NovelToon NovelToon
My Idol Is My Desktop Shortcut

My Idol Is My Desktop Shortcut

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Idola sekolah / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:347
Nilai: 5
Nama Author: TCN_Luna

Di sekolah, Rendra Adijaya adalah pangeran sempurna yang dingin dan tak tersentuh. Namun di balik pintu kamar, dia hanyalah cowok anxious kronis yang menyembah seorang admin Discord anonim sebagai "pawang mental"-nya. Siapa sangka, admin gaming tempatnya mengemis semangat setiap malam itu ternyata Naya, cewek cuek bermulut tajam yang duduk di pojok kelasnya dan paling anti dengan cowok nyata.

Begitu rahasia terbongkar, saklar obsesi Rendra langsung menyala. Topeng pangeran dinginnya pecah total saat dia nekat menyudutkan Naya di kelas kosong sambil memelas gila, "Tolong jangan block gue... gue rela beliin angkot jalur sekolah ini asal lu tetep mau jadi pawang gue!" Mampukah Naya bertahan menghadapi tingkah bucin akut sang idola sekolah yang aslinya serapuh kerupuk kesiram kuah soto?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TCN_Luna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: Bug di Otak Pangeran Sekolah

Hening.

Selama kurang lebih lima detik, kabin angkot oranye keluarga Adijaya terasa seperti ruang interogasi rahasia milik badan intelijen negara.

Deru AC terdengar semakin jelas. Cahaya jingga matahari sore menyelinap melalui kaca jendela, menerangi wajah Rendra Adijaya yang masih telungkup manja di atas paha Kanaya Putri.

Cowok itu mempertahankan senyum tipisnya.

Naya mempertahankan tatapan kosongnya.

Dan sopir di kursi depan mempertahankan profesionalismenya dengan cara pura-pura tidak mendengar percakapan dua anak majikan yang tingkat kewarasannya mulai patut dipertanyakan.

Sampai akhirnya...

*Plak!*

Sebuah tangan mendarat tepat di dahi Rendra.

"AU! ANJIR! KENAPA, NAY?!"

Rendra langsung mengangkat kepalanya dari pangkuan Naya dengan ekspresi terkejut. Guling kucing hitam yang sejak tadi dipeluknya ikut terlempar ke samping.

Naya menatapnya datar.

"Lu sakit jiwa, ya?"

Rendra berkedip dua kali.

"Hah?"

"Gue tanya, lu sakit jiwa, ya?" ulang Naya sambil menunjuk wajahnya. "Tadi siang lu main basket kayak atlet profesional. Sekarang lu rebahan di paha gue sambil ngomong seolah-olah gue tahanan politik yang mau lu kurung di angkot pribadi."

Rendra terdiam.

Otaknya memproses kalimat tersebut.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

"Jadi... gue masih boleh rebahan di paha lo?"

Naya langsung memejamkan mata.

*Ya Tuhan. Gue sedang berbicara dengan manusia atau aplikasi yang setiap pembaruannya justru menambah bug?*

"RENDRA ADIJAYA!"

"IYA, NAYA PUTRI!"

"FOKUS SAMA OMONGAN GUE, BUKAN SAMA PAHA GUE!"

"SIAP!"

Rendra duduk tegak dengan kedua tangan di atas lutut, seperti murid yang baru dipanggil ke ruang kepala sekolah karena ketahuan menyontek.

Wajahnya kembali datar.

Namun, kedua telinganya merah padam.

Naya menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan kesabaran yang sudah tercecer di berbagai sudut kabin angkot.

"Gue serius, Ren."

Rendra perlahan mengangkat pandangannya.

"Gue ngerti kalau Discord itu penting buat lo. Gue juga ngerti kalau server kita jadi tempat lo bisa ngobrol tanpa harus pura-pura jadi cowok sempurna yang disukai semua orang."

Naya berhenti sejenak.

"Tapi gue bukan satu-satunya orang yang bisa bikin lo nyaman. Dan gue bukan barang yang bisa lo masukin ke wilayah kendali lo cuma karena lo takut kehilangan gue."

Senyum tipis di wajah Rendra perlahan menghilang.

Untuk pertama kalinya sejak pertandingan basket tadi siang, dia tidak punya jawaban siap pakai.

