NovelToon NovelToon
Istri Pilihan Sang Mayor

Istri Pilihan Sang Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ibu Tiri / Menikahi tentara
Popularitas:25.9k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Latifah, seorang guru di pondok pesantren, menjalani kehidupan sederhana dengan mengabdikan dirinya untuk mendidik para santri.

Setahun lalu, seorang anak perempuan berusia lima tahun bernama Kahiyang Ayudia datang dan menetap di pesantren tersebut. Kahiyang adalah putri seorang Mayor TNI bernama Abimanyu Wicaksono yang sedang bertugas di Lebanon.

Atas perintah sang ayah, Kahiyang dititipkan kepada Neneknya agar tumbuh menjadi anak yang mandiri dan berakhlak mulia.

Seiring berjalannya waktu, Latifah semakin menyayangi Kahiyang dan menganggapnya seperti anak sendiri. Namun, kebahagiaan itu terusik ketika kedua orang tuanya berniat menjodohkannya dengan seorang duda beranak satu. Latifah tentu saja menolak karena belum siap menjadi seorang istri sekaligus ibu sambung.

Tanpa sepengetahuannya, pria yang dijodohkan dengannya ternyata adalah Abimanyu, ayah dari Kahiyang, anak yang begitu disayanginya.

Akankah Latifah menerima takdir tersebut dan membuka hatinya untuk sang Mayor?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terima kasih Bu Latifah

Bima menarik napas, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih pelan.

"Saya tahu, tidak ada ucapan terima kasih yang cukup untuk membalas semua kebaikan Ibu. Saya seorang ayah yang terlalu banyak melewatkan masa kecil putrinya. Ketika saya tidak ada, Ibu justru hadir untuknya."

Latifah menggeleng lembut.

"Jangan berkata seperti itu, Pak Bima. Kaning adalah anak yang baik. Saya hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan seorang guru."

"Tidak, Bu. Bagi saya, apa yang Ibu lakukan jauh lebih dari itu."

Tatapan Bima beralih kepada Kaning yang kini berdiri di samping neneknya.

"Ketika saya melihat gambar-gambar yang dibuat Kaning, membaca tulisan tangannya, dan mendengar hafalan surah pendeknya, saya benar-benar terharu. Saya tidak pernah menyangka dia bisa berkembang sejauh itu dalam waktu setahun."

Bima kembali menatap Latifah.

"Semua itu tentu tidak lepas dari kesabaran Ibu. Saya akan selalu mengingat kebaikan ini."

Latifah tersenyum, meski sudut matanya masih basah.

"Semoga Kaning terus tumbuh menjadi anak yang salehah dan membanggakan kedua orang tuanya. Itu sudah lebih dari cukup bagi saya."

Bima mengangguk.

"Insyaallah. Saya akan berusaha menjadi ayah yang lebih baik untuknya."

Sesaat kemudian, Bima mengambil sebuah paper bag dari dalam mobil. Tas kertas itu tampak rapi, dengan kemasan yang elegan. Ia lalu menyerahkannya kepada Latifah.

"Ini untuk Bu Latifah. Oleh-oleh dari Lebanon. Semoga Ibu suka."

Latifah terlihat sedikit terkejut.

"Untuk saya?"

"Iya, Bu. Anggap saja ini tanda terima kasih saya."

Latifah menerima paper bag itu dengan kedua tangannya.

"Terima kasih banyak, Pak. Sebenarnya, Pak Bima tidak perlu repot-repot memberikan hadiah kepada saya."

"Ini bukan soal repot atau tidak, Bu. Saya memang ingin memberikan sesuatu sebagai kenang-kenangan."

Bima tersenyum tipis.

"Dan saya berharap, ketika melihatnya nanti, Ibu akan mengingat bahwa ada seorang ayah yang sangat berterima kasih karena Ibu pernah menjadi bagian penting dalam kehidupan putrinya."

Ucapan itu membuat Latifah terdiam beberapa saat.

Ada sesuatu dalam cara Bima berbicara yang membuatnya merasakan ketulusan pria tersebut. Meskipun berpenampilan tegas dan memiliki pembawaan seorang prajurit, Bima ternyata menyimpan kelembutan yang begitu besar untuk putrinya.

"Terima kasih, Pak. Semoga Allah membalas semua kebaikan Pak Bima dengan keberkahan yang berlimpah."

