NovelToon NovelToon
Istri & Anak Kembar Bar-Bar Sang Mafia Es

Istri & Anak Kembar Bar-Bar Sang Mafia Es

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Mafia / Penyesalan Suami
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: Phopo Nira

Diceraikan karena alasan mandul, padahal 3 tahun pernikahan ia menjadi istri yang diabaikan oleh suaminya sendiri. Malam sebelum ia meninggalkan Mansion kediaman Maximillian, Raina diam-diam menjebak suaminya, Cassion Zayn Maximillian untuk menghabiskan malam bersama. Lalu setelahnya ia menghilang begitu saja tanpa jejak sedikitpun.

Namun, 8 tahun kemudian… tepat di acara pernikahan Cassion dengan teman masa kecilnya, Laura Fernandez. Raina kembali membawa sepasang anak kembar, Sean dan Shia untuk mendapatkan hak kedua anak itu sebagai pewaris keluarga Maximillian.

Dan sejak saat itu, kediaman Maximillian tidak pernah bisa tenang lagi. Raina yang tidak lagi penurut, ditambah dengan kedua anak kembarnya yang tak kenal takut. Ibu dan anak kembar itu menuntut banyak hal yang sudah 8 tahun sudah mereka lewatkan begitu saja. Dendam dan hutang mereka perhitungkan dengan baik.

Akankah Raina dan kedua anak kembarnya berhasil membalaskan dendam serta mendapatkan hak mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14. Pengakuan Laura

Pegawai itu kemudian mengembalikan kartu tersebut dengan kedua tangan yang bergetar. "Silakan, Tuan."

Sean memperhatikan kartu itu. Matanya membesar. "Papah punya banyak uang?"

Sion menatap putranya. "Mm."

Sean terdiam beberapa detik, kemudian tersenyum lebar. "Berarti Papah bukan gelandangan."

Sion menghela napas lega. Namun sebelum rasa leganya bertahan lama... Shia menambahkan dengan polos. "Sepertinya Papah cuma mirip gelandangan saja."

Raina langsung membuang muka. Kakek Edwin kembali tertawa. Para pengawal akhirnya menyerah dan ikut tersenyum. Sementara Sion? Pria yang terkenal dingin seperti es itu hanya berdiri kaku dengan ekspresi kosong.

Mungkin menghadapi musuh jauh lebih mudah. Setidaknya musuh tidak akan pernah menyebutnya gelandangan, apalagi pencuri. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Cassion Zayn Maximillian menyadari satu hal yang sangat mengerikan. Mengurus dua anak kembar ternyata jauh lebih sulit daripada mengurus seluruh dunia bawahnya.

...****************...

Sementara di Mansion Utama Kediaman Maximillian. Calista duduk dengan tenang di sofa, satu kaki menyilang di atas kaki lainnya. Namun, dibalik ketenangan itu hatinya dipenuhi dengan kemarahan yang hampir tak tertahankan. Ditambah para pelayan yang terus berlalu layang tepat di depannya hanya untuk menyiapkan kamar bagi Raina dan kedua bocah kembar itu.

Di hadapannya duduk ketiga anaknya. Arlan, putra sulungnya. Leon dan Lea, si kembar yang selama ini selalu berdiri di sisi sang ibu. Wajah Calista memang terlihat tenang. Namun sorot matanya sama sekali tidak menunjukkan ketenangan.

"Jadi," ucap Calista pelan, "Sion dan Pria tua itu benar-benar membawa perempuan itu kembali ke Mansion ini?"

Leon mengangguk. "Bukan hanya perempuan itu."

Lea menyambung dengan suara penuh kebencian.

"Dia juga membawa dua anak anak itu."

Calista terdiam, tangannya mengepal perlahan. "Delapan tahun lalu kita sudah menyingkirkan perempuan itu dari kehidupan Sion," ujar Calista.

"Aku tidak mengerti bagaimana dia bisa kembali bahkan dengan membawa dua anak itu."

"Mungkin karena Sion masih terus mencarinya," jawab Leon.