"Gue nggak pernah minta lo beli rute angkot. Gue nggak pernah minta lo mengintimidasi Dimas. Dan gue juga nggak pernah minta lo menang basket demi gue."

"Tapi lo ngancem ban akun gue," gumam Rendra pelan.

Naya menoleh tajam.

"ITU ANCAMAN BUAT BIKIN LO BERHENTI PANIK, BUKAN KONTRAK PERANG DUNIA KETIGA!"

Rendra langsung menutup mulut.

"Oh."

"Dan satu lagi." Naya menyilangkan tangan di depan dada. "Kalau suatu hari gue marah sama lo, itu bukan berarti gue bakal langsung menghilang dari hidup lo. Tapi kalau lo terus memperlakukan gue seolah-olah gue milik lo, gue bisa benar-benar memilih menjauh."

Kalimat terakhir itu jatuh dengan tenang.

Justru karena tenang, kalimat itu terasa jauh lebih berat.

Rendra menunduk.

Jari-jarinya meremas ujung kaus olahraga yang masih dikenakannya. Di sekolah, dia bisa menghadapi tatapan ratusan murid dengan wajah sedingin kulkas industri. Dia bisa membaca pola permainan Dimas dalam hitungan detik.

Namun, menghadapi kemungkinan bahwa Naya benar-benar merasa tidak nyaman dengannya?

Seluruh algoritma di kepalanya mendadak gagal dijalankan.

"Nay..."

"Hm?"

"Kalau gue belajar buat nggak kayak gitu lagi..." Rendra berhenti sebentar, menelan ludah. "Lo masih mau ngobrol sama gue?"

Naya menatapnya.

Tidak ada tatapan tajam. Tidak ada ancaman ban. Tidak ada ejekan tentang otak Rendra yang mengalami korsleting permanen.

Hanya seorang cowok yang, di balik semua kekayaan dan reputasinya, ternyata benar-benar takut kehilangan satu tempat yang membuatnya merasa diterima.

Naya menghela napas.

"Gue nggak pernah bilang gue mau berhenti ngobrol sama lo, bego."

Mata Rendra langsung terangkat.

"Serius?"

"Iya."

"Janji?"

"Jangan mulai."

"Janji kelingking?"

"RENDRA."

"OKE, GUE DIAM."

Rendra langsung menutup mulut dengan kedua tangan.

Naya menggelengkan kepala, tetapi kali ini sudut bibirnya bergerak sedikit.

"Lu boleh jadi diri sendiri di depan gue. Lu boleh panik, boleh malu, boleh ngomong aneh-aneh. Gue nggak peduli."

Rendra menatapnya tanpa berkedip.

"Tapi jangan pernah menganggap rasa takut kehilangan seseorang sebagai alasan buat mengendalikan orang itu. Paham?"

Rendra mengangguk perlahan.

"Paham."

"Bagus."

"Berarti... angkotnya tetap boleh?"

Naya mematung.

Lalu menatap langit-langit kabin.

"YA ALLAH, GUE BARU AJA NGASIH NASIHAT PANJANG LEBAR DAN OTAK DIA MALAH BALIK KE ANGKOT!"

"BUKAN GITU!" Rendra buru-buru mengangkat kedua tangan. "Maksud gue, kalau angkot ini tetap ada, gue bisa nganterin lo pulang dengan aman. Tapi kalau lo nggak nyaman, gue bisa minta bokap gue balikin rutenya ke operator semula."

Naya terdiam.

Nah.

Akhirnya.

Sebuah jawaban yang menggunakan lebih dari dua sel otak.

"Bagus. Itu baru masuk akal."

Rendra mengangguk mantap, seolah baru saja menerima misi penyelamatan dunia.

Lalu dia melirik Naya dari sudut mata.

"Jadi, gue nggak perlu beli halte bus juga?"

Naya mengambil guling kucing hitam dan memukul kepala Rendra dengannya.

*BUK!*

"BERHENTI MENAMBAH ASET TRANSPORTASI, KAYA RAYA!"

"Aduh! Itu guling kesayangan gue!"

"MAKANYA JANGAN DIPAKAI BUAT MENYAMPAIKAN IDE GOBLOK!"

