yuna adalah perempuan cantik mandiri, dan cantik dipaksa nikah dengan Marco hanya karena kesepakatan bisnis keluarga nya
Marco adalah laki-laki yang dinggin,cuek,dan dikenal sebagai raja mafia yang namanya disegani bahkan ditakuti diseluruh dunia baginya hidup hanyalah tentang kekuatan, kekuasaan,dan kekayaan semua orang memanggil nya "Qing"
Yuna memiliki 2 sahabat terbaik nya bernama Yona dan jisoo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bubu1234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
benci jadi cinta (bab 17) kebenaran yang mulai terungkap
Hari-hari berlalu terasa abadi. Yuna tinggal di rumah Yona dan Jisoo, namun di mana pun dia berada, pikirannya selalu kembali ke satu tempat — ke rumah yang dulu ia tinggali, ke sosok yang kini ia rindukan sekaligus sakiti. Setiap malam dia terbangun dengan perasaan hampa, seakan separuh jiwanya tertinggal di sana. Marco tidak menelepon, tidak mengirim pesan. Dia menghormati keputusan Yuna, meskipun itu menghancurkannya perlahan-lahan.
Namun keraguan itu perlahan berubah menjadi rasa ingin tahu yang mendesak. Yuna tidak mau hidup dalam ketidakpastian selamanya. Dia harus tahu kebenaran — bukan dari Marco, bukan dari Julian, tapi dari sumber yang sebenarnya.
Suatu pagi, Yuna pergi ke rumah orang tuanya. Ayahnya tampak terkejut melihatnya sendirian, namun lebih terkejut lagi saat Yuna duduk di hadapannya dan bertanya dengan tenang namun tegas:
"Ayah, katakan padaku yang sebenarnya. Apa yang terjadi dua puluh tahun lalu pada malam kematian ibu Marco? Dan kenapa Marco yakin Ayah ada di balik semua itu?"
Wajah ayahnya berubah pucat. Dia terdiam lama, menatap ke luar jendela seakan melihat bayangan masa lalu yang belum pernah ia ceritakan kepada siapa pun. Akhirnya dia menghela napas panjang, dan dengan suara gemetar, dia mulai bercerita.
"Aku dan ibunya Marco... kami tidak hanya mitra bisnis. Kami bersahabat sangat dekat. Tapi ada hal yang tidak pernah kukatakan pada siapa pun... aku mencintainya. Dan dia tahu itu. Malam itu aku datang untuk mengakhiri semuanya. Aku memberitahunya bahwa aku akan menjauh, demi persahabatan kami dan demi keluargaku. Kami bertengkar, bukan karena aku ingin menyakitinya, tapi karena aku takut perasaanku akan merusak segalanya."
Ayah menunduk, air mata jatuh di pipinya yang keriput.
"Saat aku pergi, aku melihat seseorang menyelinap masuk lewat pintu samping. Tapi aku terlalu terganggu untuk memperhatikannya. Beberapa jam kemudian aku mendengar berita itu... rumahnya terbakar habis. Aku tidak membunuhnya, Yuna. Aku tidak pernah menyentuhnya. Tapi aku merasa bersalah seumur hidupku. Jika aku tidak datang malam itu, mungkin dia masih hidup sampai sekarang."
Hati Yuna terasa berat namun lega. Ayahnya tidak bersalah. Tapi lalu siapa yang melakukannya? Dan kenapa semua bukti menunjuk ke arah ayahnya?
Saat dia hendak pulang, sebuah amplop tebal didorong masuk ke bawah pintu rumah Yona dan Jisoo. Tidak ada nama pengirimnya. Di dalamnya berisi foto-foto lama, laporan kejadian kebakaran, dan satu dokumen yang membuat darah Yuna berdesir hebat.
Ada seseorang lain yang berada di lokasi kejadian malam itu — seseorang yang namanya dihapus dari semua laporan saksi. Nama itu: Julian.
Dan ada sesuatu yang lebih mengejutkan. Di sudut salah satu foto lama, terlihat dengan samar sebuah cincin di jari tangan Julian — cincin yang sama persis dengan cincin yang selalu dipakai ibunya Marco. Cincin yang seharusnya ikut terbakar bersama pemiliknya.
Yuna berdiri terpaku. Semua potongan teka-teki perlahan menyatu. Julian-lah yang berada di sana malam itu. Julian-lah yang menghapus namanya dari catatan saksi. Julian-lah yang menanamkan keyakinan bahwa ayah Yuna adalah pelakunya — semua itu agar dia bisa bebas dan Marco membenci ayah Yuna tanpa pernah curiga padanya.
Dia harus kembali. Dia harus memberitahu Marco. Dia tidak membiarkan mereka berdua hancur karena kebohongan orang lain.
Saat Yuna melangkah keluar, ponselnya berdering. Bukan nomor yang dikenalinya, tapi dia tahu siapa itu.
Saat Yuna melangkah keluar, ponselnya berdering. Bukan nomor yang dikenalinya, tapi dia tahu siapa itu.
"Halo, Julian," ucapnya tenang namun tegas.
"Kau mulai mencari kebenaran, ya? Pintar sekali. Tapi terlambat, Yuna. Marco sudah percaya pada kebohonganku selama dua puluh tahun. Dan sekarang kau sudah pergi darinya. Dia lemah. Dia sendirian. Dan aku akan mengambil alih semuanya. Termasuk apa yang seharusnya menjadi milikku sejak dulu."
"Aku tidak akan membiarkanmu," kata Yuna mantap.
"Kalau begitu datanglah. Aku menunggumu di tempat yang semuanya bermula — rumah lama yang terbakar itu. Datanglah sendirian. Jika kau beri tahu siapa pun... kau tahu konsekuensinya."
Telepon terputus. Yuna menatap layar ponselnya dengan napas tertahan. Dia tahu ini jebakan. Tapi dia juga tahu ini satu-satunya cara untuk mengakhiri semuanya. Dia tidak akan membiarkan Marco menghadapinya sendirian. Dia mengambil kunci mobil dan berangkat.
Sementara itu, di rumah yang dulu mereka tinggali, Marco berdiri sendirian di teras depan. Dia belum makan dan tidur dengan baik sejak kepergian Yuna. Dia merindukannya lebih dari apa pun. Tapi saat dia melihat mobil yang dikenali Yuna melaju melewati gerbang tanpa berhenti menuju arah yang salah, nalurinya berteriak keras. Sesuatu tidak benar. Tanpa berpikir dua kali, dia berlari ke mobilnya dan mengejar.
Masa lalu yang kelam kini memanggil mereka kembali ke tempat semuanya bermula. Dan pertarungan terakhir antara kebenaran dan kebohongan baru saja dimulai.
BERSAMBUNG...