"Lebih buruk lagi," kata Lea, "Siapa sangka Raina pergi dengan membawa anak Sion dan sepertinya dia kembali dengan tujuan lain, selain untuk membuat kedua anak itu mendapat pengakuan dari Kak Sion dan Kakek."

Arlan yang sejak tadi diam akhirnya bersandar di sofa. "Kalau begitu, jangan singkirkan Raina saja."

Calista menoleh. "Apa maksudmu?"

Arlan tersenyum tipis. "Kita singkirkan semuanya."

Ruangan mendadak hening. Leon dan Lea saling berpandangan, sementara Calista menatap bangga dengan putra sulungnya yang selalu memberikan mereka solusi setiap kali ada masalah. Dulu rencana untuk membuat Sion menceraikan Raina juga merupakan ide dari putra sulungnya itu.

"Jelaskan."

"Kita tidak bisa melawan Sion secara langsung. Kakek juga tidak akan membiarkan kita melakukan sesuatu yang bisa menghancurkan nama keluarga." Arlan berhenti sejenak. "Tapi bagaimana kalau bukan kita yang bergerak?"

Alis Calista terangkat. "Maksudmu keluarga Fernandez."

Arlan mengangguk. "Laura jelas akan menyimpan dendam kepada Raina dan kedua bocah itu, karena pernikahannya dengan Sion akhirnya dibatalkan. Harga dirinya hancur."

Leon tersenyum tipis. "Dan keluarga Fernandez juga tidak akan tinggal diam kalau Laura terus mempermalukan diri sendiri."

"Justru itu," jawab Arlan. "Kita hanya perlu memberi mereka alasan dan jalannya."

Calista menyandarkan tubuhnya. "Raina?"

"Dan kedua anaknya." Tatapan Arlan menjadi dingin. "Kalau Raina dan anak-anak itu hilang dari kehidupan Sion, semuanya akan kembali seperti delapan tahun lalu."

“Lalu rencana utamaku akan berjalan seperti yang semestinya. Raina dan kedua bocah itu memang harus segera aku singkirkan dari sisi Sion,” sambungnya dalam hati.

Calista tidak langsung menjawab. Dia hanya menatap ketiga anaknya satu per satu. Kemudian bibirnya melengkung membentuk senyum tipis. "Kalau begitu aku akan segera menghubungi keluarga Fernandez."

...****************...

Suasana jauh berbeda di kediaman Fernandez. Dimana Laura menggila, melampiaskan semua kemarahannya yang harus ia tahan sejak tadi. Ia melempar apapun yang berada di sekitarnya sebagai bentuk pelampiasan kemarahan sekaligus rasa frustasinya.

Brak! Pranggg… Sebuah vas bunga pecah menghantam lantai.

"Brengsek!"

Laura berdiri di tengah ruang tamu dengan napas memburu. Tangannya gemetar. Sebuah bingkai foto kembali ia lemparkan ke dinding, hingga pecah berantakan. Kemudian sebuah lampu meja menyusul. Sementara Ayah, Ibu dan Raven, kakaknya yang diam sembari menghela napas panjang membiarkan Laura berbuat sesuka hatinya.

"Bagaimana dia bisa melakukan ini kepadaku?!" teriak Laura penuh kemarahan.

Candra hanya bisa memijat pelipis. Sarah duduk di sofa dengan wajah cemas. Sementara Raven, kakak Laura, berdiri beberapa meter dari adiknya. Hingga ia memberanikan diri menghentikan tingkah adiknya, "Laura, cukup."

"Jangan suruh aku berhenti!" Laura berbalik. Matanya merah karena marah. "Dia membatalkan pernikahan kita! Hanya karena wanita sialan itu dan juga kedua anak haramnya."

"Kita semua tahu itu," jawab Raven tenang.

"Dia mempermalukanku, Kak!"

"Dan karena itu kau harus berhenti mempermalukan dirimu sendiri."

Laura terdiam, deru napasnya memburu. Baginya, sejak awal sampai detik ini Sion adalah miliknya. Hanya ia yang pantas menjadi Nyonya muda Maximillian. Hanya tinggal selangkah lagi ia akan resmi menikah dengan Sion, menjadi istrinya… menjadi Nyonya muda Maximillian. Lalu kenapa Raina harus kembali? Mengacaukan pernikahannya dan bahkan… membawa dua bocah kembar itu sebagai anaknya Sion.