Dari kursi depan, sopir keluarga Adijaya menatap lurus ke jalan sambil menahan senyum.

Sudah hampir dua puluh tahun bekerja untuk keluarga itu, tetapi baru kali ini dia menyaksikan seorang pewaris keluarga kaya raya dimarahi karena berpotensi membeli halte bus demi seorang gadis.

Peradaban manusia memang berkembang pesat.

Sayangnya, tidak semua manusianya ikut berkembang.

***

Beberapa menit kemudian, angkot oranye itu mulai memperlambat laju kendaraannya.

"Neng Naya, kita sudah sampai di depan gang kos," ujar sopir dengan sopan.

Naya langsung meraih tasnya.

"Nah, gue turun di sini."

Rendra yang tadi sudah kembali memeluk guling kucing hitam langsung menoleh.

"HAH? SEKARANG?"

"Iya. Emang gue mau tinggal di angkot sampai pensiun?"

"Tapi kita belum—"

"Belum apa?"

Rendra membeku.

Dia sebenarnya ingin meminta Naya tetap duduk sebentar. Dia masih ingin mendengar suaranya, melihat ekspresinya, dan memastikan percakapan tadi tidak membuat hubungan mereka berubah menjadi sesuatu yang canggung.

Namun, ucapan Naya sebelumnya terngiang kembali di kepalanya.

Dia bukan barang yang bisa dikendalikan.

Dan Naya berhak menentukan kapan dia ingin pulang.

Rendra akhirnya mengembuskan napas.

"...Belum selesai ngomongin tugas kelompok."

Naya menyipitkan mata.

"Tugas kelompok apaan? Tugas Bahasa Indonesia udah dikumpulin kemarin."

"Tugas... matematika?"

"Besok juga belum ada PR matematika."

"Tugas kehidupan?"

Naya menatapnya selama tiga detik penuh.

"Lu butuh pertolongan profesional."

"Mungkin."

Jawaban itu membuat Naya berhenti sejenak.

Rendra sendiri tampak terkejut karena kali ini dia tidak membungkus kecemasannya dengan lelucon atau gaya sok dingin.

Dia hanya mengakui bahwa mungkin memang ada sesuatu yang perlu dia perbaiki.

Naya membuka pintu angkot.

"Ren."

Rendra langsung menoleh.

"Besok jangan beli apa-apa yang aneh buat gue."

"...Oke."

"Jangan suruh sopir ngikutin gue."

"Oke."

"Jangan intimidasi cowok lain cuma karena mereka ngajak gue ngobrol."

Rendra tampak hendak protes, tetapi akhirnya mengangguk.

"Oke."

Naya turun, lalu menutup pintu dengan pelan.

Sebelum berjalan memasuki gang, dia membungkuk sedikit ke arah jendela yang terbuka.

"Oh, iya. Satu lagi."

Rendra mencondongkan tubuhnya dengan harapan yang terlalu besar untuk keselamatan mentalnya sendiri.

"Apa, Nay?"

Naya menyeringai tipis.

"Besok gue bakal masuk voice chat server jam delapan malam. Kalau lu nggak muncul, gue anggap lu lagi sibuk beli terminal."

Pintu angkot tertutup.

Naya berjalan pergi sambil menahan tawa.

Sementara itu, Rendra duduk membeku di dalam kendaraan.

Beberapa detik kemudian, kedua tangannya terangkat menutupi wajah.

"ANJIRRRRRR!"

Sopir melirik melalui kaca spion.

"Kenapa, Den?"

Rendra menatap langit-langit angkot dengan mata berkaca-kaca.

"PAK, DIA MASIH MAU NGOBROL SAMA SAYA!"

Sopir terdiam sesaat.

Lalu tersenyum tipis.

"Syukurlah, Den."

"PAK, BESOK JAM DELAPAN MALAM SAYA HARUS ONLINE! SAYA HARUS MANDI, KERAMAS, GANTI BAJU, DAN LATIHAN NGOMONG BIAR SUARA SAYA NGGAK PECAH!"

"Den, itu voice chat, bukan audisi penyanyi."

"PAK, ANDA TIDAK MEMAHAMI TEKANAN SOSIAL YANG SAYA ALAMI!"

