Sepuluh tahun Dominic Qiel Ashford mempertaruhkan kesetiaannya hanya untuk ditolak berulang kali oleh Florence Nightingale, wanita yang menolak ikatan pernikahan. Luka penolakan itu akhirnya mendorong Dominic pada keputusan gila di sebuah malam yang pekat.
Di tengah frustrasi, ia mendapati Ester Alba—mahasiswi berbeasiswa sekaligus guru privat keponakannya—terjebak dalam gaun seksi di bar elit demi mencari biaya operasi sang ayah.
Demi menyelamatkan harga dirinya sekaligus melampiaskan keputusasaan, Dominic mengajukan penawaran berbahaya. Sebuah kesepakatan terikat yang menuntut kepatuhan mutlak, jauh dari ranah cinta.
Namun, saat rahasia alasan sebenarnya di balik kebencian Florence pada pernikahan mulai terkuak, Ester menyadari bahwa ia bukan sekadar pelampiasan—melainkan kunci dari permainan emosi yang siap menghancurkan mereka bertiga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#8
Di sudut tersembunyi taman belakang yang rimbun oleh rimbunan pohon hydrangea, jauh dari hingar-bingar percekcokan gila di depan panggung, Ester Alba berdiri mematung.
Tubuhnya yang terbalut gaun krem tertutup rapat itu perlahan merosot, mencari tumpuan pada sebuah kursi kayu berukir. Lututnya gemetar hebat, memikul beban berat dari kebenaran dan ketegangan yang merayap di dadanya.
Dari jarak belasan meter, mata cokelat jernihnya menatap lurus pada Dominic Qiel Ashford—pria 32 tahun yang kini berdiri membeku dengan garis wajah hancur, menatap sang Mommy dan Florence dengan tatapan dikhianati.
"Tidak..." bisik Ester amat lirih, suaranya hampir hilang terbawa angin pagi New York.
"Ini... tidak boleh dibiarkan..."
Di balik raut wajah polos, canggung, dan penuh ketakutan yang ia tunjukkan selama dua tahun terakhir sebagai guru privat yang lugu, sebuah plot besar sedang berputar liar di dalam kepala wanita muda itu.
Ester Alba telah menyerahkan kesuciannya, harga dirinya, bahkan rasa malu malam tadi demi sebuah tujuan tunggal yang amat besar.
Dan dia tidak boleh gagal. Sama sekali tidak boleh.
Nama aslinya adalah Ester Alba Mattos—putri tunggal dari Fernando Mattos, seorang mantan pengusaha kecil dari kota Boston yang kini terbaring sekarat di bangsal rumah sakit.
Rahasia yang tak pernah diketahui oleh keluarga Ashford adalah bahwa Ester bukan sekadar gadis miskin tanpa arah.
Dia memiliki ambisi yang teramat besar dan penyamaran yang begitu sempurna selama dua tahun merayap di dalam mansion paling berkuasa ini.
Dominic Qiel Ashford adalah satu-satunya harapan dan tiket emas yang ia miliki untuk menyelamatkan hidupnya dari neraka.
Semua neraka itu bermula di Boston.
Ester memiliki seorang kekasih yang telah mengikatnya selama satu tahun.
Hubungan itu bukanlah hubungan yang ia inginkan, melainkan sebuah jebakan. Pria itu—seorang putra dari keluarga kaya dan berpengaruh di Boston—adalah sosok pemaksa, pemarah, kasar, dan terobsesi secara berlebihan padanya.
Pria itu mengontrol seluruh helai napas Ester, melarang ini dan itu, melacak setiap langkahnya, dan tanpa ragu memaki Ester sebagai seorang 'jalang' hanya karena Ester secara tak sengaja memandang pria lain.
Hubungan itu begitu beracun, jauh dari gambaran cinta ideal yang pernah didambakan Ester.
Berulang kali Ester mencoba mengakhiri hubungan sialan itu, namun setiap kali kata 'putus' keluar dari bibirnya, pria gila itu akan meledak dalam amarah.
Pria itu menjadikan ayah Ester yang sekarat sebagai senjata ancaman: memotong saluran bantuan medis, menghancurkan sisa-sisa usaha ayahnya, dan memastikan hidup keluarga Mattos hancur.
Pria itu terobsesi, gila, dan tidak akan pernah sudi melepaskan Ester dari cengkeramannya.
Hingga dua tahun lalu, takdir memberikan sedikit celah.
Pria berengsek itu dikirim oleh keluarganya ke New York untuk melanjutkan pendidikan di universitas elit. Tentu saja, Ester dipaksa ikut serta ke New York, terus berada di bawah pengawasan ketatnya.
Namun di New York, pria itu cukup sibuk dengan kegiatan kampus dan diwajibkan tinggal di dalam asrama.
Ester melihat kesempatan emas ini sebagai jalan untuk terbebas dari jeratan kehidupan yang terkekang. Ia memohon untuk diperbolehkan bekerja secara mandiri.
Pria itu—dengan sifat dominannya—setuju, namun dialah yang mengatur seluruh skenario kebohongan: memalsukan dokumen, mengarang cerita tentang ayahnya yang butuh operasi besar, dan membentuk identitas Ester sebagai mahasiswi beasiswa yang polos.
Sebelum pergi untuk program pertukaran mahasiswa ke luar negeri, pria itu melemparkan ancaman berdarah di telinga Ester: 'Setelah aku kembali nanti, kau harus kembali menjadi kekasihku yang manis dan patuh. Jika tidak, kau tahu apa yang akan terjadi pada ayahmu.'
