapi kebodohanmu sendiri, dan enyah dari pandanganku sebelum aku memastikan kau tidak bisa berjalan selamanya."
Norman segera memberi gestur tegas kepada para pengawal untuk menyeret Julian keluar dari properti Vanderbilt.
Austin menarik napas panjang, melirik jam tangannya sebelum berbalik menuju tangga. Jadwal penerbangannya ke Dubai menanti, namun prioritas utamanya saat ini ada di lantai atas memastikan Mawar Berduri miliknya kembali tersenyum di dalam pelukannya.
▪️▪️
Aleeza: Langsung membuka mulut.
PEMBACA: AHAHAHAHA! Aleeza, ternyata ancaman El Oso cukup ampuh!