Sopir kembali menatap jalan.

Dia memutuskan bahwa kenaikan gaji tahun depan harus mencakup tunjangan khusus untuk menghadapi majikan yang terlalu banyak menonton anime.

***

Malam harinya, tepat pukul 19.57.

Di kamar pribadinya yang luas, Rendra duduk tegak di depan komputer gaming dengan headset terpasang sempurna. Rambutnya sudah disisir rapi, meja belajarnya sudah dibersihkan, dan segelas air mineral diletakkan tepat di sebelah keyboard.

Di layar monitor, server Discord NIGHTMARE terbuka.

Status Naya masih *offline*.

Rendra menatap layar.

Tiga menit lagi.

Dua menit lima puluh detik.

Dua menit empat puluh sembilan detik.

"JANGAN HITUNG MUNDUR, BEGO. INI BUKAN PELUNCURAN ROKET," gumamnya kepada diri sendiri.

Dia membuka kolom pesan pribadi Naya.

Mengetik.

Menghapus.

Mengetik lagi.

Menghapus lagi.

Akhirnya, dia mengirim satu pesan sederhana.

**King_Ren:** *Gue bakal online jam delapan. Kalau lo masih sibuk, santai aja.*

Rendra menatap pesannya sendiri.

Lalu menjatuhkan kepala ke meja.

"ANJIR, GUE KEDENGERAN NORMAL. SIAPA YANG NULIS ITU? APA GUE SUDAH SEMBUH?"

Pukul 20.00 tepat.

Sebuah notifikasi muncul di layar.

**NIGHTMARE is now online.**

Rendra langsung duduk tegak.

Jantungnya berdegup lebih cepat.

Kemudian, satu pesan masuk.

**NIGHTMARE:** *Tumben nggak spam gue dari tadi. Kesambet jin produktif?*

Rendra tersenyum.

Kali ini, dia tidak langsung membalas dengan dua puluh pesan sekaligus.

Dia mengetik perlahan.

**King_Ren:** *Lagi belajar nggak bikin lo pusing.*

Pesan itu terkirim.

Beberapa detik berlalu.

Lalu muncul balasan.

**NIGHTMARE:** *Bagus. Pertahankan.*

Rendra membaca dua kata itu berulang kali.

*Pertahankan.*

Bukan janji bahwa Naya akan selalu berada di sisinya.

Bukan jaminan bahwa dia tidak akan pernah kehilangan Naya.

Namun, untuk pertama kalinya, Rendra mulai memahami bahwa hubungan mereka tidak harus dikunci dengan kontrak, uang, atau ancaman ban permanen.

Terkadang, dia hanya perlu memberi Naya ruang untuk memilih tetap tinggal.

Dan malam itu, Naya memilih masuk ke server.

Bagi Rendra Adijaya, itu sudah lebih dari cukup.

Setidaknya sampai lima detik kemudian.

**NIGHTMARE:** *Ren.*

**King_Ren:** *Iya?*

**NIGHTMARE:** *Besok sarapan Ultra stroberi sama roti cokelat. Jangan aneh-aneh.*

Rendra langsung mengepalkan tangan di depan monitor.

"YESSSSSSSSSSS!"

Dia berhenti.

Melihat pesan tadi lagi.

Lalu menatap pintu kamar yang tertutup.

"OKE. ULTRA STROBERI. ROTI COKELAT. TIDAK ADA ANGKOT BARU. TIDAK ADA HALTE. TIDAK ADA TERMINAL."

Dia mengangguk mantap.

"PERKEMBANGAN KARAKTER, BANGSAT!"

Di luar kamar, ayahnya yang kebetulan lewat berhenti sejenak.

Pria itu menatap pintu kamar putranya dengan ekspresi lelah.

"...Besok aku harus bicara dengan bagian keuangan tentang anggaran transportasi keluarga."

Sementara itu, di dalam kamar, Rendra mulai menyusun daftar belanja sarapan dengan keseriusan seorang direktur perusahaan multinasional.

Dan di sudut layar komputernya, status NIGHTMARE tetap menyala hijau.

Untuk malam ini, Rendra tidak membutuhkan apa-apa lagi.

Kecuali mungkin...

Sebuah pengingat agar tidak membeli halte bus.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!