Rebecca membesarkan si kembar seorang diri sejak kakaknya tiada—dengan satu janji yang ia ucapkan di ranjang kematian sang kakak: jangan pernah mencari ayah mereka.
Selama bertahun-tahun ia menepatinya. Sampai seorang penguntit muncul dari kegelapan, mengirim bunga yang berubah jadi ancaman, lalu foto anak-anaknya di depan gerbang sekolah. Polisi angkat tangan. Waktu Rebecca habis.
Kini hanya ada satu nama yang mungkin sanggup melindungi mereka—nama yang telah ia sumpahi untuk tak pernah diucapkan. Dante. Pengusaha berpengaruh, dingin, tak tersentuh… dan bos sebuah kerajaan mafia yang bahkan tak tahu bahwa ia punya anak.
Untuk menyelamatkan kedua bocah yang ia cintai melebihi nyawanya sendiri, Rebecca harus melanggar janji terpenting dalam hidupnya dan melangkah masuk ke dunia paling berbahaya yang pernah ada—dunia milik pria yang seharusnya tak pernah ia temui.
Tapi Dante bukan sekadar bahaya. Ia posesif. Ia sabar. Dan begitu ia memutuskan sesuatu—atau seseorang—adalah miliknya, ia tak akan pernah melepaskannya.
Di antara ancaman yang mengintai, rahasia masa lalu, dan gairah yang mustahil ditolak, satu janji yang teringkari bisa jadi awal dari segalanya… atau akhir dari semuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon marilu@123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji-Janji yang Teringkari
Sudut Pandang Rebecca
Namaku Rebecca.
Usiaku dua puluh lima tahun.
Dan kalau ada satu hal yang kupelajari sejak dini… hidup tak pernah menunggu kita siap.
Aku tidak dibesarkan oleh orang tuaku. Sejujurnya, aku nyaris tak mengingat mereka. Yang membesarkanku adalah kakak perempuanku.
Dia segalanya. Ibu. Ayah. Rumah. Tempat berlindung.
Dia merelakan hidupnya sendiri demi merawatku… lalu merawat anak-anaknya. Anak-anak lelakiku. Heitor dan Henrique.
Keduanya lahir saat aku sendiri masih hampir seperti anak-anak, tapi sejak hari pertama aku tahu aku akan melakukan apa pun untuk mereka.
Mereka kembar. Namun sama sekali berbeda.
Heitor impulsif, berkepala panas… seolah darahnya mendidih lebih cepat daripada orang biasa.
Henrique justru kebalikannya. Tenang. Suka mengamati. Tipe yang berpikir sebelum bertindak.
Dan aku? Aku berada di tengah-tengah, berusaha keras untuk tidak kehilangan akal.
Aku mengembuskan napas pelan, mengenang. Karena dulu tak selalu begini.
Ketika mereka berumur lima belas tahun… semuanya berubah.
Kakakku mulai sering kelelahan. Lebih dari biasanya.
Awalnya ia bilang itu cuma stres… pekerjaan… rutinitas. Tapi aku tahu. Aku selalu tahu.
Lalu diagnosis itu datang.
Kanker.
Kata itu masih terasa perih.
Dia berjuang. Dengan segenap yang ia punya. Tapi tak selalu berjuang saja cukup.
Di rumah sakit… di saat-saat terakhir… ia menggenggam tanganku. Lemah, tapi dengan tatapan tegas yang tak pernah lekang.
"Jaga mereka untukku."
Tenggorokanku tercekat.
"Pasti kujaga."
"Berjanjilah."
"Aku berjanji."
Ia menarik napas dalam. Lalu mengucapkan sesuatu yang tak akan pernah kulupakan.
"Ayah mereka…"
Jantungku berpacu. Kami tak pernah membahasnya. Tak pernah sekali pun.
"Dia berbahaya."
Kalimat itu membekukanku.
"Sangat berbahaya."
"Kalau begitu, kenapa—"
"Berjanjilah kau tak akan pernah mencarinya."
Kuremas tangannya. Bingung. Takut.
"Berjanjilah."
Aku menatapnya. Dan meski tak sepenuhnya paham… aku berjanji.
"Aku berjanji."
Setelah itu ia memejamkan mata. Beberapa hari kemudian… ia pergi.
Aku menelan ludah. Masih perih. Akan selalu perih.
Tapi aku terus melangkah. Karena tak ada pilihan lain.
Aku mengambil hak asuh kedua bocah itu. Belajar dengan cara yang keras. Bekerja apa saja yang kutemukan. Kulewati malam-malam tanpa tidur, hari-hari tanpa makan yang layak. Tapi aku tak pernah membiarkan mereka kekurangan apa pun. Tidak pernah.