Demi mengakhiri semua kesengsaraan dan ancaman mematikan itu, Ester memutar otak. Ia sadar, melarikan diri saja tidak cukup.
Pria itu memiliki uang dan kekuasaan untuk memburunya ke ujung dunia. Ester membutuhkan pelindung yang jauh lebih besar, jauh lebih kaya, dan jauh lebih mengerikan dari keluarga kekasihnya di Boston.
Ester mulai mencari tahu siapa penguasa sejati di puncak rantai makanan kota New York. Dan nama Ashford muncul sebagai jawaban paling mutlak.
Dari seluruh silsilah keluarga Ashford, pilihannya jatuh pada Pewaris Ketiga Ashford—seorang pria dewasa yang matang dan tampan: Dominic Qiel Ashford.
Dominic adalah sasaran yang sempurna tanpa celah.
Pria itu berkepribadian lembut, bertata krama tinggi, amat menghargai wanita, dan memiliki kekuatan finansial yang tak terbatas.
Bagi Ester—seorang gadis yang tumbuh tanpa limpahan kasih sayang dari kedua orang tuanya—sosok Dominic yang hangat dan matang adalah kriteria pria idaman yang sangat mudah untuk ia cintai.
Ester sangat yakin, jika ia berada di bawah naungan Dominic, pria itu akan melindunginya dari monster apa pun yang mengejarnya.
Namun, saat Ester berhasil menyusup menjadi guru privat di mansion Ashford dua tahun lalu, ia harus menelan kekecewaan yang amat pahit.
Rupanya, Dominic memiliki seorang kekasih yang amat sangat dicintainya: Florence Nightingale Berres.
Selama dua tahun mengajar keponakan Dominic, Ester terpaksa menelan mentah-mentah setiap kekalahan.
Setiap kali Florence berada sepuluh langkah di depannya—tampil percaya diri, cantik, dan dipuja oleh Dominic—Ester hanya bisa berdiri di balik pilar, menatap pria idamannya mengemis cinta pada wanita yang dingin itu.
Tapi Ester Alba Mattos bukanlah wanita yang mudah menyerah pada kekalahan. Ini bukan sekadar soal cinta, ini soal masa depannya, keselamatan nyawanya, dan nasib hidup ayahnya.
Prinsip Ester sederhana: Sebelum sumpah di atas altar pernikahan diucapkan, Dominic Ashford masih milik umum.
Selama dua tahun mengajar, Ester memanfaatkan setiap detik untuk memperhatikan segalanya tentang Dominic. Ia mempelajari apa yang disukai pria itu, apa yang dibutuhkannya, dan bagaimana luka di hati Dominic terus menganga akibat perlakuan Florence.
Ester bahkan beberapa kali secara diam-diam menguntit interaksi mereka. Ia tahu betul Dominic adalah pria yang haus akan rasa dibutuhkan, pria yang ingin dihormati dan dipuja sebagai seorang pemimpin—hal-hal yang sama sekali tidak pernah diberikan oleh Florence yang terlampau mandiri dan dominan.
Hingga malam kemarin tiba.
Ketika Ester mendengar kabar bahwa Dominic pergi ke bar dalam keadaan hancur setelah penolakan Florence yang ke-6, Ester tahu bahwa waktu yang tepat telah tiba.
Ia mengatur skenario, mendatangi bar dengan gaun seksi yang sengaja disiapkannya, dan berpura-pura menjadi gadis malang yang terdesak kebutuhan ekonomi untuk membiayai pengobatan ayahnya.
Ester tahu ia tidak memiliki harta atau kekuasaan untuk melakukan transaksi bisnis dengan seorang Ashford.
Hanya tubuhnya, keperawanannya, dan kecantikannya yang bisa ia jadikan umpan.
Dan perangkap itu bekerja dengan sangat sempurna!
Ester sangat percaya diri.
Jika Dominic beralih menatapnya tanpa topeng kepolosannya, Florence tidak ada apa-apanya dibanding kecantikannya yang eksotis dan otaknya yang penuh taktik cerdik.
Dominic yang sedang terluka parah langsung masuk ke dalam pelukannya, merenggut kesuciannya, dan mengikat janji untuk bertanggung jawab atas seluruh hidupnya.
Dan kini, melihat Florence berdiri di depan panggung dengan gaun pengantin sialan itu, menyajikan 'kejutan' gila yang justru makin merobek hati Dominic, Ester memiringkan bibirnya tipis di balik kegelapan rimbunan pohon.
Dominic telah membenci penolakan itu. Dominic telah mengabaikan Florence.
Dan malam tadi, Dominic telah menyerahkan seluruh gairah pertamanya pada Ester.
Ester menegakkan tubuhnya, merapikan gaun kremnya, dan mengusap air mata palsu dari sudut matanya. Rencananya telah berjalan sesuai skenario.
Dominic Ashford kini telah sepenuhnya jatuh ke dalam genggamannya, dan Ester tidak akan pernah membiarkan Florence Nightingale meredam perangkap yang telah ia bangun dengan darah dan kepasrahannya.
love sekebon kebonnya 😍/Kiss/
sekejap saja bacanya,kayak kurang panjang 😄
di tunggu kelanjutannya Thor 💪
berasa sedikit bacanya 🤭
makasih Thor sudah up 🙏