"Aamiin. Doakan juga agar saya bisa menjaga Kaning dengan lebih baik."

"Insyaallah."

Di sisi lain, Bu Almira yang menyaksikan percakapan mereka hanya tersenyum tipis. Ada sesuatu yang bergejolak dalam hatinya ketika melihat Bima dan Latifah berdiri berhadapan.

Perempuan itu tahu bahwa Latifah adalah calon menantu yang selama ini diharapkannya. Ia juga tahu bahwa Bima belum menyadari siapa perempuan yang hendak dijodohkan dengannya.

Sementara itu, Latifah sama sekali tidak mengetahui bahwa pria yang berdiri di hadapannya adalah putra mendiang Pak Ibnu, sosok yang telah dipilihkan oleh kedua orang tuanya.

Bu Almira menghela napas dalam hati.

"Ya Allah, semoga Engkau memudahkan jalan mereka. Semoga suatu hari nanti Bima bisa melihat Latifah bukan hanya sebagai guru yang telah mendidik Kaning, tetapi juga sebagai perempuan yang mungkin bisa mengisi kekosongan di hatinya."

Namun, ia memilih untuk menyimpan harapan itu rapat-rapat. Belum saatnya rahasia tersebut terbuka.

Setelah berpamitan dengan Latifah, Bima dan Bu Almira berjalan menuju ruang tamu untuk menemui Ustaz Umar dan Umi Aisyah. Kaning berjalan di antara mereka, tetapi beberapa kali ia menoleh ke belakang untuk memastikan Latifah masih berada di tempatnya.

Ustaz Umar dan Umi Aisyah telah menunggu di depan rumah. Beberapa santri dan pengurus pesantren pun turut berkumpul untuk mengantar kepergian Kaning.

"Terima kasih banyak, Ustaz, Umi," ucap Bima sambil menjabat tangan Ustaz Umar. "Saya benar-benar berterima kasih karena Darussalam sudah menjadi tempat yang baik bagi putri saya."

Ustaz Umar tersenyum hangat.

"Alhamdulillah. Kami juga senang melihat Kaning tumbuh menjadi anak yang lebih mandiri. Semoga ilmu yang diperolehnya di sini menjadi bekal yang bermanfaat untuk kehidupannya kelak."

"Aamiin," sahut Bima.

Umi Aisyah kemudian memeluk Kaning dengan lembut.

"Jangan lupakan semua pelajaran yang sudah Kaning dapatkan di sini, ya, Nak. Tetap rajin mengaji, tetap salat tepat waktu, dan jangan lupa mendoakan guru-guru Kaning."

"Iya, Umi," jawab Kaning lirih.

"Kalau nanti sudah besar, Kaning harus menjadi anak yang pintar dan salehah."

Kaning mengangguk. Namun, pandangannya kembali mencari sosok Latifah.

Perempuan muda itu berdiri beberapa langkah dari mereka, menggenggam paper bag pemberian Bima. Ia berusaha tersenyum, meskipun kesedihan masih jelas terlihat di wajahnya.

"Bu Ifah!"

Kaning tiba-tiba berlari kecil menghampirinya sekali lagi.

Latifah yang semula mengira perpisahan mereka telah selesai segera membuka kedua tangannya. Kaning langsung memeluknya untuk terakhir kalinya sebelum masuk ke mobil.

"Ibu jangan lupa sama Kaning, ya!"

Latifah tertawa kecil di tengah air mata yang kembali mengalir.

"Iya, Sayang. Sudah Ibu bilang, Ibu tidak akan melupakan Kaning."

"Kaning juga nggak akan melupakan Bu Ifah."

Latifah mengusap punggung bocah itu.

"Kalau nanti Kaning sudah masuk sekolah, belajar yang rajin. Jangan nakal, jangan lupa salat, dan jangan lupa mengaji. Kalau ada sesuatu yang membuat Kaning sedih, ceritakan kepada Papah, ya. Jangan dipendam sendirian."

"Iya, Bu."

"Dan satu lagi...."

Latifah menatap wajah kecil itu lekat-lekat.

"Jadilah anak yang selalu bersyukur kepada Allah. Jangan pernah merasa sendirian, karena Allah selalu bersama Kaning."

