Mahardika yang harus menanggung penyakit kusta selama 3 tahun, setelah berobat di berbagai macam caranya, dari obat alternatif, hingga rumah sakit besar, tapi penyakitnya tak kunjung sembuh.
Hingga akhirnya, uang tabungan habis untuk berobat dan hanya tinggal sebidang tanah dan sebuah rumah yang tersisa. Dan itu tidak mungkin ia jual karena hanya itu satu-satunya peninggalan untuk anak dan istrinya.
Hingga akhirnya ia bermimpi ada seorang kakek datang dan memintanya untuk datang ke gunung Merapi jika ia mau sembuh.
Mahardika pun meminta izin dengan istrinya, dan berharap bisa sembuh jika ia berobat dengan kakek tersebut.
Hari berganti bulan, hingga akhirnya dia tahun berlalu. Kini Mahardika sudah sembuh total dan sehat kembali dan mendapatkan wasiat menjadi tabib.
Tapi saat ia pulang, alangkah terkejutnya dia. Karena rumah dan tanah itu sudah terjual, dan lebih sakitnya, anaknya ternyata di titipkan ke panti, sementara istrinya sudah menikah lagi.
Akhirnya ia membangun keh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9
Sret! Sret! Sret!
Ia membersihkan seluruh akar dan semak liar hingga bersih sempurna hanya dalam hitungan menit.
Ia lalu merapikan tanah tersebut, siap untuk ditanami berbagai benih obat herbal langka yang bernilai tinggi.
Saat Mahardika sedang meratakan tanah, suara langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar mendekati pekarangan rumah mereka.
Seorang pria paruh baya bertubuh agak kurus dengan pakaian sederhana berlari kecil ke arahnya.
Pria itu adalah Pak RT, tetangga lama yang dulu sangat baik pada Mahardika di saat orang lain ingin mengusirnya, Pak RT selalu menghiburnya, meskipun dengan berat hati ia menyuruh Mahardika pergi dari desa, tapi ia lakukan demi kebaikan bersama.
"Mahardika?! Ini beneran kamu, Dik?" tanya Pak RT terengah-engah, matanya membelalak tak percaya menatap Mahardika yang berdiri tegap dan tampak sehat bugar.
"Pak RT?" Mahardika menyunggingkan senyumannya.
"Iya, Pak. Ini saya, Mahardika. Saya sudah kembali," jawab Mahardika berjalan mendekat.
"Gusti Allah... Kamu sudah sembuh, Dik? Katanya kamu..." Pak RT menghentikan kalimatnya, lalu pandangannya beralih ke dalam rumah dan melihat Amel.
"Lho, itu Amel? Kamu berhasil menemukan Amel dari panti?" tanya Pak RT terkejut.
"Sudah, Pak. Saya sendiri yang menjemputnya," jawab Mahardika datar.
Tapi seketika wajah Pak RT menjadi cemas.
"Dik Dika, sebaiknya kamu dan Amel jangan tinggal di sini dulu! Cepat pergi mengungsi ke tempat lain!" bisik Pak RT panik sambil celingukan ke arah jalan utama.
Alis Mahardika bertaut rapat. "Ada apa, Pak RT? Kenapa saya harus pergi dari rumah saya sendiri?"
"Aduh, kamu belum tahu, Dik! Rumah dan tanah kamu ini... sebenarnya sudah dijual paksa oleh adik iparmu, Siska, dua bulan lalu! Katanya minggu ini orang-orang suruhan pembeli tanah ini mau datang meratakan rumahmu pakai alat berat!" seru Pak RT dengan suara bergetar.
Mendengar ucapan Pak RT, tatapannya berubah sangat dingin.
Siska, adik iparnya yang tidak tahu diri itu, berani menjual tanah dan rumah peninggalan keluarga ini secara tidak sah.
"Menjualnya secara paksa, Pak RT?" tanya Mahardika dengan suara rendah yang menekan, namun tetap berusaha menahan emosinya agar tidak menakuti Amel.
"Iya, Dik! Siska itu membawa surat tanah atas nama almarhumah ibumu dan bilang kalau kamu sudah meninggal di gunung. Dia menjualnya ke orang-orang pesuruh preman pasar yang katanya dibayar sama pengusaha kaya. Warga di sini nggak ada yang berani melawan, Dik!" Pak RT mengangguk-angguk panik.
Mahardika tertawa dingin, membuat Pak RT merinding seketika.
"Saya masih hidup, Pak RT. Dan surat tanah yang sah masih ada di tangan saya. Rumah ini adalah hak Amel. Siapa pun yang berani menyentuh sebidang tanah ini, harus melangkahi mayat saya dulu!" sahut Mahardika tegas.
"Tapi Dik Dika, mereka itu preman-preman kasar! Katanya hari ini mereka mau datang meninjau lokasi!" desak Pak RT cemas.
"Biarkan mereka datang. Justru saya sedang menunggu mereka!" jawab Mahardika datar.
Saat itu juga, suara mesin beberapa sepeda motor knalpot brong dan sebuah mobil jip berbunyi dari ujung jalan.
Brak! Brak!
Tiga unit motor dan satu jip berhenti sembarangan di depan halaman.
Sekitar enam orang pria berbadan besar dengan tato di lengan, mereka melompat turun dari kendaraannya mereka masing-masing.
Pria bertubuh tambun yang mengenakan jaket kulit hitam melangkah paling depan sambil memegang sebatang kayu bisbol di bahunya.
"Oi! Siapa yang berani beres-beres di tanah ini?! Tanah ini sudah dibeli sama bos kami! Semua bangunan di sini mau diratakan!" teriak pria tambun itu dengan suara yang menakutkan.
Matanya melotot menatap Mahardika dan Pak RT.
Pak RT langsung bersembunyi di belakang tubuh Mahardika dengan gemetar. "I-itu mereka, Dik..."
Dari dalam rumah, Amel yang mendengar keributan itu berlari keluar dengan wajah pucat ketakutan. "Papa... Amel takut..."
Melihat Amel ketakutan, Mahardika berbalik sebentar, berjongkok dan mengusap rambut Amel dengan lembut.
"Amel masuk ke dalam ya, Sayang. Tutup pintunya sebentar. Papa mau bicara sama tamu-tamu ini," bisik Mahardika sangat lembut.
"Iya, Pa..." Amel mengangguk patuh dan segera berlari masuk, menutup pintu kayu rumah.
Mahardika perlahan berdiri tegak. Ia membalikkan badan, menatap enam preman di hadapannya.
"Siapa yang memberi kalian izin menginjakkan kaki di tanah milik putriku?" tanya Mahardika dingin.