Raven melangkah mendekat. "Terima saja pembatalan pernikahan itu…"

"Tidak!"

"Laura."

"Aku tidak akan menerimanya! Sion adalah milikku dan hanya aku yang pantas menjadi Nyonya muda Maximillian. Hanya anakku yang pantas menjadi pewarisnya. Bukan wanita sialan itu dan juga kedua anak haramnya."

Candra akhirnya angkat bicara. "Laura, dengarkan Papah. Sion bukan pria yang bisa kau sentuh begitu saja."

Laura mengepalkan tangan. "Jadi aku harus diam?"

"Ya."

"Setelah semua yang dia lakukan?"

Sarah ikut berbicara lembut. "Sayang, menikah dengannya memang sudah tidak mungkin. Terimalah kenyataan itu. Jangan mencari masalah dengan keluarga Maximillian."

Laura tertawa getir. "Kalian semua takut kepadanya."

"Bukan takut," jawab Raven. "Tapi kita harus tahu batasannya."

Laura menatap kakaknya dengan penuh kebencian. "Kalian tidak tahu apa-apa."

Candra mengerutkan kening. "Maksudmu?"

Laura terdiam sejenak. Lalu beberapa detik kemudian ia tertawa kecil. Tawa yang terdengar begitu pahit. "Kalau begitu kalian tidak perlu ikut campur. Biar aku saja yang mengurus wanita sialan itu dan kedua anak haramnya. Karena sudah seharusnya mereka sudah mati delapan tahun yang lalu."

Tidak ada yang berkomentar. Mereka masih tidak menyangka bahwa Laura adalah dalang dibalik menghilangnya Raina delapan tahun yang lalu. Dan cepat atau lambat, Sion pasti akan segera mengetahuinya. Dan mungkin saja kembalinya Raina kali ini untuk membalas dendam.

Pembatalan pernikahan itu, mungkin yang pertama dan selanjutnya pasti akan lebih lagi.

Laura menatap mereka satu per satu. "Delapan tahun lalu..." Suaranya tiba-tiba berubah. "...aku ‘lah yang sudah berusaha untuk menyingkirkan Raina."

Bersambung….

1
Budhe Satryo
moga tidak JD menikah dngn laura
Budhe Satryo
semoga nanti g bisa bngun adik kecilmu kalu Ndak dngn rayna 😄😄😄
Budhe Satryo
good rayna setidaknya ad kenang"an dr mantan suami
Budhe Satryo
barengan sekalinya keluar kandang kak author ini
Budhe Satryo
suka semua karya KK ni
Sri Yatun
sekarang kamu ada rasa cinta makanya sadar coba tanpa adanya cinta masa bodo mau sprti apa istri mu dulu sekarang liat dan baru sadar sakit kan apa LG di depan anak anak nya yg sudah seperti orang dewasa tau dan bisa membedakan keadilan dan tidak Adilan mau bagaimana menyikapi orang tua mu/ibu tirinya dan saudara tirimu Sion pasti bakal ada cemohan dri anak anak mu
InaraAp 09
Semangat lanjut up nya thor
InaraAp 09
jangan khawatir Raina, kini kau tidak sendirian
Dew666
💎
InaraAp 09
pemandangan yang indah😄
InaraAp 09
Keren Ryland😍
InaraAp 09
lebih baik emg kembali bersama🤭
InaraAp 09
cemburu sama adik ipar🤣🤣🤣
InaraAp 09
Cieee... mulai ada rasa nih Sion🤣
InaraAp 09
😄😄😄puas banget yah Rain
InaraAp 09
🤣🤣🤣ketagihan katanya...
Sri Yatun
apa adenya sama sama mafia....?
🇦 🇵 🇷 🇾👎
nk"😂
Fahmi Ardiansyah
pasti Sion sengaja Krn dia pasti mau menikahi nya LG demi anak kembarnya.
Fahmi Ardiansyah
Alhamdulillah dugaanku salah.aku kira dia musuh nya eeh ternyata adknya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!