Kaning mengangguk berkali-kali, berusaha mengingat setiap pesan yang diucapkan perempuan yang sangat disayanginya itu.

Setelah beberapa saat, Bima mendekat dan menyentuh bahu putrinya dengan lembut.

"Sayang, kita berangkat sekarang, ya?"

Kaning akhirnya melepaskan pelukannya. Dengan berat hati, ia berjalan menuju mobil sambil sesekali menoleh ke belakang.

Sebelum masuk ke dalam kendaraan, ia berbalik dan melambaikan tangannya tinggi-tinggi.

"Bu Ifah! Kaning pergi dulu!"

Latifah membalas lambaian itu.

"Hati-hati di jalan, Sayang!"

"Assalamualaikum, Bu Ifah!"

"Waalaikumsalam!"

Kaning masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Bu Almira. Bima kemudian menempati kursi pengemudi. Sebelum menyalakan mesin, ia melirik putrinya melalui kaca spion.

"Sudah siap pulang ke Jakarta?"

Kaning mengangguk kecil.

"Sudah, Pah."

Namun, ketika mobil mulai bergerak meninggalkan halaman pesantren, bocah itu kembali menoleh ke arah jendela. Tangannya melambai-lambai tanpa henti kepada Latifah yang masih berdiri di depan gerbang.

"Bu Ifah...."

Suara kecil itu terdengar lirih.

Latifah terus melambaikan tangannya hingga mobil hitam tersebut semakin jauh dan akhirnya menghilang di tikungan jalan.

Barulah setelah kendaraan itu tak lagi terlihat, perempuan muda tersebut menurunkan tangannya.

Senyum yang sejak tadi dipaksakannya perlahan menghilang.

Air mata yang sedari tadi ditahan akhirnya jatuh membasahi pipinya.

Ia menundukkan kepala, berusaha menenangkan diri, tetapi bayangan Kaning yang berlari memeluknya terus berputar dalam ingatan.

"Ya Allah...."

Latifah mengusap air matanya.

"Jagalah Kaning di mana pun dia berada. Jadikan dia anak yang salehah, sehat, dan selalu bahagia. Semoga kelak dia tumbuh menjadi perempuan yang membanggakan kedua orang tuanya."

Ia menarik napas panjang, lalu melanjutkan doanya dengan suara nyaris berbisik.

"Dan semoga suatu hari nanti, Engkau mempertemukan kami kembali."

Dari kejauhan, Umi Aisyah yang melihat Latifah masih berdiri seorang diri segera menghampirinya. Ia merangkul bahu putrinya, lalu mengusap lengannya dengan lembut.

"Sudah, Nak. Jangan terlalu larut dalam kesedihan. Kaning pulang bersama ayahnya. Itu juga sesuatu yang patut kita syukuri."

Latifah mengangguk, tetapi air matanya belum berhenti mengalir.

"Iya, Umi. Latifah tahu.... Hanya saja, selama setahun ini, Kaning sudah seperti adik sekaligus anak Latifah sendiri."

Umi Aisyah tersenyum sendu.

"Justru karena kamu menyayanginya, kamu harus ikhlas melepasnya. Kasih sayang tidak selalu berarti harus memiliki atau selalu bersama."

Latifah menunduk. "Iya, Umi."

"Sudah, sekarang masuklah. Masih banyak santri yang menunggumu untuk belajar."

Latifah mengusap wajahnya, kemudian mengangguk. Namun, sebelum melangkah pergi, ia kembali menatap jalan yang tadi dilalui mobil Bima.

Ada ruang kosong yang tiba-tiba terasa begitu nyata dalam hatinya.

Ia tidak tahu kapan akan bertemu Kaning lagi. Ia juga tidak tahu bahwa perpisahan pagi itu mungkin menjadi awal dari sebuah takdir yang jauh lebih besar daripada yang pernah dibayangkannya.

Sebab, di dalam mobil yang kini melaju menuju Jakarta, seorang anak kecil masih memandangi foto dirinya bersama Latifah yang tersimpan di dalam tas kecilnya.

Sementara sang ayah, yang sesekali melirik putrinya melalui kaca spion, mulai menyadari bahwa nama Latifah mungkin akan terus disebut dalam kehidupan mereka.

