Impian Amara untuk bersatu dengan kakak angkatnya akhirnya terwujud juga. Keduanya terikat dalam sebuah pernikahan yang disatukan oleh Abi mereka sendiri.
Sayangnya, Apa yang Amara bayangkan tidak sesuai dengan yang ia inginkan. Dalam pernikahan ini, Hanya Amara yang menginginkannya. Tapi tidak dengan Fadli Adiputra. Dia tidak pernah menginginkan pernikahan ini sama sekali.
Sikap perhatian yang selalu Fadli berikan berubah menjadi sikap dingin tanpa alasan.
Amara sadar, Bahwa dia bukan pilihan pria itu..
Hingga pada akhirnya, Amara mundur dalam pernikahannya.
Apakah Fadli bahagia atas kemunduran Amara? Atau justru terkurung dalam penyesalan?
•••••
"Kalau pernikahan ini tidak bertahan atas pilihan Abi.. Nanti, Aku akan pertahankan pernikahan ku atas pilihanku sendiri..." Amara Alfhatunnisa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Viena2106, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Jadi
Pagi itu, Lidya dan beserta keluarganya tengah sarapan bersama. Disana juga ada Kaffa yang duduk diam dan tak banyak bicara sama sekali.
Remaja lima belas tahun itu selalu tak pernah ikut campur apa yang keluarganya bicarakan, Termasuk membicarakan Fadli.
"Eh, Kaffa..." Kaffa mengangkat kepalanya menatap kakaknya.
"Iya, Mbak..
"Kamu beneran mau tinggal dipesantren?" Kaffa menghentikan pergerakannya. Untuk masalah ingin tinggal dipesantren itu, Kaffa sudah bicara pada keluarganya semalam. Dan tanggapan mereka hanya terserah saja.
"Iya Mbak.. Sekalian biar nambah ilmu agama disana.." Kata Kaffa. Lidya dan ibunya saling pandang, Begitupun dengan Ayahnya. Tidak ada angin tidak ada hujan, Tiba-tiba saja Kaffa ingin pindah kepesantren.
"Kira-kira.. Biaya kepesantren itu mahal gak sih? Butuh uang banyak gak?" Kaffa menatap ibunya yang seakan perhitungan sekarang. Padahal ini anaknya mau cari ilmu, Bukan mau kemana-mana.
"Kenapa ibu tanya kayak gitu, Bu?
"Ya, Enggak.. Kan ibu cuma tanya aja. Lagian kan katanya kalau masuk pesantren itu harus siap ini dan itu. Bayar ini dan itu, Banyak keperluan yang memang harus dibayar.. Belum lagi bayar makannya juga, Kan banyak..." Kaffa menghela nafas panjang. Jujur Kaffa merasa sakit hati karena ibunya yang selalu perhitungan masalah uang yang dia keluarkan padanya. Sementara pada Lidya, Wanita paruh baya itu tak pernah menegur sama sekali.
Mungkin karena Lidya yang membawa keberuntungan. Karena wanita itu memang sekarang sedang dekat dengan Fadli. Tunggu saja sebentar lagi, Kita lihat. Apakah mereka masih bisa bersenang-senang.
"Bu.. Ini Kaffa kepesantren itu bukan cuma numpang tinggal. Disana Kaffa juga sekolah, Cari ilmu... Soal biaya, Emang ada didunia ini mencari ilmu gratis?
"Bukan gitu Kaffa.. Ibu kan cuma omong aja. Ya, Takutnya biayanya besar.. Mana ada uang segitu." Ucap Lidya. Kaffa hanya tersenyum getir, Giliran anak yang satunya mau cari ilmu gak ada uang. Tapi giliran belanja barang mewah langsung ada itu uang.
"Pokok Kaffa mau tinggal dipesantren, Titik!..Kalau kalian gak mau antar juga gapapa.. Lagian Kaffa udah ada janji sama teman Kaffa, Kalau katanya ini mau berangkat bareng.." Terserahlah setelah ini keluarganya mau peduli padanya atau tidak. Yang penting ketika dipesantren dia sudah ada yang nanggung.
Om kaya itu, Sudah menyiapkan semuanya. Jadi Kaffa juga tidak perlu khawatir lagi..
"Kaffa berangkat dulu..." Remaja lima belas tahun itu bangkit usai sarapan. Dia tak mau lagi mendengar apa kata keluarganya.
Yang penting setelah nanti ada masalah, Kaffa tidak perlu ikut campur lagi. Semua itu terserah mereka. Memangnya memanfaatkan kebaikan seseorang itu enak? Mereka belum sampai dibagian salahnya saja..
Kaffa menyalami satu persatu dalam keluarga tersebut sebelum akhirnya benar-benar berangkat kesekolah.
Dua hari lagi, Remaja itu benar-benar akan berangkat kepesantren bersama beberapa temannya juga. Dan ternyata bukan hanya dirinya saja yang akan pindah kesekolah.. Tapi adapula beberapa temannya juga.
...****************...
Seperginya Kaffa, Lidya juga ikut beranjak. Wanita itu harus berangkat kekantor pagi ini. Begitu hendak berangkat, Bu Nur menghentikan putrinya..
"Ada apa Bu?