Karena mereka keluargaku. Dan aku berutang segalanya kepada kakakku.
Tapi semuanya mulai berantakan… beberapa minggu lalu.
Malam itu aku sedang jaga shift di klub. New York memang tak pernah tidur, dan tempat itu buktinya. Musik menghentak. Lampu-lampu berpendar. Terlalu banyak orang berjejal. Dan aku di balik bar, mengerjakan tugasku. Tanpa banyak memandang siapa pun. Tanpa memberi celah. Itu aturannya, dan aku mematuhinya.
Sampai dia muncul. Duduk di depan bar. Lalu mulai mengajakku bicara.
"Kamu harusnya lebih sering tersenyum."
Aku tak menggubris. Terus menggosok sebuah gelas.
"Gadis secantik kamu tak sepantasnya—"
"Mau pesan minum apa?"
Kupotong langsung. Dingin.
Dia tersenyum. Tapi bukan senyum biasa. Senyum itu… ganjil.
"Kamu."
Aku memutar bola mata. "Itu tidak ada di menu."
Dia tertawa, tapi tak mendesak. Malam itu ia menghabiskan minumannya, membayar, lalu pergi.
Kukira semuanya berakhir di situ. Ternyata tidak.
Keesokan harinya, sebuah paket tiba di apartemen. Tanpa nama pengirim.
Aku mengernyit. Kubuka. Sebuah kotak sederhana. Di dalamnya… bunga. Dan sepucuk catatan.
"Meski kau mengabaikanku kemarin… kau tampak cantik sekali."
Perutku bergolak. Hawa dingin merayap naik di sepanjang tulang punggungku.
Ini tidak manis. Tidak romantis. Ini salah. Sangat salah.
Kuremas catatan itu, kubuang semuanya ke tempat sampah, lalu kucoba melupakannya.
Tapi tak bisa. Karena di hari-hari berikutnya… aku mulai menyadari sesuatu.
Mobil-mobil. Selalu yang itu-itu. Melintas pelan. Berhenti terlalu dekat. Orang-orang yang memandang. Mengawasi.
Dan dia. Selalu dia. Muncul di jalan. Di tempat kerja. Di tikungan.
"Kebetulan?" tanyanya.
Tapi aku tahu ini bukan kebetulan.
Aku mulai berjalan lebih cepat. Melirik ke balik bahu. Mengunci pintu dua kali. Tiga kali.
Aku pergi ke polisi. Kujelaskan semuanya. Kutunjukkan pesan-pesannya. Kuceritakan tiap kejadian. Tapi mereka cuma mengangkat bahu.
"Apa dia sudah melakukan sesuatu secara langsung?"
"Belum."
"Kalau begitu, kami tak bisa berbuat banyak."
Belum.
Kata itu terus terngiang di kepalaku.
Lalu… dia mulai bergerak. Pesan-pesannya berubah. Bunga berubah menjadi ancaman.
Dan suatu hari… datang sebuah foto.
Jantungku berhenti.
Heitor dan Henrique. Keluar dari gerbang sekolah. Diambil dari kejauhan. Tapi jelas. Terlalu jelas.
Tanganku mulai gemetar.
"Mereka tampan sekali."
Napasku tercekat.
"Sayang sekali kalau sampai terjadi sesuatu pada mereka."
Kurasakan seluruh duniaku runtuh.
Aku sanggup menahan apa saja. Ketakutan apa pun. Kejaran apa pun. Tapi bukan mereka. Jangan mereka.
Aku mulai menolak pekerjaan. Menghindari keluar rumah. Mengganti-ganti rute. Tapi percuma. Karena dia selalu tahu. Selalu selangkah di depan.
Dan saat itulah aku mengerti. Ini tak akan berhenti. Tidak dengan sendirinya. Dan jika aku tak berbuat sesuatu… dia akan menyakiti mereka.
Kupejamkan mata. Menarik napas dalam-dalam. Mencoba berpikir. Mencari jalan keluar. Apa pun itu.
Dan di situlah sebuah nama kembali muncul. Nama yang kujanjikan untuk kulupakan.
Ayah mereka.
Satu-satunya orang yang mungkin lebih berbahaya… daripada pria yang tengah memburuku.
Dadaku menyesak. Janji itu bergema di kepalaku.
"Berjanjilah kau tak akan pernah mencarinya."
Aku sudah berjanji. Aku sudah bersumpah.
Tapi… bagaimana kalau janji itu harus dibayar dengan nyawa mereka?
Kubuka mata. Bertekad. Takut. Diliputi rasa bersalah. Namun tanpa pilihan.
Karena bila memang harus… akan kulanggar janji apa pun. Demi melindungi mereka.