Dan tanpa disadari Bima, perempuan yang telah membuat putrinya begitu bahagia itu adalah perempuan yang kelak mungkin akan mengubah seluruh perjalanan hidupnya.

Takdir sedang bergerak perlahan.

Pertanyaannya, ketika rahasia perjodohan itu akhirnya terbuka, akankah Bima bersedia menerima Latifah sebagai calon istrinya? Dan bagaimana jika hati Latifah masih tertambat pada Ustaz Firman, pria yang selama ini diam-diam ia harapkan menjadi pendamping hidupnya?

Bersambung...

1
Ghiffari Zaka
yaaaah Latifah sih....ambyar dech momen MLM pertama pengantinnya,ya walaupun gak ngapa2 in ttp aja kan jadi gak enak,lok emang mau lepas dan merelakan masa lalu kan bagus si blokir aja no nya,itu namanya lepasin kepala tapi ttp pegang ekornya....
lah emboh lah ..AQ mumet ngerasain km Latifa gak bs tegas rugi dong AQ tadi undangan di pestamu,ud amplop q tebal lagi,🤭🤭🤭🤭
Ghiffari Zaka
Alhamdulillah ud SMP t4 tinggal barunya Latifa,semoga bahagia sll dlm keluarga kecil mu🥰🥰
Ghiffari Zaka
Alhamdulillah.......akhirnya halal jg🥰🥰🥰🥰semoga samawa dan saling bergandengan dlm melangkah kedepan🥰🥰🥰🥰
Ghiffari Zaka
semoga setelah ijab nnt baik Latifa maupun bima bs sm2 melangkah maju tanpa di bayangi masa lalu yg memberatkan🥰🥰🥰,tu kan thoooor ,sangking asyik nya baca SMP hampir lupa komen aq🤭🤭🤭,main lanjut aja😂😂😂🙏🙏🙏
Atik Kiswati
yah....knp momen nya gk pas bgt sih thor.....yg bc ikutan keqi ni....
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: sabar kak 🤗
total 1 replies
vania larasati
lanjut kak
Sastri Dalila
🤗🤗💪
Teh Euis Tea
terlambat sudah kau datang padaku kt Latifah sambil nyanyi 🤭🤭🤭🤭🤭
mungkin ustadz firma mau ngasih selamat x atas pernikahan km Ifah
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: positif thinking ya kak,tapi si Latifah sudah paranoid duluan 🤣🤣🤣
total 1 replies
Nar Sih
tenang kan hti mu latifah ,angkat telpon jls kan semua nya pada mantan masa lalu mu klau keadaan kalian sdh berbeda
Perempuan
kenapa juga panggilannya masih Pak Bima dan Ibu Latifah yaaa. Kan sebelumnya dah manggil Mas. 😄😄😄
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: masih canggung dan belum terbiasa ☺️
total 2 replies
Nar Sih
wah..kaning yg paling bahagia nih sdh punya bunda baru yg seperti keinginan nya☺️
Teh Euis Tea
Alhamdulillah udah sah, siap2 kondangan lg, mana baju baru blm datang lg duhh kurir lama bgt dah, itu baju mau di pake sekarang terpaksa pinjem baju tetangga buat kondangan 🤭🤭🤭🤭🤭
Teh Euis Tea
bersaing dgn orang yg sudah tiada itu berat tp hidup harus trs berjln, mudah2an kalian bisa saling menerima dgn ikhlas
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: Aamiin 🤲☺️
total 1 replies
Sastri Dalila
🤗🤗🤗
Nar Sih
kak eli boleh saran ngk yaa,panggilan buat suami klau bisa jgn langsung nama di kasih mas kan lebih 👍👍🙏
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: iya kak, siap 🤗
total 1 replies
Nar Sih
alhamdulilah udah sah jadi psngn suami istri ,samawa ya mayor bima dan bu latifah ,🙏
sri susanti
di tunggu episode selanjutnya
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: siip kk 🤗
total 1 replies
Dua Putri
bgussss🤭🤭🤭 aku gak sama nunggu malam pertama merek😄😄🤭🤭
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: sabar ya kak 🤭🤣
total 1 replies
Nar Sih
bismilah semagat ya mayor bima jemput kebahgiaan mu dan kaning bersama bu latifah💪🥰
Nar Sih
calon istri soleha juga ibu sambung yg lusrbiasa baik ada pada bu latifah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!