"Soal mobil.. Kamu udah ngomong sama Fadli? Masa masalah dari kemarin itu gak selesai-selesai.. Ibu udah gak sabar ini..
"Ibu tenang aja..Setelah ini biar aku kembali bicara sama Fadli. Dia itu cinta sama aku, Lagian ya.. Apasih yang enggak Fadli kasih ke aku.." Dengan percaya dirinya Lidya bicara seperti itu. Awas saja nanti apa yang mereka inginkan itu tidak sesuai.
Lagipula memangnya siapa mereka? Sampai minta ini itu harus dituruti. Jangan sampai keluarga besar Abi Rafa datang dan menghancurkan semuanya.
"Iya.. Kamu harus cepat bujuk Fadli supaya cepet dibelikan mobil. Ibu udah sabar...
"Benar kata ibumu Lid.. Bapak juga mau pamer sama teman-teman ayah yang dulu hina ayah.. Lagian, Kalau memang bukan karena ayah yang sengaja menabrakkan diri.. Kalian gak mungkin bisa menikmati semua ini.." Ucap Pak Beni dengan bangga.
Dan pada kenyataannya, Memang kecelakaan itu terjadi karena pak Beni memang sengaja. Sebenarnya bukan Fadli incarannya, Pak Beni mengincar berbagai orang kaya.
Rencana itu sudah disusun dengan sangat rapi agar ketika ia tertabrak lukanya tidak terlalu parah. Dan korbannya bukan hanya Fadli saja, Sebelum Fadli sudah banyak. Sayangnya mereka tidak sekaya dan seroyal Fadli yang sampai saat ini mereka manfaatkan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Didalam kantor itu, Lidya mengetuk pintu ruangan Fadli. Seperti biasanya, Ada berkas yang harus Fadli tandatangani.
Selain itu, Lidya juga ingin membicarakan masalah mobil yang pernah mereka bahas. Siapa tahu setelah ini dia langsung dibelikan.
"Sudah.. Kau bisa langsung keluar.." Ucap Fadli yang mempersilahkan Lidya untuk segera keluar dari ruangannya.
"Eum, Fadli.. Itu.. Aku mau ngomong soal..
"Ohya, Soal mobil yang pernah aku bilang ke kamu...
"Kenapa?" Tanya Lidya dengan sangat antusias. Pasti setelah ini ia akan diajak untuk membeli mobilnya.
"Aku gak jadi beliin kamu mobil itu...
Deg!
Lidya langsung syok mendengarnya. Lidahnya seolah kelu ingin berkata sesuatu.
"Mak.. Maksud kamu? Mobil yang kamu janjikan gak jadi gitu?" Fadli mengangkat salah satu alisnya.
"Janji? Memang kapan aku yang janji?
"Loh? Yang waktu di mall itu... Kamu bilang...
"Kalau aku memenangkan tender, Aku akan bantu kamu buat beli mobil. Jadi kamu bisa beli pakai uang kamu sendiri.. Kurangnya biar aku tambahi. Dan sekarang kamu tahu sendiri.. Perusahaan ini gak menang tender. Jadi aku gak bisa beliin.." Lidya mengepalkan kedua tangannya. Wanita itu langsung saja keluar dari ruangan Fadli. Sungguh dia kesal sekali sekarang..
Kekesalan Lidya begitu awet sampai wanita itu pulang kerumahnya. Bu Nur yang melihat putrinya pulang langsung menyambutnya.
"Gimana?
Lidya duduk diatas sofa dengan lesu. Mobil yang ia impikan tidak jadi. Dan sekarang ia tak bisa pamer sama para tetangga.
"Gak jadi Bu..
"Hah?
"Gak jadi maksudnya?
"Ya, Gak jadi.. Fadli gak jadi beliin kita mobil. Karena tendernya kalah.. Belum pagi masalah ysng kemarin itu berimbas keperusahaan.." Bu Nur duduk disamping putrinya. Wajahnya langsung merah, Tidak seperti tadi yang terlihat sumringah sekali.
"Jadi? Kita gak jadi punya mobil dong?" Lidya mengangguk..
"Terus ini gimana? Ibu udah kadung koar-koar sama tetangga.. Kalau kamu mau beli mobil mewah.. Kalau gak jadi gini, Bisa malu ibu Lidya!
"Ya terus gimana? Orang Fadli sendiri yang bilang. Dia mau beliin aku mobil kalau tendernya menang.. Karena kalau menang kan dapat keuntungan banyak.. Ini gagal, Jadi mobilnya gak jadi beli.." Bu Nur bersandar dengan lesu. Dia hanya bagaimana sekarang. Sementara tadi dia sudah bilang dan pamer ke para tetangga kalau putrinya akan beli mobil. Eh malah gak jadi..
Sungguh keluarga yang tak tahu diri dan tahu malu. Dikasih hati malah minta jantung, Belum saja kedoknya terbongkar..
•
•
•
TBC
aduuuh siap2 deh km tinggal di hotel prodeo ,, selain tuntutan Amara ,, sekaligus tuntutan dr pihak hotel ,,
tuh liat fadliu wanita pilihan mu ,, sungguh luar binasa 🤣😁
heh jalang, siap-siap kamu dan keluarga kamu masuk penjara dan jadi gembel 🤣🤣🤭🤭